
HAPPY READING
Setelah kejadian Salsa yang diculik Aland dkk sedang berada di rumah sakit.Mereka semua bernafas lega karena tidak terjadi sesuatu dengan Salsa, namun berbeda dengan Arsen ia justru merasa cemas entah kenapa.
"Lo kenapa sih Ar? kaya gelisah gitu. " ucap Jaka saat melihat gelagat aneh Arsen.
"Gue juga gak tau. "
Derttt
Ponsel Arsen bergetar di dalam saku ia pun mengeceknya. Mamah? ngapain mamah nelpon.
"Halo mah. "
"Arsen kamu lagi sama Rara gak?" tanya mamah diseberang sana
"Gak mah. Mamah kenapa? kok suaranya kaya lagi cemas. "
"Astaghfirullah.Adek kamu belum pulang dari sekolah sampai sekarang, mamah khawatir banget hikss. "
"Kok bisa?!"
"Mamah juga gak tau nak. "
"Mungkin lagi sama sahabatnya atau sama Elano. " ucap Arsen berusaha menenangkan kekhawatiran mamahnya itu.
"Tidak, tadi mamah udah telpon nak Elano tapi Rara lagi gak bersama dia. Mamah khawatir sayang, ini udah malem banget. " ucap beliau panik
"Oke nanti Arsen bakal cari Rara sampai ketemu, mamah yang tenang ya, jangan panik gitu. "
"Iyaa, hati-hati sayang. "
"Iya mah, "
"Segera kabarin mamah kalo adik kamu udah ketemu. "
"Iya mah, aku matiin telponnya ya. "
Arsen menghembuskan napas pelan kemudian mengacak rambutnya frustasi. Para sahabatnya juga melihatnya gelagatnya sedari tadi.
"Ada apa? " tanya Aland
"Lo kenapa sih? muka lo keliatan bunek gitu. " ucap Dava
"Adek gue ilang. "
"Oh ilang. " ucap Dava belum sepenuhnya sadar.
Kemudian ia melotot kaget, "ilang? lah kok bisa?! "
pletak!
Jaka memukul kepala Dava menggunakan buku yang terletak di meja. "Gak usah teriak juga ogeb. "
"Gue harus pergi. "
"Tunggu! " cegah Stefano
Arsen berbalik menatap Elano bertanya, "Lo mau cari dia dimana? sedangkan lo belum tau lokasinya. " ucap Stefano
Benar juga, Arsen belum tau keberadaan adiknya itu. Tak mungkin ia akan mengelilingi Jakarta.
"Terus gimana?! " ucap Arsen frustasi
"Telpon Radit suruh dia lacak ponsel Aurora. " usul Stefano
"Bener juga, lo sih gegabah mulu. " ucap Jaka pada Arsen
Arsen tak menanggapi, "Cepat telpon Radit Jak. "
"Iya iya bentar. "
Jaka segera menelpon Radit dan langsung diangkat oleh sang empu, " Kenapa bro? " ucap Radit
"Gue mau minta tol_"
Perkataan Jaka terhenti saat Arsen merebut ponselnya, "Lacak Aurora sekarang! "
"Aurora? "
"Iya dia ngilang, cepat lacak Dit. "
"Bentar, tadi Elano udah minta gue lacak adek lo, ini gue udah kirim lokasi terkahir nya. "
"Oke." Arsen langsung mematikan sambungan telepon dan mengecek chat Radit.
Setelah mengecek lokasinya itu tidak terlalu jauh namun berada di dekat hutan.
"Dia ada di dekat hutan? " gumam Jaka
"Hutan? ngapain tuh bocah main kesana? mau kemping sama harimau? " tanya Dava heran
"Gue pergi. " Arsen berjalan keluar dari ruangan rawat Salsa.
"Tunggu ar! lo mau cari Aurora sendirian? mending kita ikut lo." ucap Stefano
"Terserah."
Mereka bertiga mengendarai motor menuju ke lokasi yang Radit berikan. Arsen, Stefano dan Jaka yang pergi sedangkan Land dan Dava berada di rumah sakit menjaga Salsa.
Bersamaan dengan itu Elano juga sedang menuju kearah sana.
Mereka semua sampai secara bersamaan dengan Elano. Mereka berhenti di sebuah warung yang sudah tak terpakai.
"Lo? " ucap Jaka menunjuk Elano
Elano mengabaikan nya dan berjalan menuju rumah terbengkalai di belakang warung itu.
"Tunggu." cegah Arsen menghentikan langkah Elano
"Apa? "
"Kita harus buat strategi untuk masuk ke gedung itu. "
"Gue gak peduli. " ucap Elano hendak pergi dari sana.
"Lo gak bisa gegabah! adek gue taruhannya, sial*n!!! "
Elano berhenti menghela napas berusaha menahan emosi juga, "Oke."
☘️☘️
Disisi lain Aurora sedang mempertaruhkan harga dirinya agar lelaki yang menculiknya tidak melakukan sesuatu yang merugikannya.
"Eitss.. jangan gini dong. "
Aurora sedang meringsut di kepala ranjang dengan cowok itu yang masih berdiri di samping ranjang.
"Cukup diam dan nikmati. " ucapnya kemudian menyeret kaki Aurora dan menindihinya.
"Abang tolongggggg... "
"Shuttle diem. "
"Eh kok diiket sih, kan gue cuma mau liat muka lo bangs*t! " berontak Aurora
"Lepasin gue!!"
"Diem!" bentak cowok itu
Setelah berhasil mengikat tangan dan kaki Aurora, sekarang cowok itu sedang membuka kancing seragam Aurora.
"Woii !! An*ji*g lo!! lepasin gue!! " teriak dan berontak Aurora dengan menggoyangkan tubuhnya menghindari tangan cowok itu.
"Abanggg tolongin Rara!! Elanoooooo tolong gueeee... "
"Emmhhh.. " teriak Aurora tertahan saat tangan cowok itu membekapnya.
"Diem." bisik cowok itu pelan.
Aurora melirik sekitar sepertinya ada seseorang yang sedang berkelahi di luar. Itu pasti abangnya. Aurora memberontak dan berusaha berteriak namun dicegah dengan melakban mulutnya,"Sepertinya kita tidak bisa bersenang-senang kali ini. Tapi gue akan kembali lagi. " ucapnya cowok itu kemudian turun dari ranjang keluar dari kamar.
Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka dengan kencang menampilkan cowok yang sangat ia hindari, Elano datang dengan nafas yang memburu.
"Aurora."
Tak berselang lama Arsen pun datang, "Aurora! " ia berlari kearahnya
"Bwukain bwang. " (bukain bang)
Arsen membuka lakban yang menutup mulut Aurora serta membuka ikatan di tangan dan kakinya.
"Abanggggg...." teriak Aurora memeluk Arsen
Melihat keadaan adiknya membuat hati Arsen merasa sedih sekaligus marah.
"Udah, jangan nangis. "
Mendengar perkataan abangnya itu yang tadinya tidak menangis, ia malah jadi menangis.
"Hiksss hiksss.. "
"Kok malah nangis, jelek lo kalo nangis. "
Aurora melepaskan pelukannya dan memukul lengan Arsen keras, "Apaan sih bang, "
Stefano dan Dava datang bersamaa, "Lo gak papa? "
Aurora mengangguk kemudian menggeleng, "gue gak papa. "
"Siapa yang bawa lo kesini? " tanya Elano sambil bersender di tembok menatap kedua kakak adik itu dari sana.
Aurora menatap Elano sebentar kemudian matanya menatap Stefano yang juga menatapnya.
Aurora tanpa sadar menggeleng, "Gak gak! gue harus cari tau dulu. "
"Gue gak tau. "
"Mending kita pergi dari sini. "
Mereka pergi dari rumah itu dengan Aurora yang menjadi rebutan antara Arsen dengan Elano.
"Dia bareng gue, " ucap Arsen
"Hmm.. "
"El mau kemana? " tanya Aurora pada Elano saat melihat gelagat cowok itu terlihat tak seperti tadi.
"Ada urusan, kalian cepat pergi dari sini. "
Setelah sepeninggal mereka, Elano berlari memasuki hutan menuju rumah tadi. Ia sempat melihat seseorang yang bersembunyi di balik pohon tempat mereka berbicara tadi.
"Keluar! jangan jadi pengecut! " teriak Elano
Orang itu keluar dari persembunyiannya sambil bertepuk tangan, "Wah wah ternyata lo peka juga. Gue kira lo cowok banci. " ejeknya
"Bacot!"
"Siapa lo?! " Elano menghiraukan ocehan orang itu.
"Siapapun gue, tunangan lo Upps salah maksud gue mantan tunangan lo bakal jadi milik gue. "
"Sial*n! ! gue tanya sekali lagi siapa lo?" tekan Elano dengan tangan mengepal siap untuk menghajar lelaki bertudung itu.
"Hahha.. lo gak perlu tau siapa gue. Tapi salah satu mantan sahabat lo itu pasti tau siapa gue. "
Mantan sahabat?
"Gue tau semua kejadian kenapa kalian bisa jadi M. a. n. t. a. n sahabat. Dia meninggal bukan karena lo tapi gue hahahha... " ketawanya menggelegar di sekitar hutan yang sepi.
"Gue gak nyangka bisa buat persahabatan lo hancur, termasuk lo! "
"Maksud lo apa hah?!" desis Elano manarik baju lelaki itu menatap manik matanya.
"Wess santai santai.."
"Maksud lo apa?! "
"Maksud gue_"
Bruk.. lelaki itu menendang perut Elano membuat cowok itu terhentak mundur kebelakang.
"Maksud gue, gue pengen buat hidup lo menderita." ucapnya kemudian berbalik meninggalkan Elano
"Gue gak suka orang yang gue suka lebih milih lo daripada gue, sebenarnya apa hebatnya lo sih? ck. "
"Gue suka mantan tunangan lo itu !! hahaha.. " teriaknya sambil terus berjalan sampai tertelan gelapnya malam.
Elano terkekeh pelan.
☘️
☘️
☘️
🙋Anyeong!
⚠️Wajib!!Like👍Vote🎟coment✉️beri hadiah🎁Jadikan Favorit💌
Terimakasih buat kalian yang sudah setia dengan cerita ini.. I hope you like it!