
Happy Reading~
*
*
*
Mereka semua sedang menunggu dokter untuk keluar dari UGD dengan tenang.
"Nih buat kalian, gue tau kalian haus. " ucap Jovanya sambil menenteng sebuah plastik berisi minuman dan makanan.
Mereka mengambilnya satu-satu.
"Beli dimana? " tanya Dava sambil meminum minumannya.
"Kita tadi keluar cari di kantin. " jawab Celline
"Dokternya belum keluar,? " tanya Jovanya
"Belum."
"Kenapa lama banget. "
Sementara disisi lain diruang UGD para suster sedang membereskan beberapa alat medisnya.
"Kenapa tidak bergerak dok? seharusnya dia sudah bangun. " tanya suster bingung.
"Dia tertidur. " ucap dokter muda itu.
Semua suster yang berada di ruangan itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat pasien yang ditanganinya justru tertidur .
"Untung saja cepat dibawa ke sini, kalau tidak itu sangat berbahaya. " ucap suster yang lain sambil mengecek beberapa peralatan.
"Dia baik-baik saja, jiwanya sangat kuat, tinggal menunggu dia bangun. " ucap sang dokter sambil melepas sarung tangannya.
"Benar, bahkan tidak menangis. "
"Beritahu teman-temannya. "
"Baik dok. "
sang suster keluar dari ruangannya dan langsung disambut oleh keluarga dan teman-temannya.
"Gimana keadaan adik saya? " tanya Arsen
" Dia baik-baik saja,"
"Apa kami boleh masuk? " tanya Arsen
"Ten-"
"Fika! bagaimana kedaan Aurora?! " ucap Elano saat tiba disana.
"Santai aja nanya nya , susternya sampai kaget gitu. " celetuk Karel membuat Elano kembali memasang ekspresi datar.
"Tunanganmu baik-baik saja, kami akan segera memindahkannya ke ruang perawatan. " ucap suster bernama Fika.
"Tempatkan di ruangan VVIP keluarga Alister!! " perintah Elano
"Baik." suster muda itu pun langsung memasuki ruangan lagi.
"Lo kenal suster itu, El? " tanya Sagara
"Sepupu."
"Ooohh.. "
Aurora kini sudah dipindahkan diruang rawat sesuai permintaan dari Elano.
"Kalian boleh masuk. " ucap Fika mempersilahkan mereka untuk masuk.
Arsen dan Elano langsung memasuki ruangan Aurora diikuti yang lainnya, " dia belum sadar? " tanya Sagara
"Dia sudah sadar. " ucap dokter itu
Arsen dan yang lainnya mengerutkan keningnya bingung, sadar dari mananya?
"Dokter itu dokter gadungan ya? jelas-jelas belum sadar kok dibilang udah sadar. " ucap Celline sekenanya.
Dokter itu tersenyum, " temen kalian sedang tertidur. "
Semua orang yang ada disana langsung menatap Aurora yang terbaring diranjang dengan pandangan tak habis pikirnya.
Mereka masih betah disana, kecuali Aland yang sudah pamit duluan untuk kembali ke sekolah.
"Bisa-bisanya kita udah dibuat khawatir, dia malah tidur??? " ucap Celline dengan ekspresi kesalnya.
"Mungkin dia lelah. "
Sementara Laura sedari tadi hanya diam, ia tak berani menatap dokter itu.
"Kalau begitu saya pamit. "
Laura langsung mengikuti dokter itu keluar, "kak Axel tunggu! "
Axel menghentikan langkahnya, "apa? "
"Apa benar Aurora baik-baik saja? "
"Dia baik. " jawab Axel datar
"Oohh.. em makasih kak. "
"Ya." Axel langsung melanjutkan langkahnya dengan Laura yang menatap punggung milik kakak keduanya itu.
"Gimana caranya buat Laura bahagia kalau keluarganya saja seperti ini. " gumam Laura aka Tata
Laura akan memikirkannya nanti, yang penting sekarang adalah kondisi sahabatnya, Claudia.
*
*
Setelah kepergian dokter muda tadi Arsen dan yang lainnya duduk di sofa dan ada juga yang di lantai untuk menunggu Aurora terbangun dari tidurnya.
"Dia tidur atau pingsan sih? gak gerak gitu. " celetuk Karel
"Mimpi indah mulu, sekali-kali mimpi Indra bisa gak ? "
"Mana bisa begitu! "
"Emang kalian gak bosen mimpi indah terus? " ucap Karel
"Terus kita harus mimpi buruk gitu?! " ucap Celline kesal dengan pertanyaan unfaedah milik Karel.
"Gue gak nyangka lo dapat sahabat sebego itu, El. " ucap Arsen disamping Elano
"Seenggaknya mereka percaya sama gue. " ucap Elano datar, Arsen yang merasa tersindir pun hanya menghela napas pelan.
Pintu ruang rawat terbuka menampilkan mamah dan papan Aurora, mereka langsung masuk dan menghampiri mereka.
"Buat kalian. " ucap Gani sambil menyerahkan bingkisan makanan untuk para sahabatnya dan teman dari anaknya.
Dava dan Karel langsung berdiri dan mengambil makanan itu dengan senang, " wah makasih om! tau aja lagi laper. " ucap Dava
"Iya repot-repot, tapi kita terima dengan senang hati kok om. " ucap Karel
Gani hanya membalasnya dengan anggukan.
"Makanan terosss... " ucap Jaka
"Sirik aja lo! gak mau?? kalau gak mau yaudah buat gue aja semuanya. " ucap Dava
"Bagi lah! emang itu buat lo aja?! itu buat kita semua ogeb. " ucap Jaka sambil merebut beberapa makanan dari Dava.
"Makanya jangan sok gak mau, jaim mulu kerjaannya. " Celetuk Stefano
Celline melirik lelaki disampingnya itu, "bilang aja lo juga mau. " sinis Celline
"Iya gue mau lo gimana? " bisik Stefano di telinga Celline membuat gadis itu langsung terdiam.
Stefano yang melihatnya tersenyum kecil, " jangan baper, gue cuma bercanda. "
Celline langsung menatap Stefano datar, " awas lo!! "
Sementara Sinta mamah dari Arsen dan Aurora langsung menghampiri ranjang Aurora.
"Adek kamu gak papa kan? " tanya Sinta pada Arsen
"Rara baik, dia lagi tidur sekarang. " ucap Arsen
"Syukurlah."
"Maaf tante. " ucap Elano
"Untuk? " tanya Sinta
"Karena gak becus jaga anak tante. " ucap Elano dengan datar namun berbeda dengan tatapan matanya.
Sinta tersenyum dan mengelus lengan Elano, "gak papa, ini musibah. "
Hati Elano menghangat. Ini alasan Elano menyukai mamah Aurora, beliau persis seperti almarhum ibunya, galak namun perhatian.
*
*
*
Disisi lain gadis yang katanya sedang tertidur, sekarang sedang berada di sebuah ruangan bermain bersama seseorang.
"Kamu gak mau balik? mereka pasti sedang menunggu kamu bangun. "
"Biarin aja mereka nangis-nangis dulu... aku masih betah disini. " ucap Aurora sambil bermain ayunan ditemani sekor kelinci yang lucu di pangkuannya.
"Kau harus kembali Aurora. " ucap seseorang yang tiba-tiba datang kearah mereka.
Aurora menolehkan kepalanya dan mengerutkan dahinya bingung, " anda siapa? "
"Aku datang kesini untuk bertemu denganmu, perkenalkan namaku Fedd, aku adalah penulis novel yang kau tempati sekarang. " ucap sosok itu.
Aurora terkejut mendengarnya, " apa anda mau membawaku kembali ke duniaku? " tanya Aurora
"Belum saatnya, kau harus menamatkan cerita ini terlebih dahulu Claudia. " ucap Fedd
"Sampai Salsa dan Aland bahagia? "
"Bukan,..tamat dengan sesuai keinginan mu sendiri, buatlah novel ini tamat dengan ending yang lebih menarik Claudia.. setelah itu kau dan temanmu akan kembali. "
"Apa aku bisa menjadi tokoh utama dalam novelmu itu?? jujur saja protagonis wanita yang sebenarnya terlalu lemah untuk menghadapi lawan mainnya yang lebih bringas. " tanya Aurora
"Kau bisa melakukan semaumu, aku ingin novel ku tamat dengan akhir yang lebih baik agar para pembaca lebih menyukainya. Aku serahkan semuanya padamu, Claudia. "
Aurora berfikir sejenak, " baiklah dengan senang hati! " ucap Aurora tersenyum
"Terimakasih, kutunggu kau di dunia asli. " ucapnyaa ikut tersenyum kemudian perlahan menghilang.
Aurora menghela napaa pelan, " aku ingin beristirahat sebentar disini dan kembali dengan keadaan yang lebih baik. "
"Aku akan menemanimu. " ucap gadis itu sambil tersenyum tulus. Namanya adalah Tami dia hanya roh yang menempati tempat itu.
"Baiklah, mari kita rencanakan alur untuk kedepannya. "
*
*
*
Hai🙋♀️
Mari kita tunggu cerita Elano dan Aurora di dunia modern!!
Makasih buat yang stay di cerita ini:>
⚠️JANGAN LUPA
Like👍Vote🎟coment✉️beri hadiah🎁
Jadikan Favorit💌 Vote jugaa
SEE YOU!!!