
Happy Reading
🌞
🌞
🌞
"Seorang Aurora nangis,hmm? "
Aurora tersentak kaget karena tiba-tiba ada seseorang yang meletakkan sebuah jaket di pundaknya. Ternyata dia adalah Elano.
Aurora segera mengelap air matanya, "Elano? kok kamu bisa ada disini? "
Dia ikut duduk disamping Aurora.
"Mau aku balas mereka?? " tanya Elano
"Gausah." jawab Aurora sambil mengeratkan jaketnya agar merasa hangat.
"Tapi mereka udah buat kamu nangis! "
"Elano.. belive me.. aku bisa nyelesain masalahku sendiri. " ucap Aurora menenangkan.
Aurora akui ini rencana Laura yang sedikit berani, sayang sekali ia harus mempertaruhkan nama baik Aurora, namun Claudia akan mengembalikan nya lagi menjadi jauh lebih baik.
"Tapi lo yang jadi kambing hitamnya. " ucap Laura waktu di kafe kemarin.
"Why? seharusnya lo yang jadi kambing itu, kita bisa memanfaatkan peran Laura asli , gue rasa itu lebih mudah. "
"Gak, Laura itu memang jahat tapi kalo gue yang meranin itu justru berbeda, kalo lo yang nglakuin itu itu justru lebih dasyat dampaknya karena semua orang tau lo sebagai pacar Elano, lo harus ingat Clau, Elano itu sangat terkenal gak cuma di sekolah ini aja. pacar lo emang keren sih. Gimana? "
"Oke, "
"Sipp,, lo tinggal berlaku biasa aja,gue yang bakal atur alurnya. "
🌞
🌞
"Aku tau ini rencana kamu. " ucap Elano datar
Hujan masih belum berhenti namun petir nya sudah tidak terdengar lagi, membuatnya merasa lega.
"Rencana? rencana apa, gak ada rencana tuh. " elak Aurora
"Pinter banget bohong nya, tapi kamu tenang aja... aku bakal selalu ada dimanapun kamu berada. " ucap Elano tulus namun ekspresi nya tetap saja datar. Oh ayolah minimal senyum kek.
"Tapi waktu tadi kenapa gak ada? katanya selalu ada dimanapun. " sinis Aurora sambil mengeratkan jaket milik Elano.
"Ada." ucap Elano singkat
"Dimana? " tanya Aurora penasaran
Elano menunjuk cincin yang dipakai Aurora, cincin pertunangan mereka.
"Lo mata-matain gue?!! " sentak Aurora sampai terceplos mengganti panggilan nya.Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Itu cuma perekam suara. "
"Tapi sama saja Elano...."
"Berarti lo tau semuanya?? " tuduh Aurora menatap Elano penuh selidik
"Maybe."
Aurora hendak melepas cincin itu namun segera dicegah oleh Elano, "jangan dilepas, itu ada GPS nya. "
Aurora menatap lelaki itu, "sejak kapan? "
"Sejak penculikan itu, hanya untuk penjagaan." tekan Elano tanpa ekspresi
"Jadi.. jadi.. kamu tau semuanya? " tanya Aurora memastikan lagi
" I know. "
Pantas saja Elano tau dirinya ada disini dan ketika menjelaskan semuanya lelaki itu tidak terlalu kaget.
"Tapi ini melanggar privasi El. "
Elano memegang tangan Aurora, "please belive me.. kamu itu pintar, tapi terlalu ceroboh, aku gak mau kamu terluka karena kecerobohan mu itu. "
"Jika kamu butuh bantuanku aku bisa menyelesaikan semuanya yang mengganggu mu dengan cepat, tapi sepertinya tunanganku ini ingin berusaha sendiri, aku menghargainya. " ucap Elano dengan senyum tipis di akhirannya.
"Jangan ikut campur!!aku bisa sendiri."
"Oh ya?"
"Kamu hanya tokoh disini, bukan nyata seperti aku. " ledek Aurora
"Aku juga nyata, mau liat? "
Aurora mengeryit bingung saat Elano menggenggam tangannya dan meletakkannya di dada bidang milik Elano.
"Kau merasakan nya bukan? "
Aurora tertegun saat mendengar jantung Elano berdetak sangat kencang, "Elano kita kerumah sakit sekarang!!!" ujar Aurora tiba-tiba
Elano menatap Aurora bingung, "rumah sakit? siapa yang sakit? kamu sakit?" panik Elano, kapan lagi ia melihat ekspresi selain datar dan dingin milik Elano.
"Bukan aku, tapi kamu El!! itu bukan detak jantung normal, itu terlalu cepat, kamu punya riwayat jantung?? "
Elano yang tadinya panik langsung kembali memasang wajah datarnya, ia mengusap rambut basahnya kebelakang sedikit frustasi. "Itu karena gue deg-deg an! "ucapnya dalam hati.
" El ? kamu pusing?"
"Stop, kita pulang!"
"Tapi El.. "
"Aurora Putri Aldebaran,bisa kan nurut? " tekan Elano
"Aurora, dengarkan aku baik-baik.. jangan pernah bertindak ceroboh apalagi sampai ngebahayain diri , karena sampai kamu terluka aku yang bakal ambil alih semua masalah mu itu dan memberantas nya sampai akarnya! " tekan Elano sambil memegang bahu Aurora.
"Hmm,tapi kamu gak papa kan? " tanya Aurora lagi
"I'm Fine! "
"Kok kamu ngegas gitu jawabnya! "
Elano mengatur napasnya agar lebih rileks, "ayo pulang" ucap Elano sabar
"Tapi naik apa? "
"Kita tunggu Karel sama Sagara. " Aurora mengangguk
Sebuah mobil berhenti di halte tempat mereka meneduh, Karel dan Sagara turun dari mobil itu, "Nih.. " ia melempar kunci mobil ke Elano.
"Thanks"
"Yoii."
"Ra lain kali tutup cincin lo pake lakban biar Elano gak nguping pembicaraan lo. " ucap Karel dengan nada jahilnya.
"Kok bisa tau? "
"Tenang aja kita gak tau semuanya kok, kita cuma kadang denger lo sering ngumpatin Elano dan Elano cuma senyum-senyum sendiri dengernya ,gila kan? " ucap Karel tak habis pikir
"Emang rada-rada" celetuk Aurora
Sementara Elano menatap Karel tajam menyuruh lelaki itu untuk diam namun malah dihiraukan oleh Karel.
"Dia juga su-"
"Karel Dananjaya." ucap Elano penuh penekanan.
Sagara segera menutup mulut mercon milik Karel saat melihat tangan Elano mulai mengepal dengan tatapan tajam, "lo jangan mancing singa bangun dong. " bisik Sagara pada Karel
"Masuk! "
Elano menyuruh Aurora masuk ke dalam mobil, "awas lo Karel. " peringat Elano pada Karel sebelum ia menyusul Aurora masuk ke dalam mobil.
"Mampus lo! bakal jadi daging cincang lo Rel. " ucap Sagara menakut-nakuti
"Gue bercanda aja kali, " sahut Karel
"Lo salah orang ogeb.. udah tau Elano tempramental. "
"Tapi akhir-akhir ini dia udah gak se keras dulu sih, Elano lebih kalem sekarang, tapi tetep aja kalo marah nyeremin, fikss! keturunan Ayah Victor sebelas duabelas belas sama ayah nya. " ujar Karel
"Ya kan anaknya. " sahut Sagara
"Gue tuh kasihan liat dia yang harus jadi saudara tiri Salsa, kok bisa ya om Victor menikahi ibu Salsa yang notabennya Salsa itu sahabatnya Diva, mana Elano suruh jaga Salsa.. padahal kan Salsa tinggal sama bapaknya. " ucap Karel
"Itu pesan dari Diva Rel.. "
"Tapi kasihan Aurora yang gak tau Salsa itu saudara tiri nya Elano, dia pasti pernah mikir Elano suka sama Salsa. " tebak Karel
"Apalagi gak ada yang tau alasan mereka menikah. " celetuk Karel
"Udahlah otak lo pendek jadi jangan sok mikir, kita liat aja nanti kaya apa. " sahut Sagara
"Btw kita pulang naik apa? "
*
*
*
"Bisa ketemuan sekarang?" tanya Aurora yang sedang bertelponan dengan Laura.
"Di rumah lo aja. " sahut Laura
"Jangan ogeb, dirumah gue ada kunti. " ucap Aurora sambil melirik kearah Sila yang sedang duduk di sofa menonton televisi.
"Kunti? rumah lo berhantu Ra? kok serem. "
"Ck.bukan kunti beneran, maksudnya ada Sila, dia tinggal di rumah gue. "
"Sila? yang bener aja lo? ngapain dia disana, gak punya rumah pa. "
"Biasa gelandangan, sukanya numpang di rumah orang. " ucap Aurora sedikit keras agar sang empu dengar dan sadar diri, ya walaupun itu tidak mungkin.
"Udah ya nanti gue sharelook. "
Aurora mematikan telepon nya dan berjalan kearah Sila yang juga menatap nya.
"Apa lo liat-liat! " sinis Aurora
"Dih , suka-suka gue lah kan ini mata gue. " jawab Sila remeh
"Enak banget ya nonton TV berasa rumah sendiri, padahal numpang. " sindir Aurora
Aurora melihat papah Gani menuruni tangga, ia pun menghampiri nya, "pah kapan dia pergi dari sini? " tanya Aurora to the point
"Besok Sila sudah bisa pindah ke kontrakan yang papah sewakan, bagaimana Sila? " tanya papah pada Sila
"Apa aku boleh tinggal disini 3 hari kedepan om? " tanya Sila dengan muka duanya.
makin ngelunjak nih kunti
"Boleh silahkan, "
"Pah! " sentak Aurora
"Kenapa sayang? " ucap papah lembut
"Papah kan pinter, kenapa bisa sebodoh ini sih!!" kesal Aurora
Mamah Sinta yang menuruni tangga mendengar perkataan Aurora pun datang dan menjewer telinga anak perempuan nya itu.
"Awsss.. sakit mah! " ringis Aurora
"Kalo ngomong sama orang tua itu yang sopan, " ucap mamah.
"Iya iya mah, tadi Rara keceplosan aja, maafin Rara pah. "
Sila yang merasa diabaikan pun menatap keluarga Aurora dengan iri.
"Yaudah mah, pah, aku keluar dulu ya!! assalamu'alaikum!! " pamit Aurora berlari keluar rumah.
"Waalaikumsalam."
"MAU KEMANA KAMU SAYANG?!! JANGAN PULANG TERLAMBAT!! "
"SIAP MAH!!! "
💫
💫
"Gimana? " tanya Aurora setelah sampai di tempat yang mereka janjikan.
"Gue udah bi-"
"Tunggu, jangan bicara dulu. "
Aurora mengambil sebuah lakban dan menempelkannya pada cincin nya, Laura yang melihat mereka heran.
"Ngapain lo? cincin mahal gitu malah di lakban. "
"Ini ada penyadap suaranya. " jawab Aurora sambil membelit cincin itu dengan lakban.
"Penyadap? siapa? "
"Elano, dia yang pasang. "
"Posesif juga si Elano. " goda Laura
"Ck.dia udah tau siapa kita gara-gara ini. "
"Maksud lo?? "
"Ya gitu deh, kita bahas ini nanti. " ucap Aurora membuka sebuah laptop.
"Oh iya gimana caranya lo ngunci Salsa di toilet? " tanyanya pada Laura namun pandangan nya masih fokus kearah laptop.
"Gampang sih. "
🌞
🌞
🌞
Hai🙋♀️
Sudah mulai perlahan terungkap nih, jangan bosen baca yak! 🤣
⚠️JANGAN LUPA
Like👍Vote🎟coment✉️beri hadiah🎁
Jadikan Favorit💌
⚠️Baca juga karya kedua aku Cinta untuk Zara bisa di cek diprofil aku👆
See you!!🌞