
...HAPPY READINGđź“–...
Malam harinya mereka semua telah siapa di depan gerbang dengan Arsen yang masih menunggu Aurora. Sepertinya gadis itu belum selesai merias diri. Perempuan memang lama. Terpaksa Arsen harus menunggunya di samping mobil dengan bermain ponsel. Bertanya pada semua sahabat nya apakah mereka sudah datang.
Acara dimulia pukul 8 malam dan sekarang sudah menunjukan pukul tujuh. Para siswa memang diwajibkan untuk datang sejam sebelumnya,sebelum para orang tua hadir. Sementara perjalanan mereka menuju gedung kegiatan sekitar lima belas menitan.
"Belum berangkat? " ayahnya datang menghampiri Arsen.
"Belum, pah. Masih menunggu Aurora. " jawab Arsen
Gani mengangguk. Kemudian menepuk pundak putranya itu. Arsen mengeryit bingung saat melihat ekspresi serius dari papahnya itu.
"Kau pikir, papah tidak tau? " ucapnya
"Tau apa, pah? " bingung Arsen
Gani menatap lamat wajah putranya. Kemudian menghela napas pelan, mengalihkan pandangan nya kesamping. Terlihat guratan otot di leher papahnya, membuat Arsen sedikit takut. Apa papahnya tengah marah padanya? Tapi karena apa?
Gani kembali menatap Arsen dengan sedikit lebih tenang dan tersenyum tipis.
"Papah, tidak berhak melarang kisah cintamu. Tapi... " jedanya
Arsen menanti apa yang akan papahnya katakan padanya. Semoga apa yang tengah ia pikirkan tidak terjadi, yaitu dimana papahnya mengetahui hubungan nya dengan Laura.
"Ayo, Bang. " panggil seorang gadis diambang pintu rumah, berjalan dengan hati-hati karena memakai helss.
Keduanya menoleh kearah gadis cantik itu. Arsen bahkan tidak mengedipkan matanya saat melihat penampilan adiknya itu. Sangat cantik dan anggun, berbeda dari biasanya yang hanya memakai kaos oblong dan oversize. Aurora sangat cantik dengan gaun putih lengan pendek yang membentuk lekuk tubuhnya tanpa berlebihan. Rambut yang dikepang kebelakang dan sisanya yang di curly bagian ujungnya. Tidak lupa jepitan mutiara di rambutnya, menambah kesan manis.
"Putri papah cantik sekali. " Gani memuji putrinya saat sudah sampai dedepan mereka.
"Ah, papah bisa aja. Aurora mah setiap hari cantik, ya kan bang? "
"Bang? " Aurora mengibaskan tangannya di depan wajah Arsen.
"Apa? " Arsen tersadar
"Kenapa sih bang? Nagalamun gitu, awas kesambet. " ejek Aurora
"Abang kamu sampai terpesona karena saking cantiknya. " balas Gani terkekeh geli
"Ah, papah.. " malu Aurora memeluk lengan papahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.
"Lho, kok belum berangkat. Katanya jam 7 sudah harus berada disana? " Sinta datang dengan rambut digulung menggunakan rol rambut.
"Lho, kamu kenapa sayang? " tanya Sinta melihat putrinya bersembunyi di lengan suaminya.
Aurora menatap wajah mamanya dan tersenyum, " Nggak papa mah. "
"Astaga, Anak-anak mamah cantik dan ganteng. Aduh.. pasti nanti banyak cowok dan cewek yang ngelirik... " godanya
"Aurora udah ada Elano mah, nggak butuh yang lain. " sahut Aurora
"Udah sana berangkat, nanti tekat. " usirnya pada mereka.
Arsen hanya diam. Dia sebenarnya masih menunggu apa yang hendak diucapkan oleh papahnya tadi. Karena kehadiran Aurora membuat papahnya tidak melanjutkan perkataannya. Arsen pun pamit dan masuk kedalam mobil bagian pengemudi.
Sebelum masuk kedalam mobil, Aurora menatap kedua orang tuanya, " Mamah sama papah berangkat jam berapa? " tanyanya
"Emm.. sebentar lagi. "
Aurora menatap keduanya dengan pandangan melembut, "Maaf kan Aurora ya mah, pah.. "
Mereka mengeryit mendengar permintaan maaf dari anaknya itu.
"Aurora berangkat... dadahhh.. "
Aurora segera masuk kedalam mobil dan mobil pun melaju meninggalkan kediaman Aldebaran. Sinta menatap kepergian anaknya itu dengan bingung, kemudian menatap suaminya yang tersenyum padanya, " Ada apa? " tanya Gani mengelus punggung istrinya dengan lembut.
"Kenapa hatiku sedih mendengar ucapan maaf dari Aurora, pah? " ucap Sinta lirih
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saja Aurora tengah melakukan kesalahan dan tidak bisa mengatakannya pada kita, sehingga dia hanya meminta maaf.. " bujuk Gani
"Begitu? "
"Ya."
"Tap-"
"Sebaiknya kita masuk kedalam dan bersial-siap untuk berangkat. " potong Gani menuntun istrinya kedalam rumah.
Sementara Aurora didalam mobil hanya diam menatap keluar jendela. Menampilkan jalanan malam yang dipenuhi dengan lampu-lampu jalan dan bangunan tinggi.
"Malam ini semuanya akan terbongkar dan akan selesai sesuai apa yang ia janjikan padaku. Kenapa aku malah sedih? "
"Tidak mungkin kan jika aku sudah betah disini? Mereka semua baik padaku. " menghela napas
Arsen menoleh kearah samping melihat wajah murung adiknya yang tengah melamun menghadap jendela mobil. Apa yang tengah gadis itu pikirkan?
Aurora sudah berkomunikasi dengan Laura, untuk semuanya nanti. Ia juga sudah meminta Radit untuk meng-handle semuanya, walaupun pria itu juga tidak tahu apa yang terjadi. Karena yang tahu hanya dirinya, Elano, dan Laura.
Salsa tadi sore menelponnya untuk berangkat bersama, namun Aurora menolak karena ia sudah terlebih dahulu berangkat bersama Arsen. Akhirnya, Salsa ia suruh untuk berangkat bersama Jovanya yang memiliki mobil. Beruntung gadis itu mau berangkat dengan Salsa.
Laura, gadis itu bercerita bahwa keluarganya sudah tidak seburuk terakhir kali. Dimana ayahnya juga bersedia datang ke acara malam ini. Namun, ia mengatakan bahwa ayahnya akan datang bersama ketiga kakaknya membuat Aurora berdecak.
Apa yang sebenarnya keluarga itu pikirkan? Mereka menyisihkan Laura hanya karena ibunya yang meninggal dalam kecelakaan bersamanya. Sinting..Seharusnya mereka bersyukur karena ia telah selamat.
Elano juga.
Pria itu hampir setiap dua jam sekali selalu menelponnya seolah takut dirinya menghilang ditelan bumi. Ia tidak habis pikir dengan pria itu. Aurora mengerut pelipisnya.
"Apa yang kamu pikirkan? " lirik Arsen
"Nggak apa-apa bang. "
"Jangan bohong. " desak Arsen melirik sekilas
"Nggak ada yang bohong. "
"Terus kenapa ngelamun? "
"Pengin aja. "
"Ck." decak Arsen yang akhirnya memilih diam.
Aurora menatap kearah wajah Arsen dari samping. Menatap wajahnya yang sempurna dengan rahang yang tegas dan hidung mancung nya.
"Bang.. "
"Hmm.. "
"Maafin Aurora ya.."
Arsen mengeryit sambil fokus menyetir, sesekali melirik kearah adiknya itu.
"Maaf untuk? "
"Semuanya."
"Kamu kenapa sih? Aneh banget dari tadi. " bingung Arsen, ia juga merasakan kegelisahan Aurora walaupun tidak tahu karena apa.
Mobil mereka telah memasuki area gedung. Arsen masuk dan mencari tempat untuk parkir. Disini sudh banyak sekali kendaraan yang terparkir, Arsen melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul setengah delapan.
"Ayo turun.. " ajak Arsen
Baru saja hendak membuka pintu mobil tangannya ditahan oleh Aurora, "Ada apa lagi? " tanya Arsen
"Ohh nggak jadi.. " cengir Aurora
"Dasar. Udah sana turun.. "
Arsen turun terlebih dahulu. Menunggu Aurora untuk turun dari dalam mobil tapi belum juga terdengar pintu terbuka. Arsen memutari mobil dan membuka pintunya dengan paksa namun tidak menemukan keberadaan gadis itu disana. Arsen mengeceknya di kursi belakang juga tidak ada.
"Lagi ngapain, bang? "
Arsen terkejut ketika seseorang memegang pundaknya hingga tidak sengaja kepalanya terjedot pintu mobil. Arsen mengelus kepala nya dan terkejut melihat gadis itu dibelakangnya.
"Sakit bego. " sengak Arsen
Aurora menyengir kuda.
"Lagian abang lagi ngapain sih? "
"Kamu keluar dari mana?! " sentak Arsen
"Ohhh.. aku tadi ambil sepatu helss di bagasi dan sekalian keluar dari sana. Tadi nggak liat abang disekitar mobil, eh pas muter ke sisi kanan abang malah lagi kaya bingung nyari sesuatu. " jelas Aurora
"Bego.Abang panik banget dikira kamu ilang diculik dedemit mobil. " dengue Arsen
Sekali lagi Aurora hanya menyengir. Arsen berjalan lebih dahulu menuju pintu masuk gedung. Aurora merubah ekspresinya menjadi datar tanpa ekspresi, lalu menghela napas dan menyusul abangnya yang sudah beberapa langkah didepannya.
BERSAMBUNG....