
Happy Reading
π
π
π
"Wah parah walaupun bukan rokok tapi tetep aja kalau ketahuan sama Aurora berabe lo Elano.. " ucap Jaka
Elano yang baru saja memasukan benda itu kedalam mulutnya langsung menghentikan niatnya, " dia gak suka?? " tanya Elano
"Setahu gue, dia gak suka orang yang ngerokok dll Arsen pernah bilang kaya gitu, makanya Arsen udah berhenti. " jawab Jaka
"Bener tuh. "
"Thanks."
Elano langsung memasukan kembali benda itu kedalam saku celananya dan tidak jadi melakukannya.
"Yaelah bucin banget lo sama Aurora. "
"Hahaha... kemakan omongannya sendiri dia."
"Katanya sih gak suka, tapi sekarang jadi bucin. "
"Menjilat ludah sendiri gak tuh. "
Begitulah obrolan mereka sambil mengejek Elano, sementara sang empu hanya mengedikkan bahu tak acuh.
"Elano.. " panggil Aland
"Hmm? "
"Siapa ketua Xanderrior?? " tanya Aland tiba-tiba membuat suasana menjadi hening.
"Lo penasaran? " tanya Elano
"Kita semua penasaran gak cuma Aland. " sahut Jaka
Elano menatap keseluruhan orang yang berada di ruangan itu, kemudian tersenyum miring, " kalian bakal tau nanti. "
"Apa benar dia orang yang kita kenal? "
"Maybe."
"Ck.bilang aja kalik, jangan buat kita penasaran. " decak Dava kesal karena rasa kepo nya.
"Biar surprise. "
π
π
Disisi lain Arsen masih berada di dalam rumahnya bersama sangat adik tercintahhh. Arsen tadi ingin pergi ke markas Delvanderr bersama yang lain tetapi sang adik justru berkunjung ke kamarnya dan terus mengintilinya.
"Bang pijitin kaki aku dong. " lintas Aurora yang sedang rebahan di atas ranjang milik Arsen.
"Ogah."
"Ayolah bang, lagian abang mau kemana sih??"
"Gak usah kepo, sana kembali ke kamar kamu sendiri. " usir Arsen
Sebenarnya ia bisa saja meninggalkan Aurora di kamarnya sendirian, namun ia tak berani karena ada sesuatu yang membuat Arsen was-was pada adiknya itu.
Arsen menyimpan sesuatu di bawah kasur dan belum sempat menyimpannya di tempat yang aman, ia takut Aurora menemukannya.
"Jawab dulu pertanyaannya. "
"Gak bisa, ini rahasia. "
"Yaelah main rahasiaan segala. "
"Jangan-jangan abang mau ke club ya??! " tuduh Aurora
"Gak! enak aja, jangan nuduh gitu. " bantah Arsen mentah-mentah.
"Terus? "
"Urusan cowok, cepetan keluar! mau dikunci kamarnya biar gak kemalingan. " ucap Arsen sambil menarik kaki Aurora yang menggantung di bawah kasur.
Aurora yang ditarik kakinya pun langsung berdiri, " gak usah ditarik-tarik juga kakinya! "kesal Aurora
" Kelamaan . "
Aurora pun keluar dari kamar Arsen bersamaan dengan Arsen yang keluar dan langsung mengunci pintu kamar.
"Mau kemana sih bang?? " tanya Aurora
"Gak usah kepo, sana main game aja di kamar, joy stik yang kamu minta lagi ada di perjalanan. " ucap Arsen terus berjalan menuruni anak tangga.
Aurora juga mengintili Arsen dibelakangnya, " serius bang?? "
"Iyaaa.. "
Aurora bersorak senang mendengar nya, namun untuk saat ini ia lebih besar tertarik dengan kemana abangnya itu akan pergi. Apalagi pakaian Arsen yang seperti maling dengan pakaian serba hitam dan jaket kulit hitam pula.
"Aku ikut ya bang. "
"Gak."
Aurora terus mengikuti Arsen hingga sampai di garasi motor.
"Emang kenapa?? abang gak mau berbuat hal yang jahat kan?" selidik Aurora.
"Gak lah. "
"Ada yang disembunyikan. " ucap Aurora curiga.
Aurora langsung berbalik dan berlari menuju kamarnya untuk mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih tertutup dan mudah untuk mengendarai motornya.
Kebetulan kedua orang tuanya sedang berada di luar, hal itu memudahkan dirinya untuk keluar sampai malam. Jika ada mamah atau oma nya jelas Aurora akan dilarang keluar ketika menjelang malam hari.
Aurora dengan tergesa-gesa berlari menuju garasi tempat motornya di parkirkan . Dengan cepat ia langsung menyalakan mesin motor dan berlalu dari halaman rumahnya.
Aurora melajukan kecepatan motornya untuk menyusul Arsen namun tak segera menemukan kendaraan abangnya itu. Sepertinya Aurora sudah ketinggalan jauh.
Aurora menepikan motornya di pinggir jalan dan membuka helm nya.
"Si*l, gak kekejar. " decak Aurora
Aurora terdiam diatas motor sambil berpikir kemana abangnya itu akan pergi. Aurora tidak tau dimana letak biasanya Arsen dan Aland dkk berkumpul. Aurora hanya tau markas geng Delvanderr pimpinan Elano.
Sejak sebelum kepergian Arsen hati Aurora entah mengapa sangat gelisah dan khawatir secara bersamaan, Aurora tak tahu kenapa. Namun biasanya saudara kandung apalagi serahim bisa merasakan apa yang kembarannya rasakan atau alami.
Aurora tak ingin abangnya terluka karena jika Arsen terluka maka dirinya juga akan merasakannya. Perasaan saudara kandung tak pernah meleset.
Aurora merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, ia berniat menelpon Elano siapa tau lelaki itu tau dimana keberadaan Arsen dan yang lain kumpul bersama.
1 panggilan tak terjawab
Aurora kembali menelpon Elano sampai berkali-kali, namun tak kunjung diangkat.
"Tumben, biasanya kalau gue telpon langsung gercep. " gumam Aurora
Kenapa bisa seperti ini?? sumpah perasaan Aurora semakin tidak karuan.
Aurora menekan dadanya karena tiba-tiba merasakan sesak, biasanya ia akan mengalami seperti ini ketika alerginya kambuh dan jika ia sedang cemas yang berlebihan. Aurora pernah merasakan sesak waktu kejadian Arsen di club namun waktu itu Aurora mengabaikan nya saja.
Aurora mengatur lagi napasnya supaya lebih stabil.
"Jangan panik Aurora, atur napas dan jangan panik. " gumam Aurora sambil terus mengatur napasnya.
Setelah menjadi lebih baik, Aurora kembali menghubungi seseorang yaitu Radit, lelaki itu memang sumber informasi baik Elano maupun Aland dkk. Aurora tau karena Radit sendiri yang pernah bilang padanya.
"Halo dit. "
"Kenapa ra? "
"Lo tau dimana tempat biasanya abang gue kumpul?? "
"Tau, tapi udah dulu ya gue sibuk. "
"Tunggu!! kenapa lo kedengeran ngos-ngosan? lo lagi ngapain emang?? "
"Bukan apa-apa ra, gue tut-"
"Ayo cepat jalannya, Xanderrior sedang menuju jalan lintas Selatan,jangan sampai kita telat. "
"Udah ya bay Aurora. "
Panggilan terputus dengan sendirinya.
"Jalan lintas selatan?? " batin Aurora
"Gue kaya gak asing sama suara itu, seperti suaranya... " Aurora berpikir dan mengingat suara siapa yang terdengar tadi.
"Karel!! iya itu suara Karel! " pekik Aurora
Aurora kembali terdiam untuk mengingat Alur novel, Aurora seperti pernah membaca alur dimana Karel mengucapkan ucapan seperti itu.
"Tawuran kedua Delvanderr dan Xan- xan.. aduh gue lupa namanya, intinya itu deh.. "
"Pertarungan dimana sang pemeran utama wanita dijadikan tawanan agar Elano dan Aland menyerah dan mengaku kalah?? " pikir Aurora
"Gak salah lagi, pasti adegan itu. "
Aurora kembali melotot saat mengingat itu adalah scane dimana awal mulai dirinya menjadi kambing hitam! dan akhirnya beneran jadi kambing hitam sampai mati.
"Anjir gak bisa dibiarin! "
"Gue harus kesana sekarang! "
Aurora memakai helm nya kembali dan melakukan motornya menuju tempat kejadian. Entah apa yang akan Aurora lakukan namun yang terpenting Aurora berada disana untuk memantau kondisi.
Karena Aurora tau motor para anggota Delvanderr akan disabotase dan sebagian orang mengalami kecelakaan karena rem blong saat pulang dari tawuran itu.
Itu sangat berbahaya!! apalagi abangnya dan Elano menjadi salah satu korban juga.
"Oh ****! "
Aurora semakin melakukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata, beruntung jalan yang ia lalui tidak terlalu ramai seperti jalan raya utama.
"Arsen dan Elano harus selamat.. " batin Aurora
"Gue harus cegah itu,bodoamat dengan alur!!"
π
π
π
Hai double up nih wkwkkw
Kira-kira Aurora bisa cegah dan merubah alur novel apa gak??
Jangan lupa like, vote, coment dan beri hadiahπβ¨
See you!!