
Happy Reading
☃️☃️☃️
"Hai! " usapa Laura pada ketiga gadis disana.
"Hai Laura.. " sapa Jovanya balik
"Gue mau nagih pertanyaan gue dulu ke kalian. " ucap Laura membuat Celline dan Jovanya mengeryit bingung.
"Soal? " tanya Jovanya
"Em.. soal boleh gabung sama kalian?? "
"Gue sih tergantung Aurora. " ucap Jovanya dengan Celline yang mengangguk setuju.
"Kalian nunggu jawaban gue?? kalau gue sih jelas boleh. " ucap Aurora
"Makasih." ucap Laura tersenyum senang.
"Gue punya syarat buat lo.. " ucap Jovanya mode serius.
"Apa?? "
"Gue bakal coba respect sama lo, tapi ketika lo melakukan hal yang sampai hilangin respect itu, gue gak bisa nerima lo lagi.. "
"Seperti?? "
"Bully dan tindakan jelek lainnya.. gue cuma mau punya circle yang baik. " jawab Jovanya.
(circle \=lingkaran pertemanan)
Laura mengangguk paham, "tenang, Laura sekarang beda sama yang dulu. "
"Kenapa sikap lo berubah? gue butuh alasan " kini giliran Celline yang bertanya.
"Gue khilaf kali, sekarang udah sadar, lagian gue juga mau berubah jadi yang lebih baik.. " ucap Laura tersenyum tulus.
"Ooohhhh.... "
Mereka berempat melakukan percakapan seperti biasanya, dengan beberapa pertanyaan untuk Laura agar mereka merasa yakin berteman dengannya.
"Hahaha... emang sih lucu banget. "
"Gue malah sering main HP tiduran, eh HP nya jatuh ke muka gue.... pluk kena hidung uhhh mantap banget rasanya. "
Mereka saling tertawa bersama.
Plak!!!
Wajah Laura tertoleh kesamping saat seseorang tiba-tiba datang dan menampar nya.
"Dasar jal*ng!! berani-beraninya lo ambil Arsen dari gue!! "
Aurora yang melihat Laura aka Tata ditampar pun langsung berdiri, gak ada yang bisa menyakiti sahabat baiknya itu, "maksud lo apa nampar sahabat gue hah?! " tekan Aurora sambil mendorong pundak Sila menjauh.
"Oouh jadi dia sahabat baru lo??? wah cocok sih sama-sama jal*ng sukanya ngambil milik orang. " ucap Sila menatap Aurora tak suka.
Laura menarik tangan Sila agar berhadapan dengannya, "apa alasan lo datang dan langsung nampar gue? "
Sila menghentakkan tangan Laura keras lalu membersihkan bajunya yang sempat dipegang oleh Laura, " ngapain lo deketin Arsen hah? ooh karena lo ditolak sama Aland jadi lo beralih ke Arsen yang notabennya sahabat Aland?? licik ya lo!! "
Aurora hendak maju memukul wajah Sila namun dicegah oleh Mega, "lo gak usah ikut campur!! "
"Ohh.. Hai Megalondon, lama tidak berjumpa, apa kabar dengan suara rekaman itu?? bagus banget kan suaranya.. " ucap Aurora sambil melipat kedua tangannya di dada menantang perempuan di depannya.
"Jadi lo udah ngerjain gue sama ste... "
"Ste?? " tanya Aurora saat Mega berhenti berkata.
Aurora mendekatkan bibirnya ke telinga Mega, "Steven maksud lo, hmm? "
Aurora menjauh dan tersenyum saat melihat wajah kaku milik Mega.
"Jauhin Arsen! gatel banget sih jadi cewek, gak Aland gak Arsen semua lo embat! " ucap Sila
"Lo cemburu?? emang dia pacar lo? bukan kan! "
Sila hendak menampar Laura namun terhenti saat seseorang menahan tangannya di udara.
"Jangan sakiti pacar gue. " ucap Arsen dingin
"Ar-Arsen? pacar?? jangan bohong!itu gak bakql mempan sama gue. "
Arsen menarik tangan Laura mendekat, "Laura pacar gue, kita backstreet selama ini, jadi jangan pernah kejar gue lagi. "
Aland yang berada disana terkejut mendengarnya, secara tidak sadar lelaki itu menatap mereka dengan tatapan tidak bisa diartikan.
"Kak? kak Aland kenapa? " tanya Salsa yang berada di samping Aland
"Gue gak papa. "
Aurora melihatnya dan tersenyum, " perlahan namun pasti. " lirihnya.
Sebagai pembuktian Arsen menarik pinggang Laura dan dengan cepat mengecup bibir Laura sedikit lama.
Semua orang yang disana berjengit kaget dan ada juga yang bilang romantis, sementara Sila yang melihatnya justru seperti orang kebakaran jenggot.
Aurora yang melihat tindakan abangnya itu pun langsung menutup mata, " seenggaknya jangan di depan umum juga kali, " ucapnya kesal.
"Lo liat? dia pacar gue, jangan ganggu Laura lagi. " tekan Arsen pada Sila
Sementara Laura hanya bisa diam dengan pandangan shok nya, namun segera sadar ketika Arsen menarik tangannya keluar dari kerumunan itu.
Sila mengepalkan kedua tangannya menatap kepergian mereka berdua dengan tajam, Aurora pun menghampiri nya, "sebelum dekati orangnya minimal dekati dulu adiknya, lo sama gue aja gitu, gak bakal gue restuin lo sama abang gue. " ledek Aurora.
Sila kembali tersadar ternyata Aurora adalah kembarannya Arsen, ia tahu tetapi selama ini matanya hanya memandang Aurora sebagai musuh.
Sila pergi dari tempat itu dengan kesal, disusul dengan Mega yang pergi dengan arah berlawanan.
"Drama." gumam Aurora
"Emang kak, hidup tanpa drama itu membosankan. " ucap laki-laki yang tiba-tiba berbicara disampingnya.
"Abigail,?? "
"Hai kak cantik. " sapa Abigail sambil tersenyum yang menampilkan lesung di pipi nya.
"Jangan senyum, "
"Lah kenapa? "
"Senyummu bisa buat orang diabetes, saking manisnya. " celetuk Aurora, mumpung Elano sedang tidak masuk sekolah.
Abigail terkekeh, " mau jadi pacarku kak? " candanya.
"Bocah sial*n!!! " ucap Elano yang mendengar nya dari kejauhan.
"Awas kalau gue udah balik. "
"Kenapa El? " tanya Radit
"Gue mau kasih lo tugas, cari asal-usul nama Abigail. " perintah Elano pada tangan kanan sekaligus temannya.
"Abigail? dia kan adiknya Laura." ucap Radit langsung.
"Keluarga Brijaya? "
Radit menjawabnya dengan anggukan, " anak terakhir dari keluarga Brijaya dia adiknya Laura dan 3 kakak laki-laki nya. " jelas Radit
"Ohhhh... "
Pintu terbuka menampilkan sosok sama seperti Elano saat masih muda, ia adalah Victorian De Alister ayah dari Elano.
"Apa kalian sudah siap? ohh kenapa mukamu seperti itu? apa kau sedang mengalami cemburu?? " ucap Victor saat melihat wajah sangar milik anaknya itu, sifat Elano hampir sama sepertinya jadi ia tahu seperti apa suasana hati anaknya itu.
"Kenapa Ayah menyuruh Elano melakukan hal ini?" tanya Elano to the point dan menghiraukan pertanyaan dari ayahnya itu.
Victor terkekeh, " Ayah tidak bisa memberitahu mu jika kondisimu masih dalam keadaan seperti ini, mending kamu keluar dan telpon tunanganmu agar kau bisa tenang. "
ucap Victor
"Sok tau. " ketus Elano
"Ayah memang tau, cepat! atau ingin ayah yang menelponnya? " tawar Victor dengan candaannya.
Jujur Ia sedikit asing dengan suasana hati anak lelakinya itu yang biasanya hanya menampilkan ekspresi datar dan dingin, namun ia menyukainya yang sekarang.
Radit menahan senyum mendengar nya, Elano hanya bisa mendengus lalu pergi dari ruangan itu.
"Apa kau pernah mengalami hal seperti itu, Radit?? " tanya Victor pada pemuda didepannya.
"Tidak om, belum ada perempuan yang bisa mengambil hatiku. " kekeh Radit
"Kau pasti akan mendapatkan nya segera. " ucap Victor
"Semoga saja. " balas Radit
☃️
☃️
☃️
Ada yang mau sama Radit?? wkwk
Hai🙋♀️Like👍Vote🎟coment ✉️
Dan beri hadiahhh📥🎁
See you guyssss!!!☃️