
Happy Reading~
π
π
π
"Elano datang disaat yang tepat tapi dia gak berhasil nyelametin nyawa adik gue. "
Aurora mengeryit bingung, " karena itu kalian jauhin Elano? " Stefano mengangguk.
"Tapi kenapa lo gak bilang kalau yang bunuh adik lo sebenarnya bukan Elano? kenapa lo biarin abang gue juga ikut benci sama dia?? seharusnya lo ngomong Fan, kalau abang lo yang berbuat itu.. " ucap Aurora yang sedikit geram mendengarnya.
Stefano menggenggam erat tangannya, " lo pikir semudah itu? bajing*n itu udah ngancem gue, waktu itu gue baru SMP gak berani lawan dia yang 3 tahun lebih tua dari gue... " jelas Stefano
"Itu alasannya Elano gak dipenjara sampai sekarang," lanjut Stefano
"Sorry, tapi gue mau bilang lo itu bodoh. " ucap Aurora jujur.
Stefano menatap Aurora meminta penjelasan, "maksud lo apa bilang gue gitu??"
"Ya karena tindakan lo itu membuat abang lo masih terus berkeliaran di lingkungan bebas padahal dia seorang kriminal, lo sama aja menyembunyikan sebuah fakta dan membiarkan orang yang tak bersalah justru menerima resikonya. " ucap Aurora serius
"Lo gak tau perasaan gue waktu itu!! jadi jangan pojokin gue." bela Stefano
"Iya gue tau, maksudnya kenapa sampai sekarang lo masih belum bilang yang sebenarnya? lo udah terlalu lama membiarkan abang lo bebas Fano.. sekarang lo udah besar jadi lo bisa membawa kasus ini ke yang berwajib. " ucap Aurora
"Itu udah lama. "
"Gak masalah, kadang banyak orang yang melaporkan sesuatu yang sudah terjadi cukup lama karena memerlukan sebuah bukti.. seenggaknya abang lo bisa dipenjara dan menerima konsekuensi atas perbuatan nya, agar abang lo jera. " jelas Aurora
Stefano terdiam memikirkan perkataan gadis itu, "akan gue coba. "
Aurora tersenyum dan menepuk punggung lelaki itu, " lo tau kan Steven selalu ganggu gue, dia selalu ingin buat gue putus sama Elano, gu-"
"Jadi itu alasanmu bersikeras untuk membatalkan pertunangan kita dulu?? "
Ucap seseorang yang muncul dari belakang tembok berhasil memotong perkataan Aurora.
Aurora langsung berdiri, "Elano... "
"Jawab Aurora. "
Aurora menggeleng, "gak El.. itu karena keinginanku sendiri bukan karena Steven, dia hanya baru-baru ini melakukannya.. " jelas Aurora
"Sepertinya kalian perlu waktu berdua, gue pergi. " pamit Stefano berjalan meninggalkan dia insan di sana.
"Gue minta maaf soal itu. " ucap Elano berhasil menghentikan langkah Stefano.
Stefano berbalik, "itu bukan salah lo, sorry karena gue udah nutupin kebenarannya. " ucap Stefano
"Gue gak masalah, karena gue juga merasa bersalah karena kurang cepat manggil dokter. " ucap Elano yang dibalas anggukan oleh Stefano.
Stefano berjalan mendekati Elano dan menepuk punggung Elano layaknya seorang lelaki, " itu masa lalu, masa depan lo ada di hadapan lo sekarang.. jaga dia baik-baik.." ucap Stefano sambil sesekali melirik Aurora disana.
Elano membalas tepukan Stefano ala lelaki, " tentu, tanpa lo suruh pun bakal gue jaga dia. " bisik Elano sambil melirik gadis yang sedang menatap ke arah keduanya bingung.
Aurora hanya diam melihat kedua lelaki itu, karena memang tak mendengar apa yang mereka katakan.Stefano pergi dari rooftop meninggalkan sepasang pasangan yang sedang berada disana.
Aurora mendekati Elano, "bicara apa tadi?? " tanya Aurora
"Gak papa, urusan cowok. " ucap Elano sambil merapikan anak rambut Aurora yang berterbangan terkena angin.
"Massa ? " curiga Aurora
"Iya."
"El kamu udah tau kan kalau ini hanya dunia novel?" tanya Aurora dan dibalas anggukan oleh Elano sambil terus menata rambut Aurora.
"Dunia kita beda El.. aku rasa aku gak bisa terus sama kamu seperti apa yang kamu inginkan. " ucap Aurora memandang wajah Elano.
Elano menarik pinggang Aurora mendekati tubuhnya," jangan bicara yang tidak-tidak. "
"Kamu harus tau kemanapun kamu pergi , Elano akan selalu ada, pegang ucapanku itu, buktikan itu kelak... " ucap Elano sambil memegang pipi Aurora.
"Gak ada yang sulit jika semesta sudah merestui nya. " yakin Elano
"Aku akan pergi besok, jangan dekat dengan lelaki manapun selain keluarga atau teman. " perintah Elano
"Pergi kemana? "
"Urusan, hanya beberapa hari"
"Urusan apa? "
" Ayah menyuruhku menyelesaikan sesuatu, jadi jangan kangen." ucap Elano
"Idih! gak akan"
"Hahaha.. yakin?? "
Elano memeluk Aurora, " jangan berubah tetap seperti ini. "
"Aku Claudia bukan Aurora,kamu ingat? "
"Tentu, Claudia nya Elano. "
"Suatu saat jika aku datang dengan sesuatu yang berbeda, tolong jangan hindari apalagi benci.." pesan Elano
Aurora mengeryit bingung, " apaan sih? emang mau kemana? "
π
π
Kedekatan Aurora dan Laura mulai terlihat oleh siswa-siswi di sekolah, banyak yang menyayangkan kedua pembully itu bersama-sama. Bagaimana pun Laura adalah ratu bully di sekolah ini dan sekarang dekat dengan Aurora sang anak dari keluarga Aldebaran?? marga itu bukan sembarangan marga, apalagi ia merupakan tunangan dari seorang Elano King Alister keluarga terhormat di kalangan bisnis.
Banyak yang masih membicarakan masalah Aurora yang membully Salsa, namun mereka yang tadinya berani menunjukan langsung ketidaksukaannya kini mereka sedikit takut memperlihatkan nya karena Aurora dan Laura sering beraktivitas bersama.
Aurora tak mempermasalahkan itu, lagian ini memang rencana mereka berdua.
Aurora cabut kembali perkataannya yang tidak ingin ikut campur dengan alur novel, karena jika kembali dipikir percuma saja karena novel ini memang sudah acak-acakan sejak kedatangannya kesini.
Aurora akan membuat sebuah alur baru, dimana dirinya yang akan menjadi tokoh utamanya dan menciptakan ending yang lebih baik dari isi novel. Ia akan memberikan beberapa kejutan kedepannya, membuat semua orang mendapatkan ending yang bahagia itu tujuannya, kecuali satu orang.. Sila.
Kini Aurora tengah berada di dalam kelas bersama kedua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Celline dan Jovanya.
"Ra kenapa lo jadi deket sama Laura? lo ada sesuatu sama dia? " tanya Celline
"Dia sahabat lama gue. "
Celline terkejut mendengarnya, "sahabat?? sejak kapan? kenapa pas masuk SMA lo keliatan gak kenal sama dia?? " tanya Celline penasaran.
Aurora menghela napas pelan, " dia sahabat gue waktu kecil, dan sekarang karena dia udah besar gue gak ngenalin dia. "jelasnya dengan sedikit kebohongan.
" Ohhh... tapi lo gak bohong kan? "
" Kenapa sih Cel? lagian kalau dilihat Laura udah baik gak kaya dulu-dulu. " ucap Jovanya santai.
Dirinya tidak masalah dengan Laura, karena Jovanya sendiri sudah melihat perubahan sikap dari gadis itu.
"Iya sih, gue cuma takut dia manfaatin Aurora. " ucap Celline
"Tenang aja Celline..." ucap Aurora sambil mencolek hidung Celline gemas.
"Apaan sih Ra.. " ucap Celline malu yang dibalas tawa oleh Aurora dan Jovanya.
π
ππ
Tinggalkan jejakππ
β οΈLike, vote, favorit,Coment dan Beri hadiah...
Yeay udah 40an episode, makasih banyak yang udah baca dan dukung cerita ini...
Aku juga lagi belajar bagaimana menentukan alur yang baik dan penulisan serta gaya bahasa agar mudah dipahami.. thanks atas coment kalian..lope sekebon deh.. ekekek
See you guys!!!! β€