AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
28# Tata Ada Disini??!



HAPPY READING


💐💐💐


Aurora berjalan menuju kelasnya namun terhenti ditaman sekolah karena melihat seseorang sedang duduk dibangku taman sendirian.


Aurora berjalan mendekati sosok itu lewat belakang saat ia hendak meneguk pundak gadis itu namun terhenti diudara.


"Gue kangen lo Clau, sampai saat ini gue belum tau cara untuk balik lagi kesana. Gue udah berusaha gak terlibat dalam novel itu dan sekarang gue hanya penikmat cerita tanpa berani berbuat sesuatu." ucap gadis itu dengan memegang sesuatu ditangannya.


Aurora memundurkan badannya namun ia malah menginjak ranting pohon.Gadis tadi berbalik badan kaget karena mendengar sesuatu dibelakangnya.


"Aurora? ngapain lo disini? " tanya Laura kaget.


Aurora tak menjawab pandangannya teralihkan ke sesuatu yang dipegang oleh Laura, itu itu gelang persahabatan yang ia dan Tata punya.Melihat arah pandangan Aurora yang menatap gelang itu Laura menyembunyikan nya kebelakang dan memasukkan nya ke saku roknya.


"Ngapain lo disini? " tanya Laura lagi


Aurora yang tadinya menatap gelang itu mendongakkan kepalanya menatap Laura dan terdiam dengan pikiran yang berkecamuk.


"Lo siapa? "


"Laura kita udah pernah ketemu kan. " ucap Laura bingung


Aurora menggelengkan kepalanya tak percaya, "Gue tanya sekali lagi, siapa lo sebenarnya? " tekannya.


Laura terus menjawab bahwa ia adalah Laura membuat Aurora geram sendiri karena dia tak mau terus terang."Dari mana lo dapat gelang itu? "


"Gelang tadi Em gue baru aja beli. " bohong Laura, ia tak mungkin membocorkan sesuatu yang mustahil pada orang lain.


"Lo bohong! "


"Lo kenapa sih Ra? gue gak bohong. "


Aurora merogoh saku bajunya dan mengambil gelang yang serupa walaupun berbeda warna karena yang ia miliki adalah warna hitam sedangkan punya Laura adalah putih.



Laura terkejut saat melihat gelang yang berada di tangan Aurora, "Kenapa lo punya gelang itu? " tanya Laura dengan tangan menunjuk gelang itu.


"Lo nyuri ya? " tuduh Laura


"Enak aja! seharusnya lo yang nyuri. " ucap Aurora tak terima


Mereka terus berdebat siapa yang mencuri masing-masing tak mau mengaku dan mempertahankan jati diri masing-masing.


"Oke oke, sekarang lo jawab gue jujur. Siapa lo sebenarnya? " tanya Aurora serius, semoga saja apa yang ia pikirkan dapat sesuai dengan yang ia inginkan sekarang.


"Lo juga siapa" tanya Laura balik.


Selama di taman itu ia merasa ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman dan menjadikannya menyeret Laura ke arah rooftop serta mengunci pintunya.


"Gue bukan Aurora, gue jiwa yang beda sama raga ini. " ucap Aurora menatap Laura serius.


"Lo serius? terus lo siapa? kenapa lo punya gelang itu? " desak Laura


Aurora terdiam sebentar membasahi bibirnya, "Gue Claudia dari dunia nyata. "


Laura menutup mulutnya terkejut, "Lo Claudia? lo-lo gak bohong kan? "


"Hmm, sekarang lo siapa? "


"Gue Tata. "


Sesuai dugaannya ia memang Tata sahabatnya, Aurora langsung memeluk Laura.


"Gue kangen lo bawel.. "


"Gue juga kangen lo si tukang jail. "


Aurora melepaskan pelukannya menatap Laura dalam, "Kok lo bisa kesini? " tanya Aurora


"Gue kepleset buku terus jatuh,bangun-bangun udah beda tempat. " jelas Laura


"Kalo lo? "


"Gue juga gitu, kok bisa samaan ya. " pikirnya heran


Di tempat itu mereka banyak sekali mengobrol dari semua keanehan kenapa mereka sampai disini sampai bagaimana caranya agar mereka bisa keluar dari novel itu.


"Pantes gue selalu ngerasa deket sama Laura waktu pertama kali ketemu..." jelas Aurora


Mereka berbicara dan menghabiskan waktu di rooftop sambil menikmati pemandangan di atas sana.


"Gue gak nyangka lo bisa disini, gue sangat kesepian walaupun banyak sekali orang-orang terdekat Aurora, tapi mereka mengenal gue sebagai Aurora bukan Claudia. " curhat Aurora sambil terus menatap kedepan menikmati semilir angin.


"Gue juga. Gue berusaha gak masuk dialog di novel itu makannya gue jarang muncul karena emang itu rencana gue sejak masuk novel ini. " ucap Laura


"Pantas aja lo berubah, gue ngerasa kalo antagonis nya bukan si Laura tapi orang lain. Entah kenapa gue ngerasa ada seseorang yang ngatur semua isi novel ini. "


Laura menghadapkan dirinya ke Aurora, "Kok sama kaya dugaan gue? gue kaya ngerasa sekuat apapun usaha buat rubah takdir Laura selalu aja itu akan tetap terjadi walaupun berbeda tempat ataupun yang lain, tapi secara kejadian itu tetap terjadi. " jelas Laura mengutarakan kebingungan nya.


"Lo mau bantu gue? " tanya Aurora pada Laura


"Bantu apa? " keryit Laura


"Nanti gue jelasin tapi jangan disini, nanti lo kerumah gue. "


"Ini nomor HP punya gue, " ucap Aurora memberikan kertas berisi nomor ponselnya.


Laura menerimanya, "Kenapa gak disini aja? " tanya Laura bingung


Aurora mendekatkan dirinya pada Laura kemudian berbisik, "Disini gak aman, banyak mata di tembok. "


Saat Laura hendak mencari apa yang dimaksud Aurora, segera Aurora tahan kepala gadis itu agar tak mencarinya, "Bisa gak sih lo gak usah kepo diwaktu serius. " kesal Aurora


Ia sangat kesal dengan sikap Tata satu ini setiap ia membisikkan sesuatu tentang apapun itu ia pasti langsung celingukan mencarinya.


"Sorry, "


Setelah itu mereka berdua keluar dari roftoop meninggalkan seseorang yang memantau disana lewat sebuah laptop yang tersambung di setiap sudut sekolah.


Sekarang Aurora sedang berada di kamarnya bersama Laura, gadis itu menemuinya setelah pulang terlebih dahulu.


"Kenapa? " tanya Laura


"Gue pengen lo bertingkah seperti seharusnya"


"Apa? gak! gue gak mau. " tolak Laura mentah-mentah karena ia tak mau mengejar-ngejar Aland lagi seperti Laura asli lakukan.


"Gue cuma mau lo bertingkah biasa bukan suruh lo jadi kaya Laura asli." decak Aurora


Laura membenarkan posisi duduknya yang bersila diatas ranjang Aurora, "Terus gue harus gimana? "


"Cukup berbuat seperti biasa jangan sembunyi kaya lo dulu." jawab Aurora


"Alasan? "


"Semakin kita bertingkah mencurigakan semakin ia senang mengerjai dan menjadikan kita layaknya mainan mereka. " jelas Aurora


"Gue gak maksud. " ucap Laura polos


Aurora teringat sifat lola sahabatnya itu dan ternyata terbawa sampai sini, "Lo cukup berlaku seperti biasa aja. " sabar Aurora.


"Oh oke. "


Keheningan melanda keduanya mereka fokus pada isi pikiran masing-masing, sampai seseorang mengetuk pintu kamarnya.Aurora berjalan membukanya ternyata abangnya Arsen , "Kenapa bang? "


Arsen tak menjawab ia malah menatap kebelakang punggung Aurora yang disana terdapat Laura yang juga menatap kearah sini.


"Bang." panggil Aurora menyadarkan Arsen


"Ooh gue mau ambil buku pelajaran yang lo pinjam. "


"Buku apa? emang gue pernah pinjam ya? "


Arsen berpikir sebentar, "Em maksud gue buku komik, sini balikin! " ucap Arsen dengan nada galak di akhir nya.


"Ooh iya iya gak usah ngegas juga. "


Aurora bebalik mengambil buku yang dimaksud kakaknya itu dan menyerahkan nya.


"Nih!! makasih bang. "


"Hmm, "


"Tapi itu bukunya ada yang ketumpahan minuman sedikit kok hehe.. " ucap Aurora tak enak


"Gak papa. " ucapnya kemudian Arsen berjalan keluar kamarnya.


"Abang lo ganteng. " celetuk Laura membuat Aurora terpikirkan tentang ada hubungan apa antara keduanya.


"Lo suka dia? "


"Gak."


Aurora tak percaya dengan jawaban Laura, ia hendak menanyakan nya langsung namun ia urungkan karena itu bukan urusannya, ia akn bertanya lain kali saja.


Setelah kepulangan Laura aka Tata ia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum dan berbagai makanan. Ia berjalan kearah ruang keluarga dan menyalakan televisi.


Menonton dengan tenang sambil mulutnya terus memakan cemilan tanpa henti karena para penghuni rumahnya sedang keluar, entah apa yang mereka lakukan.


Ia beberapa mengganti chanel mencari acara yang menarik untuk ditonton namun tak ada lagi kebanyakan hanya berita. Ia sebenarnya bingung saat pertama kali melihat siaran televisi di novel ini karena sama dengan dunia asli namun untuk kebenaran orang atau artis itu ada di dunia ini juga atau tidak Aurora tak tahu. Ia pikir apa yang disiarkan disini memang berasal dari pengalaman penulis asli novel.


"Gak ada yang asik. " bosen Aurora


Ia melihat mic dibawah televisi yang membuatnya terpikirkan untuk melakukan karaoke dadakan.Memasang mic itu dan menyetel televisi agar tersambung ke ponselnya ia kemudian menyanyi dengan asiknyaa.


..."Kau hancurkan diriku saat engkau pergi...


...Setelah kau patahkan sayap ini...


...Hingga ku takkan bisa...


...Tuk terbang tinggi lagi...


...Dan mencari bintang...


...Yang dapat menggantikanmu...


...Sampai kini masih kucoba...


...Tuk terjaga dari mimpiku.. " Duka-LastChild...


Aurora menyanyikan nya dengan sangat baik dan mendalaminya, ini merupakan salah satu lagu favorit nya dulu ketika ia sedang galau.Ia bernyanyi hampir tiga lagu namun terhenti karena seseorang mematikan televisi.


"Yahh bang jangan dimatiin dong!!!"


"Berisik, suara lo jelek kaya bebek! "


"Lah yaudah gak usah didengerin, ganggu orang seneng aja. " Aurora berjalan hendak menyalakan kembali televisi nya namun remotnya malah diambil oleh Arsen dan meletakkan nya di atas lemari yang tinggi.


"Bang ambilin! buruan! " teriak Aurora sambil mencegah abangnya pergi begitu saja.


Arsen meronta melepaskan tangan Aurora dari bajunya namun malah membuat bajunya sobek.


"Baju gue... " lirih Arsen


Aurora melepaskan tangannya dan berbalik perlahan hendak kabur.


"Mau kemana hah !? dasar kelinci nakal!!."ucap Arsen sambil menjinjing baju belakang


" Ampun, gak sengaja! "


________________________


🙋‍♀️Anyeong! Aurora ganti cover baru nihh..


Coment dong,Like👍Vote🎟coment✉️beri hadiah🎁Jadikan Favorit💌


SEE YOU !