AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
71. Permintaan Maaf



Sekarang mereka tengah berada di sebuah rumah sakit tempat seseorang dirawat. Menurut kabar Steven sudah siuman dua hari lalu dan secara kondisi ia sudah sehat. Maka dari itu polisi mempercepat penahanan sesuai intrusi dari seseorang.


"Gue gak mau dipenjara!!! Bangs@t jangan sentuh gue!! gue gak bersalah anj|ng!! " berontak Steven


"Bang sadar! lo harus menanggung semua tindakan lo itu!! " geram Stefano


"Gue gak salah!! Elano yang salah!! " teriaknya


"Dia yang bunvh Diva bukan gue!!! "


"Bawa dia pak. " suruh Stefano


Dengan keadaan memberontak bahkan sampai memukul dan melempar barang-barang di dekatnya, akhirnya Steven bisa kembali diam setelah melihat keberadaan seseorang didepan pintu. Dengan napas memburu dia menatap Elano tajam dengan gigi bergemelatuk.


"ELANO!! LO HARUSNYA YANG DIPENJARA BUKAN GUE!! "


Elano menatap Steven datar tidak ada raut kasihan sedikitpun, berbeda dengan Stefano yang sedikit kasihan namun harus tetap sesuai pendirian. Abangnya salah dan harus di penjara.


"Bawa dia pak. "


Polisi menyeret Steven menuju mobil tahanan, sedikit susah karena lelaki itu terus memberontak sambil mengumpati Elano tanpa henti.


"Hubungan lo sama Aurora bakal hancur, Elano! "


Ucapan terkahir sebelum Steven benar-benar sudah memasuki mobil tahanan. Seorang polisi menghampiri Elano.


"Saudara Elano apakah anda bisa ikut kami untuk meminta keterangan lebih lanjut? "


"Baik."


"Saya adiknya pak. " ucap Stefano


"Baiklah kalian berdua ikut kami ke kantor polisi, apa ada orang tua yang bisa dihubungi? " tanya polisi pada Stefano


"Tidak ada. "


"Berapa umur kalian? "


"19 tahun. " jawab Stefano


"Baiklah ikut kami. "


Mobil tahanan sudah pergi disusul dengan mobil yang ditumpangi Elano dan Stefano. Mereka yang tidak ikut mendampingi atau menjadi saksi pun ikut mengikutinya dari belakang. Sagara, Karel,Jaka, Dava,Aland dan Arsen berada dalam satu mobil yang sama.


Sampailah di kantor polisi, Steven sudah dimasukkan dalam ruang tahanan, sementara Elano dan Stefano masih didalam untuk dimintai keterangan.


"Lama banget. " ucap Karel


Tidak berselang lama terlihat Elano dan Stefano keluar dari dalam kantor polisi. Ke-enam lelaki itu memang sengaja menunggunya di depan dan tidak ikut masuk kedalam.


"Gimana? " tanya Arsen


"Lancar,bang Steven sudah terbukti bersalah dan akan dijatuhi hukuman penjara maksimal 10tahun." jawab Stefano


"Syukur deh. "


*


*


Serelah lima hari sejak penahanan Steven, kini murid-murid sekolah tengah sibuk untuk melakukan acara pada hari senin besok tepatnya hari mereka akan melakukan Ujian Akhir Tahun.


Ya sekolah masih sudah mengagendakan hal itu sejak lama. Setelah Ujian Akhir selesai para siswa kelas 12 akan lulus. Sistem kelulusan tahun ini dengan dulu sudah berbeda. Bukan karena nilai Ujian Nasional namun ditentukan dengan menggunakan nilai rapor dari semester pertama sampai semester akhir.


Semua siswa-siswi kelas 12 tengah sibuk menyiapkan diri untuk itu. Lulus adalah hal yang sangat membanggakan apalagi dengan nilai yang memuaskan.


Sama seperti Aurora yang tengah sibuk belajar di dalam perpustakaan, akhir-akhir ini tidak ada masalah semua berjalan dengan semestinya. Namun buka berarti tidak ada hambatan, jelas hambatan itu ada baik kecil maupun besar. Namun dapat Aurora selesaikan dengan baik.


Hari ini adalah hari Jum'at, pembelajaran hanya sampai pukul 11.00.Sementara sekarang baru saja pukul 10 siang. Aurora menyempatkan dirinya untuk membaca buku di perpustakaan.


Seseorang menarik kursi didepan mejanya,terlihat Elano duduk disana sambil meletakkan sebuah buku berjudul Sosiologi. Ya Elano berasal dari kelas IPS. Bukan karena bodoh namun katanya Elano ingin menjadi pembisnis kedepannya tentu saja melanjutkan usaha ayahnya.


"Sejak kapan disini? " tanyanya


"Sejam yang lalu. " jawab Aurora masih sibuk membaca


"Tidak ikut bersih-bersih? "


"Aku kabur, lagian banyak yang bersih-bersih. Kalau terlalu banyak nanti cepet kotor. " sahut Aurora


"Kebiasaan."


"Biarin."


Elano tersenyum tipis kemudian kembali melanjutkan membacanya. Mereka berdua duduk di meja berhadapan tepat di pojok dekat jendela. Hanya ada mereka berdua, karena para murid tengah sibuk membersihkan ruangan untuk ujian besok senin.


"Baca apa? " tanya Aurora setelah selesai membaca buku Biologi.


"Sosiologi." jawab Elano singkat


"Ohhh.. "


"El gue bakal kalahin lo dan menjadi siswi nilai terbaik tahun ini. " tantang Aurora


"Silahkan." sahut Elano cuek


"Ishhh.. " decak Aurora


Aurora berjalan menuju rak buku tempat ia mengambilnya. Meletakkan kembali buku itu. Ia berjalan menuju dibagian rak buku fiksi dengan beranekaragam judul cerita.


Melihat-lihat siapa tau ada judul yang berhasil menarik perhatiannya. Setelah berkeliling beberapa menit Aurora berhenti di bagian buku yang berjudul 'I LOVE YOU'


"Ada-ada aja, masa buku judulnya I LOVE YOU. "


"I Love You To. "


Aurora berbalik badan karena terkejut mendengar suara orang dibelakang tubuhnya.


"Elano! "


Aurora berdecak kesal dan hendak beranjak pergi dari sana namun saat Aurora menggeser ke kanan Elano menghalanginya, ke kiri pun Elano mengingatinya. Akhirnya Aurora berhenti bergerak dan menatap Elano.


"Kenapa? " tanya Elano


"Bisa minggir wahai tuan muda Elano King?? " ucap Aurora jengah


"Tentu saja yang mulia Princess Aurora. " sahut Elano menggoda


"Ck."


"Jangan cemberut. " ucap Elano


"Makannya minggir, aku mau kembali ke kelas ini sudah jam waktunya pulang. " ucap Aurora


Elano menggeser tubuhnya membiarkan Aurora pergi, namun baru beberapa langkah tangan Aurora kembali ditahan.


"Apa lagi Elano?? "


Cup!


Elano mengecup singkat dahi Aurora dan mengelus nya lembut, " sana pergi. " usir Elano


"I-iya."


Aurora berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Elano yang terdiam disana menatap punggung Aurora sampai tidak terlihat. Sampai berhasil keluar dari perpustakaan Aurora terus berjalan dengan langkah cepat seolah tengah diburu oleh seseorang, buka seseorang namun Aurora tengah diburu dibagian jantungnya hingga berdetak kencang. Untuk mereda nya ia harus berlari .


Bruk!


Aurora tidak sengaja menabrak seseorang karena jalannya yang tergesa-gesa, " sorry. " ucap Aurora


"Mega? "


"A-Aurora." ucapnya terkejut


"Sorry gue gak sengaja. " ucap Aurora dirinya tengah tidak mood untuk berdebat.


"Maafin gue. "


"Hah? " bingung Aurora


Mega meluruhkan tubuhnya kelantai dan memegang kaki Aurora membuat Aurora terkejut dan mundur kebelakang.


"Eh berdiri! nanti gue dikira ngapa-ngapain lo. " panik Aurora


"Maaf atas segala perilaku gue selama ini ra. " ucapnya dengan posisi terduduk menggunakan lututnya sambil menunduk.


Aurora membantu Mega untuk berdiri dari bersimpuh nya, " santai aja udah gue maafin. " ucap Aurora setelah Mega kembali berdiri.


"Kenapa lo tiba-tiba minta maaf?? "


"Dan seminggu terakhir lo ngehindar dari gue kan? " tanya Aurora


"Gak papa ra, gue cuma nyesel aja atas sikap gue selama ini. " ucap Mega


"Tiba-tiba? " curiga Aurora


"Umm.. maafin gue ra. " ucap Mega lagi


"Iya-iya."


"Gu-gue"


"AURORA !!! " panggil Celline diujung sana


Mendengar suara seseorang membuat Mega tersentak kaget, " gue pergi ya ra. "pamitnya


Mega berjalan tergesa-gesa membuat Aurora mengeryit bingung, Aurora terus menatap kepergian Mega sampai gadis itu hilang dibalik tembok.


" Ngapain Mega sama lo? " tanya Celline


"Dia buat keributan lagi? " tanya Laura


Aurora menggelengkan kepalanya, " dia baru aja minta maaf sama gue. " ucap Aurora


"Hah? "


"Apa? maksudnya? "


"Gue juga gak tau, dia keliatan ketakutan saat kalian bertiga kesini. "


"Lho kenapa? " bingung Jovanya


Aurora mengedikkan bahunya tak acuh, "gue mau ke kelas ambil tas. "


"Yaudah yuk. "


Mereka berempat pergi dari sana. Sementara Mega yang memantaunya dari balik tembok menghela napas pelan. Ia mengambil telpon untuk menelpon seseorang.


"Aku sudah memenuhi permintaanmu, tolong lepaskan ayahku dari penjara, aku mohonnn.. " pintar Mega


Seseorang di seberang sana menjawabnya sesuai permintaannya. Kehidupan Mega kini telah berbeda dengan dulu. Ayahnya yang terjebak hutang dengan seseorang, perusahaan bangkrut, dan seseorang juga mengancamnya. Mengancam Mega untuk meminta maaf dengan Aurora dan tidak berbuat jahat lagi. Awalnya ia menolak bagamanapun meminta maaf kepada musuhnya itu hal yang memaluka, namun tidak ada pilihan lain. Mega hanya hidup bersama ayahnya. Ayahnya adalah segalanya.


"Lo dimana Sila. " gumam Mega


Jujur saja gadis itu tidak terlihat lagi selama seminggu terakhir. Ia takut Sila akan kembali dengan mengejutkan. Gadis itu memang gila akan perhatian.


*


*


*


Anyeong!


Yuk! Like, Vote, Coment, dan Beri Hadiah, Favorit juga!