AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
63# Jail Banget Sih!



HAPPY READING


*


*


*


Langit sudah semakin gelap dengan suasana yang hening pula,membuat kedua pasangan yang tengah bertatapan itu langsung menjauhkan tubuhnya masing-masing.Saling memberi jarak ,suasana pun menjadi canggung.


Aurora menundukkan kepala sambil memainkan jari-jari tangannya dengan jantung berdegup kencang.Begitupun dengan Elano yang menyugarkan rambutnya kebelakang karena gugup.


"Maaf."


Kata itu belum berhasil memecahkan keheningan,ia tak ingin Aurora marah dan menjauhinya seperti yang terakhir kali.Jujur saja Elano terbawa suasana tadi dan melakukan hal seperti itu.


"Maaf.."


"Jika kamu ingin memukuliku karena marah silahkan,tapi tolong jangan menghindar dariku." pinta Elano.


Aurora masih terdiam tak menanggapi ucapan lelaki itu.


"Sayang?" panggil Elano


Aurora semakin menundukkan wajahnya sampil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.Elano yang melihatnya mendadak panik , sebegitukah dirinya sampai membuat gadis itu menangis?


Elano menggeser duduknya memegang bahu Aurora ," kenapa menangis?apa aku menyakitimu?"


Elano berusaha memutar badan Aurora agar menghadap kearahnya namun justru ia mendapat dorongan kecil,Aurora langsung berdiri dari duduknya.Aurorora menatap Elano yang ikut berdiri dengan tangan masih menutup sebagian wajahnya hanya diperlihatkan mata cantiknya saja.


Elano menatap Aurora dengan pandagan bingung," kamu gak lagi kesurupan kan?"


Aurora yang mendengar ucapan Elano melotot tajam,tanpa aba-aba gadis itu langsung menendang tulang kering Elano setelah itu mendorong bahu Elano kasar.


"Arggh..kamu kenapa sih?" bingung Elano  meringis sakit ,ia tak sempat menghindar tadi alhasil kakinya terasa sakit sekarang.


"Kenapa sih kenapa sih!!! dasar gak peka! gue malu bego!! " bentak Aurora kesal.


Tangan yang semula menutup wajah cantik itu sudah tidak ada lagi , terpapanglah wajah cantik Aurora dengan pipi semerah tomat matang,dibawah lampu yang temaram pun masih terlihat jelas bagi Elano.


Elano tersenyum tipis melihatnya," malu atau baper,hmm?" goda Elano


"Malu lah."


"Lagian ngapain baper sama cowok kaya kamu!"


"Ohhhh..."


"Kalau gitu boleh dong cium kamu lagi sampai baper?"


Semakin gadis itu mengelak semakin dengan senang hati Elano menggoda gadis itu.


"Cium tembok sana!!" tolak Aurora dengan wajah tertoleh kesamping,seolah tak ingin melihat Elano.


Elano berjalan mendekat hendak memegang pipi Aurora namun dengan cepat ia tepis.


"ARGHH.." teriak Elano


Aurora terkejut kemudian berbalik menatap Elano yang tengah meringis memegang tangannya yang baru saja ia perban.Astaga apa Aurora terlalu kencang tadi?


"Maaf...maaf...gak sakit banget kan?gak luka lagi kan?" panik Aurora


Elano menarik tanganya kebelakang saat Aurora hendak memegang tangannya itu,kemudian tersenyum menyebalkan membuat Aurora bingung.


"Kamu pura-pura kesakitan ya??! biar aku khawatir ?" tuduh Aurora


"Gak tuh."


"Kok kamu jadi nyebelin sih?? udah syukur di obatin tadi." kesal Aurora


"Gak minta diobatin ,kamu yang mau sendiri." sahut Elano


"Ohhh...gitu ya sekarang...awas kalau sakit aku gak bakal obatin kamu lagi!!"


"Gak minta."


"Kok kamu nyebelin sih!! au ah bodoamat!"


Aurora berjalan cepat sambil menggerutu meninggalkan Elano yang tersenyum kemenangan.Tanpa pikir panjang Elano mengejar langkah Aurora.


"Jangan ngambek dong."


"Bodoamat."


"Nanti cantiknya ilang loh...kalo tiba-tiba jadi nenek-nenek gimana hayoo.."


"Biarin, bisa cari cowok lain."


"Terus aku gimana? lagian mana mau sama cewek aneh kaya kamu,cuma Elano yang bisa ngadepin sikap kamu yang aneh loh..."


"Aneh katanya?? " batin Aurora


"Bisa berhenti ngikutin aku gak sih?!"


Aurora yang kesal karena celotehan Elano pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap lelaki itu.Elano juga ikut mengehentikan langkah kakinya menatap Aurora dengan senyuman manisnya ,namun bagi Aurora sangat menjekelkan.


Aurora yang melihat Elano bertingkah aneh pun berbalik badan terus berlari,melihat Elano yang iku mengejarnya membuat Aurora menambah laju larinya.


"Kenapa lariii? Aurora..." panggil Elano


"AKHHH....ADA ORANG JELEK NGEJAR..."teriak Aurora sambil terus berlari mengindari Elano.


"Mana orang jeleknya???! sini biar aku hajar,jangan takut.." teriak Elano namun tak semelengking Aurora.


"KAMU ORANG JELEKNYA!!!!!!"


"Enak aja,ganteng gini dibilang jelek.."sahut Elano


Akhirnya kedua insan itu saling berlari dengn Elano juga mengejar lari Aurora yang lumayan kencang.Aurora terus menghindar ketika tangan Elano berusaha menggapai tanganya.


"WLEE..gak kena!!!"


Keduanya berlari melewati jalan yang memang sepi ,mungkin setan penunggu disana pun menggelengkan kepala melihat tingkah dia manusia itu.


Dengan sekuat tenaga berlari kini langkah kaki Aurora sudah sampai di warung dimana semua anggota berkumpul.Beruntung belum pada pergi jika tidak maka ia akan habis bersama Elano.Aurora bergidik ngeri membayangkannya.


Arsen yang melihat adiknya  berlarian menuju kemari langsung berdiri.


"Kenapa berlarian seperti itu??" tanya Arsen khawatir


Aurora memegang lututnya sambil mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.Aurora langsung menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh kakanya itu saat melihat Elano berjalan pelan kearahnya.


"Bang.."


"Sebenarnya ada apa?"


"Aku baru saja dikejar orang jahat."


"Siapa??mana?? biar kita semua yang hajar dia." sahut Arsen


"Berani lah ."


"Tuhh..." tunjuknya pada Elano yang masih santai berjalan.


Semua menolehkan tatapannya kearah Elano yang berjalan dengan tatapan tajamnya,apalagi bekas darah kering dengan balutan perban membuat semuanya bergidik.


Aurora yang melihatnya juga ikut bingung,padahal tadi lelaki itu menampilkan wajah menyebalkannya namun sekarang sudah berubah menjadi serius?? dasar bermuka dua!.


"Apa?" ucap Elano yang sudah sampai disana.


"Gak ..gakpapa!" sahut Karel ,sementara yang lain hanya menggelengkan kepalanya.


"Ohh..." dengan santai Elano duduk di kursi kayu sambil meminum minuman yang masih utuh diatas meja.


Dava yang melihat minumanya di minum lelaki itu hanya bisa mengiklaskannya,ia akan pesan lagi.Daripada harus berurusan dengan Elano.


"Gimana sih bang katanya mau hajar orang jahatnya,kok malah diem...." ucap Arora


"Apa dia nyakitin kamu??" tanya Arsen


Aurora terdiam pandangan matanya bersitatap dengan Elano yang menaikan sebelah alisnya,Aurora membalasnya dengan geraman kesal dengan bibir mencibir.


"Dek"


"Em ..gak bang." jawab Aurora pasrah.


"Terus kenapa kamu lari-lari kaya gitu?? kenapa kamu bilang Elano orang jahat? " selidik Arsen


"Mana berani dia jawab. " sahut Elano santai


"Elano, lo apain adek gue???? "


"Gak ngapa-ngapain, gue cuma nyium bibir dia aja. " ucap Elano dengan santainya.


"APPA????! " kaget beberapa orang, termasuk Sagara.


Aurora tersenyum getir mendengar ucapan Elano yang sangat ringan itu!!


"Bangs@t!! bisa-bisanya tuh cowok bilang kaya gitu.. " duel Aurora dalam hati.


Aurora yang merasa diintimidasi oleh beberapa tatapan langsung bersembunyi di balik badan kekar milik Arsen.


"Gak bang, dia bohong. "


"Jangan percaya. "


"Lah gak mau ngaku?? apa perlu diulang lagi?? " pancing Elano tersenyum penuh kemenangan.


Sumpah! Aurora ingin menendang kencang cowok itu sekarang juga!! sengaja banget bikin dirinya malu bukan kepalang!


"Wess..wes...emang cocok banget sih kalian berdua. " sahut Dava


"Udah nikah aja langsung, gemes gue liatnya. " ucap Karel yang diangguki oleh Dava. Keduanya memang kompak sekali.


"Jadi pengin punya ayang. " gumam Jaka


Karel dan Dava yang berada di dekat Jaka langsung menatap cowok itu horor.


"Kasian jomblo. "


"Tenang aja, setelah ini gue bakal cari ayang. " ucap Jaka penuh semangat.


"Idih... "


Aurora yang ditatap misterius oleh Elano langsung mengalihkan tatapannya, "bang pulang yuk.. disini banyak dedemit. " ajak Aurora


"Gak bisa, abang mau ke markas bareng yang lainnya. " sahut Arsen


"Loh? terus aku pulang sama siapa? "


"Emang lo kesini jalan kaki ya?? " tanya Dava


"Naik motor lah, sengklek kaki gue kalau jalan kaki. " sahut Aurora


"Yaudah tinggal pulang kok susah. " ucap Dava


"Gak berani sendiri ogeb! udah malem! kalau gue pulang sendirian tanpa bang Arsen abis gue sama nyokap. " sahut Aurora


"Yaudah ikut ke markas aja. " ucap Sagara to the point.


"Gak mau, ada dedemit. "


"Apaan sih lo ra?? mana ada dedemit, ngaco! bilang aja takut sama Elano. " ledek Karel


"Bacot lo! " ucap Aurora ngegas yang langsung dibalas tawa yang lain.


"Sal pulang bareng gue yuk! " ajak Aurora pada Salsa yang berada di samping Aland.


"Dia pulang sama gue. " sahut Aland langsung.


"Lo kan mau ke markas, biar gue pulang sama Salsa, lagian biar lo gak usah antar dia nanti. " kekeh Aurora


"Aku sama Aland, aku gak berani dibonceng sama kamu. " ucap Salsa polos.


Semua orang yang berada disana tertawa terbahak-bahak, sungguh Aurora merasa menjadi kacung disana.


"Udah lah ikut ke markas, lagian Salsa juga ikut, kalian bisa ngobrol bareng. " ucap Jaka


Akhirnya Aurora pasrah ikut mereka ke markas, ia juga tak berani pulang sendiri, bukan karena takut hantu namun ia lebih takut mamahnya yang mengomelinya nanti, mamah Aurora jika sudah mengomel bisa berjam-jam tauk!! kalau pulang sama Arsen dia kan bisa membuat alibi diajak abangnya main.


Aurora menaiki motornya dengan hati dongkol, kebetulan motor disampingnya adalah motor Elano. Elano menatap Aurora dengan senyum manisnya.


"Apa senyum-senyum! " sentak Aurora


"Kasian gak bisa pulang. "


"Elanooooo..... kam-"


Elano menutup kaca helm milik Aurora sebelum gadis itu mengomel lebih lanjut.


"Hustt diem.. tenang aja dihati Elano masih ada Aurora. " ucapnya


Kapan lagi Elano bisa membuat gadis itu marah, ngambek, kesal dan ketakutan sekaligus?? yang penting Aurora tidak menangis, itu jauh lebih baik.


*


*


*


Ekhem....


Double up??


Yuk!