AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
Bab 77 : Blusingnya seorang Aurora




...HAPPY READING📖...


Seminggu kemudian.....


Setelah acara makan bersama perayaan ulang tahun Arsen dan Aurora selesai, kini yang telah dinantikan oleh semua murid telah tiba. Yaitu acara pengumuman hasil ujian yang dilaksanakan seminggu kemarin. Semua murid antusias menuju papan pengumuman SMA Bintang untuk melihatnya.


Sementara Aurora kini tengah bersama Arsen dan teman-temannya yang masih duduk santai di ruang musik. Hanya ada dirinya, Arsen, Aland , Jaka dan Dava sementara Stefano tengah mengecek papan mading seorang diri. Sementara Aurora sendiri dengan percaya diri duduk sembari memainkan gitar dan diajari langsung oleh Arsen.


"Mau lagu apa? "


"Cintanya aku bisa bang? "


"Boleh, tinggal liat nada-nada nya." angguk Arsen


Aurora mencobanya. Hanya pelan dan sedikit kesulitan memainkan kuncinya. Namun Arsen terus mengajarinya hingga bisa sampai reff. Aurora meletakkan gitar itu disampingnya dan menatap kedepan dengan pandangan kosong. Arsen mengelus kepala adiknya dengan lembut, " ada apa? "


"Nggak papa bang. "


"Mikirin nilai? "


"Nggak kok. "


"Jangan terlalu dipikirkan, apapun hasilnya yang terpenting kamu udah berusaha. " nasehat Arsen


"Iyaa.. " angguk Aurora begitu saja


Arsen berdiri dari duduknya berjalan menuju Aland yang tengah tiduran diatas sofa sambil bermain ponsel. Menepuk kaki pria itu menyuruhnya untuk terduduk.


"Apa? "


"Gimana buat acara prom night besok? Udah lo cari siapa yang bakal mengajukan penampilan? " tanya Arsen


"Udah.Cuma belum semua kelas mengajukan perfom. Salah satunya kelas Aurora dan lainnya. "


"Ohhh.. Oke. " angguk Arsen


"Ada apa Sen? " tanya Jaka


"Nggak papa. Fokus latihan aja buat perfom besok malam. "


"Serius nggak ada apa-apa? " tanya Jaka lagi yang dibalas anggukkan oleh Arsen.


"Syukur deh.. "


"Nanti gue bakal koordinasi sama Abigail soal ini. " ujar Arsen berjalan keluar dari ruang musik.


Aurora masih saja diam disana.


Elano. Pria itu selama seminggu jarang bertegur sapa dengannya semenjak kejadian di rooftop. Aurora meras bersalah. Namun itu jauh lebih baik bukan untuk kedepannya?


Aurora menghela napas kasar dan berjalan keluar. Jaka yang melihatnya pun mengeryit bingung dengan sikap gadis itu yang terlihat murung.


"Kenapa tuh? "


"Nggak tau. Lagi bunek kali mikirin nilai. " jawab Jaka ketika Dava bertanya.


"Ohhh.. "


Aurora berjalan seorang diri melewati lorong-lorong kelas. Beberapa kali bertegur sapa dengan murid yang memanggilnya. Arah kakinya menuntun untuk menuju kearah mading. Terlihat disana banyak sekali murid-murid yang tengah berebutan untuk melihat nilai mereka. Aurora berjalan santai dan berdiri di belakang menunggu para murid bergantian melihatnya.


Tepukan di bahunya membuat Aurora terkejut. Terlihat Celline dan Jovanya di sana. Mereka sepertinya ingin melihat perolehan nilai masing-masing.


"Yahh rame banget.. "


"Udah gue bilang jangan sekarang. Ngeyel banget. Jelas pasti murid-murid lagi berdesakan di sini. Disuruh nunggu di kelas aja nggak mau sih lo! " decak Jovanya


"Ya sorry. "


"Eh ra.. lo udah liat nilai lo sendiri? "


"Belum."


"Yaudah kita nunggu gantian aja, daripada drorong-dorongan. " sahut Jovanya


"Nggak ah, lama anjir, lo nggak liat berapa banyak mereka? Nunggu giliran mau sampai sore hah? "


"Liat aksi gue nih.. "


"WOIII MINGGIRR PRINCESS CELLINE MAU LEWAT.... "


Gadis itu berteriak sambil membelah kerumunan. Siapa yang tidak langsung menepi ketika mendengar suara menggelegar nan melengking miliknya. Semuanya menghindar sambil menutup telinganya , apalagi yang berada tepat di depan gadis itu auto budeg. Mereka berdecak kesal melihat nya, namun tak urung menepi daripda mendapatkan suara menggelegar lagi persis seperti toa.


"Minggir bentar yak.. gue mau liat doang, nanti kalian lanjut deh ngedumel nya. " senyum Celline mengembang


"Ngantri dong.. "


"Iya tuh. Bikin telinga orang budeg aja. "


"Hehehe sorry guyss. Tapi kalian tenang aja, hari ini kita free pelajaran jadi kalian bisa liat nilai disini sampai sore.. "


"Serius free? "


"Iyap." angguk Celline


Seketika mereka bersorak senang. Dan menghambur pergi dari sana.


"Lo nggak bohong kan? " curiga Jovanya


"Nggak kok. Gue dapet info dari si Abigail , emang free karena buat persiapan prom night. "


Celline tiba-tiba kebelet untuk pipis dan mengajak Jovanya untuk menemaninya. Tinggallah Aurora disana seorang diri.


"Eh.. "


Aurora mengambil kertas pengumuman nilai yang terjatuh.Bertepatan dengan itu terlihat tangan lain yang juga sama mengambilnya. Aurora mendongak kan wajahnya dan melihat wajah Elano yang tengah menatapnya juga. Keduanya bertatapan. Kemudian Aurora berdehem dan menempelkan kembali kertas itu di papan mading.


"Kenapa jadi canggung. " batin Aurora


Aurora berusaha mencari namanya di antara ratusan nama murid di SMA Bintang. Terlihat sangat gerogi karena Elano juga sama tengah mencari namanya. Aurora sudah mencari namanya di sebelah kanan mading namun tidak menemukannya, itu artinya namanya berada di tempat Elano berada.


Aurora menggeser tubuhnya dan melirik kertas disana untuk mencari namanya. Elano menolehkan wajahnya kesamping menatap wajah Aurora yang tengah fokus mencari namanya di jarak yang cukup jauh, gadis itu bahkan sampai menyipitkan matanya.


"Deketan."


"Hah? "


"Sini deketan. Dari situ mana bisa liat namanya. "


"Ohhh iyaa. "


Aurora menggeser tubuhnya menjadi lebih dekat. Keduanya bersebelahan. Kepala Aurora melongos kan kearah lebih kiri melewati perut Elano dan dinding mading untuk memperjelas. Elano menundukkan wajahnya dan tersenyum tipis.


Lelaki itu menarik pinggang Aurora untuk mendekat membuat gadis itu terpekik kaget. Posisi mereka sangatlah ambigu dengan tubuh Aurora yang berada di tengah antara mading dan tubuh Elano.


"Udah ketemu? " tanya Elano


"Hah, apa? "


"Namanya udah ketemu? "


"Ini.. " tunjuk Aurora


"Bisa nggak jauhan dikit? Nanti kalau ada yang liat dikira berbuat macam-macam disekolah. "


Elano memundurkan tubuhnya patuh.


Aurora mengurutkan nilai rata-rata yang diperoleh ujian kemarin. Rata-ratanya 94 . Sungguh itu membuatnya shook berat, sekaligus senang bukan main. Ini hanya nilai full ujian. Untuk menentukan peringkat terbaik tahun ini bukan hanya dari nilai ujian namun juga dari nilai rapor.


"Aku dapat 94 El!! " pekik Aurora senang


"Selamat ya.. " senyum tipis dari Elano membuat Aurora tersenyum senang.


Aurora membalikkan lagi tubuhnya untuk mencari nama Elano. Dan berapa terkejut nya dengan nilai lelaki itu. Aurora menatap Elano horor.


"Ada apa? " tanya Elano


"Kamu... "


"Ya? "


"Bagaimana bisa kamu dapat nilai hampir sempurna!!! Elano kamu dapat nilai 98 anjirrr!!! "


"Biasa aja. "


Aurora melongo mendengarnya. Biasa aja katanya? Whattttt!


"Itu bagus banget Elanoooo.. "


"Nilaiku turun. "


"Hah? "


"98 bukanlah nilai yang aku inginkan. Aku ingin nilai sempurna agar bisa menunjukan keseriusan ku dalam belajar. "


"Kau tau. Aku sangat protektif kepada angka, namun aku jauh lebih protektif denganmu Aurora. Kau bisa melihat keseriusan ku dalam belajar itu sama seperti keseriusan ku untuk selalu bersamamu sampai kapanpun. "


"Eh? "


"Maksudmu? "


"Maksudku nilai saja aku perjuangkan apalagi denganmu. "


Blessssssss...


Pipi Aurora mendadak panas.


"Nggak mungkin kan gue blushing sama gombalan ringan kaya gini? " pikir Aurora


"Pipimu merah. "


"Hah? "


Astaga. Aurora ingin mencelupkan wajahnya kedalam air es sekarang juga.


"Lucu banget."


Aurora semakin menundukkan kepalanya.


"Jadi pengen culik. "


Cukup! Aurora tidak bisa diperlakukan seperti ini. Bagaimana bisa ia blushing hanya karena gombalan receh Elano. Biasanya itu tidak pernah terjadi. Aurora kelabakan ditempat.


"Kenapa nunduk? Padahal aku ingin melihatnya. "


"Jangan menggodaku Elano!! " tegur Aurora


"Boleh nggak makan kamu? "


"Memangnya kamu kanibal makan daging manusia. " sinis Aurora sambil menutup kedua pipinya dengan tangan


"Aku bukan kanibal. Tapi Kanibalovyou. "


(Maaf author nya nggak bisa ngegombal😌, kata Elano Kanibalovyou😌anjayy)


"Hahahaha.. belajar gombal dari siapa sih. Jadi norak banget. Nggak cocok kamu ngegombal tau.. "


"Nggak cocok tapi blushing. "


"Elano! "


"Ya sayang? "


Aurora memejamkan matanya.


"Stop jangan dilanjutin. "


"Kenapa? "


"Nggak lucu Elano. "


"Aku juga nggak lagi ngelucu. "


"Yaudah."


"Yaudah apa,? " pancing Elano terus


"Udah diem. "


"Kalau nggak mau? "


"Aku sumpel mulut kamu pakai lakban! "


"Jangan pakai lakban, pakai bibir kamu aja gimana? "


"Elanooooooooooo... "


Elano berlari menghindar dari kejaran Aurora yang tengah berlari dibelakangnya. Aurora bahkan membawa sapu sambil berteriak menyuruh Elano untuk berhenti. kejadian itu dilihat jelas oleh semua murid yang berada disana. Ini adalah momen langka, dimana Elano yang sangat cuek itu tengah berlarian sambil tertawa disepanjang lorong kelas.


"Aduh kayak anak kecil aja. " geleng Jovanya


"Gue kapan yah bisa gitu. " iri Celline


Jovanya menaga Celline dengan jahil.


"STEFANOOOO LO DICARIIN CELLINE, KATANYA MINTA MAIN KEJAR-KEJARANNNNN.. "


Celline melotot kaget dengan suara teriak Jovanya. Melihat gadis itu berlari menuju Stefano yang kebetulan tengah berjalan seorang diri. Celline pun melotot kaget dan langsung berlari untuk menangkap Jovanya agar gadis itu tidak mempermalukan nya lebih lanjut.


"Van, lo dicariin Celline, katanya minta dikejar-kejar kaya Elano sama Aurora. " adu Jovanya setelah berada di depan cowok itu.


"JOVANYA DIEM LO!!! " teriak Celline melengking bahkan hingga kaca jendela bergetar.


(Sampe sini loh suaramu Cell berdengung di kepalaku😌)


Bersambung.....


Tinggalkan jejak😌asli suara Celline sampe sini, bedanya tetangga gw yg lagi teriak😌