
Happy Reading
*
*
*
Aurora mengendarai motor besar hitamnya bersama-sama dengan anggota Delvandeer. Tadinya ia ingin berboncengan dengan Salsa namun Aland tidak mengijinkannya dengan alasan takut jatuh. Alasan bilang saja ingin berduaan naik motor!
Selama perjalanan Aurora terus saja menggerutu kesal, padahal Salsa sudah ia selamatkan seharusnya gadis itu juga membantunya untuk kabur pulang, namun ia malah tidak mau.
Para anggota dengan tertib menaiki motor, suara knalpot pun tidak terlalu memekakkan telinga, karena memang sudah standar keamanan dan kenyamanan.
Aurora menyalip motor- motor itu dengan mudah dan kini motornya bersebelahan dengan motor Elano. Elano menoleh kesamping melirik Aurora sekilas kemudian fokus berkendara.
Aurora menaikkan gas motornya dan berada di depan motor Elano. Elano menaikkan sebelah alisnya saat melihat tingkah gadis yang sayangnya tunangan Elano sendiri.
Anggota lain yang melihat motor Aurora berada di depan motor Elano sangat ketua pun terkejut.
"Ngapain tuh anak?? " teriak Dava
"Tau tuh.. berani banget ngedahului Elano.. " sahut Karel
"Gue takut Elano marah. "
Begitulah percakapan keduanya, Arsen yang melihat tingkah ajaib adiknya pun hanya bisa menghela napas pelan. Udah bagus tadi berjalan disampingnya, gadis itu malah berpindah ke depan sana.
Sementara Aurora tersenyum senang dan bangga, karena seperti seorang Leader Women yang memimpin para geng motor lelaki dibelakangnya.
"Keren juga jadi ketua, pantes Elano sering banget terlihat songong. " ucap Aurora
Jika ada anggota lain baik sahabatnya pun ia akan marah ketika ada yang berjalan mendahului nya. Namun untuk Aurora ia hanya tersenyum tipis. Elano menarik gas motor nya mensejajarkan posisi motor mereka. Aurora yang melihatnya pun juga ikut menambah pacuan gasnya, Elano yang melihatnya juga menambah laju motornya.
Kini kedua motor itu saling menyalip seolah gak ingin menjadi yang kedua, bahkan kecepatan motor mereka semakin kencang.
"Ngapain kamu ngikutin aku???! " teriak Aurora
"Gak ada yang ngikutin kamu. " sahut Elano saat kedua motor itu bersimpangan.
"Yang kalah jadi babu!! " tantang Aurora
"Oke."
Jadinya kedua insan yang tengah kasmaran itu saling menyalip motor satu sama lain layaknya seorang pembalap.
"Lumayan juga. " batin Elano melihat cara berkendara Aurora.
Elano belum sepenuhnya mengeluarkan skillnya, ia sekarang akan membiarkan gadis itu tertawa senang dahulu.
"Ternyata gitu doang skillnya. " gumam Aurora tersenyum penuh kemenangan.
Para anggota yang ditinggal dibelakang juga ikut menambah laju motornya saat melihat dua orang itu sudah melakukan ke depan.
"Gimana sih tuh anak!! malah balapan .."
"Biarin aja, kaya gak pernah jatuh cinta aja hahahaha... "
"Kita percepat, susul mereka! " perintah Arsen
Arsen melajukan motornya menyusul adiknya, ia takut Aurora jatuh apalagi sampai terluka, bisa habis Arsen sama mamahnya. Walaupun bersama Elano namun Arsen tetap khawatir karena adiknya tukang ceroboh.
Kedua insan itu kini sudah sampai di bascame milik geng Delvandeer dengan Elano yang datang terlebih dahulu disusul Aurora beberapa detik setelahnya.
"Kamu kalah. "
Aurora membuka helmnya kasar, " katanya tangannya lagi sakit kok bisa ngebut. "sindir Aurora
" Udah sembuh karena diobatin kamu. "
"Hilih.. " cibir Aurora
"Kamu kalah. " ulang Elano
"Terus??? kamu tadi curang, aku lagi slow kok kamu malah ngebut. " cerca Aurora
"Jangan banyak ngeles. "
"Iya apa? jadi babu? aku gak mau, lagian masa kamu mau jadiin tunangan sebagai babu. "
Elano turun dari atas motor berjalan mendekati Aurora yang masih nangkring diatas motornya.
"Apa? "
"Cium." tunjuk Elano pada bibirnya
Aurora melotot, " gak mau!! enak aja. "
"Buruan." tekan Elano
Aurora mendekatkan wajahnya kearah wajah Elano, ia berniat menciumnya secara kilat.
Belum saja kedua bibir itu menempel, terdengar suara derum motor membuat Aurora langsung mendorong tubuh Elano menjauh. Aurora tersenyum senang.
"Mana? kok gak jadi. "
"Kamu gak liat temen-temen udah datang?? dasar mesum! "
"Aku bakal tagih itu suatu saat. "
Aurora mengedikkan bahu tak acuh, kemudian berjalan memasuki bascame.
*
*
Kini beberapa anggota sudah berkumpul di ruangan tempat mereka bersantai, dimana terdapat sofa dan tikar disana.
Beberapa anggota sudah ada yang pulang duluan, hanya tersisa anggota inti dan beberapa anggota yang biasanya menginap bascame untuk berjaga.
"Stefano sama Radit mana ya? " tanya Aurora saat melihat anggota yang kurang.
"Mereka sedang di rumah sakit. "
"Lah ngapain? "
"Steven, dia kan pingsan gara-gara lo. " ucap Dava
Aurora tersenyum canggung, benar juga, pantas saja ia tak melihat dua orang itu.
"Semuanya bisa menyampaikan pendapat dan lain-lain, asal tidak untuk memancing keributan. Kita melakukan sesi ini sambil menunggu kedatangan Stefano dan Radit. " lanjut Sagara
Aurora duduk dengan tenang disamping Arsen dengan posisi memeluk lengan abangnya dari samping. Aurora menghiraukan tatapan Elano diseberang yang menatap kearahnya.
Mereka semua berunding dengan tenang, Aurora tak ikut campur urusan soal itu yang terpenting abangnya dan Elano selamat dari maut.
"Gue masih bingung, kenapa mr. Xan bisa ada disana.. bagaimana bisa dia membubarkan Xanderrior semudah itu?? " ucap Jaka
"Apa mungkin dia udah beli gang itu? maksudnya membeli sumber daya manusianya untuk bekerja padanya. " pendapat Dava
"Bisa jadi. "
Aurora yang tadinya tidak tertarik , kini membenarkan posisi duduknya.
"Siapa mr. Xan yang kalian maksud ?? " tanya Aurora memotong pembicaraan mereka.
"Lo gak tau?? bukannya lo temennya Laura, masa gak tau. " sahut Jaka
"Gue tau dia kak Bima kakak tertua Laura, maksud gue itu siapa sebenarnya kak Bima itu.. " tanya Aurora mengoreksi pertanyaan.
"Kenapa lo bisa panggil dia semudah itu?? kita disini aja gak berani bilang langsung namanya, dan tadi kenapa dia natap lo lekat?? seolah ada sesuatu. " tanya sekaligus selidik Sagara
Aurora gelagapan mendapatkan pertnyaan seperti itu dari Sagara.
"Anu.. gue pernah ketemu sama dia dirumahnya. " jawab Aurora
"APA???! " kaget mereka, namun Elano terlihat biasa saja.
"Ngapain kamu kesana hah??!! " tanya Arsen
"Berani banget lo dateng ke rumahnya njir.. beruntung lo masih hidup sampai sekarang. " celetuk Dava
"Sumpah nyali lo gede banget ra.. " ucap Karel
"Ngapain lo kesana? " kini Aland yang berbicara dengan tangan mengelus pucuk kepala Salsa. Dih masih aja tebar keromantisan.
"Benar, ngapain kamu kesana? sendirian?? " ucap Arsen memegang bahu Aurora meminta penjelasan dari sang adik.
"Iya sendiri, niatnya mau main kerumah Laura, tapi ternyata gak boleh ketemu sama Laura. " jawab Aurora jujur
"Oh **!* !! " deru Arsen, sudah ia bilang adiknya itu kalau sudah kepo itu otaknya ilang entah kemana.
"Kenapa sih heboh banget?? memang ada apa sama Brijaya Family?? " tanya Aurora bingung, ia butuh informasi.
"Sag jelasin. " ucap Karel menyuruh Sagara untuk menjelaskan.
"Dunia ini pasti ada yang baik dan jahat, begitupun dalam dunia bisnis. Ibaratnya jika keluarga Elano memimpin bagian atas makan keluarga Brijaya memimpin sebaliknya. Hanya orang-orang tertentu yang mengenal mereka, tidak seperti keluarga Alister yang semua orang tau. Ya ibaratnya kaya gitu... " jelas Sagara
"Nih minum bro. " Karel menyodorkan botol minum pada Sagara.
"Terus kenapa sama kak Bima?? " tanya Aurora
"Dia pewaris selanjutnya yang akan menggantikan posisi ayahnya, begitu juga dengan Elano. Dia dikenal kejam dan tidak berperasaan jika tengah bertugas, lo liat tato di lengannya kan?? dia pribadi yang bebas dan tak terikat apapun. " jelas Sagara lagi.
"Kalau lo mau lebih tau, mending tanya Elano, dia pasti lebih paham. " sahut Karel
"Ogah." tolak Aurora
"Apa Elano dan Mr. Xan akan saling bersaing nantinya?? " celetuk Salsa tiba-tiba.
"Belum tentu. Keluarga Elano gak ada masalah sama keluarga Laura, namun bukan gak mungkin tidak ada pertikaian yang bisa saja mengadu domba keduanya. Jika kedua penguasa itu bertengkar maka akan timbul masalah yang besar. "
"Misalnya?? " tanya Aurora
"Jika ada pertengkaran pasti mereka akan lalai pada tanggung jawabnya, disitu pasti banyak anggota atau perusahaan lain yang akan berusaha menempati kedudukan itu. Bahkan adu domba, penculikan, penganiayaan bisa saja terjadi pada keluarga mereka. Itu dampaknya akan sangat disayangkan jika orang yang tidak tahu apapun bisa terseret di dalamnya. " jelas Sagara
Semua menatap kagum penjelasan dari Sagara, dia memang wakil ketua yang banyak pengetahuan, tidak seperti ketuanya yang hanya diam saja!
"Jauhi dia. " punya Arsen
"Siapa?? kak Bima maksudnya?? "
"Iya, tadi abang liat ada pandangan yang sulit diartikan dari tatapan matanya padamu. " peringatan Arsen pada adiknya. Arsen jelas tidak mau adik manisnya terlibat masalah.
"Ngapain dekat sama dia? liat aja udah serem. " gidik Aurora
"Memang, aku juga merasakannya. " sahut Salsa setuju
"Elano.. " panggil Aland
"Hmm? "
"Salsa temenin gue ke toilet yuk. " ajak Aurora yang dibalas anggukan oleh sang empu.
Kini para pemuda disana kembali dalam mode serius, sangat serius, mereka mengeluarkan aura yang sesungguhnya setelah sepeninggalan dua gadis itu.
"Gue rasa bakal ada masalah besar kedepannya, cukup waspada. " ucap Aland
"Khususnya untuk Arsen dan Elano, gue gak bodoh menilai tatapan Bima tadi, dia sepertinya tertarik sama Aurora. " ucap Karel
"Gue juga rasa gitu. " sahut Jaka
"Gue gak mau ada masalah apalagi sampai timbul korban hanya karena perempuan. " ucap Aland datar
"Untuk masalah Steven tinggal menunggu dia di penjara semua bukti sudah ada, Xanderrior sudah bubar, kita bakal menuju konflik yang sesungguhnya kedepan.. mencegah itu lebih baik. " ucap Sagara
"Gue setuju. "
"Elano lo jangan diem aja! Arsen lo juga jaga adik lo itu! apalagi lo pacaran sama Laura itu justru akan memperumit keadaan jika apa yang kita pikirkan terjadi... " terang Aland
"Amit-amit jangan sampe. "
"Ela-"
"Hmm.. gue tau. " sahut Elano dengan datar.
Mereka pikir Elano akan diam saja?? jelas tidak ia sedari tadi diam karena tengah menyusun banyak rencana di otak cerdasnya.
*
*
*
Seru gk??
Yuk coment...