AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
31# [Tamu tak Diundang]



Happy Reading


๐Ÿ


๐Ÿ


๐Ÿ



Mereka semua kembali menaiki motornya masing-masing dan pergi dari tempat itu.


"Lo habis dari mana tadi? " tanya Sagara


"Gue habis ketemuan sama Aurora. " jawab Elano dengan ekspresi tidak seperti biasanya, mungkin jika di sebuah film akan ada bunga-bunga yang jatuh layaknya film India.


"Kenapa sama muka lo? tumben gak sedingin biasanya, Jangan-jangan lo habis dapet jatah sama Aurora?! " ujar Karel heboh


"Bener bos? " tanya Radit ikut-ikutan


"Ck.Gak lah "


"Terus ngapain lo sama Aurora sampai aura lo mendadak positif gini? " ucap Karel medapat pelolotan tajam oleh Elano.


"Maksud lo biasanya aura gue negatif gitu? " tegas Elano


"Hehe.. bukan gitu. " sahut Karel dengan kikuk


"Gue baru balikan sama Aurora. " ucap Elano membuat semua orang yang disana merasa heran.


"Balikan? dia kan tunangan lo, balikan gimana? " tanya Sagara bingung


"Panjang ceritanya. "


"Ya tinggal dipendekin. " ucap Karel berhasil mendapatkan lemparan topi yang sedang dipakai Elano.


"Bukan gitu konsepnya Saipul! " tegur Sagara ikut melempar kulit kuwaci yang sedang mereka makan.


"Bisa diem gak! " tegur Elano dengan ekspresi tegasnya.


Mereka ketua mereka kembali mendapatkan mood yang buruk, mereka semua langsung terdiam.


"Ekhem.. wah selamat lo udah balikan sama Aurora. " ucap Karel sambil bertepuk tangan dengan wajah canggung nya, ia berharap dengan membahas Aurora, Elano bisa mengembalikan mood baik Elano.


"Gue bakal traktir kalian, pesan yang kalian mau!! " ucap Elano kemudian membuat semua orang disana bersorak senang.


"Untung... " lega Karel, ia ikut senang mendapar traktiran gratis.


"Makasih bro udah bikin mood singa jadi lunak, mungkin kalo lo gak bilang kaya gitu kita bakal jadi lumpia gulung. " canda Ferdi, anggotanya.


Semua orang disana pergi ke warung Mbah Jaya yang dekat dengan markas mereka.


"Makasih lo El.. sering-sering traktir ya, moga langgeng sama Aurora. " ucap Radit sambil memakan baksonya.


"Bener tuh. " angguk Karel


Elano hanya diam tak menanggapinya, uang bukan masalah baginya.


*


*


"Bang." panggil Aurora pada Arsen yang sedang bermain game di ruang keluarga.


"Apa." sahutnya tampa mengalihkan pandangan nya dari layar.


"Aku balikan sama Elano. "


Arsen menghentikan aksi bermain game nya saat mendengar perkataan Aurora, ia berdiri dan berjalan kearah gadis itu.


"Dia maksa buat balikan sama kamu? " tanya Arsen


"Gak,Rara yang mau bang. "


Arsen mengela napas sejenak, "Itu lebih baik."


Aurora menatap Arsen bingung, "Abang gak marah? " tanyanya


"Gak, asal dia gak nyakitin kamu dan... "


"Dan? "


"Dan bisa jaga kamu . " lanjut Arsen


"Aku bisa jaga diri sendiri bang.. kaya bodyguard aja. " timpal Aurora


"Kamu itu perempuan sekuat apapun menjaga diri sendiri bakal kalah dalam segi kekuatan sama laki-laki, " sahut Arsen


"Ya deh bang. "


"Assalamu'alaikum.. " ucap seseorang mengalihkan kegiatan obrolan kakak beradik itu.Keduanya mengalihkan pandangan.


"Waalaikumsalam ..Papahhhh!! " teriak Aurora senang sambil berjalan kearah papahnya.


Aurora memeluk papahnya itu, "kok papah gak bilang kalo mau pulang ke Indonesia?padahal nanti Rara jemput loh.. " ucap Aurora dipelukan papahnya itu.


"Maaf papah cuma pengin buat surprise buat kalian. "


"Kamu udah besar ya.. " ucap papah memeluk Arsen yang dibalas juga oleh Arsen.


Pandangan Aurora teralihkan oleh seseorang yang berada di belakang papahnya, seorang gadis seusianya,"Dia siapa pah? " tanya Aurora, sebenarnya ia sudah pernah melihat gadis yang di bawa papahnya itu.


"Oh iya dia Sila, tadi papah gak sengaja nabrak dia terus luka jadi papah bawa kesini karena Sila diusir sama kedua orang tuanya. " jawab papahnya memperkenalkan Sila.


"Hai" sapa Sila ramah sambil menahan sakit di bagian pergelangan kakinya.


"Terus ngapain dibawa kesini bukannya di bawa ke rumah sakit? "


"Dia gak mau sayang, jadi papah bawa kesini... oh iya papah niatnya mau dia tinggal beberapa saat disini. " ucap beliau dengan senyum tulusnya.


Arsen dan Aurora saling menatap, "Dia diusir karena apa? " tanya Aurora


"A-aku diusir karena tidak mau mengikuti perintah kedua orang tuaku untuk bekerja, aku maunya sekolah. " jawabannya dengan ekspresi andalannya.


"Kenapa papah gak bawa dia ke kontrakan aja? Arsen rasa itu lebih baik. " ucap Arsen datar


"Jangan gitu, kita tampung dia cuma beberapa hari aja sampai kedua orang tuanya mau menerima Sila kembali. " ucap Papah dengan tulus.


"Papah terlalu baik. " setelah mengucapkan itu Arsen pergi dari sana.


"Terserah papah aja, tapi Rara mau dia tidur di kamar pembantu. " ucap Aurora dengan senyum terpaksa.


"Kamu gak papa?" tanya Papa pada Sila


"Gak papa kok om. "


Aurora memasang wajah sedikit tak suka, "dia punya kaki pah, bisa jalan sendiri. "


"Tapi kakinya sedang sakit dan gak tau dimana lokasi kamarnya. "


"Ya pah. "


Papah Gani tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Aurora lembut, "anak papah baik banget. " ucapnya kemudian mengecup pucuk kepala Aurora.


"Yaudah papah ke kamar dulu, mau istirahat. "


Setelah kepergian Papahnya kini Aurora dan Sila dilanda keheningan.


"Yok."


Sila mengikuti langkah Aurora dengan tertatih karena luka di pergelangan tangannya.


"Cepet dikit! " sentak Aurora merasa jengah dengan sikap Sila.


"Kaki gue sakit bego. " balas Sila


"Nih kamar lo. Udah gak usah acting sama gue. "


"Hai Aurora. " sapa Sila dengan wajah aslinya.


"Hai fans. " jawab Aurora dengan gaya congaknya.


Sila menggerutu mendengar ucapan Aurora, "sana pergi, gue mau istirahat. "


"Dih ini rumah gue, suka-suka gue lah. "


Aurora pergi dari kamar Sila, ia tidak betah dengan suasana di dalam sana penuh dengan aura negatif, bukan kamarnya tapi orangnya.


"Aurora? gue bakal ambil semuanya dari lo." ucapnya tersenyum licik.


"Jangan harap, Sila Raynata, lo juga masuk dalam daftar hitam gue. " ucap Aurora


๐Ÿ


๐Ÿ


Aurora berjalan di trotoar sendirian sambil menendang kerikil dengan kesal, "bisa-bisanya papah pulang dari Jerman bawa badut. " gerutunya


"Sila Reynata? Antagonis perempuan kedua setelah Laura, orang yang memberikan ide agar Laura menculik Salsa di novel...ternyata dia datang di kehidupan gue. " gumamnya sambil terus berjalan di gelapnya malam, ia pergi dari rumah untuk mencari udara segar.


"Aurora lo ternyata pinter juga, tapi sayang terlalu ceroboh. " ucap seseorang dibelakang Aurora membuatnya membalikkan badan kaget.


"Si-siapa lo? "


"Gue Steven kakak dari Stefano dan Diva. " jawabnya santai membuat Aurora waspada.


"Steven? lo-lo yang culik gue waktu itu kan?! "


Cowok itu mengangguk kemudian terkekeh, "kita berjumpa kembali Claudia. "


Setelah jalan panjangnya dan sempat bertemu dengan lelaki bernama Steven, kini Aurora sedang berada di sebuah halte bus sendirian karena terjebak hujan. Ia duduk sedang merenungkan perkataan Steven tadi.


Flashback


"Claudia Aura Putri itu nama asli lo kan? yah walaupun lo bukan Aurora tapi lo tetep cantik dan lebih menarik. " ucapnya santai


"Ke-kenapa bisa? "


"Steven kaka dari mantan pacar lo , oh lo belum tau? tunangan lo itu udah tega bunuh adik gue yang jelas dia pacar Elano sendiri. Mungkin lo bakal jadi orang selanjutnya yang bakal dia bunuh.. " ucapnya enteng .


"Sebenarnya lo siapa? kenapa lo bisa tahu nama asli gue? "


"Gue gak bakal kasih tau, biar lo sendiri yang cari tau karena penasaran.


" Bacot lo! "


"Jangan marah cantik, kalo lo mau aman mending sama gue aja . "


"Dih ogah. "


"Kalau gue gak bisa dapetin lo, Elano juga gak bisa dapetin lo. "


Flashback end


Hujan masih saja turun dengan begitu derasnya menambah susana yang begitu miris. Aurora kedinginan ia hanya memakai baju tidur panjangnya.


"Gue pengin pulang... " ucapnya miris


Selama di dunia ini ia sudah cukup bekerja keras untuk mengumpulkan beberapa informasi, sebelum ada Tata aka Laura yang membantunya dulu ia melakukan sesuatu sendirian. Bertahan hidup di dunia entah apa ini membuatnya tahu bahwa hidup memang butuh perjuangan. Aurora lelah. Semua fakta kian terungkap satu persatu dan itu membuatnya bingung.


Pertama ia tahu bahwa Aland menjadikan Salsa pacar karena sebuah permainan taruhan dengan Elano dulu saat mereka masih bersama. Awalnya Aland tidak menyukai Salsa namun jika dilihat sekarang ia tahu bahwa cowok itu mulai menyukai Salsa.


Ini fakta yang sangat membuatnya shok berat, ternyata Elano dan Salsa adalah saudara tiri, papah Elano menikah lagi dengan Ibu Salsa sementara ibu Elano sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.Ayah Salsa berada di rumah sakit gila karena sebuah insiden.


Alasan Elano sangat menjaga Salsa karena Salsa adalah sahabat dari Diva pacar Elano. Diva pernah berpesan pada Elano untuk menjaga Salsa untuknya karena Salsa gadis yang baik, itu adalah pesan dari Diva.


Ia tahu itu. Aurora selama ini tak diam saja ia terus memantau sekitarnya.


Untuk informasi tadi ia mendapatkan nya dari Laura.


Gadis itu sendirian di sini melakukan semuanya hanya untuk bisa kembali ke dunianya dulu. Memorinya seakan semakin menipis. Ia hanya perlu berjuang beberapa saat lagi kedepan.


Aurora gadis yang pintar dan penuh strategi namun satu fakta ia juga sangat penakut untuk mengambil sebuah keputusan.


Suara derum motor mengalihkan pikiran Aurora ia menatap kearah jalan dan mendapati seseorang diseberang sana berhenti menatap kearah halte.


Elano? pikirnya


Lelaki itu menyandarkan motornya kemudian berlari melewati hujan yang deras kearah halte tempat Aurora meneduh.


"Elano.... "


๐Ÿ


๐Ÿ


๐Ÿ


๐Ÿ™‹โ€โ™€๏ธHai


โš ๏ธJANGAN LUPA


Like๐Ÿ‘Vote๐ŸŽŸcomentโœ‰๏ธberi hadiah๐ŸŽ


Jadikan Favorit๐Ÿ’Œ


see you! ๐Ÿ