
Happy Reading
*
*
*
Setelah Aurora diperbolehkan pulang dan beristirahat selama satu hari, Elano tak pernah sedikitpun meninggalkan Aurora lelaki itu terus mengunjungi rumah Aurora dengan membawa makanan kesukaan gadis itu. Elano sekarang mulai posesif pada Aurora membuat Aurora senang sekaligus kesal.
Jangankan Elano, kakaknya Arsen pun sekarang selalu memantau Aurora selama dirumah semua makanan yang Aurora makan harus Arsen coba terlebih dahulu.
Tidak boleh makan sembarangan, semuanya harus membawanya dari rumah membuat Aurora berdecak kesal, dirinya hanya alergi kerang bukan alergi semua makanan instan.
Hari ini Aurora sudah kembali sehat dan ingin berangkat sekolah bahkan dirinya sudah bersiap dengan seragam sekolah nya namun tiba-tiba abangnya Arsen memasuki kamarnya dan tidak memperbolehkan Aurora untuk berangkat sekolah. Aurora yang sudah bersiap pun langsung melayangkan protes terhadap Arsen.
"Bang! aku bosen dirumah! apa salahnya berangkat sekolah? lagian Aurora udah sembuh. "
"Nanti kalau kambuh lagi? kamu mau buat geger satu sekolah lagi? "
"Lah bang.. "
"Gak! "
Arsen kemudian pergi dari kamar Aurora untuk berangkat sekolah. Aurora berlari menuju jendela untuk melihat kepergian Arsen setelah melihat perginya lelaki itu Aurora langsung membuka pintu kamar dan berjalan menuruni tangga.
"Loh mau berangkat sekolah? tadi kata abang kamu gak berangkat. " ucap Sinta saat melihat anak perempuannya turun dari tangga.
Aurora berjalan menghampiri mamahnya , " bang Arsen nyuruh Rara gak berangkat mah, tapi Rara tetep pengin berangkat sekolah. " ucap Aurora sambil meminum susu di gelasnya.
"Kamu udah mendingan ? " tanya Gani pada anak perempuannya.
"Udah pah! "
"Kalau sudah silahkan berangkat sekolah, papah gak mau maksa kamu. "
"Serius? "
"Ya."
Aurora tersenyum senang.
"Tapi diantar pak Adi ya, jangan naik motor dulu. " ucap mamahnya.
"Oke deh mah. "
"Udah sana berangkat sekarang hari Senin ada upacara bendera, jangan sampai telat. " perintah papahnya.
Aurora mengangguk kemudian menyalimi kedua orang tuanya kemudian pergi menemui pak Adi untuk mengantarkan nya ke sekolah.
Selama perjalanan Aurora hanya diam sambil melihat keluar jendela.
"Kenapa masuk sekolah? neng Aurora udah sembuh beneran? " tanya pak Adi
"Udah pak, lumayan mendingan. "
"Syukurlah neng, bapak seneng dengernya. "
"Makasih pak. "
Mobil milik Aurora memasuki halaman sekolah, ia pun turun dari mobilnya.
Aurora mengernyit saat melihat halaman sekolah sudah sepi, apakah upacara sudah dimulai??
"Baru jam 06.45 . " gumam Aurora sambil melihat jam tangannya.
Mobil pak Adi sudah pergi menjadikan Aurora bingung hendak tetap masuk atau pulang saja. Namun jika ia pulang sama siapa?
Akhirnya Aurora memasuki sekolah sambil melihat sekitar, mengapa ia tidak melihat siswa-siswi yang lewat?? Aurora pun mempercepat langkahnya.
*
*
Sedangkan disisi lain semua anggota OSIS dan pengurusnya sedang mempersiapkan untuk upacara namun terhenti saat tiba-tiba Elano mendatangi mereka.
"Mana pak kepala sekolah? "
Mereka yang berada disana mengernyit bingung.
"Beliau masih ada di ruangannya kak. " jawab Abigail
Elano langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana begitu saja, tujuannya adalah mendatangi pak kepala sekolah.
Sesampainya di depan pintu ruangan kepsek Elano langsung membukanya tanpa permisi membuat beliau yang berada diruangan langsung menatap pemuda itu tajam.
"Dimana sopan santunmu Elano? "
"Ini bukan saatnya bahas itu, saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda. " ucap Elano datar
"Bicara apa? "
"Perintahkan semua murid kelas 12 untuk berbaris melingkar dilapangan. "
"Jangan macam-macam Elano! atau om akan bilang kelakuanmu ke ayahmu Victor. "
"Saya tidak peduli, lakukan itu atau om saya pecat, hm? "
"Baiklah-baiklah." ucap kepsek sekaligus om dari Elano sambil menghela napas kasar.
"Pemberitahuan kepada seluruh murid kelas 12 SMA bintang segera menuju lapangan dan berbaris melingkar.. "
"Thanks om. " ucap Elano sambil menepuk punggung laki-laki itu kemudian pergi dari sana.
Dion yang melihat kelakuan anak dari iparnya itu hanya menggelengkan kepala, Elano sama seperti Victor sangat keras kepala.
Sementara Abigail yang mendengar pengumuman itupun langsung mengernyit bingung, ini masih pukul 06.40 kenapa sudah ada pemberitahuan untuk ke lapangan? berbaris melingkar? apa maksudnya?
"Bi bukannya belum waktunya upacara? kenapa sudah ada pemberitahuan? " tanya salah satu temannya, Rio
"Gue juga gak tau Yo. "
"Kalau dipercepat pasti ada guru yang kasih tau kita dan kenapa cuma kelas 12 aja? . "
"Benar juga, terus kita harus gimana? "
"Tenang aja, ini diluar kendali kita, mungkin ada pengumuman penting. "
Elano kembali datang kearah Abigail dkk.
"Suruh mereka melingkar! " perintah Elano
"Buat apa kak? "
"Buruan! "
Abigail dkk akhirnya mengangguk dan mengatur posisi semua murid dari kelas 12 agar tidak acak-acakan.
Elano mengambil mikrofon dari tangan seseorang dan berjalan kearah tengah lapangan dengan berani, penuh dengan pandangan tajamnya.
"Kalian semua tau kenapa gue suruh melingkar kaya gini? " semua orang diam melihat kearah Elano.
Elano berusaha menahan emosinya.
"Jongkok!! semuanya jongkok! " perintah Elano tajam.
Para murid yang melihat Elano ditengah sana sendirian dengan gagahnya pun langsung menuruti perintah Elano, mereka tak ingin terlibat apapun itu.
Semua murid dari kelas 12 langsung jongkok dengan disaksikan murid kelas 10-11 yang melihat aktifitas itu dari lantai atas.
Menjadi pemandangan tersendiri melihat kakak kelasnya berkumpul dan disuruh jongkok seperti itu. Semua murid dari kelas 10-11 bisa menebak seberapa besar peran Elano di sekolah ini.
"Berdiri!! cepat berdiri!! "
Mereka langsung berdiri.
"Jongkok!! "
Mereka jongkok.
Elano tersenyum miring melihatnya, ini hukuman yang menyenangkan.
Sementara Arsen dkk dan para sahabat Elano pun menggerutu kesal, apa yang sedang laki-laki itu lakukan pada mereka?
"Ngapain sih Elano? seharusnya kita ikut dia tadi biar gak ikutan gini. " ucap Karel
"Entahlah, lagian enak bisa sambil olahraga. " balas Sagara membuat Karek berdecak kesal.
Mari kita lihat Arsen dkk.
"Ngapain tuh anak suruh kelas 12 kumpul disini? malu njir diliatin adkel. " ucap Dava sambil melirik ke lantai atas.
"Entahlah, mungkin dia gabut. " balas Jaka
"Berisik ! " tegur Stefano
Masih dengan posisi jongkok mereka semua menggerutu kesal karena tindakan Elano, masih menjadi pertanyaan besar kenapa lelaki itu menyuruh mereka seperti ini.
"Diam! "
"Kalian dengar kan waktu gue bilang bakal balas kalian semua?dimana hati nurani kalian melihat seseorang sedang sesak napas justru kalian mencemooh nya??!! " teriak Elano kencang dengan ekspresi kejamnya.
Mereka semua mulai tau kemana arah pembicaraan Elano itu, pasti tentang kejadian Aurora dikantin kemarin.
"Rasain hukuman dari gue. " ucap Elano rendah
Mega yang mendengar Elano melakukan ini karena Aurora pun langsung berdiri dari jongkok nya.
"Jadi ini alasan lo lakuin ini ke kita semua?! sadar El dia emang pantas dapat kaya gitu!! dia itu jal*ng dan gak pantas sama lo! " teriak Mega langsung menjadi pusat perhatian.
"Oh ya? terus yang pantas sama gue itu siapa? "
"Gue lebih baik dari Aurora ... " ucap Mega pede
"Lagian dia juga penyakitan, mana ada orang yang alergi kerang! dia itu tukang caper! " lanjut Mega
"Darimana lo tau Aurora alergi kerang, Mega?"
Skakmat.
Yang tahu alasan Aurora sesak napas hanya keluarga dan sahabatnya saja, jika ada orang terluar tau wajib dipertanyakan bukan?
Mega langsung terbungkam.
Karena terlanjur masuk kandang jadi ia akan lanjutkan saja, semakin mudah menghancurkan nama baik Aurora di depan umum seperti ini.
"Jelas-jelas dia makan kerang, seharusnya dia sendiri tau bukan kalau dia alergi kerang? kenapa dia tetap makan? itu tandanya Aurora memang bodoh! dia itu cewek bodoh dan suka cari perhatian! "
Elano berdecih, " jadi......apa lo yang kasih Aurora sate kerang, Mega? "
Pertanyaan itu kembali membuat Mega terdiam. Ternyata Elano menjebak dengan kata-kata.
Sila yang mendengar perkataan Mega menggeram marah, bodoh sekali gadis itu!
*
*
*
Hai🙋♀️
Mampir yuk di Cinta untuk Zara.. cek di bio
Like👍vote🎟coment✉️beri hadiah🎁
See you!!
Jangan lupa tinggalin jejak🤣
Pede boleh tapi jangan terlalu pede kawand..