
Happy Reading
*
*
*
Setelah kepergian Arsen kini teman Aurora dan Aland dkk tengah berada di parkiran, sebenarnya nanti mereka masih ada jadwal pelajaran namun sepertinya akan membolos. Lagian ada alasan yang jelas.
"Kalian mau boncengan sama siapa? " tanya Jaka pada kedua gadis itu.
Celline dan Jovanya saling menatap.
"Terserah aja. " ucap Celline
Jovanya tersenyum saat melihat Karel sedang berjalan menuju parkiran, ia pun langsung memanggil lelaki itu.
"Karel!!! " panggil Jovanya melambaikan tangan.
Karel yang sedang terburu-buru pun langsung berjalan kearah Jovanya, " ada apa? " tanya Karel
"Bonceng gue ya. "
Karel mengernyit bingung, " lah emang kalian mau kemana? " tanyanya
"Ke rumah sakit, Aurora alerginya kambuh. " jawab Jovanya
"Oh **!* , seriusan!!? gue harus telpon Elano ngabarin soal ini. " ucap Karel buru-buru mengambil ponselnya namun segera dicegah oleh Jovanya.
"Elano udah ada di rumah sakit, justru Elano yang bawa Aurora ke sana. " ucap Jovanya
"Oh ya? syukur deh. "
"Ngapain lo ke sini? " tanya Jaka pada Karel
"Ohh gue mau ambil kaos kaki di jok motor, gue lupa gak pake jadi ditegur sama bu gendut. " ucap Karel seadanya.
Memang benar Karel hanya memakai sepatu tanpa kaos kaki, padahal celananya bisa menutupi pergelangan kaki namun guru masih saja mengeceknya.
"Sagara mana? " tanya Stefano
"Ada di kel-"
"Ngapain ngumpul disini? " tanya Sagara tiba-tiba muncul membuat orang terkejut.
"Anji* lo datang lewat mana bro! " kaget Dava
"Ohh ..pakak pintu Doraemon tadi... " asal Sagara
"Yaudah yuk kita ke rumah sakit sekarang. " perintah Celline yang khawatir dengan Aurora.
"Tunggu! ngapain ke rumah sakit, siapa yang sakit? "
"Aurora! udah ayok pergi, jangan malah ngobrol disini! " perintah Celline yang tidak sabaran.
"Cerewet banget sih! " kesal Stefano
Celline yang mendeng ucapannya langsung menatap Stefano tajam.
Semua orang bersiap di motor masing-masing, dengan Jovanya yang bersama Karel serta yang lain menaiki motornya sendiri-sendiri.
"Woi Celline! lo mau sama siapa?! atau lo mau jalan kaki? " teriak Jovanya yang melihat Celline masih berdiam disana dengan ekspresi bingung.
"Gue gak tau mau sama siapa, semua motornya tinggi-tinggi, gue gak bisa naiknya. " ucap Celline
Jovanya menepuk dahinya, sahabatnya yang pendek dan cerewet itu menyebalkan sekali namun sangat gemas juga.
"Naik punya siapa aja, buruan! katanya mau cepet ketemu Aurora. " perintah Jovanya
Sementara semua cowok yang melihatnya hanya menghela napas.
"Sama Stefano, motor dia lebih pendek dikit, ramah buat cewek yang pendek. " ucap Aland
"Gak mau! "
"Udahlah Celline. " ucap Jaka gemas.
Stefano yang kesal dengan tingkah gadia itu pun menepikan motornya disamping Celline, "Pake! "
Stefano menyerahkan helmnya pada Celline.
"Gak mau sama lo! gue sama Aland aja. " ucap Celline hendak mendekati Aland.
Stefano menahan tangan Celline, " dia gak bawa helm dua, "
"Ta-"
"Kita duluan ya!! jangan kebanyakan gengsi Celline!!" teriak Jovanya pergi bersama Karel disusul oleh yang lainnya.
Kini hanya ada Celline dan Stefano yang masih disana dengan Celline yang masih belum mau memakai helm.
"Kalau gak mau yaudah! " Stefano menyalakan mesin motornya .
"Eh stop! gue ikut. " ucap Celline sambil merebut helm itu dan memakainya.
Melihat Celline yang kesusahan menaiki motornya pun Stefano menawarkan bantuan, " pegang pundak gue. "
"Katanya gak tinggi, ini sih masih tinggi sama kaya yang lain. " gerutu Celline saat perjalanan.
"Lo aja yang pendek! " balas Stefano
Celline berdecak kesal mendengarnya, mungkin ia akan melakukan program peninggi badan kedepannya.
Tinggi Celline hanya 160 saja..
*
*
Sementara kini Elano sedang menunggu dokter memeriksa keadaan Aurora bersama Laura.
Laura juga sedang duduk di bangku depan ruangan menampilkan ekspresi gelisah, tidak berbeda dengan Elano.
Elano tiba-tiba berdiri dan menonjok tembok dibelakang nya kencang,"bego!!! " rutuknya
Arsen yang sudah sampai di rumah sakit pun langsung bertanya pada petugas, mereka mengarahkan Arsen untuk keruangan UGD.
Arsen yang melihat keberadaan Laura langsung mendekatinya, "mana Aurora? " tanya Arsen
"Dia ada di dalam. " ucap Laura
"Bagaimana bisa dia makan kerang?!! siapa yang kasih dia makanan sial*n itu hah!! " teriak Arsen penuh emosi.
Laura berusaha menenangkan Arsen dengan memeluknya, " udah tenang aja, Aurora bakal baik-baik aja, dia kuat. "
Namun berbeda dengan hati Laura yang sangat sedih namun ia menahannya, " kita bakal keluar dari novel ini sama-sama... jadi lo harus kuat Claudia. " batin Laura
Arsen melepaskan pelukan Laura dan berjalan menuju Elano yang sedang menyandarkan dirinya di dinding.
Arsen langsung menarik kerah baju milik Elano kasar, " lo gak becus jaga adik gue!! " geram Arsen.
Elano hanya diam tak menanggapi, Arsen memukul pelipis Elano, "itu buat lo yang lalai jaga Aurora! "
Saat Arsen hendak memukul Elano lagi , Laura segera mencegahnya, "ini bukan salah Elano , ada seseorang yang nyimpen kerang itu di meja makan. " ucap Laura mencoba memberi ketenangan.
Merasa Arsen yang tidak lagi memegang bajunya, Elano pun langsung menatap Arsen, " Dia alergi sate???" tanya Elano
"Aurora alergi kerang bego!! kenapa lo gak tau!! lo itu tunangannya!! " geram Arsen
Elano yang sedang menahan mati-matian emosinya, juga pun langsung menerjang tubuh Arsen membuat Laura tekejut melihatnya.
BUGHH!
" Asal lo tau ,gue gak tau dia alergi kerang!!! lo jangan nuduh gue!! " geram Elano
Segerombolan orang langsung berlari kearah Elano, mereka adalah Aland dkk.Sagara yang melihat emosi Elano pun langsung berlari dan menahan Elano.
"Lepasin! "
"Kontrol emosi lo Elano! " bentak Sagara
Sementara Aland langsung membantu Arsen untuk berdiri.
"Dia nuduh gue anji*g!! "
"Gue beneran gak tau!!! "
Melihat emosi Elano yang sudah mulai memuncak Karel dan Sagara langsung membawa Elano keluar dari rumah sakit.Sagara membawa Elano ke taman, " jangan sekali-kali lo emosi kaya tadi, itu bahaya Elano!! "
"Lo bisa aja bunuh orang di rumah sakit ini! " ucap Sagara sambil mengusap rambutnya kebelakang frustasi.
"Benar, untung aja gak ada satpam karena VVIP. " ucap Karel bernapas lega.
Elano berusaha mengatur napasnya perlahan agar lebih tenang.
"Aurora." lirih Elano sambil mencekam tangannya erat.
Di depan ruang UGD semua sahabat Arsen maupun Aurora sendiri tengah menunggu dokter keluar.
"Sen lo udah telpon orang tua lo? " tanya Aland pada Arsen yang sedang ditenangkan oleh Laura, sesekali Aland curi pandang pada gadis itu.
"Gue lupa. "ucap Arsen
"Astaga, lo itu masih punya ortu, masa lupa sama ortu sendiri. " ucap Jaka gemas
Arsen sangat panik tadi jadi ia lupa mengabari kedua orang tuanya.Arsen langsung menelpon mamahnya dan untung saja fast respon, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
*
*
*
Hai🙋♀️
⚠️JANGAN LUPA
Like👍Vote🎟coment✉️beri hadiah🎁
Jadikan Favorit💌
SEE YOU!!!