AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
35# [ Nona Alister? ]



Happy Reading


πŸ’«


πŸ’«


πŸ’«


"Oh jadi waktu di kolam renang itu rencana yang lo maksud?" tanyanya pada Laura namun pandangan nya masih fokus kearah laptop.


"Iya, gimana menurut lo? "


"Not bad, tapi kenapa bisa? "


flashback


"Gue mau lo bully lo!! " ucap Laura, sementara Salsa menatap Laura bingung sekaligus takut, ada ya orang mau bully ngomong dulu?


"Mak-maksud kamu? "


"Ck.gue mau lo pura-pura kecebur waktu latihan renang, paham gak??!"


"Tapi aku gak bisa berenang. "


"Justru itu!! semua orang pasti bakal bela lo. "


Salsa hanya terdiam.


"Kalo keluarga lo mau selamat, bilang semua ini ulah Aurora!! paham!! nasib keluarga lo ada ditangan lo terutama ayah lo. " sentak Laura membuat Salsa mengangguk patuh disertai air mata yang mengalir.


Salsa lemah menyangkut ayahnya.


"Berperilaku lah seperti biasa jangan sampai ketahuan!! ingat senatural mungkin!! awas kalau gagal. "


"Nanti gue transfer uang buat jajan lo."


Laura pun menutup pintu kamar mandi dan menempelkannya stiker.


Flashback end


"Dia mau semudah itu? " tanya Aurora


"Ya gitu, dia kan gak tau kalo gue deket sama lo, pasti dia mikirnya gue sengaja mau buat lo dituduh. " sahut Laura


"Btw acting lo keren,... " kekeh Laura


"Pertamanya gue bingung tapi sebisa mungkin santai, karena emang Salsa sendiri yang nyenggol gue. "


"Oh ya, gue mau nunjukin sesuatu sama lo, liat ini. " ucap Aurora, Laura mendekat kan dirinya melihat ke layar laptop.


Laura menatap layar leptop milik Aurora dengan dahi mengkerut bingung.


"Dua titik maksudnya apa? " tanya Laura tak paham.


Aurora mengutak-atik laptop nya, "gue kemarin nyoba dan berhasil nyadap ponsel Mega sama Steven, ini mereka. "


"Ternyata lo bisa IT, gak mungkin belajar sesingkat itu langsung bisa nembus keamanan ponsel mereka. " ucap Laura


"Gue belajar dari Radit. " sahut Aurora


"Radit? "


"Ya, tangan kanan Elano, gue udah ijin sama Elano buat pinjem dia sebentar. " jawab Aurora


"Gilak sih, terus maksudnya dua titik berdekatan itu apa? " tanya Laura penasaran.


"Ini artinya mereka berdua ada di satu tempat yang sama, gue bakal coba lacak mereka. " jelas Aurora


"Berarti Steven sama Mega itu dekat? em maksudnya sedang bertemuan di tempat tertentu? " tanya Laura memastikan.


"Maybe."


Aurora sudah menceritakan tentang Steven pada Laura.


Laura hanya diam sambil melihat layar laptop milik Aurora yang menampilkan angka dan huruf yang memusingkan.


"Good!! gue udah dapet lokasinya, mereka ada di Kafe dekat hutan Wijaya. "


"Yaudah kita kesana sekarang," ucap Laura di balas anggukan oleh Aurora.


"Nyamar? "


"Ide yang bagus. "


Mereka berdua mengganti pakaian mereka menjadi serba hitam serta memakai topi dan masker.


Kafe Wijaya merupakan kafe yang bertempat di sebelah hutan Wijaya, biasanya kafe itu berisi pengunjung yang kaya dan beberapa orang yang tidak suka go publik, tempat itu hanya boleh dimasukin oleh orang tertentu saja.


"Bagaimana caranya kita masuk? " tanya Laura.


"Gue juga gak tau. " ucap Aurora polos, Laura hanya bisa melongo saat mendengar jawaban itu.


"Bego!! " ucap Laura merutuki sahabatnya itu.


"Terus gimana. "


"Kita coba masuk . "


"Lo gila, jelas kita bakal diusir! " tolak Laura


"Coba aja dulu. "


Mereka berdua mendekati para penjaga disana, "mana tanda pengenal anda. " ucap penjaga itu.


Aurora dan Laura saling menatap, "gak ada pak. " ucap Aurora enteng


"Kalian tidak bisa masuk!! "


Aurora menyatukan kedua tangannya memohon, " pliss pak temen saya ada di dalam, kit-"


"Nona Alister! " ucap kedua penjaga itu sambil membungkuk hormat.


Aurora menoleh ke belakang namun tak ada orang, "dia ngomong sama siapa? " bisiknya pada Laura


"Gue juga gak tau. " bisik Laura balik.


"Silahkan masuk nona. "


Aurora melihat sekitar bingung, "kalian ngomong sama siapa?"


"Sama anda nona. " jawab salah satu penjaga itu.


"Aku? tapi aku bukan nonton Alister yang anda maksud. "


"Cincin, cincin itu milik keluarga Alister, apakah nona tunangan tuan Elano? "


Aurora melihat cincin nya, "ya bisa dibilang begitu. "


"Keren banget cincin lo Ra." celetuk Laura


"Silahkan masuk nona. "


"Terimakasih."


Aurora menggandeng Laura memasuki kafe itu.



"Sumpah cincin lo keren juga Ra..tiba-tiba dipanggil nona Alister wahhh... calon keluarga kaya lo...." ucap Laura


"Gue juga baru tahu.. "


Aurora melihat sekeliling untuk mencari dia orang itu, "mending kita berpencar, ingat hanya untuk merekam , jangan sampai ketahuan. "


"Oke, gue cari disekitar sini.. lo ke bagian sana. " tunjuk nya pada meja bartender.


Aurora melotot, "gak! ogah gue disana, isinya orang mabuk semua. " tolak Aurora


"Ayolah.. gue juga males kesana. "


"Kalo gue diapa-apain gimana? gue gak terlalu pintar bela diri. " ucap Aurora di kebisingan tempat itu.


"Tenang aja gue bakal telpon Elano, gue rasa keluarga dia punya atensi kuat di kafe ini..." ucap Laura sedikit dengan nada jahilnya.


Aurora memutar bola matanya malas, "oke."


Mereka berdua berpisah untuk mencari kedua orang itu. Aurora berjalan kearah meja pantry.



Aurora sesekali meneguk ludahnya sendiri saat melihat sesuatu yang menodai matanya.


Ini sih club namanya, bukan cafe batin Aurora


Saat mencarinya di internet tidak banyak gambar yang muncul, hanya beberapa gambar layaknya kafe bisanya yang sering dikunjungi orang kaya. Ternyata saat memasuki nya ini mirip seperti club malam, namun bedanya disana tidak ada dance floor. Hanya ada penari panggung yang berlenggak lenggok seksi. Aurora meringis melihatnya.


Sejauh mata memandang hanya ada orang berpakaian jas dan seksi.. ia heran pria saja memakai pakaian lengkap kenapa wanita yang ada disana justru menampilkan lekuk tubuh mereka.


Aurora terus bejalan melihat sekitar, sampai ia lengah dan menabrak seseorang, "ah maaf sir. " ucap Aurora sopan


"Not problem, kenapa gadis sepertimu ada disini? " tanya orang ber jas itu, tampan namun tampan berwibawa.


Aurora tebak beliau berumur sekitar 38tahunan.


"Saya.. saya sedang mencari seseorang. " jawab Aurora sopan


"Oh begitu berhati-hatilah. " ucapnya, Aurora menangguk dan pamit undur diri dari orang itu.


"Aurora,gadis yang berani." gumam pria itu.


Saat melewati sofa dekat meja pantry, ia melihat sosok yang dicarinya sedang berada di pojok ruangan.


Aurora mengeratkan topinya dan berjalan santai mendekati meja mereka. Setelah sampai ia duduk di samping mereka berdua. Aurora merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya untuk merekam.


Ia berdiam disana dengan santai, saat Mega menoleh kearah nya ia pun berlaga seperti orang yang sedang mabuk.


Semoga saja tidak ketahuan


Kedua manusia itu pun mengobrol lagi menghiraukan Aurora yang menumpukan kepalanya diatas meja dan duduk di lantai, persis seperti orang mabuk. Perlahan ia menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan mereka berdua.


Ia melempar pelan alat perekam itu ke bawah meja mereka. Sementara ia kembali berakting. Saking asiknya menjalankan aksinya ia sampai lupa bahwa kedua orang itu sudah pergi.


Aurora masih sibuk menggeliat menumpukan kepalanya di atas meja sambil bergumam layaknya orang mabuk.



"Ekhem...! "


Aurora belum menyadarinya.


"Ekhemm.. "


Suara deheman kedua itu berhasil membuat Aurora terdiam sejenak, apakah ia ketahuan?


Aurora mengangkat kepalanya melihat orang itu dan terkejut saat Elano berdiri disana menatap Aurora yang dibawah dengan bersedekap.


Aurora langsung bangkit dari duduknya dan terdiam tak tahu harus berbicara apa.


"Sedang apa? " tanya Elano datar


Aurora tersenyum paksa, "Elano, ngapain kamu disini? " tanya Aurora mengalihkan pembicaraan.


"Kamu sedang apa? " tanya Elano masih dengan posisi bersedekap dada menatap Aurora datar. Elano memakai kemeja hitam dengan kaos putih didalamnya membuat aura ketampanannya menguar.


"Ak-" Sebelum melanjutkan perkataannya, Aurora menoleh kearah kedua orang tadi, tidak ada. Apakah mereka sudah pergi?


Aurora segera mengambil alat perekam itu dan memasukkan ke dalam saku, ia akan mendengarkan nya nanti dirumah.


Semua gelagat Aurora dilihat oleh Elano.


"Pulang." ucap Elano berjalan terlebih dahulu.


Aurora pun mengikuti langkah Elano dengan cepat agar tidak tertinggal.


"Terimakasih sudah datang Tuan dan nona Alister! " hormat kedua penjaga bertubuh kekar itu. Elano hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Terimakasih kembali pak! " ucap Aurora sambil mengacungkan jempolnya.


Elano menggandeng tangan Aurora berjalan kearah mobil milik Aurora.


"Tunggu El.. Laura masih ada di dalam. " ucap Aurora mencegah Elano pergi.


"Dia sudah pulang. "


"Lah, sama siapa? " tanya Aurora


"Karel." ucap Elano singkat dan membuka pintu mobil untuk Aurora.


Setelah memasuki mobil, Aurora menatap Elano, "kamu gak bohong kan? " tanya Aurora


"Soal? "


"Laura sudah benar-benar pulang kan? kamu gak bohong kan? " tanya Aurora memastikan.


"Aku tak suka berbohong sepertimu. " ucap Elano membuat Aurora terdiam merasa tersindir.


πŸ’«


πŸ’«


πŸ’«


⚠️Jangan Lupa


Like, πŸ‘


vote,🎟


coment,.βœ‰οΈ


favorit πŸ’Œ


dan beri hadiah guyss...πŸ“₯🎁


Jangan menilai cerita karena awalnya saja saja ya..


see you ! πŸ’«