AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
Bab 22 : []




...HAPPY READING📖...


Aurora menatap kearah kedua sahabatnya memohon, "Bantu plisss.. "


"Oke kita bakal nemuin dia, lo cukup duduk di sini. " jawab Jovanya kemudian pergi bersama Celline


Aurora dapat mendengar suara Elano yang berusaha masuk kedalam kelas namun terhalang oleh teman-temannya.Aurora akan berterimakasih sama mereka nanti.


"Ra lo harus ngumpet! " ucap Celline yang datang ke bangkunya tergesa-gesa


"Cepetan."


Aurora mengangguk dan hendak bersembunyi di bawah kolong meja namun terhenti.


"Mau kabur? "


Aurora sedikit kaget saat mendapati Elano sudah berhasil masuk kedalam kelas diikuti Jovanya dan lainnya.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo. " ucap cowok itu dengan tangan hendak menarik Aurora, namun dihalangi oleh Jovanya.


"Jangan pegang. Aurora kan gak mau ngomong sama lo, jadi jangan maksa! " ucap Jovanya sambil menyembunyikan Aurora dibelakang tubuhnya yang tinggi.


"Gue gak ada urusan sama lo"


"Gue tau, tapi Aurora gak mau ketemu lo Elano. "


Elano tetap berusaha menggapai tangan Aurora namun tetap dihalangi.Elano menghembuskan napas dalam-dalam.


"Gue mau ngomong sama dia baik-baik. "


"Gak bisa. "


"Kalo gitu gue bakal lakuin cara kasar. " ucap Elano menyuruh sahabatnya menarik Aurora dari halangan mereka.


"Minggir Jovanya, biar gue yang urus cowok itu. "


"Tapi Ra.. "


"It's okay. "


Aurora maju kedepan menghadap Elano, "Mau ngomong apa lagi? gue rasa gak ada lagi yang perlu dibahas. "


"Masalah kemarin gu-"


"Gak udah dibahas, udah gue maafin. "


"Gue_"


"Bisa lo pergi dari sini? " usir Aurora


Meninggalkan kelas Aurora kini Aland dan Arsen dkk sedang berada di dalam kelasnya sambil bermain ponsel.


"Lo tau gak dikelas IPA 3 rame banget, ada yang tau kenapa? "


"Gue juga tadi baru aja lewat sana, penghuni kelasnya pada keluar semua. "


"Yang gue denger sih lagi ada perseteruan antara si badboy sekolah sama tunangannya. "


"Ooh si Elano sama si anak baru masuk itu? kalo gak salah Aurora ya. "


"Iya mereka, sampe sekelas diusir semua dari dalam kelas. "


Terdepat segerombolan siswi dikelasnya yang sedang berghibah ria, Aland dkk tak sengaja mendengarnya.


Aurora kenapa? pikir Arsen


"Lo denger kan apa yang mereka bilang? Sen coba lo tanya . " ucap Dava


Arsen berjalan kearah segerombolan siswi itu, "Kalian ngomongin apa? kenapa sama Aurora? "


"Oh itu kelas kembaran lo tadi rame dan sekelas disuruh keluar semua sama Elano. " jawab salah satu siswi


" Maksud lo? "


"Gak tau sih kenapa, tapi sedenger kita sih katanya lagi berantem mereka. "


"Oke. "


Arsen berjalan keluar kelasnya disusul oleh semua sahabatnya, berlari menuju kelas Aurora.Sesampainya disana memang sangat ramai , mereka pun menerobos masuk dengan mudah. Disana terdapat sahabat Aurora dan Elano.


Saat Elano hendak menyeret keluar Aurora, gadis itu menolak namun Elano terus menggandeng nya membuat Arsen merasa marah pada Elano.


"Jauhin adek gue! " teriak Arsen


"Ngapain lo di kelas Aurora hah!? " tanya Arsen mendorong bahu Elano kasar.


Elano menatap Arsen, "Gak ada urusannya sama lo. "


"Dia adek gue! "


Elano berdecih, "sejak kapan lo akuin dia jadi adek lo? "


"Bukannya lo gak mau punya adek kaya Aurora? " lanjut Elano


Arsen terdiam.


"Udah bang,"


"Mending lo keluar dari sini El. "


"Dek" ucap Arsen pada Aurora


"Abang juga"


"Ini kelas buat belajar bukan untuk ribut. "


Arsen menghembuskan napas pelan kemudian pergi dari sana bersama Aland dkk.


*


*


Disisi lain terdapat tiga manusia yang berbeda jenis kelamin sedang berada di atas sebuah bangunan, atau biasa disebut rooftop.


"Culik dia. "


"Gak mau, aku gak mau terlibat sama rencana jahat kamu. " balas perempuan satunya


"Kalo lo gak nurutin permintaan gue, lo tau kan apa yang bakal terjadi sama keluarga lo? kalo lo mau liat ayah lo menderita sih oke oke aja...."


"Jangan sakiti ayah, tapi aku gak mau nurutin permintaan kamu. "


"Gampang besok lo bisa liat ayah lo mat*."


Gadis itu menggeleng tidak mau melakukan hal jahat namun ia juga tak ingin melihat keluarganya menderita."Gak bahaya kan? "


"Gak kok, lo cukup mancing dia buat ketempat ini. " tunjuk perempuan itu


"Iya aku mau. "


"Bagus, lo bisa keluar dari sini sekarang. " perintahnya kepada gadis malang itu.


Sepeninggalnya kini tersisa dua orang berbeda jenis kelamin yang masih berada disana.


"Bagus! lo tinggal lakukan rencana itu dan pastikan tidak akan ada seseorang yang mengganggu! " perintah laki-laki itu


"Iya Stef, lo bisa percaya sama gue. "


"Bagus,"


Perempuan itu pun pergi dari rooftop meninggalkan laki-laki itu sendiri yang masih duduk di sofa.


"Lo bakal jadi milik gue Ra, satupun gak bisa milikin lo selain gue dan Elano bakal hancur karena kehilangan orang yang disayang. " ucap laki-laki itu dengan seringainya.


"Kenapa? " tanya Laura yang duduk disamping nya


"Tiba-tiba gue merinding, apa ada hantu ya? "


"Masih siang Ra, jangan ketularan Celline deh. " decak Jovanya


"Mungkin ada orang yang lagi bicarain Aurora. " ucap Celline


"Bisa jadi gitu. " ucapnya sambil mengelus tengkuk dan tangannya yang merinding.


"Lo harus hati-hati deh. " ucap Laura membuat Aurora menatap gadis itu bingung, saat hendak bertanya namun tehenti saat guru menegurnya.


"Yang dipojok lagi ngapain? gak dengerin perkataan saya ya?! "


Aurora dan Laura gelagapan.


"Dengerin kok bu, Laura tadi tanya saya soal pelajaran ibu jadi saya bantu jawab deh. "


"Baik kalo gitu, kita lanjutkan pelajaran. Bagi yang belum paham langsung tanya ke ibu, mengerti?! "


"Mengerti bu! "


Pelajaran telah selesai sekarang semua murid satu persatu mulai meninggalkan sekolah.


Kini Aurora sedang sendirian menunggu supirnya.


Ting!


Ponsel gadis itu berbunyi ia membukanya dan ternyata pesan dari pak Adhi yang mengalami sedikit masalah, ban mobilnya bocor membuatnya tidak bisa menjemput Aurora tepat waktu.


"Duh naik angkot nih? "


"Bukannya itu Salsa? ngapain dia lari sambil ketakutan gitu. " curiga Aurora


"Mending gue susul aja. "


Aurora membuntuti Salsa dibelakangnya dengan mengendap-endap.Aurora membelalakan matanya saat melihat seorang berikan dari arah belakang Salsa sambil membawa tongkat. Aurora hendak berlari mencegahnya namun tiba-tiba mulut Aurora dibungkam dari arah belakang.


"Lewwpashhhhhsienn anj.. " berontak Aurora namun tak bertahan lama karena dirinya terlanjur kehilangan kesadaran.


"Cepat bawa masuk keduanya. " perintah seseorang dari dalam mobil.


Aurora dan Salsa dimasukan dalam mobil hitam kemudian pergi melaju meninggalkan area sekolah,"Semuanya sudah beres bos. " ucap orang itu sambil menelpon seseorang diseberang sana.


"Bagus, bawa cewek rambut panjang lurus itu ke gudang dibelakang. "


"Baik bos, terus yang satunya? "


"Bawa dia ke kamar atas. "


"Siap bos. "


"Kenapa cewek culun itu lo culik juga? bukannya direncana kita cuma si Aurora aja? " tanya perempuan itu


"Ternyata lo belum tau cara permainan gue. " jawab laki-laki itu


"Maksud lo? lo gak akan rugiin gue kan? "


"Tenang aja. Gue cuma mau liat mereka semua kebingungan mencari cewek culun itu dan membuatnya melupakan kehadiran calon cewek gue. "


"Gue paham maksud lo. "


"Sekarang lo kirim pesan ke Aland kalau pacarnya itu diculik. Ingat gunakan nomor satu kali pakai. " peringatnya


"Siap."


Arsen dan teman-temannya sedang berada di warung tempat mereka biasa nongkrong.Mereka dikejutkan saat Aland tiba-tiba berdiri dari duduknya dengan ekspresi menahan emosi.


"Lo kenapa Land? " tanya Jaka


"Salsa diculik. "


"Apa? seriusan? "


"Terus dia ada dimana sekarang? " tanya Jaka beruntun


"Namanya juga diculik mana tau lokasinya dimana, bego dipelihara! " ucap Dava


"Siapa yang kirim pesan ke lo? " tanya Stefano


"Gak tau." jawab Aland seadanya


"Lo mulai suka sama Salsa Land? " tanya Arsen


"Lo harus pastiin perasaan lo dan jangan buat dia salah paham. " ucap Arsen menepuk punggung sahabatnya itu.


"Gue tau. "


"Jangan bahas itu sekarang!Gue mau cari dia."


"Tunggu dulu! "


"Mana HP lo? kita suruh Radit lacak nomornya. " usul Jaka


"Gak bisa! nanti Elano tau dan pasti dia juga bakal marah. " cegah Dava


"Terus? cuma dia yang pinter IT njir. "


"Stefano lo kenapa diem aja? " tanya Arsen


"Ah gak papa, gue setuju sama saran Jaka. " ucap Stefano


"Lo masih benci sama Elano, Fan ? " tanya Arsen


Stefano menatap Arsen, "Kalian pasti tau.Gue masih belum terima Diva pergi karena cowok itu. "


Arsen menghela napas, "Jak, kirim nomor itu sama Radit. "


Aland pergi menuju motornya namun dihentikan oleh Arsen.


"Lo mau kemana? "


"Gue gak bisa diem aja, gue mau cari Salsa! " jawab Aland


"Land, tunggu info dari Radit dulu elah!!" ucap Dava


Aland menghiraukannya kemudian menyalakan motornya, "Kabarin gue kalo udah ada info. " ucapnya sebelum pergi.


"Gimana? udah ada hasil? " tanya Arsen pada Jaka


"Belum."


"Nah ini, kata Radit dia ada di sekitar tempat ini. " ucap Jaka sambil memperlihatkan titik lokasi di ponselnya.


"Kirim ke Aland. " perintah Arsen


"Udah, kita harus kesana. " ucap Jaka yang diangguki setuju oleh Arsen, Dava, dan Stefano.


Sedangkan Aland meresakan ponselnya bergetar ia pun menepikan motornya untuk membuka pesan itu.


Jakasambung : lokasi📍


Jakasambung : Kata Radit perkiraan Salsa ada disana


Cowok itu memasukkan ponselnya terburu-buru dan menjalankan motornya lagi dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya.


Bersambung...


Siapa yang bakal mereka tolongin terlebih dulu? Salsa or Aurora?


Liat chapter selanjutnya .. eitsss tinggalkan jejak dulu