AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
33 # [ Tertuduh Lagi?? ]



Happy Reading


🍀


🍀


🍀


Setelah mengungkapkan jati dirinya membuat perasaan Aurora sedikit lega walaupun ia hanya bercerita tentang transmigrasinya tidak dengan menceritakan bahwa dunia ini hanya dunia novel. Itu sesuatu yang pasti sangat sulit untuk orang disini percayai.


Kini mereka berdua sedang berada di taman di rumah Aurora. Aurora sedang bermain bola basket sementara Elano hanya melihat gadis itu bermain.


"Claudia nama yang cantik. "


Elano belum sepenuhnya percaya akan perkataan Aurora jelas itu kejadian yang sangat mustahil. Namun setelah melihat semua perubahan sikap gadis itu Elano akan mencoba untuk mengerti.


"Ternyata dia bukan Aurora,pantas aja gue nambah suka sama dia. "ucapnya tersenyum tipis.


"Elano? "panggil seseorang membuat lelaki itu menoleh kesamping, Sila? ngapain cewek itu disini.


"Hmm." jawab Elano dengan deheman saja dengan pandangan terus menatap kearah Aurora yang sedang bermain bola.


Mendengar jawaban cuek milik Elano bukannya menjauh cewek itu justru duduk di samping Elano.


"Ngapain  disini Ell? " tanya Sila


"ini rumah tunangan gue. "


"Ohhh iyaa gue lupa lo kan tunangannya Aurora. "


"Oh iya gue tinggal sementara disini. " ucap Sila padahal Elano tak bertanya itu.


Aurora berhenti bermain saat melihat Sila sedang duduk bersama Elano, ia pun menghampirinya.


"El itu ada daun di kepala lo.. gue ambilin ya. " ucap Sila sambil mengulurkan tangannya ke rambut Elano.


"Jaga tangan lo! " sentak Aurora sambil menepis tangan Sila saat hendak memegang rambut Elano.


Sila berdiri dari duduknya, "ngapain lo kesini? udah sana lanjut main aja! " suruh Sila


"Heh nenek lampir,  ngapain lo disini? mending ngepel rumah, dikira gratis numpang di rumah orang. " sinis Aurora


"Elano liat kelakuan pacar lo itu sangat kasar, sayang banget lo dapet pacar modelan gitu. " ucap Sila yang hanya di balas tatapan cuek oleh Elano.


"Jaga omongan lo ya! " tegas Aurora


"Dasar cewek  kasar. " ejek Sila sambil bersedekap dada.


"Yang penting gak murahan kaya lo. " ucap Aurora sinis membuat Sila menggertakkan giginya menahan emosi.


"Awas lo! " Sila pergi meninggalkan keduanya.


Aurora menghadapkan badannya ke arah Elano,"suka dideketin Sila? kenapa kamu diem aja sih!? pergi kek,cuekin kek " kesal Aurora


"Gausah cemberut kaya gitu." ucap Elano sambil mengacak rambut Aurora yang terkuncir.


"Jadi mirip bebek."


🍀


🍀



Hari ini adalah jadwal pelajaran renang untuk kelas Aurora yang kebetulan memang satu paket dengan kelas Aland dkk.Walaupun begitu kolam renang untuk perempuan dan laki-laki itu berbeda.


Saatnya melakukan pemanasan ,sementara Aurora memilih  berbaris di bagian pojok belakang sendiri.


"Sekarang giliran siapa yang memimpin pemanasan?" tanya bu guru.


Perlu kalian tau,kolam renang ada dua bagian untuk laki-laki dan perempuan begitupun dengan guru yang mengampu yang berbeda juga.Untuk perempuan dilatih oelh bu guru begitupun dengan lelaki yang dilatih pak guru,tujuannya yautu untuk menjaga kenyamanan bersama.


"Ayo siapa?"


Salsa yang berbaris disamping Aurora bergerak keluar barisan menuju depan,"saya bu."


"Oh baiklah,segera pimpim pemanasan."


Pemanasan dilakukan begitu saja sampai selesai,Salsa diperintahkan untuk kembali ketempatnya.


Saat gadis itu berjalan melewati Aurora lewat samping entah sengaja atau tidak Salsa menyenggol lengan Aurora dan terpeleset.


Byur!!


Semua orang baik barisan laki-laki maupun perempuan langsung menoleh erkejut kearah kolam renang,mereka terkejut saat melihat Salsa tercebur ke kolam renang.


"Ughukk...tolong." teriak Sala sambil terus berusaha menggapai permukaan air agar tidak tenggelam.


"SALSA!!!"


Aland yang melihatnya langsung berlari kearah kolam renang dan tanpa basa-basi langsung melompat ke kolam renang.Aland menggapai tubuh Salsa yang sudah lemas dan membawanya kearah tepi kolam dibantu yang lainnya.


Dengan cepat membaringkan tubuh Salsa dan segerapa melakukan pertolongan pertama dengan menekan dada gadis itu agar air yang masuk bisa keluar.


"UGHUKKK..." Salsa terbatuk dan sadar dengan kondisi lemas.


Semua yang melihatnya menghela napas lega termasuk Aurora yang juga merasa lega.


"Kenapa lo bisa kecebur ?" tanya Arsen


"Aurora gak sengaja nyenggol aku." ucap Salsa


"Maafin aku Aurora. "


Semua orang langsung menatap Aurora yang juga sam terkejutnya dengan jawaban Salsa.Aurora sekaranng merasakan pandangan tak percaya yang menatap kearahnya.


"Dasar tukang cari perkara!! bilang aja lo masih gak terima dia deket sama temen abang lo!!"


Sila juga melakukan hal yang sama mendorong bahu Aurora ," sengaja kan lo?! karena lo tau Salsa gak bisa berenang jadi lo dorong dia" seru Sila.


Aurora terdiam dan tak tau harus membela seperti apa.


"Kalian liat kan? dia diam itu tandanya benar dia yang dorong Salsa"


"Sudah-sudah! Aland cepat bawa Salsa ke UKS. " perintah guru


Dengan sigap lelaki itu langsung membopong tubuh Salsa keluar dari ruangan renang.


"Semuanya kembali ke kelas, kita ubah jadwal latihan menjadi besok. " ucap guru


Semua orang pergi dari kolam renang dengan beberapa decakan kesal.Sila dan Mega berjalan mendekati Aurora kemudian mendorong tubuh Aurora kearah kolam membuatnya tercebur.


Aurora menyembulkan kepalanya, beruntung dia bisa berenang kemudian menepi .


"Sini naik. "


Jovanya dan Celline langsung membantu mengangkat tubuh Aurora dari dalam kolam renang. Sekarang baju Aurora menjadi basah kuyup.


"Ishh.. jahat banget jadi orang, pengin gue bejek-bejek tadi! " kesal Celline


Jovanya dengan sigap memakaikan handuk untuk menyelimuti badan Aurora agar tidak keidinginan.


Sekarang hanya ada beberapa orang termasuk Arsen, Stefano dan kedua sahabat Aurora yang masih diam di tempat. Arsen menatap adiknya sebentar kemudian berjalan mendekat.


"Abang percaya aku kan?? " tanya Aurora sambil menggenggam erat handuknya.


"Percaya."


"Stefano? "


"Hm."


Aurora tersenyum senang mendengar nya, seenggaknya Arsen masih percaya dan tidak marah pada Aurora.


"Setelah ini langsung ganti baju. " ucap Arsen mengelus pipi Aurora dengan lembut kemudian berjalan keluar dari ruangan bersama Stefano.


Aurora langsung membalikkan badan kearah Celline dan Jovanya, "kalian per-"


"Kita percaya!! " teriak keduanya bersamaan seolah sudah tau apa yang akan Aurora katakan selanjutnya.


Aurora sedikit tersentak kaget, " jangan ngegas juga. "


"Hehe.. tenang aja kita bakal percaya sama lo, kita kan bestie!! " ucap Celline


"Makasih loh ya.. Aurora pasti senang melihatnya. " ucap Aurora spontan


"Aurora.. Aurora.. lo bicara kaya gitu kaya bukan lo aja. " ucap Jovanya


"Kalau gue buka Aurora gimana? " pancing Aurora


"Hahaha... ngaco lo!! lo itu Aurora sahabat kita. "


"Tau.Mungkin efek nyemplung kolam jadi aneh. " kekeh Jovanya


"Udah yuk ganti baju, lo pasti kedinginan sekarang. "


Celline dan Jovanya menggandeng tangan Aurora untuk berjalan bersama-sama.


*


*


Kini Aurora berjalan gontai di trotoar, hatinya sedang tidak baik-baik saja. Selama menjadi Claudia ia jarang mendapat perlakuan buruk seperti ini, semua orang memujinya sebagai atlet sekolah yang berprestasi.


Aurora memperhatikan pandangannya memperhatikan keadaan disekitarnya yang benar - benar sepi . Ia menggigiti ujung kukunya. Ini kebiasaan nya dulu sebagai Claudia ketika merasa cemas. Aurora tidak tau jalan pulang dan ini kedua kali dia berada di luar rumah sendiri.


"Sial*n pake segala pulang sendiri lagi, duh.. " gerutu Aurora


Denyut dikepalanya tiba - tiba terasa sangat sakit . Lapar dan rasa lelah datang secara bersamaan . Meskipun begitu , dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulangnya dengan berjalan kaki . Ia lupa bahwa tubuhnya sekarang adalah milik Aurora bukan Claudia, jelas kekuatan tubuhnya berbeda.


"Gue harus terus bertahan, ingat tujuan lo Clau, lo harus bisa kembali dengan selamat!!" ucap Aurora penuh tekad walaupun pusing dikepala nya mulai menyerang


"Kenapa harus pusing segala sih. " gerutu Aurora


Sore datang dengan hujan deras yang tiba - tiba turun tanpa diminta . Langit seolah mendukung penderitaan Aurora yang kini sedang berlari menuju halte bus untuk meneduh .


"Aishhh... hujan lo lagi ngejek gue ya? "


Ia basah kuyup dan duduk sendiri di halte bus dengan cahaya lampu yang minim . Bohong jika Aurora tidak takut , dia sangat ketakutan sekarang . Apalagi petir tiba - tiba terdengar dan tersentak berkali - kali . Tangannya saling menggenggam erat di pangkuannya .


"Mamah, papah Claudia rindu kalian. "


"Mamah, Claudia pengin dipeluk mamah... " liriknya ketika petir menyambar di angkasa. Ia rindu pelukan mamah nya ketika ia sedang ketakutan akan petir.


"Claudia bakal selesaikan ini secepatnya. "


"Claudia janji. "


*****


Jika kalian dalam kondisi seperti Claudia akan berbuat apa??


Like, vote,coment dan beri hadiah🎁


Jadikan Favorit💌


see you! 🍀