AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
Bab 21 : Hampir Saja




"ELANO JANGAN! " teriak Aurora saat merasakan tangan kasar Elano merambat membuka kancing seragamnya.


Air mata menetes dari mata cantiknya tanpa diminta, Aurora benar-benar sangat takut sekarang.Ciuman Elano berhenti menatap Aurora sebentar kemudian melanjutkan aksinya dengan mencium leher dan rahang milik Aurora.


"Anj..mingir!!"


"Elano sadar!!!"


"Berhenti atau gue bakal benci lo seumur hidup! "


Elano melepas kedua tangan Aurora dari atas kepala, "Jangan tolak gue ra. " bisiknya lemah.


Elano kembali mencium leher jenjang Aurora, memberi bekas kepemilikan disana.Air mata Aurora mengalir dan terus menghindar ciuman Elano, saat Elano berhasil mencium bibirnya Aurora langsung menggigit bibir cowok itu.


"Akhhh... " ringis Elano


Melihat kesempatan itu Aurora mendorong tubuh polos Elano dengan kuat, kemudian turun dari ranjang.Aurora langsung berlari keluar dari kamar Elano, menghiraukan kondisi cowok itu. Berlari sambil membenarkan penampilan bajunya yang sudah sangat berantakan.Sesampainya dihalaman bascame Aurora langsung disambut oleh anggota geng milik Elano.


Aurora berlari menuju Karel, "Anterin gue pulang plissss.. " ucapnya dengan suara serak karena habis menangis.


"Astaga! Aurora lo kenapa? " tanya Sagara panik


Karel menatap penampilan gadis itu, kemudian melepas jaketnya dan memasangkannya ke tubuh Aurora.


"Anterin gue pulang plisss.... " tangis Aurora pecah setelah ia tahan membuat Karel, Sagara dan anggota lain menatap Aurora bingung sekaligus kasihan.


"Oke, gue anter lo. " putus Karel


"Makasih."


Karel mengangguk, "Lo cek keadaan Elano, jangan biarin kejadian itu terulang lagi. " ucap Karel kepada Sagara dan Radit.


Karel menuntun Aurora menuju ke motornya, "Nih pake. " cowok itu menyerahkan helm kepada Aurora.


Disisi lain Elano sedang mengamuk di dalam kamarnya.


"Sial*n! " teriaknya sambil memukul dinding dengan tangan kosong.


"Maafin gue ra, "


"Jangan benci gue. "


Elano tadi dalam keadaan marah sekaligus emosi karena perkataan Aurora, sebenarnya Elano tau Aurora pasti sangat ketakutan melihat tindakannya, namun akalnya benar-benar sudah dikendalikan.


Sagara dan Radit membuka pintu kamar Elano dengan kasar dan terdiam saat melihat kondisi cowok itu.


"Stop El! Jangan sakitin diri lo sendiri anjir!!" teriak Sagara menghentikan aksi cowok itu memukuli dinding, bahkan tangannya sudah berdarah.


"Lepas! " berontak Elano


"Bangs*t lepasin!! "


"Sadar El, jangan termakan amarah, lo harus bisa kontrol amarah lo! " tegur Radit


"Atau lo bakal kambuh lagi, "


"Aurora mana?! " tanya Elano saat jauhh lebih tenang.


"Dia udah pulang, "


"Sendirian? Gue harus susul dia, " Elano berjalan keluar kamar namun dihentikan oleh Sagara.


"Stop! Dia dianter pulang sama Karel tadi. " ucap Sagara


Elano bernapas lega kemudian duduk di tepi kasur menatap dinding dengan pandangan kosong,"Gue hampir hilang kontrol tadi, " ucap Elano


"Dia keliatan takut banget tadi, lo harus jaga emosi lo kalo gak lo bakal kambuh lagi. "sahut Sagara


"Gue tau, "


Sagara mengangguk, "Lo juga harus minta maaf sama Aurora. " sarannya


"Gue tau, "


"Ck.. yaudah kalo gitu, selamat nyolo bung, liat noh masih tegak HahHAhAha.., " tawa Sagara menepuk punggung Elano kemudian pergi meninggalkan cowok itu.


Aurora sudah sampai di gerbang rumahnya bersama Karel dan turun dari motor cowok itu.


"Eh gausah di lepas, lo pake aja, " ucap Karel saat Aurora hendak melepas jaketnya


"Tapi ini jaket lo. "


"Gapapa lo bawa aja, lagian penampilan lo kaya gini nanti malah dicurigain sama keluarga lo. "


"Makasih ya, "


Karel mengangguk, "Sama-sama, "


Aurora berjalan membuka gerbang namun dicegah oleh Karel, "Em itu helmnya? "


Aurora memegang kepalanya dan benar helm Karel masih terpasang disana,duh kebiasaan banget sih.


"Ohh iya,sorry..." Aurora memberikan helm itu pada Karel.


"Gak papa. " ucap Karel menerima helmnya.


"Makasih "


Dibalas anggukan oleh Karel, Aurora membuka gerbang dan masuk ke dalam rumah.


"Aurora lo berhasil buat Elano kembali seperti dulu, gue harap lo selalu percaya sama Elano. " gumam Karel


Melihat gadis itu sudah masuk kedalam rumah, Karel pun menyalakan motornya kemudian pergi meninggalkan rumah Aurora.


"Assalamu'alaikum, " salam Aurora


"Waalaikumsalam, eh anak mamah udah pulang. "


Aurora yang sedang lelah menatap orang itu kaget, "Mamah pulang? kok gak kabarin Rara sih!!" ucap Aurora kemudian menyalimi mamahnya itu.


"Biar suprise, " ucap mamahnya sambil mengelus rambut anaknya.


"Papah mana mah? "


"Papah kamu gak ikut pulang, masih ada kerjaan, "


"Yahh.. " balas Aurora lesu


"Kamu habis ngapain? kok berantakan gini."


"Em tadi aku habis jatuh ke got mah."


"Got ? kok bisa? "


"Em itu anu lagi main kejar-kejaran sama Celline, iya sama Celline"


"Ooh yaudah sana masuk ke kamar terus bersih-bersih, Eh itu jaket siapa? " tanya mamahnya


Duh kok mamah Aurora detail banget sih.


"Jaket temen mah, "


"Ishh temen beneran mah, tau ah mau ke kamar, bay mamah! "


Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya menatap tingkah anak gadisnya itu, ia harap sikapnya selalu seperti ini.


Aurora menaiki tangga dengan wajah kembali murung, saat hendak membuka pintu kamar ia berpapasan dengan abangnya Arsen.


Arsen menatap penampilan adiknya dengan teliti, "Lo kenapa? "


"Itu jaket anak Delvandeer kok bisa sama lo? "


"Habis ngapain lo? " tanya Arsen berturut-turut.


Aurora gelagapan dibuatnya, kenapa ia harus bertemu dengan Arsen sih.


"Gak papa, "


"Lo habis nangis? "


Aurora mengelap sisa air matanya, "Gak kok bang, ini keringet. "


Pandangan Arsen jatuh ke leher jenjang milik adiknya yang sedikit terbuka menampakkan bekas warna merah, "Leher lo? "


Aurora meraba lehernya , "Em ini kegigit serangga tadi. "


"Yaudah bang gue mau masuk, terus mandi. " Aurora membuka pintu kamar kemudian masuk dan mengunci pintu.


Berjalan menuju kasur dan melepas jaket milik Karel, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ia akan berendam dengan air panas agar dirinya fress kembali.Arsen menatap pintu kamar Aurora dengan tatapan datarnya, Ia tau bekas merah di leher adiknya itu, ia tak sepolos itu percaya ucapan Aurora.


Matahari sudah menaampakka cahayanya ,namun gadis ini masih saja bergulung dibawah selimutnya tak terusik dengan kehadirannya.


"Jam berapa ?" ucap gadis itu sambil meraba tempat tidurnya mencari ponsel.


"Udah  jam 6 aja.."


Gadis itu terbangun dan duduk diatas ranjang sambil mengumpulkan nyawanya.Penampilannya sangat berantakan dengan kantung mata hitam disekitar matanya.Aurora berdiam diri menatap kedepan dengan pikiran yang berkelana kesana kemari,gadis itu tadi malam tidur larut malam karena susah tidur.


Pikirannya tertuju pada kejadian waktu di bascame milik Elano.Aurora berdiri menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dan bergegas berangkat menuju sekolah.


Celline dan Jovanya saling tatapan saat melihat keadaan Aurora. Gadis itu terlihat sangat lesu dan pendiam dari biasanya.


"Tanya gih.. " ucap Celline menyenggol Jovanya


"Lo aja sana. "


Alhasil keduanya mendekat kearah bangku Aurora dan duduk di depannya.


"Ra? " ucap Celline memanggil sahabatnya itu yang sedang menopang dagu sambil menatap entah kemana.


"Ra." panggil Jovanya juga


"Aurora! " sentak Celline membuat Aurora tersadar


"Hah ya kenapa? " ucapnya refleks


"Lo kenapa sih? "


"Ada masalah? " tanya Celline


"Gpp, gue baik-baik aja. "


"Bisanya cewek kalo bilang kaya gitu pasti ada apa-apa. " celetuk Celline


"Serius? tapi muka lo gak sesuai sama jawaban lo. " sangkal Jovanya menatap Aurora tak percaya.


"Gue gak papa. "


"Yaudah deh kalo lo gak mau cerita. " ucap Celline ketus


Aurora menatap Jovanya yang menatap nya juga, mungkin ia butuh bercerita sedikit pada mereka,"Gue mau batalin pertunangan sama Elano. "


"Hah?serius? " tanya Celline yang sempat kecewa karena Aurora tak mau bercerita.


Aurora mengangguk.


"Lo ada masalah sama Elano? " tanya Jovanya


"Sedikit..? " jawab Aurora ragu


"Dia sakitin lo? dia buat kasar sama lo? wah dasar brengs*k!!" ucap Celline menggebu-gebu


Aurora menggeleng, "Gak bukan gitu, gue cuma ngerasa udah gak cocok lagi sama dia. " alasan Aurora


"Bukannya lo dulu ngebet banget sama Elano? kok bisa jadi berubah? "


"Em.. perasaan kapan aja bisa berubah Celline.. " ucap Jovanya


"Lagian bagus dong, kita bertiga jadi jomblo semua. " kekeh Jovanya


Celline menatap Jovanya dengan ekspresi jahilnya,"Ngapain lo natep gue kaya gitu? " tanya Jovanya


"Yakin Jomblo semua? bukannya lo lagi deket sam-"


"Diem lo!!" ucap Jovanya menutup mulut Celline yang ember.


"Vanya lagi suka sama orang? " tanya Aurora pada Jovanya


"Gak! dia cuma ngasal ngomong. " sangkal Jovanya menatap sinis Celline yang malah terkikik geli.


"Udahlah, apapun keputusan lo kita bakal dukung kok ra.. " ucap Jovanya mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kita bakal dukung lo. " ucap Celline


Aurora menatap keduanya dengan tatapan sendunya, ia jadi mengingat sahabatnya dulu si Tata.


Apa kabar dia sekarang?


"Ututututu kok mewek sihh... " ucap Celline sambil menghapus air mata Aurora yang sempat keluar sedikit.


Aurora megusap matanya kasar, "Siapa yang nangis, mata gue kelilipan. "


"Iya deh iya. "


Mereka mengobrol dengan riang dengan Celline yang bertingkah aktif agar Aurora merasa terhibur sedikit. Saat mereka sedang asik mengobrol teman sekelasnya datang menghampiri mereka bertiga.


"Ra dicari Elano tuh didepan. " ucap Tari teman sekelasnya


"Bilang kalo gue gak ada dikelas. " ucap Aurora yang dibalas anggukan oleh Tari kemudian pergi.


"Kenapa lo gak mau nemuin dia ra? " tanya Jovanya


"Gue lagi gak mau ketemu dia. "


Teman sekelasnya Tari datang lagi dengan nafas sedikit tergesa-gesa, "Dia minta lo keluar Ra, atau dia sendiri yang bakal masuk. " ucapnya


Aurora menatap kearah kedua sahabatnya, "Bantu gue.. "


Bersambung....


Gimana nih?? 😢