
HAPPY READING
*
*
"L-lo serius? "
"Itu kan mau lo? " ucap Elano sambil berjalan maju mendekati Aurora.
"Tapi ingat, lo gak bakal bisa jauh dari gue Aurora! " desis nya tajam dan melenggang pergi meninggalkan Aurora yang masih berdiri disana.
Aurora terdiam dengan pandangan terus menatap punggung tegap Elano sampai tak terlihat lagi.Aurora memukul pelan dadanya yang terasa sesak, "Kok gue nangis sih!"
"Seharusnya gue seneng karena hidup gue kedepannya bakal tenang tanpa Elano. "
" Tapi ini sesek banget. "
"Lah lah kamu kenapa nangis? " tanya mamah Sinta setelah sepulang kerja pada putrinya itu.
"Kamu kenapa sayang?" beliau memeluk Aurora dan mengelus rambut putrinya itu.
"Tadi mamah ketemu sama Elano dia keliatan marah gitu, kalian lagi berantem? "
Aurora tak menjawab, "Udah dong jangan nangis, " seru mamah Sinta
Beliau mengangkat wajah Aurora dan mengusap air matanya dengan lembut, "Cantiknya mamah kok cengeng sih, udah ya jangan nangis. Nanti coba kamu bilang baik-baik sama Elano biar hubungan kalian makin baik. "
Apa mamah Aurora sesuka itu sama Elano? kenapa?
"A-aku ke kamar dulu ya mah. " pamit Aurora berbalik badan menaiki tangga.
"Ada-ada saja, " geleng beliau melihat tingkah anaknya itu.
Sementara disisi lain Elano mengendarai motornya dengan kecepatan luar biasanya, ia mencengkram kemudi nya dengan kencang untuk menyalurkan amarahnya.Mengendarai motor layaknya pembalap dengan menyalip pengendara lain tanpa permisi, bahkan banyak yang berdecak kesal melihatnya.
"Wihh kenapa lo? mukanya kusut gitu." tanya Karel pada Elano saat ia sudah berhenti di parkiran bascame.
"Lo kenapa El? gak biasanya. " tanya Sagara
"Diem! jangan banyak tanya. "
Elano berjalan memasuki bascame dan disambut oleh beberapa anggotanya yang sepertinya mereka membolos sekolah.Elano merebahkan tubuhnya di sofa dan menutup matanya dengan tangan.
"Kenapa tuh sih bos? "
"Gak tau sih, lagi ada problem kalik. "
"Dia kenapa Rel? " tanya anggota lain pada Karel
"Gue juga gak tau. "
Mereka membiarkan Elano merilekskan isi pikirannya dengan tidak membuat keributan, sangat bahaya membuat singa pada saat singa itu lagi dalam keadaan mood yang tidak baik.
"What?! "
Teriakan itu membuat para penghuni bascame menatap Karel penasaran.
"Kenapa lo? " tanya Sagara
" Lo mau tau kabar gembira atau kabar buruk dulu? " tanya Karel balik
"Gembira lah. "
"Kenapa? "
"Sebagian geng Xenderior berhasil ditangkap polisi, " ucap Karel yang didengar oleh semuanya.
"Buruknya itu ketua dan anggota intinya belum berhasil ditangkep, artinya mereka masih berkeliaran bebas. " lanjut Karel
"Ya gak papa, yang penting dia udah jadi buronan polisi. " sahut Sagara
"Emang ketuanya siapa? " tanya Bima
Mereka membicarakan geng yang sering membuat onar jalanan, Delvandeer geng Elano pernah sekali berurusan dengan mereka,saat mereka tak sengaja menyalip salah satu anggota Xenderior yang membuat mereka tak terima. Banyak sekali yang membawa senjata tajam saat melakukan tawuran.Mereka juga sering mengganggu anak Delvandeer.
"El..." panggil Karel pada Elano yang masih tiduran di atas sofa.
"Hmm, "
"Lo ditantang balapan sama Reno malam ini, lo terima atau_"
"Gue terima. " ucap Elano memotong perkataan Karel
"Lo serius? gue tau emosi lo lagi gak terkontrol sekarang.Mending jangan dulu, kita takut lo kenapa-napa. " peringatan Sagara yang diangguki oleh yang lainnya.
"Lo budeg? gue bilang terima ya terima!"
Sagara menghembuskan napas pelan, memang susah melarang Elano jika ia sudah kekeh sama pendiriannya.
Karel menepuk punggung Sagara, "Gak papa, dia bakal baik-baik aja. "
"Hmm, " jawab Sagara dengan deheman.
Hari sudah berganti malam.
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam,sebentar!!" sahut Mamah Sinta dari dalam rumah kemudian berjalan untuk membukakan pintu.
"Eh tante, apa kabar tan..." sapa Celline dan Jovanya sambil menyalimi mamah Sinta.
"Eh kalian Celline dan Jovanya kan? "
"Hehe iya tan, masih ingat kita juga tante. " gurau Celline
"Masih dong kan temen Aurora waktu sekolah disini. " ucap Singa tersenyum hangat.
"Ada apa nih datang malam-malam? "
"Aurora nya ada tan? " tanya Jovanya
"Ada kok, kebetulan banget datang. Anak tante itu lagi ngurung diri di kamar, lagi galau mungkin, kalian masuk aja ya. " ucap beliau ramah.
"Boleh tan? "
"Boleh dong, naik aja. Tau kan dimana kamarnya. "
"Tau tan. "
Keduanya berpamitan dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Aurora.
Sedangkan sang empu sedang membaca beberapa buku dikamarnya sambil mendengarkan musik.Aurora sedang merilekskan pikiran nya.
Tok
Tok
"Ngapain kalian kesini? " tanya Aurora
"Kita mau ajak lo jalan-jalan biar gak galau mulu. " ucap Celline dengan nada jenaka nya.
"Gak ah. " tolak Aurora
"Lo mah gitu kalo diajak pergi, " cemberut Celline
"Gue lagi gak mau pergi. "
"Kita maksa! " ucap Jovanya kemudian berjalan memasuki kamar Aurora.
"Sana ganti baju. " suruh Celline pda Aurora.
"Hmm.." ucap Aurora malas
Aurora berjalan kearah walk in closet untuk mencari beberapa baju, ia memilih celana hitam dipadukan dengan kaos putih dan cardigan berwarna hitam, jangan lupakan dengan topi hitam juga.
"Lo mau ngelayat? hitam gitu. " celetuk Celline
"Ini juga ada putihnya, emang mau kemana sih. "
"Club?" ucap Celline enteng
"Hah?! gak mau gue! " tolak Aurora mentah-mentah.
"Lah kenapa? "
"Ya gak mau aja, ngapain kesana? mau ngej*lang kalian? "
"Yaampun Ra, cuma nongkrong aja gak minum apalagi itu." jawab Jovanya
"Gue gak mau. "
"Yaudah kita nonton balapan aja gimana? kebetulan temen gue kasih info ada balapan di persimpangan selatan. " saran Jovanya
"Serius ? ayok lah, lumayan liat cogan. " celetuk Celline
"Bahaya."
"Bahaya apanya kan kita cuma nonton dipinggiran doang Ra. " ucap Celline
"Kali ini lo gak boleh nolak. " ucap Jovanya menyeret Aurora menuju walk in closet
"Pakai ini. " sodor Celline pada Aurora
"Gilak lo, gak mau gue pake baju kurang bahan gitu. " tolak Aurora lagi
"Yaudah ini deh. "
"Yang lain. " tawar Aurora
"Udah sana ganti, awas kalo kabur. " suruh Celline mendorong Aurora menuju bilik ganti.
Sambil menunggu Aurora berganti pakaian mereka berdua mengobrol sebentar sambil duduk diatas ranjang.
"Dapet info dari siapa lo Jo? " tanya Celline yang mendapat lirikan malas Jovanya, ayolah kenapa tidak Vanya saja.
"Dari Karel. "
"Temennya Elano? "
"Iya."
"Lo lagi deket sama dia ya? " tanya Celline menggoda Jovanya.
"Gak, gue udah kenal dia dari dulu kali. " jawab Jovanya santai
"Awas nanti temen jadi cintai, " kekeh Celline
Pintu ruang ganti terbuka menampilkan Aurora dengan baju pilihan mereka tadi."Eh ngapain pake jaket sih, padahal cocok banget sama badan lo." ucap Celline
"Ini malem loh Cell,pasti dingin, gue ganti aja ya. " Aurora berbalik hendak menggantinya dengan baju tebal over size nya .
"Eitss gak bisa nanti kita telat. "
Aurora pun pasrah saat digandeng mereka berdua menuruni tangga menuju ke parkiran mobil.
"Emang dimana tempatnya? " tanya Aurora pada Jovanya yang sedang menyetir mobil mereka.
"Katanya sih di persimpangan selatan. " jawab Jovanya sambil terus fokus menyetir.
"Ayok turun."
Aurora keluar dari mobil dan berjalan bersama mereka memasuki arena balapan. Posisi mereka sedikit jauh dari tempat start karena mereka memilih bergabung dengan beberapa penonton disana.
"Rame banget ya, ini pertama kali gue nonton balapan liar. " ucap Celline yang diangguki juga oleh Jovanya.
Aurora sangat suka dengan balapan namun itu balapan resmi bukan balapan liar, karena dari segi peraturan balapan liar sangat keras dan sewenang-wenang.
Aurora memandang perempuan di area start sana kemudian beristighfar, ia tak habis pikir dengan pakaian yang mereka gunakan itu jelas bukan pakaian hanya lembaran tipis kain.
Aurora memakai pakaian seperti ini saja sudah kedinginan bagaimana dengan mereka? sepulang dari sini pasti masuk angin.
Aurora mengeratkan kembali jaketnya dan mendekati Celline yang sibuk berteriak menyemangati seseorang.
"Lo neriakin siapa? "
"Gak tau sih, ngikut penonton aja. " jawab Celline polos
Aurora mengedarkan pandangannya ke sana kemari untuk mencari Jovanya namun ia tak melihatnya.
Sorakan semakin meriah dengan para pemain yang sudah mulai berjalan menuju posisi motornya masing-masing.
"Eh itu bukannya Elano ya Ra? " bisik Celline
Aurora menolehkan kepalanya mengikuti arah pandangan Celline kemudian terkejut ternyata Elano yang akan bermain.Aurora terus memandang Elano dari ia berjalan sampai bersiap di garis finish bersama dua pembalap lain.
Entah memang kebetulan atau tidak Elano yang tengah bersiap di garis star melirikan matanya menatap Aurora yang membuat keduanya berpandangan.Aurora dengan cepat memutuskan kontak mata itu dan memandang ke arah lain.
Sementara Elano yang melihat seseorang yang telah membuat pikirannya kacau itu dan tersenyum miring di balik helm nya.
*
*
*
🙋Anyeong!
⚠️JANGAN LUPALike👍Vote🎟coment✉beri hadiah🎁Jadikan Favorit💌
See you!