
Happy READING
🌿🌿🌿
Setelab berbincang dengan Laura tadi sore setelah pulang sekolah, kini Aurora sedang berada di balkon kamar sambil bersantai di sebuah ayunan berbentuk kurungan.Gadis itu seperti sedang melamun namun sebenarnya tidak karena ia sedang berpikir.
"Balikan sama Elano? "
Aurora berpikir apakah itu keputusan yang tepat?
Akhir-akhir ini memang sifat Elano semakin baik padanya tidak seperti awal mereka bertemu.Aurora berpikir tidak ada salahnya bukan memanfaatkan Elano sebagai tunangan Aurora? ya itu sebagai bentuk terimakasih karena sudah meminjamkan tubuhnya pada Claudia. Ia akan memberitahukan semuanya pada Elano dan Arsen suatu saat nanti setelah semua tugasnya sudah selesai.
Ting!
Elano 💩 : plis dateng ke kafe ****
Aurora mendapatkan sebuah pesan dari Elano. Elano mengajaknya jalan malam ini, itu adalah kesempatan yang bagus.
Aurora : Oke
Aurora berjalan memasuki kamar dan menutup pintu balkon, ia berjalan menuju meja belajar dan menulis sesuatu di buku diary Aurora.Entah kenapa semakin lama ia disini semakin terkuras juga ingatannya akan dunia aslinya.
Disisi lain Elano sedang uring-uringan menunggu jawaban dari gadis itu. Selama dirinya bertengkar dengan Aurora, Elano sering sekali marah bahkan untuk melampiaskan nya ia bermain ke club untuk meringankan pikirannya sejenak.
Terdengar bunyi tanda pesan masuk , Elano langsung membukanya. Lelaki itu tersenyum senang hanya karena sebuah balasan dari Aurora.
"Lo bakal tetep jadi milik gue Aurora, gue gak akan biarin lo diambil cowok lain. "
Elano lelaki dingin itu tersenyum layaknya remaja sedang kasmaran. Mungkin jika ada yang melihatnya akan langsung tertegun melihat senyum dari bibir lelaki itu. Hanya Aurora yang bisa membuat jantung Elano berdetak kencang.
Kafe ****
"Ada apa? " tanya Aurora saat dirinya sudah duduk di salah satu bangku kafe.
"Gue mau kasih penawaran sama lo. " ucap Elano serius sambil menatap mata Aurora dalam.
"Penawaran apa? "
"Pilih lanjutin pertunangan atau keluarga lo bangkrut. " ucap Elano to the point
Aurora mengerutkan dahinya, kemudian terkekeh pelan, "Keluarga gue gak semudah itu bangkrut El. "
"Kenapa lo bisa kasih penawaran kaya gitu? apa hubungannya? "
Elano membenarkan letak topi hitamnya kemudian menatap Aurora, "Alasan keluarga kita melakukan pertunangan ini lo tau kan. "
"Alasan? alasan apa yang lo maksud?soal gue yang dulu minta lo jadi tunangan gue? "
"Bukan, lebih dari itu. "
"Hah?"
"Kenapa setiap gue bicara sesuatu tentang masa lalu lo selalu bilang lupa,padahal lo yang ngalamin. " ucap Elano penuh selidik.
"Gu-gue pelupa El," jawab Aurora
"Ck.lupa semuanya? "
"El gue kesini ngeluangin banyak waktu, jadi jangan bertele-tele! "
"Lo sendiri yang buat lama. "
"Kalo gitu gue pergi. " Aurora bangkit dari duduknya hendak berjalan pergi namun segera dicegah oleh Elano dengan menahan tangannya.
"Duduk! gue bakal kasih tau lo, asal lo duduk! " cegah Elano
Aurora masih saja berdiri dengan tangan Elano yang masih memegang tangannya, "Jangan bertele-tele Elano, gue gak suka. "
"Oke, tapi duduk. " sabarnya
Aurora kembali menarik kursinya dan duduk kembali.
"Perjodohan ini memang atas permintaan lo sendiri tapi jauh dari itu ada masalah bisnis di dalamnya. "
"Maksudnya? "
"Orang tua lo jadikan lo sebagai alat untuk mempertahankan bisnisnya. "
Aurora menggeleng, "Gak.. gak mungkin. Lo pasti mengada-ada. "
"Itu fakta. "
Ponsel milik Elano tiba-tiba bergetar mendapati seseorang menelponnya, "Hmm,gue bakal kesana" . Setelah menjawab itu Elano mematikan ponselnya.
"Sorry tapi gue ada urusan,kita bicara lagi lain waktu. "
Aurora nahan tangan Elano,mencegah lelaki itu pergi, "Tunggu!"
"G-gue gak jadi batalin pertunangan kita. "
Elano berbalik badan menatap mata Aurora kemudian bibirnya terbit sebuah senyuman yang sangat indah, Aurora baru pertama kali melihat senyuman itu. Elano sangat tampan saat tersenyum tulus bukan senyum sinis seperti biasanya.
"Gue udah rekam perkataan lo di otak gue, jadi lo gak bisa mencabut kembali perkataan lo tadi. " ucap Elano
"Tapi jelasin soal tadi. "
"Tenang aja gue bakal kasih tau lo saat waktunya tepat, lo aman sama gue. " ucap Elano sambil mengelus pucuk kepala Aurora lembut.
"Tapi gue maunya sekarang! "
"Ini bukan waktu yang tepat. "
"Yaudah gue bisa cari tau sendiri. " keyel Aurora
"Jangan sekali-kali lo ngelakuin itu" tegas Elano
"Kenapa?kan tinggal nguping atau tanya mamah aja. " ucap Aurora menatap Elano sinis
"Ngeyel banget, kalau udah waktunya juga bakal tau. " ucap Elano
"Katanya kalo sama lo aman? " celetuk Aurora
Elano terkekeh, "Emang aman, tapi saat lo sendiri itu yang gak aman!!"
"Gue bis-"
Elano melajukan motornya menuju rumah Aurora.
"Sana masuk. " suruh Elano saat keduanya sudah sampai di gerbang rumah keluarga Aurora.
"Mau kemana? "
"Ada urusan, sana kamu masuk kedalam. " ucap Elano
Mendengar gaya bahasa yang Elano gunakan membuat dahinya berkernyit bingung, "Kenapa sama bahasa lo? mau jadi jablay? "
"Mulai sekarang pakai aku kamu. "
"Dih ogah. Mau kemana lo? "
"Aku-kamu Aurora Putri." koreksi Elano membuat Aurora berdecak kesal.
"Mau kemana? ada urusan apa? " tanya Aurora dengan menghilangkan kata subjeknya.
"Bukan apa-apa,sana masuk. "
"El gue tetep bakal cari tau. "
"Kali ini nurut sama gue dulu," ucap Elano tegas
"Sana masuk. " perintah Elano yang masih duduk diatas motornya.
Aurora berbalik badan meninggalkan Elano begitu saja tanpa menjawabnya.Elano menatap kepergian gadis itu dengan pandangan lurus kedepan, "kayaknya gue mulai jatuh hati sama lo ra," ucap Elano
Bunyi ponsel menyadarkan Elano, ia pun mengecek pesan itu selanjutnya Elano menghidupkan kembali mesin motornya dan melenggang pergi dari pekarangan rumah
Aurora.
Pasukan geng Delvander bersiap menuju jalan Kusuma untuk tawuran dengan geng Xanderior. Sejak dulu kedua geng tersebut sudah bermusuhan entah apa penyebabnya. Banyak yang bilang karena dendam di masa lalu.
Sesampainya di jalan Kusuma , puluhan pasukan geng Xanderior sudah bersiap disana.
"Mana ketua kalian? takut? " ejek anggota geng Xanderior
"Ketua lo kali yang takut. " ejek Karel yang langsung membuat anggota geng itu marah layaknya ganteng eh banteng maksud nya.
"Jaga ucapan lo! "
"Idih... "
"Mana Elano hah?! " teriak Jordan yang diketahui merupakan ketua geng Xanderior.
Derum motor mengalih pandangan semua orang , seseorang membelah kerumunan dengan menaiki motornya melakukan beberapa atraksi kemudian berhenti didepan para anggota Delvandeer.
Elano membuka helmnya menatap Jordan dingin, "Gue disini, mau apa? "
"Wah wah wah seorang ketua datang terlambat saat para anggotanya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, ketua kalian ternyata pengecut! " ucap Jordan mendapatkan suara tawa dari geng Xanderior.
"Seenggaknya gue ikut bertarung gak kaya lo cuma nonton, " ucap Elano santai sambil turun dari motornya, namun justru memancing amarah Jordan.
"Lo yang laporin anggota gue ke polisi kan? jawab! " bentak Jordan menarik kerah baju Elano
"Bukan gue, sayang sekali lo gak tertangkap polisi. " ucap Elano
"Gak udah banyak bacot lo! seranggggg!! " perintahnya pada anggota geng nya.
Jordan pun mendorong tubuh Elano menjauh.
Tawuran, perang tak bisa dihindarkan.Pukulan dan tepisan dilakukan untuk melakukan penyerangan dan tangkisan untuk perlindungan diri .Tak berselang lama anggota Xanderior limbung tumbang satu per satu . Begitupula dengan anggota Delvandeer tetapi tidak separah geng Xanderior.
Elano mendekati Jordan yang terduduk di tanah menahan sakit akibat tendangan Elano, "Siapa ketua lo! " sentak Elano pada Jordan.
"Uhukuhukk gue ketuanya.. " jawabannya terbata
"Bohong, lo cuma tangan kanannya, lo pikir gue sebodoh itu? "
Elano memegang kerah baju milik Jordan, "Beri tahu dia kalo dia salah milih lawan, dan satu lagi berhenti bersembunyi karena dia terlihat seperti pengecut!! " sentak Elano kemudian mendorong Jordan ke tanah.
Melihat para anggotanya sudah tumbang Jordan memerintahkan anggotanya untuk pergi dari sana.Dan kesekian kali pula geng Xanderior mengalami kekalahan .
"Kalian ganggu waktu gue hanya untuk sampah itu??"
"Ya dia minta ketemu sama lo yaudah gue telepon, " sahut Karel
" Ck. Buang - buang tenaga , " Decak Elano
"Lagian lo lagi dimana sih? lama banget datangnya. " tanya Sagara
"Bacot lo! " sengak Elano kesal
"Ngapain lo disini? " tanya Elano saat melihat teman sekaligus tangan kanannya itu berada di sini.
"Gue disuruh ikut sama tuh bocah. " ucap Radit menunjuk pada Karel
"Gue yang bayar lo bukan dia. " ucap Elano
"Iya bos, sorry. "
"Btw gue baru tau kalo Jordan bukan ketua Xanderior saat lo ngomong tadi. " ucap Sagara
"Dia memang bukan ketuanya, dia tangan kanannya." ucap Elano
"Lo tau ketua nya? " tanya Radit
Elano tersenyum misterius membuat anggota dan sahabatnya yang lain menatapnya ngeri.
"Balik ke markas! "
______________________
🙋♀️Anyeong!
⚠️JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK!
Jadikan Favorit💌
see you!