AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
23# Culik!



HAPPY READING


***


"Ngapain lo? " tanya Elano saat melihat tangan kanannya itu sibuk mengutak-atik laptopnya.


"Belum tau? "


"Kenapa? " tanya Elano


"Salsa diculik, gue disuruh Jaka buat lacak lokasinya. " jawab Radit


Elano langsung menuju kamarnya apartemen nya kemudian turun menuju garasi setelah selesai mengganti pakaiannya.


"Lah main pergi aja dia. " ucap Radit saat melihat bosnya itu pergi begitu saja saat ia sudah berhasil melacak lokasinya.


Disisi lain Aurora sudah terbangun dari pingsannya dan mendapati dirinya berada disuatu kamar yang luas.


"Lah gue dimana? "


Aurora beranjak dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang melihat sekeliling ruangan itu.


"Salsa? gue gagal cegah Salsa diculik. " decaknya


"Terus ini kamar siapa? Elano?apa dia yang bawa gue kesini? " pikir Aurora


"Awas aja kalo cowok itu nongol nanti bakal gue buat babak belur. "


Aurora mencari ponselnya di kamar itu namun tak ada, " Lah mana ponselnya. "


Ceklek


Pintu terbuka, "Mencari sesuatu heh? " ucap seseorang


Aurora menolehkan kepalanya saat melihat pintu terbuka, niatnya ia akan memakai Elano namun terhenti saat bukan Elano yang masuk kedalam kamar.


"Stefano? "


"Lo Stefano?"


"Oh kamu udah bangun sayang? " ucap cowok itu .


"Sayang?? " ucap Aurora bingung


"Mau makan sayang? kamu pasti lapar. " tanya cowok itu balik menghiraukan pertanyaan Aurora.


Dih apaan sih ni orang!


"Ngapain lo disini fan? " tanya Aurora pada cowok itu, sejujurnya ia tak yakin dia Stefano atau bukan karena cowok itu memakai hodie menutup kepalanya serta memakai masker juga, Aurora hanya bisa melihat matanya saja.


Jika dilihat memang 90% seperti Elano yang membedakan adalah tinggi badannya yang sedikit pendek?


"Kamu gak kenal aku yang? " tanya cowok itu kemudian menutup pintu dan berjalan kearah Aurora.


"Jangan panggil gue kaya gitu! jijik gue. "


"Lo Fano kan? Stefano? "


"Sepertinya kamu udah lupa ya. " ucap cowok itu sekali lagi tak menanggapi Aurora.


"Apaan sih lo! "


"Santai dong cantik. " ucap cowok itu menoel dagu Aurora


"Lo bukan Fano! siapa lo hah?! " Aurora berjalan mundur agar tidak terlalu dekat dengannya.


Aurora berusaha mencari ponselnya, setahunya ia menaruh ponsel itu disaku seragam.


Dapat


Aurora membuka HP nya dengan tergesa-gesa ia harus menelpon siapa? Elano? tidak tidak!


Akhirnya ia mengingat abangnya dan menelpon nomornya namun ponselnya segera direbut oleh cowok berhodie itu.


"BALIKIN HP GUE WOY! " Aurora berusaha menggapai tangan panjang cowok itu.


"Gak semudah itu. " ucapnya kemudian melempar ponselnya ke kasur.


"Mau lo apa sih!! gue kan nanya baik-baik siapa lo, kenapa selalu gak dijawab hah?! "


"Jangan marah dong nanti makin imut. " ucap cowok itu hendak mengelus pipi Aurora namun segera ditepis olehnya.


"Hahaha.. kamu memang semakin menarik dari sebelumnya."


"Pantes saja Elano tidak mau melepaskanmu. " lanjut nya


Aurora menghiraukan perkataan cowok misterius itu dan berlari memutari kasur mengambil ponselnya.Aurora menjauh menuju balkon dan bergegas menelpon abangnya.


Angkat dong bang.. gumamnya berusaha menjauh dari dari jangkauan cowok hodie.


"Halo? "


"Bang tol-"


Aurora menatap nanar ponselnya yang terjatuh kebawah balkon. Cowok itu yang melemparkan nya.


"HP gue.. " Aurora menyayangkan ponsel mahalnya itu harus rusak jatuh ke bawah sana.


"Upss jatuh. "


Aurora menatap cowok itu marah, "Berani-beraninya lo rusak HP mahal gue!! " ucap Aurora sambil menunjuk cowok itu garang.


"Si*lan lo! " Aurora maju memukuli cowok itu dengan sekuat tenaga.


"Dasar brengs*k!! " Aurora terus memukukinya kemudian menjambaknya.


Cowok itu berusaha menghentikan aksi gadis itu saat dirinya merasa sudah tak bisa lagi menahan amarah, ia pun mencekik leher Aurora dan mendorongnya ke pembatas balkon.


"Lewpashin anjir.. " tangan Aurora berusaha melepas cekikan tangan berotot itu.Punggungnya juga sakit karena benturan.


"Seharusnya lo sadar diri, gue bawa lo kesini dengan cara yang baik. "


"Jangan pernah sekali-kali lo menghina gue! apalagi menentang! "


"Gue emang suka sama lo, tetapi jika dengan cara baik tidak bisa, maka akan melakukannya dengan cara kasar! " tekannya


Aurora mulai merasa lemas bahkan air matanya sudah mulai hampir menetes namun ia berusaha agar tidak menangis.


"Dan ingat satu lagi. Hanya gue yang bisa memiliki lo siapapun tidak bisa menggantikanya. Jika ada yang melakukannya maka lebih baik lo mati agar tidak ada satupun yang mendapatkan mu hahahaahaha... "


"Lepasinn gue mohon. "


Cowok itu melepaskan cekikikan nya , "Jangan menangis. " ucapnya sambil menghapus cairan bening di pipinya.


Sementara Aurora merasa jijik dan ingin segera pergi dari tempat ini.Aurora terdiam saat cowok itu memajukan wajahnya.


Dughh!!


"Asshh.. " cowok itu meringis kesakitan sambil memegang hidungnya yang sepertinya berdarah. Aurora menyelamatkan dirinya dengan menghantamkan kepalanya ke hidung cowok itu saat cowok itu hendak menciumnya.


Aurora berbalik badan namun dikejutkan oleh kehadiran cowok hodie itu.


"Mau kabur? "


Aurora mengangguk kemudian berbalik menggeleng.


"Mana kuncinya? " ucapnya sambil menyodorkan tangan.


Bukannya memberikan kunci cowok itu malah mengangkat tubuhnya layaknya karung kemudian menjatuhkannya di atas ranjang.


"Abang toloooonggg!!!! "


Disisi lain Arsen dan Aland dkk sedang sibuk mencari Salsa. Mereka sudah berada di tempat seharusnya Salsa disekap, tepatnya di sebuah gudang yang sedikit kotor.


"Lo yakin disini? " tanya Dava ragu


"Kata Radit ada disini. " jawab Jaka


"Masuk! " suruh Aland


"Tunggu.Kita gak bisa kesana begitu aja siapa tau ada jebakan. " usul Jaka


"Gue setuju. Kalian liat kan gudang itu sepi banget gak ada penjagaan apapun. " angguk Dava


"Gue setuju sama mereka. " celetuk Stefano


Mereka akhirnya mengintai dari dekat namun belum ada orang satupun yang datang untuk menjaga gudang itu.


"Masuk aja. "


Mereka terpaksa berjalan mendekati gudang itu dengan mengendap. Sesampainya di depan pintu Aland membukanya dengan waspada.


ceklek


Pintu terbuka menampilkan seorang gadis yang ia cari sedang pingsan di sebuah kursi dengan posisi tubuh yang diikat.


"Salsa?! "


Aland membuka tali itu dan berusaha menyadarkannya.


"Aneh banget gak sih. Kok sepi gini gak ada apapun. " ucap Dava setelah kembali melihat sekitar.


Arsen mengangguk setuju, "Yang penting dia udah aman. Mending kita segera pergi dari sini. "


Jam menunjukkan waktu pukul 10.00 namun belum juga ada tanda-tanda anak perempuan nya pulang. Mamah Aurora beserta Oma sedang panik di rumah karena Aurora belum juga pulang dari sekolah, bahkan gadis itu tak mengabari orang rumah.


"Rara mana ya bu kok belum pulang-pulang. " ucap Mamah Aurora cemas


"Kamu yang tenang, coba telfon . "


"Gak online bu, padahal tadi sore masih centang dua. "


"Coba kamu telfon nak Elano mungkin Rara lagi sama dia. " usul oma berusaha menenangkan anaknya itu.


"Iya Bu. "


Mamah Aurora menelpon Elano namun belum terjawab ia berulangkali menelpon cowok itu.


"Gak diangkat. "


"Coba telpon sekali lagi. " usul Oma


Mamah Aurora pun mengangguk dan kembali menelpon Elano.


Sedangkan sangat empu sedang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi itu segera menepikan motornya saat merasakan ponselnya berkali-kali bergetar.


"Ck siapa sih. " decak Elano kemudian merogoh saku celana dan melihat siapa yang menelpon nya.


"Tante Sinta?. "


"Halo tan ? "


"Nak Elano kamu sedang bersama Aurora ? "


Elano menaikan sebelah alisnya, "Gak tan, Aurora gak sama saya. "


"Kamu gak bohong kan? " tanya Tante santi dengan suara cemas


"Gak tan, memang kenapa? "


"Aurora belum pulang sejak sekolah hikss hikss.. tante khawatir banget sama dia. "


"Tante tenang aja biar Elano yang cari Aurora."


"Makasih ya nak Elano. "


"Ya tan sama-sama. "


Sambungan telepon berhenti, "Pergi kemana cewek bandel itu,? "


"Menyusahakan."


"Cari keberadaan Aurora. " ucap Elano menelpon Radit


"Siap bos. "


Sembari menunggu informasi dari Radit ia terdiam sejenak sambil berpikir.


Ting


Arsen : Salsa udah ditemukan


Pesan dari Arsen sepuluh menit yang lalu.


Ting!


Raditya :Kirim lokasi 📍titik terakhir sinyal ponsel Aurora ada disana dan setelah itu hilang. Kemungkinan terjatuh rusak.


Anda : Kehbisn btrai?


Raditya :Bukan bos, kalo kehabisan baterai pasti masih ada sinyalnya walaupun lemah.


Elano membuka lokasi terkahir sinyal ponsel Aurora, ternyata berada disekitar hutan.


Elano meninju motornya untuk melupakan sedikit emosinya, kemudian mengendarai motornya dengan kecepatan yang lebih kencang dari sebelumnya.


"Gue bakal temuin lo ra. " batinnya


_______________________


🙋‍♀️Anyeong!


Wajib!!Like👍Vote🎟coment✉️beri hadiah,Jadikan Favorit💌


See you!