AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
50 # [ Elano Takut Kalah Saing? ]



Happy READING





Setelah kejadian pengungkapan tadi pagi kini Aurora sedang bersama Elano, dirinya diajak mengendarai motor bersama Elano. Aurora belum sempat bertanya kemana mereka akan pergi namun lalaki itu langsung menancapkan gas motornya.


Selama diperjalanan Aurora menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Tangan Aurora berpegangan di pinggang Elano karena lelaki itu yang memintanya.


Sebenarnya Elano menyuruh dirinya untuk memeluk lelaki itu namun Aurora menolaknya dengan alasan risih dilihat orang.


Motor Elano berhenti disebuah rumah megah membuat Aurora mengeryit bingung.



Pintu gerbang dibuka oleh seorang satpam dan Elano melanjutkan motornya memasuki halaman rumah itu kemudian berhenti saat berada dibagasi khusus motor.


Elano turun terlebih dahulu dan membantu Aurora untuk turun dari atas motornya. Dengan telaten Elano melepas helm yang dipakai gadis itu dan membenarkan rambut Aurora yang berantakan.


Sementara Aurora hanya diam membiarkan Elano melakukannya.


"Ayo."


Elano menggenggam tangan Aurora namun Aurora tak mau bergerak dan mempertahankan posisi berdirinya.


"Ini rumah siapa El?" tanya Aurora


"Nanti kamu bakal tahu" ucap Elano


Lelaki itu kembali menarik tangan Aurora dengan lembut berjalan menuju pintu megah disana. Saat Aurora sampai ia merasa kecil sekali karena pintu itu sangat tinggi dan lebar.


"Lepas sepatu gak? " tanya Aurora


"Gak usah. "


Elano berjalan menggandeng tangan Aurora sampai didepan pintu , tanpa mengetuk pintu itu langsung terbuka dengan banyaknya maid yang berjejer rapi disana.


"Selamat datang den Elano. " sapa mereka


Aurora yang melihatnya terkejut dan menatap Elano yang berada disampingnya.


Elano menggandeng tangan Aurora dengan erat seolah tak membiarkan tangan gadis itu terlepas dari jangkauannya.


Aurora menurut berjalan disamping Elano smabil memandang isi rumah itu dengan takjub.



"Besar dan mewah banget rumahnya... " ucap Aurora tanpa sadar.


Elano menolehkan kepalanya menatap kesamping, " kamu bakal jadi penghuni rumah ini besok. " ucap Elano


"Hah? maksudnya? "


Elano tersenyum dan lagi-lagi membuat Aurora tertegun, " setelah kamu menikah denganku dan menyandang marga Alister di belakang namamu. " ucap Elano sambil mengelus pucuk kepala Aurora.


Aurora terdiam mencerna ucapan lelaki itu, tanpa sadar Aurora kemudian menginjak kaki Elano dengan sepatunya sekolah nya.


"Argghhh...kok malah diinjek . "


Elano terkejut kaget dengan respon gadis disampingnya ini, padahal ia berharap bisa membuat Aurora baper dan memperlihatkan pipi tomatnya karena tergoda. Namun ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


Gadis aneh, tapi Elano menyukainya.


Dan mereka adalah pasangan aneh.


"Jangan ngegombal Elano, kita belum lulus sekolah bagaimana bisa kamu memikirkan untuk menikah! " ucap Aurora kesal


"Sebentar lagi kita akan lulus ,sayang. "


Entah kenapa Elano ingin sekali melihat pipi tomat Aurora karena gombalannya, Elano memikirkannya pasti sangat lucu.


Sementara Aurora mengerjapkan matanya kemudian menatap wajah Elano, " sayang? " ulang Aurora memastikan pendengarannya.


"Iya sayang? " sahut Elano cepat.


Aurora melotot apa lelaki itu sengaja mengerjainnya agar ia seolah memanggil Elano dengan sebutan itu? Aurora akan membalasnya!


"Elano sayang " panggil Aurora sambil mengelus dada Elano yang dilapisi seragam putih khas hari senin dengan bagian kancing terbuka menampilan kaus berwarna hitam polos.


Elano meneguk ludahnya pelan, apa yang sedang dilakukan Aurora? bukan Aurora yang salting namun justru kini Elano yang sedang menahan diri agar tidak kelihatan gugup.


"Kamu ganteng banget sih... "


"Sampai rasanya aku tak ingin berjauhan denganmu, bau mulutmu bagaikan bunga mawar yang sangat wangi dengan segala cairannya? " Aurora memelankan bagian akhirnya.


"Astaga apa yang gue ucapkan, semuanya ngawur... " Aurora meringis dalam hati.


Sementara Elano tersenyum miring, ia menahan tangan Aurora yang berada didada bidangnya. Elano menggenggam tangan itu didepan dada kemudian menariknya membuat Aurora tersentak maju kedepan.


"Eh! "


Aurora menatap kebawah dimana wajah Aurora berada, " cairan apa yang kamu maksud, hmm? " bisik Elano


"Apaan dah! lepasin, jangan buat malu dirumah orang. "


"Sa-"



"Jika kalian ingin be romantis ria tolong jangan disini, masuklah kamar dan lanjutkan disana.Dasar anak muda! "


Disana terdapat seorang pria paruh baya yang sangat tampan dan berwibawa, Aurora tahu dengan cara berjalannya yang setiap ketukan selalu bisa membuat orang memfokuskan pandangannya.


Aurora mengeryit saat melihat pria itu, dirinya seperti pernah bertemu namun ia lupa dimana.


"Ayah ganggu. " ucap Elano datar


"Kau bisa melanjutkannya nanti son. " ucap Victor pada anak lelakinya itu.


Victor berjalan mendekati Aurora, " kita bertemu kembali Aurora. " ucapnya


"Kita pernah bertemu om? " tanya Aurora bingung.


"Ternyata kamu pelupa ya. "


Aurora tersenyum kecil mendengarnya.


"Kafe hutan Wijaya. "


Aurora langsung mencoba mengingatnya, apa beliau pria yang tak sengaja ia tabrak waktu merekam Mega & Steven?


"Om yang gak sengaja aku tabrak ya? " tanya Aurora memastikan.


"Iya."


Aurora membungkukkan badannya, " maaf karena tidak mengenali om. " ucapnya kemudian menegakkan dirinya kembali.


"Tak apa. "


"Ekhem."


"Kau batuk son? atau sedang cemburu karena tunangan mulai bisa dekat dengan ayah? " ucap Victor menggoda Elano


"Tidak, silahkan lanjutkan mengobrol nya. "


Elano berjalan kearah ruang tamu dan duduk di sofa sambil bermain ponsel.


Aurora yang melihat tingkah lelaki itu mendadak bingung, apa Elano akan bersikap manja bisa bersama ayahnya? bagaimana bisa ia merajuk seperti itu.


"Ayok duduk. "


Victor mengajak Aurora untuk duduk di sofa dekat dengan Elano. Sementara Victor duduk di sofa single.


"Dia bersikap seperti itu bila bersama ayahnya, jauh sekali dengan sikapnya ketika diluar. " sindir Victor


" Benarkah om? apa Elano selalu kekanakan seperti itu bila bersama om? " tanya Aurora


Victor terkekeh, " dia berlaku seperti itu ketika bersama dengan orang yang dicintainya termasuk almarhum ibunya. "


"Ah maaf om, aku gak berniat ungkit itu. " ucap Aurora tak enak


"Tak apa. "


"Kamu akan terkejut jika melihat kamar Elano dirumah ini Aurora, dia banyak menyimpan fo-"


"Ayah cukup!! " tegas Elano


Victor terkekeh pelan, ternyata putranya belum mau jujur dengan gadis disampingnya itu.


"Aku kesini ingin mengajak Aurora menikah. " ucapnya to the point


Aurora tersedak air liurnya sendiri saat mendengar ucapan lelaki itu. Sementara Victor hanya bisa menghembuskan napas kasar.


"Jangan asal ngomong! " tegur Aurora


"Aku serius. "


"Jangan bercanda Elano, itu bukan hal yang lucu! "


"Aku serius Aurora, aku gak ingin kamu dekat dengan cowok manapun termasuk bocah jelek itu! "


Bocah jelek : Abigail


"Aku gak suka sama dia, aku cuma anggap dia sebagai adik aku karena dia juga adik dari Laura, jangan kekanak-kanakan Elano nikah bukan suatu hal yang mudah. " ucap Aurora berusaha menahan amarahnya, ingin sekali dirinya memukul kepala Elano sekarang.


"Cukup! " intruksi Victor, dirinya memijat pelipis nya karena merasa terganggu dengan ocehan dia remaja itu.


"Gimana yah? " tanya Elano


"Nikah tinggal nikah, biar ayah yang nanggung. " ucap Victor enteng


Aurora melotot kan matanya terkejut atas jawaban ayah Elano, kenapa beliau menyetujui perkataan anaknya yang sangat absurd itu!


"Jadi kita menikah besok? " ucap Elano


Gila! anak bapak sama saja!





Anyeong! 🙋‍♀️


Ternyata Elano takut kalah saing sama Abigail><


Jangan lupa like, vote, coment, da beri hadiah yah


See you!! ☁