AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
47# Akhirnya Bangun



Happy Reading


*


*


*


Hari sudah mulai sore namun sampai sekarang Aurora belum juga kunjung terbangun dari tidurnya, membuat semua orang yang berada diruangan itu juga ikut tertidur.


Dengan para lelaki yang menggelar karpet dan tidur dibawah bersama-sama.Sedangkan Jovanya, Laura, dan Celline tertidur di sofa.


Orang tua Aurora baru saja pulang untuk mengambil beberapa perlengkapan untuk Aurora , seperti baju dan yang lainnya.


Salah satu laki-laki masih saja setia duduk di samping Aurora .



Elano tiba-tiba meletakkan ponselnya dinakas dan mendekatkan dirinya pada gadis yang teridur itu.


"Aku tau kamu udah bangun. " bisik Elano


Aurora yang memang sedari tadi sudah bangun pun sedikit terkejut mendengar perkataan Elano. Padahal dirinya sedari tadi menunggu Elano tidur namun justru tidak kunjung tidur juga, membuat Aurora lelah untuk menjaga tubuhnya agar tidak bergerak.


"Ohh masih mau tidur, hmm? "


Aurora berusaha tidak terpancing dan tetap menjaga dalam posisinya.


"Ada cerita jika putri tidur maka pangeran harus membangunkannya dengan ciuman? bagaimana jika aku melakukannya untukmu, hm? " ucap Elano sambil mengamati wajah Aurora dari dekat.


Aurora mengintip sedikit dan terkejut saat wajah Elano dekat denganya ia pun langsung menutup kembali matanya rapat-rapat.


"Gak mau bangun juga? "


Elano memajukan wajahnya semakin dekat membuat jantung Aurora berdecak semakin kencang.


Sebelum itu terjadi Aurora langsung membuka matanya dan langsung disambut oleh mata hitam pekat milik Elano.


Mereka berdua saling bertatapan, ini kali pertama Aurora melihat wajah tampan milik Elano sedekat ini tanpa rasa ketakutan.


Perlahan sudut bibir Elano melengkung menciptakan sebuah senyuman yang sangat manis, membuat Aurora yang melihatnya juga ikut tersenyum.


Elano meniup mata Aurora membuat gadis itu tersentak menjauh.


"Dasar putri tidur. "


"Elano, bagaimana kamu tau aku sudah terbangun? "


"Insting." ucap Elano singkat


"Huh padahal aku ingin bangun ketika kamu tidur seperti mereka. " ucap Aurora kesal


Elano mendekatkan wajahnya kembali ke wajah Aurora, membuat Aurora menggeser sedikit wajahnya.



"Apa? "


"Kamu sudah tidak takut padaku? " tanya Elano


"Tentu saja masih, bagaimana pun awal kita bertemu kelakuan mu seperti predator yang membuatku takut berdekatan denganmu, kamu tau? aku bahkan sangat kesal sekaligus marah sampai tak ingin melihat wajahmu yang seram itu, setiap melihat wajahmu aku selalu terpikirkan bahwa kau akan membunuhku . " ucap Aurora dengan cepat.


"Jika sekarang? "


"Tentu saja aku tahu kamu menahannya agar aku bisa percaya padamu. "


"Benarkah? "


"Tentu saja! "


Setelah mengatakan itu Aurora terdiam sebentar dan tersadar bahwa Elano kini menggeser tubuhnya dan sudah tertidur di ranjang bersama Aurora.


"Ngapain tidur disini?! turun! mereka bisa memikirkan yang tidak-tidak Elano. " ucap Aurora sambil mendorong tubuh Elano.


"Mereka sedang tidur. " ucap Elano sambil melirik para manusia itu.


"Pokoknya turun! ini sempit tau! " kesal Aurora


"Syutttt... biarkan seperti ini sebentar. " ucap Elano sambil tertidur menumpukan kepalanya di tangan dengan tangan satunya yang mengelus pucuk kepala Aurora.


"Elano kangen Aurora. " ucap Elano


Aurora mengernyit, "hanya tiga hari ? "


"Kamu harus tau, satu detikpun selalu memikirkan mu. " ucap Elano


Aurora semakin mengernyit mendengar perkataan Elano, Aurora tidak baper hanya saja dirinya merasa ada sesuatu yang berubah dari Elano. Kenapa lelaki itu semakin hari semakin waras? em bukan maksudnya dari dulu tidak waras, hanya saja Aurora merasa Elano lebih manusiawi sekarang.


Elano melihat ekspresi Aurora itu dengan senyuman kecil


Cup


Elano mencium pelipis Aurora membuat gadis itu refleks mendorong Elano sangat kencang, membuat Elano langsung terguling ke belakang.


Bruk


Aurora yang melihatnya menutup mulutnya sambil menahan tawa.


Para manusia yang sedang tertidur pun langsung terbangun saat mendengar suara benda terjatuh.


"Loh lo kenapa El?" tanya Karel bingung saat melihat Elano yang sedang terduduk di lantai sambil memegang pantatnya.


"Hah?dimana gajahnya? " ucap Celline yang baru saja terbangun.


"Diatas kasur. " ucap Elano kesal


Aurora yang merasa dirinya yang dimaksud pun hanya bisa menahan senyum.


"Lah Aurora udah bangun?!!! " teriak Celline membuat yang belum terbangun langsung terbangun dari tidurnya, saking melengkingnya.


"Berisik!! " tegur Stefano membuat Celline langsung menatap cowok itu kesal.


"Aurora lo udah bangun? " tanya Laura sambil mendekat kearah ranjang milik Aurora.


"Belum masih tidur. "


Celline dan Jovanya terkekeh mendengarnya.


"Yaelah.. gue nanya serius lo tadi. " ucap Laura berdecak kesal.


"Kalau nanya itu yang bermutu! " ucap Arsen yang juga mendekat melihat adiknya itu.


Arsen mengelus pucuk kepala Aurora lembut, "udah baikan? " tanyanya


Aurora mengangguk, "udah dong bang! Aurora kan kuat. "


Arsen tersenyum tipis mendengarnya, "kenapa kamu makan kerang? kamu tau kan kamu itu alergi kerang! " tegur Arsen tiba-tiba membuat Aurora tersentak melihat perubahan ekspresi abangnya itu.


Tadi manis sekarang kok jadi galak.


Aurora melihat satu persatu dari mereka yang masih memakai seragam sekolah.


"Aku lupa bang. "


"Bisa-bisanya lo lupa?! lo tau gak kerang itu bahaya banget buat lo! lo bisa aja mati kalau gak segera dibawa ke rumah sakit! " bentak Arsen


"Maaf bang. "


Aurora benar-benar tidak tau kalau tubuhnya memiliki alergi terhadap kerang.


"Udah Sen.. " lerai Jaka sambil menarik Arsen kebelakang.


"Benar.. yang penting sekarang Aurora udah baik-baik aja. " ucap Sagara


"Tapi siapa yang taruh kerang disana? " celetuk Jovanya


Mereka semua terdiam dengan pikiran nya masing-masing.


*


*


"Darimana lo tau Aurora alergi kerang? "


"Gue kan tinggal di rumahnya, jadi gampang cari kelemahan dia. "


"Bagus, gue suka liat dia kesakitan kaya tadi. " ucapnya senang.


Kedua gadis itu kembali melanjutkan makannya di kantin.


"Oh jadi kakak yang buat kak Aurora kambuh alerginya?"


Dua gadis itu langsung membalikkan badannya terkejut mendengar ucapan seseorang di belakangnya.


"Kenapa kk berdua jahat banget sama ka Aurora, . "


"Gak ikut campur lo!!" sentak Sila menatap tajam Abigail.


"Jangan sekali-kali lo kasih tau mereka atau gue bakal buat lo gagal masuk calon ketua OSIS!! "


"Oh ya? tapi gue gak takut sama ancaman kakak, lagian yang dinilai dari OSis itu kinerjanya bukan karena uang, jangan mentang-mentang kakak punya banyak uang jadi sesuka hati melakukan sesuatu, roda itu berputar.. "


"Lo berusaha ceramahin kita? "


"Gak, gue cuma lagi ngomong sendiri, kalau kakak berdua merasa ya itu berarti kakak sedang tersinggung. " ucap Abigail tersenyum.


"Kurang ajar lo!! "


"Bahkan jika kakak bermain dengan uang, keluarga ku jauh lebih bisa mengandalkan uang dari pada kakak... " ucap Abigail sambil tersenyum.


Sila dan Mega yang melihatnya justru merasa kesal.


Abigail tersenyum kecil, ia tak berniat untuk pamer namun jika lawannya sudah membawa harta maka dia juga bisa kan?


*


*


*


Hai🙋‍♀️


Mampir yuk di Cinta Untuk Zara kalian bisa cek di profil...


Jangan lupa


Like👍vote🎟coment✉️dan beri hadiah🎁


See you guyss!!