AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
74. Hanya Penasaran



SELAMAT MEMBACA!


*


*


*


Keesokan harinya , Aurora geram karena keluarga Laura masihlah tidak menjenguknya . Gila sekali mereka.Tapi untungnya saja, biaya rumah sakit sudah dibayar.


Ia sehabis menjenguk Laura sepulang sekolah dan bertemu dengan perawat Erin dan mengatakan bahwa Laura diperbolehkan pulang tetapi tidak ada yang menjemputnya. Jadi ialah yang mengantarkan Laura menggunakan mobilnya.


"Bangsat banget keluarga Laura. " kesal Aurora


Di perjalanan Laura hanya diam dan memberi tau dimana dia harus belok . Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, mereka sampai. Aurora terdiam melihat gerbang mansion keluarga Brijaya. Baru gerbangnya saja sudah megah. Aurora mendadak terasa diintimidasi dengan aura yang menjadi penghuni mansion itu. Siapa lagi jika bukan tiga laki-laki gila itu.


" Gue anter sampai sini aja ya ? Buru - buru mau pulang, dari kemarin Arsen nelponin gue terus,jadi males. "


Laura tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi.


"Gak bisa lo harus antar gue ya, plisss.. " pintanya


"Gue males ketemu ketiga kakak lo, sumpah, gedek banget bawaannya sampe pengin nyekik. "


"Nginep di rumah gue ya.. " pinta Laura


"Apa lo gila?! Tinggal sama ketiga kakak lo yang bangsat itu?! Mati gue sama Elano. "


"Gue antar lo sampai dalam aja. "


"Yaudah."


Aurora membantu Laura berjalan masuk, tidak ada yang menyambut mereka. Mansion ini terlihat sepi sore ini.


"Kamar gue ada di atas. "


Aurora membantu Laura berjalan menaiki anak tangga dengan pelan dan hati-hati. Sampailah mereka di sebuah kamar yang dihuni oleh Laura. Dengan berhati-hati keduanya masuk kedalam dan mendudukkan Laura di tepi ranjang.


"Gue langsung pulang ya. "


"Kalau ada apa-apa telpon gue oke! "


"Yoi, makasih udah bantu gue sampai pulang ke rumah, tapi lo beneran gak mau nginep disini nemenin gue?? " tanya Laura sendu


"Gue gak bisa jalan dengan baik, sedangkan dapur ada di lantai bawah. " ujarnya


"Ada pelayan kan disini? " tanya Aurora


"Ada sih, banyak. "


"Yaudah panggil pelayan aja. "


"Hu'um." angguk nya setuju


Aurora berjongkok di depan kaki Laura dan memegang tangan gadis itu.


"Sorry, bukannya gue gak mau nemenin lo dalam kesusahan, tapi gue bener-bener harus pulang, lo tau kan dari kemarin gue jaga lo sampai gak kontekan sama keluarga serta Elano. Gue bahkan cuekin mereka karena kesal gak angkat telpon disaat genting. " jelas Aurora


"Gue bener-bener kesel sama semua cowok disini, entah itu abang gue, abang lo, maupun Elano sendiri. Mereka cowok bodoh. Bikin kesel dan emosi aja. " tutur Aurora


"Iya nggak papa. "


Aurora pamit dan keluar dari kamar Laura, berjalan menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


"Ngapain lo disini?? "


"Eh? "


Langkah kaki Aurora terhenti sebelum sampai di ambang pintu keluar. Disana terdapat tiga bersaudara yang tengah duduk santai di sofa. Ketiga laki-laki itu menatap kearah Aurora yang tengah berdiri kaku.


Mendadak Aurora tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena ditatap intens oleh mereka. Namun, saat teringat nasib Laura dan kecuekan ketiga laki-laki itu langsung membuat darah Aurora berdesir karena kesal sekaligus emosi.


"Woy! Ditanya juga, malah diem kaya patung. " ujar Gilang menatap Aurora dengan senyum tengilnya.


"Habis anter Laura pulang lah!"


"Emang kalian yang cuma diem doang? cowok kok gak punya hati, oh atau hati kalian udah beku karena nggak bisa move on dari masa lalu?? " sindir Aurora


"Nggak usah sok tau lo bocah! "


"Iya deh, gue mau balik aja, panas lama-lama disini sama kalian. "


"Sini lo! " perintah Gilang berdiri dari duduk


"Gue mau pulang. "


"Sini dulu... "


"Duduk." perintah Axel


Aurora melirik lelaki itu sejenak kemudian melirik lelaki yang terus diam dengan wajah datarnya, dia Bima. Agak sedikit ngeri melihatnya. Sangar gitu, apalagi tatonya.


"Apa? " tanya Aurora berdiri di tengah-tengah mereka sambil berkacak pinggang untuk menghindari rasa gugup.


"Duduk."


Aurora menurut dan duduk di sofa single. Ketiga lelaki itu menatap Aurora membuatnya diam tidak berkutik. Sebenarnya apa yang akan mereka lakukan padanya?


"Baik, kalau nggak baik ya nggak dibolehin pulang. " sinis Aurora


"Ohhh.. "


"Kamu kekasihnya Elano? " tanya Axel tiba-tiba


"Hem."


"Berapa lama? " tanya Gilang


"Kepo banget. " ketus Aurora


"Sewot banget jadi cewek. " ujar Gilang kesal


"Ikut saya. "


"Eh? "


Tangan Aurora tiba-tiba dicekal oleh Bima dan menggandeng nya entah kemana.


"Lepasin! " dirinya berusaha melepaskan cekalan tangan Bima dari pergelangan tangannya namun tidak bisa.


Tangan Bima yang besar dan berotot mencengkram kuat pergelangan tangannya yang kecil.


Bugh!


Terdengar suara tinjuan yang membuat tubuh Bima tersentak sedikit kebelakang. Aurora berbalik badan dan terkejut melihat kehadiran Elano disana. Lelaki itu mengeraskan rahangnya menatap Bima tajam.


"Elano? "


Tidak hanya Aurora saja yang terkejut, Gilang dan Axel juga sama terkejut nya hingga berdiri dari duduknya. Sementara Bima, lelaki itu mengelus rahangnya bekas tinjuan dari Elano.


Bagaimana Elano bisa sampai sini, itu jelas karena lelaki itu merasa beberapa hari kemari Aurora tidak pernah berjumpa dengannya. Menelpon pun ponselnya tidak aktif. Sampai pada pulang sekolah dirinya melintasi sebuah jalan dan menemukan ponsel Aurora tergeletak di trotoar jalan. Elano pun panik dan langsung melacak keberadaan Aurora menggunakan GPS yang terpasang pada cincin Aurora.


Dan ya, sampailah disini. Untuk melewati gerbang saja dirinya harus dihadang oleh bodyguard di kediaman ini. Namun tentu saja dengan tak tik ala Elano, dirinya bisa masuk dengan mudah.


Bertepatan dengan itu, wajah Elano menggelap ketika melihat Aurora digandeng oleh pria lain, hingga akhirnya berujung meninju wajah Bima tanpa ancang-ancang.


Dengan gerakan tubuh nya, Elano menarik Aurora untuk bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Elano ngapain kamu disini? " cicit Aurora


"Mencari kekasih yang hilang. " jawabnya ketus


Kini terdapat empat lelaki yang berada di ruangan luas ini. Mereka sama-sama diam menatap satu sama lain, menjadikan suasana tegang. Apalagi dengan Bima yang tiba-tiba berjalan mendekati Elano.


"Anda sangatlah berani Elano King. " ucapnya datar dengan semiriknya.


"Memasuki kediaman Brijaya tanpa pengawalan satu pun hanya untuk kekasihmu. " lanjutnya


"Dengan meninju saya tanpa alasan yang jelas, bukankah itu artinya anda tengah mencari musuh?? "


Elano mengeraskan rahangnya. Aurora pikir di segi usia Elano pasti akan kalah, apalagi badan Bima yang cukup kekar layaknya seseorang yang sering bermain di gim.


Tubuh Elano sangat atletis, namun tubuh Elano sepantaran lelaki remaja bukan pria dewasa seperti Bima.


"Anda yang memulainya tuan Bima. " sindirnya


"Anda pikir saya memukul Anda tanpa sebuah sebab? Jelas-jelas saya melihat langsung anda berani menyentuh tangan kekasih saya." lanjutnya


"Bukankah itu lancang? " tanya Elano


"Sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum ayah kami kembali dan melihatnya. " perintah Axel


"Tanpa kalian suruh pun kami akan pergi. "


Elano menarik tangan Aurora lembut, berjalan keluar melewati pintu utama. Namun Elano kembali berbalik badan..


"Ku peringatkan kembali, jangan pernah berinteraksi dengan Aurora atau kalian akan tau akibatnya. " ancam Elano datar dan kembali melanjutkan jalannya keluar dari mansion mewah itu.


Gilang berjalan mendekati Bima, " kau menyukai gadis itu kak? "


"Tidak."


"Lalu? "


"Hanya penasaran. " jawab Bima kemudian berjalan memasuki kamarnya.


"Aku akan mengecek keadaan anak itu. " Axel pun pergi menaiki anak tangga menuju kamar Laura


Kini tinggal tersisa Gilang seorang diri. Menatap kepergian keduanya dengan pandangan bingung. Bima kakak tertuanya adalah lelaki yang anti dengan hal berbau romantik. Bahkan sampai diumur yang ke 32 tahun dirinya masih saja belum memiliki seorang pasangan. Bukan tidak laku, namun dirinya seolah tidak tertarik dengan wanita yang mencoba mendekatinya.


Bahkan Gilang sendiri sempat berpikir bahwa kakak tertuanya itu seorang Gay karena hanya dekat dengan tangan kanannya saja. Ingin bertanya lebih lanjut tapi tidak berani, olehnya dia hanya bisa menduga.


"Sungguh tidak disangka. " tawa Gilang menggelegar diseluruh ruangan.


_____________________________


Anyeong!


Comeback nih🤩jangan lupa tinggalkan jejak!


Baca yuk Bad Princess of Aqualiors🤪


see you!!>