AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
27# Ciuman di Depan Umum



HAPPY READING🌾


🌾


Seorang wanita pemandu berdiri diantara pemotor dan menghitung mundur.Balapan dimulai dengan mereka menancapkan kecepatan semaksimal mereka, menyalip, berbelok, membuat para penonton bersorak.


Mata Aurora terus melihat kearah motor Elano, ternyata ia sangat jago dalam balapan. Ya sesuai dengan cerita novel.Mulutnya dari tadi sangat ingin ikutan berteriak seperti penonton yang lain namun ia tahan, lagipula siapa yang harus ia dukung. Elano? jelas ia tak mau.


"Pulang yuk. " ajak Aurora sambil berusaha menyeret Celline


"Ehh nanti dong ini udah mau finishh tuhh.. gue yakin Elano yang menang. "


"Eh kalian malah disini, " Jovanya datang menemui mereka yang sudah keluar dari kerumunan penonton.


"Dari mana aja lo? " tanya Celline


"Gue habis ketemu sama Karel dia suruh ajak kalian juga kesana. "


"Kemana? " tanya Aurora


"Ke samping area start itu, ayok! " ajak Jovanya


"Gue mau pulang. " tahan Aurora


"Nanti aja, kita liat kesana dulu. " ucap Jovanya


"Iya betul tuh,"


Aurora pun diapit oleh Celline dan Jovanya dituntun menuju tempat Karel berada.Sesampainya disana sorakan penonton sangat riuh karena jagoan mereka menang, ya Elano.Elano membuka helm nya dan menatap lawan disamping nya.


"Oke gue akui lo emang jago. Lo bisa ambil motor ini. " ucap cowok itu.


"Gue gak butuh motor lo. "


"Terus? lo mau uang, oke nanti gue transfer. "


"Gue gak miskin. "


"Terus mau lo apa? " tanya lawannya itu.


"Babu, "


"Ck.Oke gue bakal jadi babu lo selama seminggu. "


"Gue maunya dari penonton. " ucap Elano


Aurora yang mendengar percakapan mereka merasa tidak senang.Kenapa penonton harus jadi imbasnya.Namun berbeda dengan respon para perempuan disana yang mendadak heboh.


"Kita pulang aja yuk. " ajak Aurora menarik tangan Jovanya.


"Buruan! gue mau pulang. "


"Lo kenapa sih Ra? " tanya Celline bingung


"Silahkan lo cari penonton yang lo mau. "


Para ciwi-ciwi disana bersorak senang dengan melakukan sesuatu agar mendapat perhatian dari Elano.Pandangan Elano menatap kearah tempat gadis itu berada tadi namun ia tak menemukannya.


"Siapa El? " tanya Sagara


Elano tak menjawab matanya fokus melihat para penonton dengan sesekali gadis yang merasa diperhatikan bersorak senang.


"Yaudah!gue pulang sendiri!!" Aurora berbalik badan berjalan menjauhi tempat itu geraman kesal.


Pandangan Elano akhirnya terhenti saat melihat seseorang hendak pergi dari arena balapan tergesa-gesa.


"Cegah dia! " teriak Elano membuat semua penonton menolehkan kepalanya menuju pandangan cowok itu.


Aurora yang memang sudah tak ingin disana pun menghiraukan teriakan Elano dan terus berjalan cepat keluar dari sana. Ia pikir Elano sudah menunjuk orang lain.Seseorang menyentuh pundak Aurora membuatnya kaget dan berbalik badan. Ia kaget saat semua orang melihat kearah dirinya.


"Kenapa? " tanya Aurora bingung


"Lo gak boleh pergi. " ucap cowok yang mencegahnya itu


"Why? "


"Lo jadi babu gue." ucap Elano berjalan kearah Aurora


"Apa?! gue gak mau! " tolak Aurora mentah-mentah.


"Gak ada penolakan. "


"Gue gak peduli, cari yang lain aja dan gue gak mau jadi babu lo! " tekan Aurora kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


"Oke kita pacaran. " ucap Elano membuat langkah Aurora terhenti.


Aurora menolehkan sedikit wajahnya, "Segitunya lo ngejar gue??" sinis Aurora


Elano berjalan mendekati Aurora kemudian dengan kecepatannya ia membalikan badan gadis itu meraih tengkuk Aurora dan menempelkan bibirnya dan ********** sebentar.


Aurora mendorong Elano kemudian menampar nya


PLAK!


"Dasar Bajing*an!!! "


Aurora berbalik badan dan berlari menjauhi area balap motor itu.Celline dan Jovanya yang melihat kejadian itu ikut berlari menyusul Aurora.


"Wih ada yang gamon nih. " Karel menepuk punggung Elano


"Ada yang kemakan sama omongannya sendiri nih. "


Mereka yang ada disana tertawa, Elano menghiraukan nya dan mengusap bibirnya tersenyum kecil .


"Aurora! ra! " teriak Celline terus mengejar Aurora


"Tunggu ra! "


"Are you okay? " tanya Jovanya setelah memasuki mobil


"Pulang."


Jovanya yang merasa kondisi Aurora sedang tidak baik pun menancapkan gas menuju ke rumah Aurora.Suasana di mobil sangat hening. Sesampainya di rumah, Aurora langsung keluar dari mobil namun dicegah oleh Celline.


"Maaf."


"Kita minta maaf karena gak nuruti lo tadi. "


"Kita ma-"


"Gue baik-baik aja, kalian gak salah, makasih tumpangannya. " Aurora keluar dari mobil Jovanya dan berjalan masuk ke rumahnya.


*


*


Aktifitas sekolah masih terus berjalan seperti biasa dengan banyaknya murid-murid berlalu lalang di sekitar sekolah. Mereka melakukan aktifitasnya seperti manusia biasa tak ada satupun yang mencurigakan.Bercanda ria dengan temannya merupakan suatu hal yang cukup menyenangkan bagi mereka yang suka bergaul.


Keadaan sekolah hari ini cukup ramai seperti biasanya, mereka berangkat dengan semangat kemudian pulang dengan gembira karena mendapatkan ilmu, itu bagi orang yang serius belajar.


Aurora, gadis itu berjalan sendirian melewati beberapa murid yang berlalu lalang di sekitar lobi sekolah.


Hari ini Jovanya dan Celline tidak berangkat sekolah karena suatu hal. Jovanya gadis itu sedang pergi keluar kota untuk menghadiri acara keluarga, sedangkan Celline dia izin karena sakit, Aurora baru tau kalo Celline mempunyai penyakit asma dan katanya sedang kambuh.


Aurora berhenti sejenak disekitar lapangan basket sekolah, ia melihat keatas dan mendapati cuaca yang tidak terlalu panas, karena masih cukup pagi.


Ia kemudian berjalan dan duduk di bawah pohon tepi lapangan menikmati dan melihat aktivitas kehidupan di novel ini.


Aurora teringat sesuatu, ia pun merogoh saku bajunya dan mengambil sebuah surat. Surat ini berasal dari Celline dan Jovanya yang mereka titipkan oleh teman tetangga rumahnya. Aurora membuka dan membacanya.


Ia kemudian menghela napas sejenak, surat ini merupakan surat perminta maafan dari Celline dan Jovanya atas kejadian tadi malam. Mereka menulisnya dengan banyak sekali ucapan maaf kepada Aurora. Aurora menjadi merasa tidak enak karena sempat berkata ketus pada mereka tadi malam, kalo boleh jujur ia tidak marah dengan mereka. Aurora hanya sedang kacau saja pikirannya sehingga mengabaikan mereka.


Aurora meletakkan kertas itu dan mengambil ponsel ia akan menjawab surat itu lewat chat. Aurora akan memberitahukan bahwa ia sudah menerima surat itu dan ia tak marah pada keduanya, Aurora juga meminta maaf karena telah mengabaikan mereka.


Sedang sibuk mengutak-atik ponsel seseorang menempelkan minuman dingin dipipinya membuat Aurora ternsentak kaget.


"Minuman buat kakak cantik, "


Aurora menerimanya, "Makasih Bi, "


"Sama-sama ka, btw ngapain disini sendirian? " tanya Abigail pada Aurora dan duduk disampingnya.


"Lagi ngadem. "


Abigail tersenyum, "Kalo mau ngadem ngapain disini, mending dikelas ada kipas angin. " ucap Abigail menanggapi jawaban Aurora.


"Hehe gak papa, sekalian mau cuci mata. "


Abigail hendak bertanya lagi pada Aurora namun temannya datang dan mengajaknya ke ruang OSIS.


"Ke ruang OSIS yuk. "


"Em sorry ka, aku pergi dulu ya...." pamit Abigail yang dijawab anggukan serta senyum ramah Aurora.


"Jangan lupa diminum minumannya ka. "


Setelah kepergian Abigail,Aurora berdiri kemudian berbalik badan mengambil isi surat itu dan memasukkan nya ke sakunya kembali.


Saat ia hendak meneguk minuman pemberian adik kelasnya itu, seseorang terlebih dahulu merebutnya dan menenggaknya sampai habis.


"Itu minuman gue Elano !" kesal Aurora pada sangat pelaku siapa lagi kalo bukan Elano.


Elano menutup botol kosong itu kemudian meletakkannya dibawah pohon itu dan menatap Aurora, "Mau berbicara? "


"Hah? "


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo. "


"Soal pertunangan? gue rasa itu udah jelas. "


Elano mendudukkan Aurora untuk duduk dibawah pohon tadi, "Kali ini lo harus dengerin gue. "


Mendengar perkataan Elano yang terlihat serius membuat Aurora mengangguk mengiyakan, tak mungkin ia menghindari masalah terus menerus.


Aurora menatap Elano dengan diam membiarkan cowok itu berbicara, "Kenapa lo jauhin gue Ra? gue ada salah sama lo? "


Aurora diam, Elano tak membuat salah padanya ia bukan Aurora yang asli jadi ia melakukan semua ini untuk keberlangsungan hidupnya.


"Setiap gue tanya kaya gitu lo selalu gak jawab, "


Elano berdiri dari duduknya kemudian pergi dari sana dengan Aurora yang masih diam melihat kepergiannya.


"Apa gue salah karena memisahkan Aurora dengan orang yang disukainya? "


Aurora tersadar ini memang bukan raganya , apa iya bisa mengubah sesuatu tentang tubuh ini? Ia hanya jiwa yang tersesat disini dan dengan seenaknya melakukan tindakan hanya untuk dirinya sendiri.


Berada dibawah pohon itu ia menengadahkan kepalanya keatas menatap banyaknya awan dilangit kemudian mengambil napas sejenak.


"Eh ada yang nangis nih ditinggal tunangannya. Kasihan banget sih.. lo itu gak pantes buat Elano. Cewek jelek kaya lo itu pantesnya ngumpet di bawah meja karena malu hahahah.. " ejek Sila yang dibalas tatapan mengejek dari Mega, sementara Salsa hanya diam.


Aurora berdiri menatap datar Mega, "jelek? lo kali yang jelek, udah jelek sok cantik lagi. " ucap Aurora kemudian pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga.


"Sial*n lo, gue bakal buat hidup lo hancur seperti seharusnya Aurora!! "


_______________________


🙋‍♀️Anyeong!


Komentar dong😫biar gak sepi..


Like👍Vote🎟coment✉️beri hadiah,Jadikan Favorit💌


SEE YOU !!