
Happy Reading
❄
❄
❄
"Lanjut lanjut Ra.. kita dengerin lo. " ucap Jovanya, ... "biarin aja Celline ketawa sendiri biar kenyang. " lanjutnya.
"Jadi papah gue yang bawa Sila ke rumah karena katanya Sila diusir dari rumah, terus papah gue mungut dia buat tinggal dirumah sementara... " jelas Aurora sambil menyeruput es teh manisnya.
"Diusir? emang dia ngapain sampai diusir? seharusnya bokap lo gak seenaknya mungut orang, apalagi si Sila itu. " ucap Jovanya yang diangguki oleh Laura.
"Mungkin dia nyuri duit ortunya, atau dugem, atau hamil atau gak betah? " cerocos Celline sambil ikut meminum es teh nya karena lelah ketawa.
Aurora mengedikkan bahunya tak mau tau, " maybe gitu. "
"Terus dia masih di rumah lo? atau udah pergi? " tanya Laura
Aurora mengeryit, " gue gak tau njir! gue sibuk banget jadi kalau sampe rumah langsung tidur, dan belum tau nasib Sila. " ucap Aurora merutuki kecerobohannya.
"Wahh parah.. ati-ati loh, harusnya secepatnya diusir si Sila kalau gak nanti kebetahen di rumah lo. " ucap Jovanya
"Betul, gue setuju sama Jovanya. " balas Laura
"Oke deh, nanti gue cek. "
Mereka pun mengobrol dengan santai. Dengan keberadaan Laura kini persahabatan mereka semakin menarik dan mengasikkan.
Aurora melihat ada makanan sate di depannya, "ini sate kalian yang beli?? boleh dimakan? " tanya Aurora
"Lah sejak kapan ada sate? makan aja gpp, mungkin punya murid yang duduk disini tadi." ucap Celline
"Enak aja, nanti orangnya nyariin. " ucap Jovanya
"Tapi kan kalau dilihat masih utuh kaya belum dimakan. " ucap Celline
"Kalau mau makan, makan aja lagian cuma satu tusuk, nanti kalau orangnya kesini tinggal bilang. " ucap Laura
"Bener tuh, gue juga mau. "
Aurora pun mengambil nya dan memakannya, " sate apa ini? kok kaya bukan sate ayam atau kambing. " ucap Aurora saat merasakan sate itu.
"Masa sih, sini coba. " ucap Celline sambil menerima suapan dari Aurora.
"Ummm... ini sate kerang. " ucap Celline setelah merasakannya.
Aurora mengangguk dan menyerahkan sisa tusuk sate yang dimakannya pada Celline, " buat lo aja, abisin, gak enak dagingnya. " ucap Aurora sambil menyerahkan nya pada Celline.
Aurora meminum es teh nya.
Tiba-tiba nafasnya sedikit memberat dan susah untuk bernapas, Aurora merasa pegah.
Laura yang melihatnya pun langsung menghampiri Aurora, "lo kenapa?! " tanya Laura membuat Celline dan Jovanya ikutan mendekat.
Aurora memegangi dadanya untuk mengatur napasnya, " dada gue tiba-tiba sesek banget. " ucap Aurora tersendat-sendat.
Jovanya langsung melihat sekitar, " woii yang merasa cowok tolong bawa Aurora ke parkiran!!! " teriak Jovanya membuat semua orang disana mendekati meja mereka.
"Wajah lo merah!! lo harus atur napas lo ra!! " perintah Laura panik.
"Sesek banget.. " ucap Aurora dengan susah payah.
"Ayo bantu angkat woiii mana ini cowoknya, jangan jadi banci kalian!! " teriak Celline
"Buat apa bantu si tukang bully? "
"Bener, itu sih karma karena bully Salsa. "
"Pura-pura kali dia. "
Itulah respon mereka yang melihatnya membuat Laura geram, "gue yang bakal bully kalian semua setelah ini!!! "
Laura mengambil ponselnya menelpon Arsen, " Arsen tolongin Aurora, dia sesek napas!! cepetan!! " teriak Laura cepat.
"Tahan ya Ra.. lo harus bisa atur napas lo. " ucap Celline sambil menitihkan air mata melihat Aurora.
"Kalian jahat banget!!! " teriak Celline memandang mereka yang hanya melihatnya geram dan kesal.
Laura semakin panik saat Aurora mulai sulit mengatur napasnya, Ia berharap Arsen cepat datang kesini.
Disisi lain Elano mencari keberadaan gadisnya itu, ia merindukan Aurora setelah 3 hari tidak bertemu.
"Aurora mana?" tanya Elano setelah sampai di kelas Aurora.
"Mereka ada dikantin El, bareng sahabatnya. " ucap teman kelas Aurora.
"Thanks."
Elano langsung berlari menuju kantin, namun saat sampai di kantin ia langsung di suguhkan dengan keberadaan Aurora yang sedang dikerubungi murid lain.
"Sial*an!!! "
Elano langsung berlari membelah kerumunan orang yang hanya menontonnya saja.
"Aurora!!! " panggil Elano
"E-elano? kamu udah pulang? " tanya Aurora dengan susah payah.
Elano menghiraukan pertanyaan Aurora dan langsung menggendong Aurora ala brindal style.
Elano menatap siswa disana dengan tajam penuh aura pembunuhan, " gue bakal kasih pelajaran ke kalian setelah ini. " ucap Elano dingin.
"Cepat bawa Aurora ke rumah sakit Elano!! " teriak Laura
"Awas kalian! " ancam Elano membuat semua murid terdiam.
Setelah itu Elano langsung pergi membawa Aurora, " lo harus baik-baik aja. " ucap Elano sambil berlari membawa Aurora diikuti Laura dibelakang nya.
"Sakittt El... "
"Sesak banget.. "
Elano terus berlari sampai parkiran dan langsung memasukkan Aurora ke mobil.
"Lo bawa mobilnya. " perintahnya pada Laura
Laura langsung memasuki mobilnya dan menancapkan gas menuju rumah sakit terdekat.
Elano memangku Aurora dengan posisi menggendong. Elano mengelus rambut Aurora lembut, "bertahan sebentar, jangan tutup mata. " tegas Elano
"Sakit Elano... " ucap Aurora sambil memegang dadanya yang sesak.
Elano mencium dahi Aurora, " sebentar lagi. "
Laura mengemudikan mobilnya dengan cepat dan sampailah mereka di rumah sakit terdekat. Elano langsung turun dan menggendong Aurora menuju ke dalam rumah sakit.
"Cepat lakukan penangan VVIP!! saya anak dari Victorian De Alister!! " perintah Elano pada petugas disana.
Mereka pun langsung mengambil brankar dan membawa Aurora kedalam UGD.
Elano mengusap wajahnya kasar dan memukul tembok rumah sakit.
Laura datang menepuk punggung Elano, " jangan emosi El...kita berdoa semoga Aurora gak papa. "
"Kenapa bisa kaya gini hah!??"
Laura menghela napas sejenak, "tadi Aurora habis makan sate, terus sesak napas. "
"Dia alergi sate?
❄
❄
Sementara Arsen dan lainnya langsung berlari menuju kantin, namun setelah sampai ia tak menemukan keberadaan Aurora.
" Aurora mana?! " tanya Arsen pada Jovanya dan Celline yang ada disana sambil memandang penghuni kantin kesal.
"Dia ke rumah sakit dibawa Elano. " jawab Jovanya
"Aurora kenapa emangnya? " tanya Dava
"Tadi dia makan sate terus sesak napas. " jawab Jovanya
"Sate apa? " tanya Arsen
"Sate kerang. " ucap Celline
"**!! " desis Arsen saat mendengar perkataan Celline
"Kenapa Sen? ada masalah? " tanya Jaka
Arsen mengusap rambutnya frustasi, "Aurora alergi kerang. " ucap Arsen lirih
Jovanya dan yang lain terkejut mendengarnya.
Arsen langsung berlari pergi dari kantin menuju motornya untuk menuju rumah sakit terdekat, Arsen pikir mereka membawa Aurora kesana.
"Siapa yang kasih dia kerang? " tanya Stefano
"Kita gak tau, tiba-tiba udah ada di meja. " sahut Jovanya.
"Kita susul Arsen! " perintah Aland
"Tunggu tunggu! kita ikut. " ucap Celline menghentikan langkah mereka.
"Kalian gak papa naik motor? " tanya Dava
"Gak papa. "
"Yaudah kita ke parkiran. "
Mereka langsung berlari menuju parkiran dan meninggalkan kantin dengan murid yang disana menatap mereka bingung.
"Kalian itu jahat banget, kak Aurora itu baik , gue tau kalian tau seperti apa sifatnya. " ucap Abigail yang sempat melihat kejadian tadi walaupun hanya sebentar.
"Lo jadi adkel gak usah sok tau! " teriak Mega menatap Abigail tak suka.
"Kakak gak usah nyolot juga," balas Abigail
"Lo calon ketua OSIS sekarang kan? " tanya Sila pada Abigail.
Abigail hanya diam.
"Seorang calon ketua OSIS belain pembully? lo gak takut semua murid gak respect lagi sama lo? " tanya Sila menatap Abigail sambil bersedekap dada.
"Seharusnya lo itu bela Salsa bukan malah si pembully itu, kalau lo mau tetep maju sebagai ketua OSIS lo harus tau mana yang benar. " ucap Sila
"Gue gak peduli soal respect orang lain kak, gue cuma ingin menilai orang dengan baik, bukan hanya lewat mata saja. " sindir Abigail
Mega berdecih, " gak usah munafik lo! "
"Gue pastiin lo bakal gugur. " ucap Mega kemudian pergi dari sana disusul oleh Sila.
Abigail menghela napas sejenak kemudian menatap Salsa yang masih berdiam diri disana, " aku tau kak Salsa itu baik, jadi mohon jangan rusak kebaikan itu karena sebuah paksaan. " ucap Abigail
"A-aku terpaksa. " ucap Salsa lirih.
Benar dugaan Abigail bahwa kakak kelasnya itu mendapat sebuah ancaman sampai menuduh Aurora.
"Aku mau suatu saat kak Salsa bisa lebih berani untuk jujur. " ucap Abigail kemudian pergi dari sana diikuti oleh dua temannya, Reza dan Rio.
Salsa mengepalkan tangannya, " kenapa semua orang gak mau ngertiin perasaanku? " lirih Salsa
❄
❄
❄
Hai🙋♀️
⚠️JANGAN LUPA
Like👍Vote🎟coment✉️beri hadiah🎁
Jadikan Favorit💌
SEE YOU!!!❄