
Happy Reading
๐
๐
๐
Elano melajukan mobil milik Aurora dengan ocehan Aurora yang terus bertanya pada Elano.
"El.. "
"Hmm, "
"Elano."
"Hmm, apa? "
"Ini cincin siapa? kenapa mereka bilang nona Alister? " tanya Aurora penasaran.
"Itu cincin almarhum mamah. " jawab Elano membuat Aurora menutup mulutnya terkejut akan hal itu.
"Kenapa kamu memberikannya untuk ku? "
"Beliau yang minta. " ucap Elano singkat.
Aurora mengangguk paham, "Elano apa kamu mencintai mamahmu? "
"Kenpa bertanya begitu? "
"Ya gpp, biasanya anak lelaki akan jauh lebih dekat dengan mamahnya. "
"Tentu saja. "
"El.. "
Tak ada jawaban.
"Elano."
Tak ada jawaban
"Elan-"
"Kenapa kamu jadi cerewet? " ucap Elano memotong ucapan Aurora.
"Aku juga tidak tahu. " ucap Aurora acuh
"Kamu berisik. "
"Iyakah? yaudah aku diam. "
Saat tidak mendengarkan ocehan Aurora, Elano menoleh kan pandangannya kearah gadis itu, Aurora sedang menatap keluar jendela dengan diam.
Sudut bibir Elano berkedut menahan senyum. Ia tidak akan membiarkan seorang pun untuk mengambil Aurora dari genggamannya.
Sesampainya di kediaman Aldebaran milik keluarga Aurora, ia pun turun dari mobil itu.
"Pak tolong masukan mobilnya ke dalam. " ucap Elano pada penjaga gerbang disana.
"Baik den. "
Elano memberikan kunci itu pada pak Adi dan menyuruh Aurora untuk keluar.
"Kamu pulang naik apa? " tanya Aurora
"Gampang."
Aurora menyuruh Elano masuk dan duduk di taman depan rumahnya yang ditemani lampu berwarna-warni. Jam baru saja menunjukkan pukul 9 malam.
"Ngapain kamu disana,? " tanya Elano datar
"Kenapa kamu bisa tau aku ada disana? " tanya Aurora juga.
"Jawab pertanyaanku dulu. " tegas Elano
"Gak mau, punyaku dulu! "
Dua orang itu memiliki watak sama-sama keras kepala.
Elano mengalah, "penjaga itu memberitahu ku bahwa keluarga Alister ada disana, dan setelah lihat GPS yang ada di cincin itu baru aku tahu kamu yang di sana. " jelas Elano
Aurora melupakan satu hal itu. Sekarang giliran Aurora untuk menjawab.
"Kenapa kamu ada disana? seharusnya kamu tahu tempat itu bukan sembarangan tempat. " ucap Elano dingin
"Anu... itu aku cuma mau cari sesuatu disana, aku sempat menghack ponsel Mega dan Steven ternyata mereka ada di kafe itu, jadi aku kesana untuk mencari tahu. " jelas Aurora diakhiri dengan suara pelan.
"Aku tidak akan lagi mengijinkanmu belajar itu dengan Radit. " ucap Elano membuat Aurora tak Terima.
"Ya gak bisa gitu dong Elano.. aku butuh itu! " protes Aurora
"Asal jangan melakukan hal berbahaya? "
"Oke! " sahut Aurora
Elano mendapatkan pesan dari temannya bahwa ia sudah ada di depan.
"Aku pulang. " ucap Elano
Aurora mengangguk, "Hati-hati! "
๐
Setelah pulang diantar Karel atas perintah Elano, sekarang Laura sedang duduk di balkon kamar menatap gemerlapnya lampu kota.
"Aurora berhasil gak ya?? gue gak ketemu sama Mega tapi ketemunya sama Steven. Semoga aja dia bisa dapat info. " ucap Laura
Saat sedang melamun seseorang mengetuk pintu kamarnya, ia pun berdiri untuk membuka pintu. Terlihat disana ada adiknya yang masih kelas 10 dan dia juga satu sekolah dengan Laura.
"Lagi ngapain ka? " tanya adiknya itu.
"Gak ngapa-ngapain, ngapain lo kesini? " tanya Laura mengajak adiknya masuk.
"Gue mau minta duit hehe... "
"Lah emang gak dikasih sama papah? " tanya Laura
"Dikasih 100 ribu doang, pinjem 200 ribu ya kak.. plissss... " mohon adiknya itu
"Buat apa sih? beli alat game? top up? atau beli apa? " selidik Laura
Pada awal memasuki raga Laura ia sempat kaget karena ternyata Laura mempunyai seorang adik laki-laki. Setahunnya Laura adalah anak tunggal.
Sebagai kakak yang baik terhadap adiknya Laura pun berjalan mengambil dompetnya yang berada di dalam tas sekolah nya dan menyerahkan dua lembar uang berwarna merah.
"Nih..tapi gantinya 300 ribu!! " tegas Laura, ia hanya bercanda namun jika di iyakan itu justru lebih bagus. Laura terkekeh dalam hati.
Abigail menerima uang itu, "yah gak bisa gitu lah kak..aku aja sehari cuma dikasih 100 ribu doang.. " ucap Abigail protes terhadap apa yang kakaknya itu katakan.
"Kalo gak mau yaudah.. sini! " Laura mengambil uang itu dari tangan Abigail namun segera dicegah olehnya, "gak.. besok gue ganti, tapi sebulan kemudian. " ucap Abigail tenang.
Laura menggangguk," serah lo deh. " ucap Laura kemudian merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Btw habis dari mana lo kak? pakaiannya item gitu kaya maling. " ucap Abigail
"Enak aja dibilang maling.. gue habis ada pesta kostum sama temen. " bohong Laura
"Pakai drass code item gitu,? btw sejak kapan kakak punya temen? biasanya juga sendiri." ucap Abigail
Mendengar perkataan adiknya itu hati Laura sedikit berdenyut sakit, sepertinya ini perasaan Laura yang asli.
Selama ia memasuki tubuh Laura ia mulai tahu bagaimana sifat dari seorang Laura. Awalnya ia kira karakter Laura akan bergaya menor seperti lont* namun ternyata tidak, ia hanya berbuat seperti itu untuk orang yang menyakitinya, termasuk Aland.
Jika kalian bingung bagaimana Laura bisa berpacaran dengan kakak Aurora alias Arsen, maka ia juga tak tahu. Jika melihat dari novel Laura sangat menyukai Aland dan selalu mengejar Aland. Kenyataan bahwa ia berpacaran dengan Arsen membuat dirinya shok.
Flashback
Saat Laura sedang bermain dan mengecek ponsel Laura tiba-tiba seorang mengirim pesan padanya.
Arsen๐
Lagi apa?
Jangan sampai orang tahu kalau kita pacaran!
Laura berfikir sejenak, Arsen? nama itu sangat tidak asing baginya. Ia baru teringat bahwa Arsen adalah pemeran kedua pria setelah Aland, kenapa lelaki itu mengirim pesan seperti ini pada Laura? ada hubungan apa mereka?
Anda
Kita pacaran? kok bisa?
Arsen๐
Lo amnesia? ini kan udah kesepakan berdua.
Jauhin Aland, gue gak suka lo kejar dia lagi.
Gue gak suka lo nangis gara-gara dia.
Laura yang membacanya merasa tersentuh, apa mungkin Arsen mengajak Laura pacaran karena ia menyukai Laura? atau karena Arsen gak mau Laura mengganggu Salsa? Mengajak Laura pacaran agar Arsen bisa mengendalikan Laura,? atau Arsen merasa kasihan dengan Laura??
Pertanyaan itu yang sekarang bersarang di pikiran Laura.
Flashback off
"Kok malah bengong. " ucap Abigail membuat Laura tersadar kembali.
"Gue sih udah punya temen, banyakk malah... " ucap Laura sambil tersenyum mengejek
"Yaelah...tapi bagus sih kaka udah gak kaya dulu lagi, gue lebih suka versi kaka yang sekarang. " ucap Abigail tersenyum tulus memperlihatkan lesung pipinya.
Laura sampai terpanah melihatnya, "untung lo adek gue, kalo bukan udah gue masukin lemari kaca biar bisa dipajang terus. " gemas Laura
"Lah.. baru tau punya adik yang manis gini?? kemana aja kaka selama ini. " ucap Abigail narsis.
Laura memutar matanya malas, " oh btw helm kaka habis dipake siapa? kok baunya beda. " ucap Laura saat mengecek bau helm nya, itu bukan bau shampo nya.
"Oh itu kemarin habis nganterin seseorang. " ucap Abigail
"Ciee pacar lo ya??? wihh adek kaka udah besar ternyata.. " goda Laura
"Bukan! dia udah punya pacar" ucap Abigail
"Yaelah sebelum jalur kuning melengkung, gass aja kali.. " ucap Laura menyemangati adiknya
"Andai saja mereka memperlakukan Laura seperti Abigail.. " batinnya sendiri
๐
Sekarang beralih kearah Aurora yang berjalan memasuki rumah, ia membuka pintu sangat pelan agar tidak menimbulkan bunyi.
Setelah berhasil membukanya ia pun menghela napas lega namun bertahan sebentar.
"Habis dari mana, hmm? " ucap mamah Sinta yang sedang berkacak pinggang menatap anaknya itu tajam.
"Ehhh mamah.. belum tidur mah? "
"Gak usah alihin pembicaraan! jawab mamah, atau kamu mamah hukum tidur diluar. " ancam mamah dalam mode galaknya.
"Anu mah.. biasa habis pesta kostum, mamah gak liat aku pakai baju serba item? nah itu karena tema pestanya serba hitam mah. " alibi Aurora
"Yang bener..? "
"Iyaa.. mamah Rara ta-" ucapan Aurora terpotong oleh seseorang yang membuat Aurora geram melihatnya.
"Maaf tante, tapi tadi Sila lihat Aurora diantar pulang sama Elano tan... dan Elano gak pakai pakain item kaya Aurora. " ucap Sila yang entah sejak kapan muncul disana.
Aurora menatap Sila tajam dan mengepalkan tangannya kuat, Aurora ingin menendang pantat Sila sampai terbang ke Pluto!!
"Benar itu, sayang..? " ucap Mamah tersenyum, namun itu matanya justru menatapnya tajam.
"Emang Aurora dianter sama Elano, masalah dia gak pakai baju hitam ya mana Rara tau, kan acara ini khusus cewek. " tekan Aurora pada kata "cewek" sambil melirik Sila sinis.
"Yaudah.. kali ini mamah maafin.. tapi kalo kamu pulang lebih dari jam 10 lagi.. siap-siap dapat hukuman . " ancam mamah Sinta
"Ya mah... "
Aurora pamit dan berjalan menuju kamar nya, saat melewati Sila ia berhenti sebentar saat gadis itu mengatakan sesuatu, "dasar lont* , sukanya keluyuran malam. " ucap Sila lirih
"You too. " balas Aurora
๐
Hai๐โโ๏ธ
โ ๏ธLike, ๐vote, ๐coment โ๏ธberi hadiah...๐
Jadikan favorit๐
MAMPIR YUK DI Cinta Untuk Zara klik di bio
See you!