
...HAPPY READING📖...
"Marah? "
Setelah kejadian di rumah Laura, lelaki ini langsung membawanya pulang menggunakan motornya. Selama perjalanan hanya ada keheningan. Aurora pikir Emang marah padanya. Siapa yang dapat menyangkal bahwa Elano akan datang ke kediaman Brijaya?
Aurora turun dari atas motor setelah Elano berhasil masuk untuk memarkirkan motornya. Aurora berdiri dengan meremas tanganya yang sedikit dingin sambil menunggu cowok itu selesai memarkirkan motornya. Elano berjalan begitu saja melewati Aurora dan masuk kedalam rumah. Melihat hal itu sontak Aurora hanya bisa mendengus dan menyusul masuk kedalam rumah.
"Dari mana saja kamu dua hari ini tidak terlihat dirumah? "
Baru saja sampai diambang pintu, Aurora langsung dilontarkan pertanyaan seperti itu oleh mamahnya. Cukup terkejut ketika disana mereka tengah berkumpul diruang depan bersama Victor ayah Elano? Whatt??
"Mau menjadi patung penunggu pintu? " sindir Arsen
Aurora berjalan kaku melangkah kearah mereka, " ini ada apa ya? " tanya Aurora bingung
"Ada apa? " ulang mamahnya
"Mah! " decak Aurora
"Siapa yang menyuruhmu duduk. " intruksi dari Arsen yang membuat Aurora kembali berdiri.
Papah, Mamah, Arsen, Elano dan om Victor berada disana. Mereka terlihat santai dengan duduk sesekali melirik Aurora.Sementara sang empu hanya diam ditempat tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Mah... "
"Pah.. "
"Om.. "
"Ada apa ya? " tanya Aurora
"Kemana kamu dari hari kemarin? " tanya mamah Sinta
"Aurora sama Laura mah. "
"Laura? " tanya Arsen
"Iya kemarin Laura habis kecelakaan. "
"APA?! KOK KAMU GAK BILANG SAMA ABANG SIH!! " ucap Arsen berdiri dari duduknya
"Hah? " bingung Aurora kemudian tersenyum remeh menatap Arsen dan Elano.
"Gak bilang atau abang yang nggak angkat telpon dari Aurora? " tanya Aurora remeh
"Jadi kamu ngilang karena jagaiin dia? "
"Ya, apalagi. " sahut Aurora sinis
"Terus gimana keadaan Laura sekarang?"
"Udah baikan, tadi aku baru aja antar dia ke rumahnya."
"Dan selingkuh dibelakang. " celetuk Elano
"Maksud kamu? " tanya mamah Sinta
Disitu Elano menceritakan apa yang dia alami dari sampai menemukan ponsel Aurora dipinggir jalan, serta bisa sampai dirumah keluarga Brijaya. Elano juga mengatakan bahwa keduanya sempat mengalami kecelakaan, hingga terluka. Informasi itu sontak membuat mereka semua khawatir.
"Kamu gak papa kan, sayang? " tanya mamah khawatir
"Cuma luka kecil. "
Aurora menyingkap celananya dimana terdapat luka di lututnya, begitupun dengan suku tangannya yang lecet bahkan masih terdapat sisa darah disana. Aurora tidak membersihkan luka itu karena takut melihatnya. Jadi luka itu hanya terkena air saat dirinya mandi saja. Namun dengan santainya menunjukan luka itu tanpa meringis sedikit pun.
"Astaga... " shok mamahnya
"Arsennnn... cepat panggil om Gery kesini sekarang! " perintah beliau yang langsung diangguki olehnya.
"Gak usah lebay deh mah, cuma luka robek doang gak dalam juga. "
Pluk!
Sinta menggeplak kepala belakang anak perempuannya itu dengan gemas, luka berdarah seperti ini dibilang cuma luka biasa! Sinting apa anaknya ini.
"Lecet dimana-mana dibilang luka biasa!! Kamu gila! " marahnya
"Sini duduk. " pinta papah Gani , Aurora menurut dan duduk disampingnya, dengan sigap Gani mengelus rambut anak perempuannya dengan lembut.
"Kamu baru saja berkunjung ke rumah keluarga Laura?"
"Iya."
Terlihat papahnya menghela napas kasar, kemudian tersenyum lembut. Aurora yang melihatnya mengerutkan dahinya bingung. Apa ia baru saja melakukan kesalahan?
"Jangan dekat-dekat dengannya. " ucap om Victor yang sedari tadi diam menyimak.
"Lho kenapa om? Laura itu sahabat Aurora yang sudah lama bahkan dari sekolah dasar. " protes Aurora
"Turutin aja perintah om Victor. " sahut papahnya
"Nggak bisa pah! Masa Aurora gak boleh temenan sama Laura sedangkan bang Arsen sendiri pac-"
"Ekhem... om Gery sedang dalam perjalanan kesini. " potong Arsen
Aurora menatap Arsen dalam diam dan dibalas delikan tajam oleh lelaki itu seolah tengah mengancamnya agar tidak memberi tahu soal itu.
"Arsen kenapa? " tanya papah
"Em bang Arsen itu juga temenan sama Laura pah, sama kaya Aurora. " alibinya sambil tertawa garing
Beberapa menit kemudian om Gery atau dokter andalan keluarga Aldebaran datang dan langsung mengobati luka yang berada di seluruh tubuhnya. Baik luka memar, goresan, robek ataupun lecet. Setelah selesai dan memberikan obat beliau pun segera pamit undur diri.
"Soal selingkuh... " jeda Elano
"Elano juga nggak suka Aurora dekat dengan ketiga saudara Laura itu. " ucap Elano datar
"Aku nggak selingkuh! " tegas Aurora
"Pegangan tangan? "
"Dalam satu ruangan bersama tiga pria? "
"Ah itu..... " jeda Aurora berpikir
"Itu mereka yang panggil aku untuk duduk, awalnya aku nolak kok, tapi mereka maksa yaudah aku turuti duduk dan berbincang sebentar. " jelas Aurora
"Bohong! "
"Aku nggak bohong Elanooooo!! "
"Aku kecewa sama kamu. "
"Hah? " Aurora loading
"Kamu suka kan sama salah satu dari mereka!! " tuduh Elano
"Engggakk!!! "
"Mending kita udahan. " ucapan itu terlontar secara lancar dari mulut Elano, membuat Aurora terkejut dan tidak terima.
"Elanoooooo percaya sama aku... "
"Demi Tuhan aku nggak selingkuh!! Aku aja sukanya sama kamu!! "
"El.. "
"Elanoooo... " panggil Aurora saat Elano pergi dari ruangan itu dengan ekspresi kecewa.
Selama dirinya menunjukan luka yang ia peroleh Elano juga terlihat biasa saja tidak ada raut wajah khawatir, segitu kecewanya?? pikir Aurora merana.
"Mah.. "
"Apa? " Sinta menaikkan sebelah alisnyaa
"Elano kenapa sih, mah, pah, om? " tanya Aurora dengan panik
"Mamah juga kecewa sama kamu, menghilang beberapa hari, tidak ada kabar, pulang dengan keadaan terluka seperti ini, apa kamu pikir kita semua tidak khawatir??"
"Jika kamu ingin bebas dan bisa pergi kemanapun , pergilah dari rumah ini. " Setelah Mengatakan hal itu Sinta pergi dari sana menaiki anak tangga.
"Mamah usir Aurora??!! " teriaknya
"Mamah.... Aurora minta maaf... " panggil Aurora mulai berkaca-kaca.
"Pah.. " Aurora berbalik kearah papahnya
"Tadi perkataan mamah nggak bener kan?" tanya Aurora lemah
"Apa Aurora melakukan kesalahan besar? Jika iya Aurora minta maaf pah.. " mohon Aurora bersimpuh
"Hufttt.. " papahnya menghela napas pelan dan beranjak dari duduknya meninggalkan Aurora yang tengah dalam posisi bersimpuh.
"Papahhh!! " teriak Aurora bergetar
"Om Victor gak ikut-ikutan kan?? " tanya Aurora berhati-hati
"Om gak akan pecat Aurora jadi calon menantu om kan??"
"Om Victor jangan diem ihhh.. "
"Aurora kamu sudah besar, seharusnya sudah bisa memilih mana yang benar dan salah, untuk kali ini om juga kecewa sama kamu. "
Aurora mengacak rambutnya frustasi, matanya benar berkaca-kaca menahan agar tidak ada air mata yang jatuh. Sebenarnya ada apa? Kenapa semua orang mendadak kecewa padanya hanya karena tidak pulang dan berteman dengan Laura??
"MAMAHH ELANO KECELAKAAN!!! " teriak Arsen menggelegar
"Diaman-dimana bang? Abang gak bohong kan?? " panik Aurora sambil menyeka air matanya yang hendak keluar.
Semua orang berlari menuju kearah ruang tengah dimana biasanya mereka melakukan acara khusus keluarga, menghiraukan Aurora yang bertanya-tanya.
"Bang!! " panggil Aurora namun dihiraukan oleh Arsen yang ikut berlari panik.
Aurora benar-benar bingung sekaligus panik. Perasannya bercampur jadi satu, apa Elano kecelakaan karena saking kecewanya dengan dirinya, hingga mengendalikan motor sesuka hati hingga mengalami kecelakaan??
Aurora iku menyusul langkah abangnya itu namun saat hampir sampai di ruang tengah ia kehilangan jejak. Aurora berjalan menuju ruang tengah dengan langkah perlahan.
"Kenapa gelap disini? " tanya Aurora
"MAMAH? PAPAH? BANG ARSENNN?? " teriak Aurora menggelegar namun terdengar sengau.
Apa semua orang pergi meninggalkan dirinya disini seorang diri? Mereka menemui Elano tanpa dirinya? Aurora berjongkok sambil menenggelamkan wajahnya dilipatan kakinya. Karena posisi seperti ini sontak air matanya jatuh. Aurora terisak dalam diam.
Ctak!
Lampu tiba-tiba menyala membuat Aurora langsung mendongak kan kepalanya. Terlihat Elano berdiri di depannya dengan tatapan datar. Aurora terkejut dan langsung menyerbu kedalam pelukan lelaki itu.
"Hikss.. kamu nggak papa? Katanya tadi kecelakaan? Kamu terluka? Ada yang sakit? Aku bakal obat-"
Elano berjongkok di depannya, membuat Aurora menghentikan ucapannya. Terlihat jelas bahwa gadis didepannya memang sangat-sangat bingung, Aurora seperti orang lingling sejak tadi.
"Selamat Ulang Tahun My Sunshine. " ucap Elano sembari menyerahkan bunga mawar putih , namun Aurora hanya diam bengong.
"Hah? " Aurora loading, melongo dengan sisa air matanya membuat Elano gemas sedari tadi.
"SELAMAT ULANG TAHUN MY LOVE!! "
"SELAMAT ULANG TAHU MY BESTIE!! "
"SELAMAT ULANG TAHUN AURORA!! "
Mereka semua mamah, papah, om Victor dan teman-teman dari abangnya, sahabat Elano, dan sahabatnya sendiri keluar entah dari mana dengan membawa alat-alat perayaan ulang tahun.
Aurora melihatnya shok dan sangat terkejut bukan main, dirinya juga merasa haru secara bersamaan.
Apa ini hari ulang tahun Aurora? Claudia benar-benar tidak tahun sehingga merasa sangat terkejut bukan main.
"A-apa ini?? "
Bersambung....
Siapa yang udah terbawa perasaan? Untung cuma prank😌gila sih prank nya... 👣👣