
HAPPY READING!
*
*
*
Hari yang semua siswa-siswi tunggu telah datang. Mereka dari kelas 12 akan melaksanakan Ujian akhir. Aurora pagi ini telah siap dengan segenap jiwa dan raganya untuk melaksanakan Ujian.
"Aurora! " panggil Jovanya
"Ya."
"Lo bawa bolpoin berapa?Pinjem dong, gue tadi gugup banget sampai lupa bawa alat tulis. " pintanya
"Lo ada kan? "
"Ada kayaknya. "
Aurora merogoh sakunya dan mengeluarkan bolpoin berwarna hitam , beruntung sekali tadi ia sempat mengambil beberapa bolpoin di kamar abangnya.
"Thank you Aurora! "
"Yap."
"Mau belajar dimana nih? " tanya Jovanya
"Dibawah pohon sana aja. "
"Oke."
Keduanya berjalanan menuju bangku yang berada di bawah pohon besar.Sebelum ujian dimulai setiap siswa tidak diperbolehkan memasuki ruangan sehingga hanya bisa belajar diluar kelas.
Kring!!!
"Yaampun kenapa udah masuk aja, gue belum selesai belajar!! " panik Celline yang baru saja sampai.
Semua murid berbondong-bondong mengantri untuk masuk kedalam ruangan ujian. Aurora satu ruangan bersama Celline, sementara Jovanya menempati ruangan yang berbeda karena sesuai absen.
Aurora mengemasi barang-barangnya dengan tergesa-gesa. Dirinya tidak boleh terlambat memasuki ruangan.
Tangan Aurora ditahan oleh Elano saat hendak menyusul yang lain memasuki ruang kelas, " semangat mengerjakan! '
"Kamu juga. " sahut Aurora tersenyum
Aurora dan Elano berpisah karena memang berbeda kelas, namun dengan sisa waktu Elano mendatangi Aurora hanya untuk mengatakan satu kalimat itu.
"Semua sudah memasuki ruangan??! " tanya pengawas ruangan
"Sudah pak!!! "
"Baiklah, mata pelajaran pertama yaitu Bahasa Indonesia! Kerjakan dengan jujur!! " peringatnya
"Baik pakkk!! "
Setelah soal dibagikan Aurora langsung melihat soal-soal yang tertera, memilih soal yang mudah terlebih dahulu kemudian mengerjakan soal sulit di akhir.
"Waktu tinggal 5 menit lagi!!! "
Aurora membaca setiap soal dengan teliti, karena soal Bahasa Indonesia itu susah-susah gampang. Intinya harus teliti dalam membaca setiap teks.Dimenit terkahir Aurora menemukan jawaban yang terlihat sama hanya berbeda satu kata, antara Jika dan apabila.
"Jawabannya sama semua!Duh pilih yang mana nih. " bingung Aurora
"Waktu selesai!! Silahkan kumpulkan lembar jawaban kalian!! " perintah guru pengawas.
"Halah nggak papa deh, ngarang satu soal doang. " terpaksa Aurora menyilang jawaban secara asal, hanya satu soal tidak merugikan nya.
Hari ini terlihat melelahkan, Aurora segera menuju parkir untuk pulang. Sama seperti murid yang lain mereka juga melakukan hal yang sama dengan Aurora yaitu pulang. Aurora masuk kedalam mobilnya, mendorong kuas mesin mobil , barus saja hendak melakukan mobilnya tiba-tiba pintu mobilnya diketuk oleh seseorang.
"AURORA!! "
"Apa? " tanya Aurora membuka kaca mobilnya
"Nebeng!! Anterin gue sampai warung gapura deket rumah gue ya!! " pinta Laura
"Bukannya lo bawa mobil sendiri? "
"G-gue takut naik mobil sendiri, soalnya.. soalnya.. " gantung Laura terlihat seorang yang tengah menahan kencing.
"Aduh gimana yaa.. boleh ya plisss! " pintanya
"Oke."
"Thank you! "
Laura berjalan mengitari mobil Aurora untuk sampai dan duduk didepan disampaikan pengemudi. Aurora menyalakan kembali mesin mobilnya dan keluar dari pekarangan sekolah.
"Si*l!! " decak seseorang
"Gak ada yang boleh bahagia, semuanya harus menderita bagaimanapun caranya. "
Aurora mengemudikan mobilnya dengan tenang, jalan utama terlihat ramai dengan pengemudi yang lainnya. Kini mereka memasuki jalan untuk menuju rumah Laura yang terletak di perumahan mewah dan megah. Selain mewah perumahan disana juga terhidar dari jalan raya, sehingga membuat suasana nyaman tercipta.
Aurora mengambil jalur kanan untuk berbelok menuju sebuah jalan alternatif. Tidak seramai tadi namun masih ada yang berlalu-lalang.
Ketenangan keduanya hanya sementara, ketika Aurora melirik kearah spion dan menemukan sebuah ven hitam tengah mengejar mobilnya.
DOR!!
Ctacs!
"Ehhh.. "
Panik Aurora saat tiba-tiba mobilnya sulit untuk dikendalikan.Oleng sana sini.
"Kenapa??!! " tanya Laura panik
"Mobil belakang itu nembak kearah ban membuat ban mobil belakang kita kempes!! " ujar Aurora sambil berusaha mengendalikan posisi mobilnya yang terus saja melaju tidak beraturan. Aurora mencoba untuk mengerem nya namun tetap saja tidak bisa, karena salah satu ban yang bocor.
"AURORA REM MOBILNYA!! "
"GAK BISA ANJIR! TETEP GAK BERFUNGSI!! "
Aurora dan Laura mendadak panik ketika di depan sana terdapat persimpangan jalan, untuk menuju rumah Laura maka akan berbelok kearah kiri, namun dalam kecepatan seperti ini pasti sangat sulit untuk berbelok.
"LAURA LOMPAT KELUAR!! "perintah Aurora
"Gue gak berani! " tolak Laura
Aurora pastikan mobil yang mereka tumpangi pasti tidak akan bisa berbelok dengan mulus, jika mereka terus berada didalam mobil maka akan sangat berbahaya. Di depan persimpangan sana terdapat sebuah pembatas dan tugu di tengah-tengah nya, mobil ini bisa saja menabraknya!
"Gue itung sampai 3 kita harus lompat!! " perintah Aurora
"Paham Laura??!! "
"Tapi-"
Aurora menghitung dengan keras, dan berterik saat hitungan telah berakhir. Aurora melompa keluar dari dalam mobilnya hingga tubuhnya mengguling diatas aspal. Aurora melindungi kepalanya dengan tangan sehingga hanya tangannya yang pasti akan lecet parah.
Aurora mendudukkan tubuhnya melihat sekitar.
"Mana Laura?!! " panik Aurora saat tidak melihat tubuh Laura bersamanya.
Aurora menatap kearah depan, dimana mobil itu sebentar lagi akan menabrak tugu jalan.
BRAKK!!
"LAURAAAAAAAAA!! " teriak Aurora yang kemudian berlari menuju tempat kejadian.
Aurora segera menghampiri mobilnya yang penyok parah dan membuka pintu mobil dengan paksa. Terlihat Laura terhimpit di depan bagian mobil.
Dahinya bercucuran darah. Aurora berusaha mengeluarkan tubuh Laura dari dalam sana. Walaupun sedikit susah namun Aurora berhasil melakukannya. Aurora menyeret tubuh Laura dan menidurkan nya di aspal.
"Ughukkk ughukkk! " batuknya
"Aurora.. gu-gue gak berani lompat dari mobil.. "
"Kepala gue shakittt bangettt... "
Deru napas Aurora tidak beraturan, di satu sisi tangannya juga banyak yang lecet dan terasa sangat perih. Mati rasa itu yang Aurora rasakan pada salah satu tangannya.
Selain menahan rasa nyeri, tantangan Aurora kali ini adalah 'darah' yang terus mengalir di kening Laura. Wajah Aurora pucat seketika, pobianya itu belum sembuh.
"Bertahan oke! Jangan tutup mata!! "
"Gue bakal cari bantuan!!! "
Aurora merogoh ponsel nya untuk menelpon Elano namun tidak diangkat, Arsen pun sama! Sebenarnya mereka sedang apa hingga telpon darinya tidak diangkat!!
"S**t!! " panik Aurora mengacak rambutnya frustasi
Diseberang sana terdapat sebuah mobil ven yang melihat kejadian itu dengan senyuman penuh kebahagiaan. Melihat orang yang membuat dirinya susah dan sekarang mereka tengah menderita karena ulahnya merupakan kepuasan tersendiri bagi Sila.
Ya Sila lah pelaku kejadian ini!
"Hahahaha... sayang sekali kalian tidak mati ditempat. "
"But its okay, melihat kalian kesakitan membuatku bahagia. " ucapnya tertawa jahat.
Tangan Aurora yang memegang ponsel itu bergetar tidak karuan. Namun tetap sebisa mungkin untuk mengendalikan nya. Panik, Aurora sangat panik.
"Ya Tuhan!! G-gue.. " lirih Aurora saat merasakan seluruh tubuhnya bergetar.
Memegang ponsel saja rasanya sangat lemas.
"Kenapa gak ada yang ngangkat! Anjir!! " umpat Aurora disela kesibukannya mengotak-atik ponselnya.
"Gue gak bisa diem gini. "
Aurora berdiri dari duduknya melihat sekitar untuk meminta bantuan, "ayolah ada yang lewat!! " ucap Aurora mondar-mandir
"Astaga! " Aurora meremas rambutnya kasar
"Laura bertahan oke!! Jangan pernah lo tutup mata!! " pintar Aurora
"MOBILLL!! " teriak Aurora bahagia saat melihat mobil yang tengah melintas.
"Apa kalian mengalami kecelakaan?! " tanya orang itu
"Iya pak! tolong antar kami ke rumah sakit sekarang!" mohon Aurora
"Baiklah.. baiklah.. ayo! "
"Bantu saya mengangkat tubuh sahabat saya pak! "
Pria entah siapa itu mengangguk dan berlari untuk mengangkat tubuh Laura kedalam mobil. Aurora langsung masuk.
"Pak, tolong lebih cepat! " mohon Aurora
"Baik."
Mereka telah sampai dirumah sakit. Laura langsung ditangani secara cepat. Sementara suster meminta Aurora untuk diobati juga lukanya, namun Aurora tolak. Itu masalah yang gampang, sekarang pikiran Aurora tengah melayang membayangkan kejadian yang baru saja dirinya alami.
"As*!! " umpat Aurora mengacak rambutnya geram
"Gue bakal cari mobil itu sampai dapat!!Hidup atau mati!!" geram Aurora
Aurora merogoh saku bajunya untuk menelpon keluarganya namun tidak menemukan ponselnya.
"Apa jatuh waktu ngangkat tubuh Laura? " pikirnya
"Terus gue ngabarin lewat apa anjir!! "
Apes! Itu yang tengah Aurora alami sekarang. Aurora teringat akan ponsel Laura yang sempat ia titipkan di staf administrasi rumah sakit. Dengan cepat ia berlari mengambilnya.
Ponsel Laura sekarang berada di genggaman Aurora. Hal yang akan pertama ia hubungi adalah keluarga Laura. Aurora mencari kontak nomor disana.
Abigail tidak diangkat. Bima? nama kontak yang seperti baru saja keduanya berinteraksi membuat kontak itu tersematkan dibagian atas. Apa Aurora menelponnya?
Aurora menolak dan memilih untuk menelpon Axel kakak kedua Laura.
"Halo? "
"WOII KE RUMAH SAKIT SEKARANG!! LAURA KECELAKAAN BANGS@T ! POKOKNYA CEPETAN KESINI!! " teriak Aurora
"WOI DENGER GAK?! BURUAN ANJIR! URGENT!! "
"HALO?! HALO!? ANJIR TERPUTUS! " decak Aurora
"Gadis gila itu. " decak Axel , karena kaget ia jadi salah memencet tombol sehingga panggilannya terputus.
"Ada apa bang? " tanya Gilang
"Laura kecelakaan ada dirumah sakit. "
"Ohh.. "
Drettt dretttt.. kini ponsel Gilang yang bergetar.
"Hal-"
"ANJIR BANGSAT BANGET KALIAN! ADIK SENDIRI LAGI SEKARAT MALAH GAK JENGUK!! CEPETAN KESINI AS* !! "
Karena teriakan penuh dengan umpatan itu membuat Gilang otomatis menjauhkan ponselnya dari telinganya. Bisa budeg lama-lama.
"Gak usah teriak anjir! " balas Gilang
"Di rumah sakit mana? " Bima merebut ponsel Gilang begitu saja.
"Di-di rumah sakit Cipta Medika kak. " ucap Aurora lirih saat tau siapa pemilik suara itu.
"Kamu tunggu disana, kita kesana nanti kalau pekerjaan kita sudah selesai. "
"Semua biaya biar saya yang tanggung. " ucap Bima datar
"GAK BISA! "
"KALIAN HARUS KESINI SEKARANG!! DASAR COWOK BODOH!! AWAS KALAU LAURA KENAPA-KENAPA BAKAL NYESEL LO SEMUA HAHAHHAHA... GUE BAKAL JADI ORANG PERTAMA YANG NGATAIN KALIAN SEMUA! BAJING@N!! "
Bip!
Telpon dimatikan begitu saja oleh Aurora. Emosi! ya dirinya emosi saat mendengar respon mereka yang terlihat biasa saja. Jika orang waras pasti akan panik ketika anggota keluarganya mengalami kecelakaan. Hanya untuk yang waras, mereka tidak! Hanya Aurora yang waras disini!
__________________________
Anyeong!
Penuh capslock ya, siapa yang bacanya sambil ikutan ngegas? wkwkw
Tinggalkan jejak 🤗see you!