
Happy Reading
🥥🥥🥥
Aurora berdiri kikuk karena ditatap 4 orang berjenis kelamin laki-laki dengan tatapan tajamnya, namun Aurora lebih tertekan Aura dari lelaki bernama Bima itu.
Aurora tersenyum canggung, " maaf ya kak, om.. kalau begitu saya pamit pu-pulang dulu. "
"Tunggu."
Aurora membalikkan badannya menatap kearah ayah Laura yang kini berdiri tepat didepannya.
"IYa om?? om mau ngantar saya?? gak usah ya om saya naik motor sendiri kok. "
"Selain sewotan lo juga kepedean ya. " sindir Gilang
"Apasih! lo yang sewot. " sentak Aurora
"Apa benar kamu anak dari Gani Aldebaran?? " tanya ayah Laura yang langsung dijawab anggukan oleh Aurora.
"Kenapa bisa kamu berteman dengan anak itu? " tanya ayah Laura
Aurora mengeryit, anak itu?? maksudnya Laura?
"Maksud om Laura?? " tanya Aurora
"Ya."
"Ohhh.. ya bisa lah om kan Laura anak yang baik, jad-"
"Anak baik? "
"Iya lah om! lagian om kan ayahnya kenapa malah nanya saya. " ucap Aurora kesal
Gilang dan Axel yang melihat keberanian Aurora pun mendadak kagum, berani juga gadis kecil itu menampilkan wajah seperti itu didepan ayahnya.
"Gadis yang pemberani. " batin Bima
"Berani sekali menaikan nada bicara mu didepan saya! " sentak ayah Laura.
Ayah Laura berjalan mendekati Aurora dan mencekik leher Aurora membuat Aurora yang sedang tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu langsung tersentak kaget.
"Ughhh Om.. om lepasin om... " pinta Aurora berusaha melepaskan tangan dari lehernya.
"Walaupun kau anak seorang Aldebaran dan calon menantu dari seorang Alister, saya tidak segan-segan membunuhmu sekarang juga, karena ini wilayah saya. " peringat Ayah Laura dan langsung melepaskan cekikannya dari leher Aurora.
Aurora terbatuk dan memegang lehernya.
"Pergi dari sini dan jangan pernah kembali. " suruh beliau
"Tapi kenapa om?"
"Pergi dari sini! "
"Gak mau! aku mau ketemu Lau-"
"Beraninya kamu... " ayah Laura mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkan nya kearah Aurora.
Trio A, B, G terkejut melihat ayah mereka mengeluarkan sebuah pistol kearah gadis muda itu.
"Pergi atau sa-"
"Stop yah!! " teriak seseorang dari arah belakang Aurora tepatnya dari arah pintu masuk, terlihat Abigail memasuki rumah dengan tergesa-gesa.
Abigail berhenti disamping Aurora, " kak Aurora gak papa kan?? " tanya Abigail khawatir.
"Gue gak papa bi. " jawab Aurora
"Jangan bertindak gegabah ayah, dia putri dari orang yang tidak sembarangan! " ucap Abigail
"Dia bawa alat penyadap. " ucap ayah Laura dengan tangan memegang pistol nya.
"Dia pasti mata-mata dari keluarga nya, jadi minggir Abigail. " peringat ayahnya
"Hah? " ucap Gilang, Abigail bersamaan.
Aurora mengerjapkan matanya berusaha berpikir, " apa yang om maksud cincin ini? " ucap Aurora memperlihatkan cicin pertunangan nya dengan Elano.
"Kau memang calon keluarga Alister. " gumam Ayah Laura saat melihat jelas cincin yang dipakai Aurora.
Di dunia bisnis baik bagian atas atau bawah tentu tahu sejarah dan identitas dari cincin itu, karena cincin itu hanya ada satu di dunia.
Untuk dulikat cincin itu banyak yang menjualnya namun untuk yang asli hanya dimiliki oleh keluarga Alister.
"Astaga om! benar juga, ini emang ada penyadapan nya, tunangan aku yang memberinya untuk berjaga-jaga karena kadang aku suka ceroboh om.. padahal menurutku ya om, aku tuh gak ceroboh tapi gesit dan ak-" cerocos Aurora dengan santai.
Abigail tersenyum kikuk, " ayo kak, kita keluar, kak Aurora bisa kembali lagi lain waktu. " potong Abigail, ia takut ayahnya akan marah kembali.
Dengan bujukan Abigail, Aurora pun mengangguk setuju walaupun pertamanya tetap menolak.
Abigail menuntun Aurora keluar dari mansion hingga sampai di depan motornya.
"Abi.. " panggil Aurora
"Ya ka? "
"Sebenarnya ada apa dengan keluargamu?? kenapa mereka menolak gue masuk bertemu dengan Laura,? " tanya Aurora penasaran
"Gak papa kak. "
"Lo bohong kan? jelas-jelaa mereka ngusir gue secara kasar. " tuduh Aurora
"Udah ya ka, intinya kak Aurora jangan sampai berjumpa dengan kak Bima ataupun ayah. " peringat Abigail menatap Aurora serius.
"Emang kenapa? "
Abigail mengusap rambutnya kebelakang, entah mengapa ia mendadak tidak nyaman dengan pertanyaan Aurora.
"Udah ya kak, "
"Hmm.. "
Selama diperjalanan pikiran Aurora benar-benar berkelana kemana-mana, sebenarnya ada apa dengan keluarga Laura??
Aurora mencengkam erat stir motornya dan melesat kencang untuk meredam emosinya.
"Gue bakal cari tau, setelah urusan gue selesai. " batin Aurora
🥥🥥🥥
Sementara disisi lain Laura yang bersembunyi dibalik dinding lantai atas pun menghela napas lega karena Aurora bisa pergi dengan selamat.
Sementara ayah, Abigail dan ketiga kakaknya masih berada dibawah entah sedang melakukan apa.
"Kenapa dia bisa kesini?? " tanya ayah Laura bernama, Edwin
"Jawab!! kalian menahan seorang gadis saja tidak bisa! " bentak Edwin pada keempat anaknya.
"Dia bilang sahabat Laura yah. " ucap Axel
"Panggil Laura kemari!! " perintah Edwin pada Abigail yang langsung diangguki olehnya.
Abigail berjalan menaiki tangga menuju kamar Laura namun ia justru melihat kakanya itu sedang bersembunyi dibalik dinding.
"Kak."
"Abigail."
"Kak Laura disuruh kebawah sama ayah. " ucap Abigail
"Gue takut. "
"Tenang aja kak, Abi akan selalu ada di belakang kakak. " meyakinkan Laura
Akhirnya Laura mengangguk dan kemudian menuruni anak tangga dengan pelan. Sesampainya di ruang tengah Laura langsung disuruh duduk di sofa.
"Laura."
"I-iya yah?? "
"Bagaimana bisa kamu bersahabatan dengan anak Aldebaran itu???? " interogasi Edwin
"Aurora sahabat lama aku yah. "
"Kenapa ayah baru tahu? "
"Karena ayah gak pernah peduli dengan Laura. "
Jawaban dari Laura langsung membungkam keempat lelaki disana. Mereka terdiam seolah membenarkan ucapan Laura.
"Jauhi dia. "
"Tapi kenapa yah??!"
"Ayah gak mau kamu ketularan sifat jelek gadis itu!! "
Laura tertawa kecut, "sejak kapan ayah peduli sama Laura?? bukannya anak ayah cuma mereka?? " tunjuknya pada keepat lelaki didepannya.
"Cuma Abigail yang peduli sama Laura yah!! "
"Sebenarnya apa alasan ayah buang Laura?? apa Laura pernah berbuat kesalahan sama ayah?? atau Laura pernah berbuat hal kotor?? Jawab yah!!! " sentak Laura.
Jujur saya selama Tata berada di raga Laura ia baru mengerti dan merasakan bagaimana kondisi keluarga dari seorang antagonis novel. Laura yang selalu dicampakan dan dihindari.
Tata sendiri belum tau alasan keluarga ini menjauh Laura dan sekarang dengan penih keberanian ia akan ungkapkan segala isi yang ada di pikiran seorang Laura.
"Pergi ke kamar! " perintah ayah Edwin
"Jawab Laura dulu pah! "
"Apa Laura pernah buat salah?? apa Laura pernah berbuat jahat? apa la-"
"Saya benci lihat wajahmu. " potong Edwin lirih
"Ke-kenapa? "
"Wajahmu sangat mirip dengan mendiang Ibumu, seharusnya kamu tau alasan ibumu meninggal itu gara-gara kamu Laura!! " bentak Edwin.
Laura tercengang mendengar nya, "gara-gara Laura?? maksud ayah?? " ucap Laura sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Pergi ke kamar sekarang. " perintah Edwin tegas kemudian berjalan meninggal kan ruangan tengah.
Kini Laura tengah berhadapan dengan ketiga abangnya dan satu adiknya.
"Bang.. " panggil Laura
Bukan menjawab justru ketiganya berjalan pergi meninggalkan Laura yang terdiam menahan tangis.
Laura memutar pandangan menatap adiknya, Abigail.
"Abi cer-"
"Iya kak tapi ke kamar dulu ya. " ucap Abigail lembut yang langsung diangguki oleh Laura.
🥥
🥥
🥥
Menurut kalian apa alasan keluarga Laura mengindari Laura??
Tebak aja siapatau bener, kalau benar kan sepemikiran sama author 🤣
Yang kangen Elano dan Aurora sabar ya, nanti bakal ada kok 😎
Like, vote, coment dan beri hadiah🎁✨
See you!!