AURORA TRANSMIGRATION

AURORA TRANSMIGRATION
68# Pengganti Karel



Happy Reading


*


*


*


Seorang gadis menarik tangan Aurora menuju ke tengah lapangan, namun terhenti karena tangan satunya dari Aurora dicekal oleh orang lain.


"Gue punya ide. " cegah Laura


"Ngapain kalian kesini? "


"Mau nonton juga, tadinya setelah makan kita juga mau ngajak lo nonton basket kebetulan ayang lo main,masa gak nonton.... " ucap Celline


"Lebay deh. "


"Ayo kak, apa kakak gak kasihan liat kak Elano?? " ajak Mita


"Kasihan kenapa?? dia udah biasa ngamuk kaya gitu. " sahut Aurora


"Astaga kakak ini. " pusing Mita


Laura menarik tangan Aurora mengajaknya sedikit menjauh dari yang lain, "lo gak ingat adegan kekalahan SMA Bintang?? " bisik Laura


"Yang mana? "


"Kejadian dimana satu minggu setelahnya bakal ada ujian akhir semester, ujian diadakan selama 1 minggu. Hasilnya ujian diumumkan setelahnya dan dalam daftar ranking dari keseluruhan sekolah yang ada di kota sekolah kita gak ada satupun yang berhasil menempati posisi 5 besar. Hanya satu orang yang menempati posisi sepuluh besar yaitu Salsa, dia berada di ranking 7 . Sekolah sangat menyayangkan hal itu, karena dari tahun ke tahun setiap ujian SMA Bintang selalu bisa menjebol 3 besar!! posisi itu diisi oleh Elano, Salsa, dan Aland tiga orang itu yang terus bersaing. Tapi entah karena apa nilai Elano dan Aland menurun, begitupun dengan Salsa. Tapi gue rasa karena mereka terpuruk waktu pertandingan basket ini apalagi jarak waktu yang hanya satu minggu. Lo tau kan maksud gue?? " jelas Laura


"Apa itu sambungan cerita waktu penculikan Salsa di akhir episode?? penculikan yang dilakukan Elano dan Laura karena mereka tidak suka Salsa dipuji dan dibanggakan, padahal dia cuma ranking 7 ?? "


"Yap!! "


"Penculikan dilakukan waktu pesta kelulusan 3 hari setelah pengumuman, dimana Aurora akan menjadi kambing hitamnya." lanjut Laura


"Setelah itu novel tamat, jadi gue punya ide agar rangking sekolah tetap stabil dan bisa mencegah kejadian itu. " ucap Laura antusias


"Apa? "


"Lo pintar basket, gantiin Karel!! "


Aurora melotot terkejut mendengar saran dari Laura," gila lo!! ini pertandingan cowok, mana bisa gue masuk. "


"Bisa kok, ayo!! "


"Loh kalian mau kemana?? " panggil Jovanya namun dihiraukan.


Laura menyeret Aurora keluar dari lapangan menuju ruang ganti, "nih pake! "


"Baju basket siapa?? " tanya Aurora


"Abigail, udah sana ganti. "


Dengan bergegas Aurora mengganti pakaiannya dengan cepat karena pertandingan sudah akan dimulai kembali, setelah selesai ia pun keluar dengan baju yang sedikit kebesaran namun ya lumayan pas, tidak lupa menggulung rambutnya.


"Lo yakin cewek bisa main? "


"Bisa, gue yang bakal bilang sama pak Andri. "


Lagi-lagi Laura menyeret Aurora menuju tepi lapangan dimana Celline, Jovanya dan Mita yang masih berdiri di sana.


"Loh ngapain pakai baju basket? " tanya Jovanya


"Aurora bakal gantiin Karel. " sahut Laura


"HAH??! "


"Emang bisa main basket? "


"Loh kalian gak tau? dia jago banget dalam bidang olahraga, dia bahkan udah menang kej-.. ahhh.. " pekik Laura saat kakinya diinjak sepatu Aurora.


Aurora menatap Laura dengan tajam, kemudian berbalik berjalan terlebih dahulu menuju sekumpulan lelaki disana.Aurora meninggalkan keempat gadis itu karena kesal.


Seorang panitia mendekati Elano dan yang lainnya," pertandingan final akan tetap dilaksanakan sekarang, apa sudah ada pengganti untuk yang cedera?? "


"Saya pak!! " seru Aurora lantang.


"Aur-"


"Nama saya Aldebaran pak. " potongnya


"Kamu perempuan? " tanya panitia itu.


"Oh saya laki-laki pak, bapak melukai hati saya sebagai laki-laki loh pak. Bagaimana bisa bapak berkata seperti itu.. " sahut Aurora dengan suara dibesar-besarkan.


"Tapi kamu terlalu cantik untuk seorang laki-laki. "


"Yaampun pak jaman sekarang banyak laki-laki rambut panjang dan berwajah cantik, coba bapak liat tek-tok sekarang lagi tren loh pak.. " sahut Aurora


Pak Andri dan yang lain yang melihatnya melongo terdiam bak patung.


"Iya gak bro? " tanya Aurora sambil menepuk punggung Jaka yang berada disampingnya. Lewat tatapan mata Aurora meminta Jaka untuk mengangguk.


"I-iya pak. " gagap Jaka


Aurora tersenyum , namun ia tak berani menatap kearah Elano dan Arsen yang tengah menatapnya seperti ingin mengulitinya.


"Baiklah terserah saja, pertandingan akan saya mulai 5 menit lagi, segera bersiap."


Pak Andri mendekati Aurora dan menatap penampilan Aurora dengan intens, "kamu Aurora pacarnya Elano kan?? "


"Loh bukan pak , say-"


"Berhenti berbohong, kamu pikir saya tidak mengenali kamu hah.. " sahut pak Andri


Laura dan Celline yang sudah bergabung terkekeh geli melihat tingkah Aurora.


"Ini ide lo ra? " tanya Jovanya pada Laura


"Iya .. " sambil terkekeh geli


"Anjir bisa-bisanya, gue pertama kali bisa liat muka tertekan Aurora. Lucu banget yaampun.. momen langka nih.. "Celline mengambil ponselnya untuk memulai sesi dokumentasi.


"Apa lo yakin Aurora bisa main? " ragu Jovanya


"Liat aja nanti. "


"Kamu gak usah sok main!! biar abang aja yang gantiin! " seru Arsen hendak menyeret Aurora keluar dari area lapangan.


"Abang kan gak bisa basket, abang kan gak pandai dalam olahraga. " tahan Aurora


"Ck."


Pertandingan dimulai dengan alot karena Aurora sempat dilarang main oleh Arsen sementara Elano hanya diam sedari tadi. Keterdiaman Elano membuat Aurora merasa canggung.


"Sial@n kalau bukan demi hidup mati gue nanti, mana mau gue lakuin hal kaya gini! " gerutu Aurora


Aurora sudah memasuki lapangan dengan Elano, Jaka, Stefano, Sagara. Ya biasanya mereka yang sering bertanding .


"Loh bukannya itu kak Aurora?kenapa ikut main? "


"Ah iya, apa perempuan bisa main basket,? "


"Bagaimana sekolah kita akan menang?? dia perempuan mana bisa bermain basket. "


"Apa sekolah kekurangan lelaki sampai perempuan dimasukkan bermain??"


"Pasti kalah. "


Dari arah tribun sekolah nya banyak beberapa bisikan yang meremehkan permainan Aurora.


Sementara dari arah tribun penonton sekolah SMA Bintara 07 bersorak untuk menyemangati pemain dari sekolah mereka, mereka fokus pada pemain mereka masing-masing.


Aurora mengepalkan tangannya karena geram, bukan hanya kepada perempuan yang disana namun lelaki juga yang ikut meremehkan permainan Aurora nanti.


Kalau mereka gak suka dirinya main kenapa para cowok itu tidak turun dari tribun dan bergabung menggantikan Karel??!!pengecut beraninya dibelakang.


Oke sabar Aurora.


Jangan mau diremehkan, cukup Arsen saja yang boleh meremehkan dirinya. Ya abangnya yang lucknut tentu saja.


Semua pemain sudah berada dilapangan, dari sekolah Aurora kini melingkar untuk melakukan yel-yel sebagai penyemangat, begitupun dengan lawan.


"Nanti gue bakal teriak SMA Bintang, lo jawab Jaya! tiga kali, terus diakhir pasti juara. Paham?? " intruksi dari Sagara kepada Aurora.


"Oke paham. "


"123"


"SMA BINTANG??!!! "


"Jaya! Jaya! jaya! pasti juara!!! " teriak semuanya diikuti para suporter.


Mereka tidak langsung bubar justru masih melingkar untuk membahas strategi nanti. Elano sedari tadi hanya diam dengan tatapan datar, Sagara lah yang mengaturnya, namun pasti atas persetujuan dari Elano.


"Nah Aurora lo lumayan tinggi, lo bagian Power Forward pada posisi ini pemain harus memiliki pertahanan dan juga ahli bekerja sama pada saat bola rebound ( perebutan bola dibawah ring) bersama center, jadi lo harus bisa bekerjasama dengan Elano sebagai center, paham?? " jelas Sagara


"Apa lo yakin tau soal basket?? " tanya Dava ragu.


"Gue paham dan tau cara mainnya, butuh bukti?? nanti gue buktiin deh, tapi untuk kekuatan cewek sama cowok jelas beda, gue butuh kawalan nanti. " jelas Aurora


"Elano, dia yang bakal kawal lo. " sahut Jaka


"Yakan El?? "


"Ya." cuek Elano


Aurora menghela napas, pasti lelaki itu marah padanya.


"Perhatian, setiap pemain silahkan bersiap pada posisinya masing-masing!! "


Bola di lambung kan, permainan pun dimulai. Dengan sekuat tenaga Aurora bertahan menjaga ring agar lawan tidak berhasil memasukkan bola. Pertandingan berakhir seri dan semakin panas. Hanya butuh satu bola masuk untuk menentukan pemenang.


Fokus kepada tugasnya masing-masing, Aurora mencegah lawan untuk mendekati ring dan mengambil alih bola melemparkan kepada Elano dan seterusnya. Semua dilakukan sesuai strategi.


"Aurora maju!! " seru Stefano


Aurora maju dan menghadang lawan, bola kembali bisa diambil alih.


"Bola ada ditangan gue? apa gue lempar ke Elano?? atau gue masukin sendiri?? " bimbang Aurora


"El! "


Dengan penuh pertimbangan Aurora melemparkan nya pada Elano yang berada di daerah lawan, lelaki itu hanya butuh shooting untuk memasukkan bola.


Aurora melihat Elano dikawal ketat oleh lawan yang memiliki postur tubuh sangat tinggi, sementara Sagara dan yang lain juga dihadang. Hanya Aurora yang free saat ini, apa ia harus maju kedepan membantu Elano?? iya jika berhasil, namun jika bola itu berhasil diambil lawan maka pertahanan daerah Aurora akan hilang.


"Elano lempar sini!! " teriak Aurora melambaikan tangan.


Elano terlihat ragu untuk melemparkan bola itu kedalam ring, namun ia juga tidak bisa terus menerus memegang bola.


Bole dilempar kearah ring namun tidak masuka,dengan peluang itu Aurora langsung melakukan rebound untuk memasukkan kembali bola kedalam ring basket.


Bola itu terlihat memutar di sekitar ring,belum tau akan masuk atau keluar. Semua terdiam menyaksikan.


Blus


"YEAY!!! MASUK!! " teriak Aurora senang.


Penonton bersorak heboh, teman-teman mereka langsung berlari memasuki lapangan untuk merayakan kemenangan.


"Eh! " pekik Aurora saat merasakan seseorang mengangkat tubuhnya.


"El turunin. "


Elano menurunkan tubuh Aurora dan langsung dikerumuni oleh teman-temannya.


"Kan udah gue bilang Aurora itu jago basket. " seru Laura


"Hebat lo ra! "


"Gue gak nyangka skill lo lumayan juga" ucap Dava


"Untung ada lo. "


Aurora menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum tipis, sebenarnya itu keberuntungan beda cerita jika bola itu tidak masuk tadi.


Sebuah tarikan di tangan Aurora membuat tubuhnya berbalik kearah orang yang menariknya.



"Cup."


Tanpa aba-aba Elano menyosor mengecup singkat bibir Aurora membuat gadis itu terkejut begitu pun dengan yang lainnya, mereka melongo kaget.


"Aaaaaa... "


Celline bahkan langsung bersembunyi dibalik badan Stefano sambil menutup matanya. Mata Laura juga ditutup oleh tangan Arsen. Jovanya hanya bisa melongo diam nasib jomblo.


Karel?? dia ada di UKS sekarang.


"Aku masih marah sama kamu, tapi makasih karena telah membantu." ucap Elano mengelus pucuk kepala Aurora kemudian berjalan pergi dari lapangan.


"Cieeeeeeeeeee...... "


"Dia lagi dia lagi!!! awas lo Aurora! "


*


*


*


Jangan Lupa Tinggalkan jejak guyss😇😇


like, vote, coment dan beri hadiah yuk, gratis!