
Happy Reading
*
*
*
Setelah kejadian tadi, kini Aurora dan Arsen tengah berada di depan pintu rumah. Keduanya berdebat siapa yang akan membuka pintu duluan. Aurora pulang bersama Arsen walaupun awalnya Elano kekeh ingin mengantarnya, namun dengan penuh pertimbangan akhirnya Elano membiarkan Aurora pulang bersama Arsen.
"Ketuk bang.. " suruh Aurora
"Kamu aja, nanti abang yang kasih alasan. "
Aurora membuka perlahan pintu utama, menghela napas karena tidak ada seorang pun disana. Mereka pulang pukul 10 malam, jika ketahuan pasti akan diinterogasi oleh orang tuanya apalagi mamahnya.
Arsen menutup kembali pintu masuk dan menguncinya,kemudian berjalan menuju tangga diikuti Aurora.
"Ekhem."
Sebelum kakinya menyentuh anak tangga pertama sebuah interupsi membuat keduanya langsung terdiam kaku. Dengan perlahan berbalik badan menatap papahnya yang tengah duduk di sofa, sejak kapan? tadi mereka tidak melihatnya.
"Oh papah... " ucap Aurora sedikit lega.
"Darimana kalian, jam segini baru pulang? " tegur Gani
"Aku habis diajak nongkrong sama abang pah. " jawab Aurora
"Yakin habis nongkrong?? "
"Iyalah pah. "
" Mamah mana pah? " tanya Arsen
"Sudah tidur... mau papah bangunin??" tawar Gani
"Jangan!! biarin mamah tidur pasti mamah capek. " sahut Aurora cepat diakhiri senyum manis.
"Cepat pergi ke kamar dan bersiap tidur!! ' tegas Gani
" Iya pah. " sahut Aurora dan Arsen, keduanya berbalik menaiki tangga.
"Arsen kamu disini dulu. "
Arsen mengangguk kemudian berjalan menuju tempat papahnya duduk.Arsen merasa papahnya akan memberi sebuah wejangan untuknya.
"Kamu pikir papah tidak tau?? "
"Maaf pah. " Arsen menundukkan wajahnya,ia tau dirinya melakukan kesalahan dan tidak mungkin papahnya tidak tau, Arsen tau papahnya seperti apa.
"Tawuran?? jangan melakukan hal yang membahayakan adikmu . " peringat Gani
"Iya pah. "
"Untuk kali ini papah maafkan kamu, namun tidak jika sampai membuat adikmu terluka."
"Iya pah. " Arsen mengangguk paham kemudian pamit menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
SMA Bintang
Seorang perempuan berjalan dengan raut wajah datar bukan karena sombong namun karena terpaksa. Tepat di depan kelas Aurora berpapasan dengan Laura yang kebetulan hendak memasuki kelas.
"Yaampun Lauraaaa.. " Aurora memeluk gadis itu.
"Kita bertemu di rooftop istirahat nanti. " bisik Laura
Dengan sedikit kasar Laura mendorong tubuh Aurora kebelakang, kemudian berjalan memasuki kelas meninggalkan Aurora yang terdiam bingung. Aurora yang paham situasi pun hanya mengedikkan bahunya ta acuh, walaupun sempat bingung .
Pembelajaran dimulai tanpa ada hambatan, Aurora hanya diam dan fokus untuk mendengarkan materi. Sementara Laura hanya menatap papan tulis dengan bosan.
Sekitar dua jam akhirnya bell istirahat berbunyi. Laura berdiri dan berjalan keluar kelas begitu saja. Celline dan Jovanya yang melihat sikap aneh dari Laura seperti itu mengeryit bingung.
"Kenapa sama Laura?? setelah 3 hari gak masuk kok jadi sombong gitu. " ucap Celline
"Mungkin dia lagi ada masalah nanti juga balik lagi, ke kantin aja yuk? " ajak Jovanya
"Kalian duluan aja, gue mau ke toilet dulu. " jawab Aurora
"Lo mau kita pesenin makanan? " tanya Jovanya
"Gak usah, nanti gue pesen sendiri aja. "
"Oke deh. "
Aurora berjalan melewati lorong-lorong menuju roftof sekolah. Perlahan ia membuka pintu dan menutupnya kembali.
"Ada apa?? " berbalik badan dan menerima serangan balik.
Bugh
Laura aka Tata langsung memeluk Aurora sambil menangis hebat. Aurora sempat kaget mendapat pelukan tiba-tiba untung saja tidak terjungkal kebelakang, jika sampai itu terjadi maka.. sudahlah jangan dibayangkan.Aurora mengelus punggung Laura membiarkan gadis itu mengeluarkan isi hatinya.
Hampir 10 menit gadis itu menangis sampai sesenggukan, bahu Aurora juga sampai pegal dibuatnya. Dilihat dari cara menangisnya Laura sudah Aurora pastikan gadis itu tengah mengalami masalah yang cukup berat.
"Odi..." panggil Laura pada Aurora,Odi adalah panggilannya dulu waktu ia menjadi Claudia.
"Iya?"
"Gue capek ,gue pengin cepet balik .." tangisnya.
Aurora mengeryit bingung," kenapa? lo ada masalah? coba cerita." ucap Aurora berusaha menenangkan Laura.
Gadis itu menangis sampai sesenggukan membuat Aurora merasa kasihan.
"Arsen nyakitin lo??kalau iya gue yang bakal kasih pelajaran sama dia!"
"Gak,bukan soal itu." sahut Laura menggelengkan wajahnya.
"Lalu?"
Laura berjalan menuju pembatas roftoof dan berbepangan di besi pembatas sambil menatap kedepan dengan tatapan sendu.Aurora yang melihatnya langsung berlari menyusul karena takut gadis itu melakukan hal yan nekat.
"Lo gila?! kalau banyak masalah jangan bunuh diri juga bego!" semprot Aurora menarik tubuh Laura kebelakang.
"Ohhh..."
Keduanya menatap kearah depan sambil menikmati angin yang menerpa wajahnya. Satu menit mereka menikmati keheningan,terdengar suara helaan napas dari Laura.
"Ini rumit." jeda Laura
"Gue baru tau keluarga Laura menaruh kebecian terhadapnya.Selama ini gue berusaha merubah sikap dan berlaku baik semata-mata untuk keluarganya.Tapi mereka justru menganggapnya hanya drama untuk menarik perhatian mereka." jeda Laura sambil menarik napas dalam.
Aurora hanya diam sambil mendengarkannya dengan seksama.Ia akan mengambil kesimpulan nanti.
"Waktu lo kerumah gue disitu gue lagi ada masalah sama ayah Laura dan para abang-abangnya.Gue gak dibolehin sekolah kata ayah gue gak perlu sekolah karena itu percuma saja.Mereka menganggap Laura cuma bisa memuat kerusuhan dan mencoreng nama baik keluarga.Apa gue salah ?? gue pengin keuarga Laura tau isi hati Laura ."
"Karena marah,ayah Laura ngurung gue dikamar seharian tanpa makan bahkan gue terkena terkena tembakan di bagian bahu,karena itu gue meringis sakit waktu lo nelpon gue setelah itu gue gak bisa pegang ponsel karena disita." jelas Laura dengan tatapan sendu menatap kedepan.
"Si-siapa yang nembak lo?" tanya Aurora terkejut bukan main.
"Kak Bima,kakak tertua Laura." jawab Laura
"APA?!gila!" pekik Aurora shok
"Diantara yang lain gue emang takut sama lelaki itu,gue gak berani buat dia marah." ucap Laura
Aurora menatap sahabatnya itu dengan pandangan iba.Tata merupakan anak satu-satunya di keluarganya maka dia sering dimanja,mendapat perlakuan seperti ini pasti membuatnya bingung dan takut.
"Sumpah gue gak tau mau ngapain.Gue belum pernah ngerasain perlakuan kaya gini,gue takut Ra.."
Aurora menarik tubuh Laura dan memeluk gadis itu dengan hangat ,mengelus punggungnya dengan lembut.Orang yang tidak pernah merasakan kekerasan pasti akan sangat shok ketika mendapatkannya sekecil apapun,apalagi yang Laura alami termasuk besar dan penuh tekanan.Berbeda dengan Claudia yang memang sudah terbiasa mendapatkannya.
"Gue pengin balik hikss...gue gak bisa diginiin , gue gak sekuat lo Ra.."
"Berjuang sebentar lagi ya..kita akan segera kembali, gue janji!!" tenang Aurora
"Gue beruntung punya sahabat kaya lo,lo selalu ada disaat gue membutuhkan." Laura melepaskan pelukannya menatap Aurora dengan senyuman kecil.
"Kenapa lo ngehindari gue?"
"Setelah kepergian lo dari rumah, gue langsung diintrogasi sama ayah dan semua kakak dari Laura.Mereka menyuruh gue untuk jangan deket-deket sama lo." jawab Laura
"Loh kenapa?"
"Karena mereka takut gue ketularan sifat sembrono lo."
Aurora melongo dibuatnya," siapa yang bilang kaya gitu? ayah lo?"
"Bukan."
"Terus?"
"Ka Gilang yang bilang kaya gitu."
"Cowok itu!! " geram Aurora
"Tapi karena gue secara gak langsung mereka khawatir dong sama lo?buktinya mereka ngelarang lo karena takut ketularan gue." lanjut Aurora
Laura terkekeh ," benar juga,kayaknya lo harus berulah deh biar mereka semakin khawatir sama gue."
"Enak aja,gue males ketemu cowok itu.'
"Oh gue denger Delvandeer udah gabung kembali, apa bener?? " tanya Laura
"Iya"
"Lo berhasil gabungin mereka kembali ra, lo emang keren banget, salut gue. "
"Berarti masalah lo perlahan mulai menurun, kita bisa kembali dengan cepat, iya kan ra?? " ucap Laura menatap Aurora dengan ekspresi berharap membuat Aurora terdiam.
"Ada yang aneh sama Laura. " batin Aurora
"Untuk masalah itu memang sudah hampir terselesaikan, tapi gue gak bisa jamin kedepannya bakal terus aman tanpa gangguan. " balas Aurora
"Lo aneh. " ucap Aurora langsung
"Gu-gue cuma peingin cepat kembali ra.. "
"Lo yakin?? gue gak suka ada kebohongan , gue benci itu. " ucap Aurora datar.
Dapat Aurora lihat Laura terlihat seperti gelagapan mendengar ucapan datar darinya. Laura terlihat menghela napas kasar.
"Sebesar apa masalah lo sampai lo sembunyikan hal itu dengan kebohongan?? "
"Se-sebenarnya gue yang minta kak Bima untuk bubarin Xanderrior. " ungkap Laura berusaha menghindari kontak mata dengan Aurora.
"What??!! "
"Gue lakuin itu karena gue gak mau Arsen terluka karena kecelakaan, gue udah janji sama Laura asli buat jaga Arsen. Lo pasti tau kan setelah tawuran Elano dan Arsen bakal koma karena kecelakaan motor mereka disabotase ?" jelas Laura
"Gue udah bantu lo secara gak langsung ra, gue cuma mau kita cepat kembali dan selesaikan semuanya dengan cepat. Gue gak betah tinggal di rumah Laura disana terlalu ketat buat gue.. lo harus bisa ngertiin gue ra. " ucap Laura
Lagi-lagi Aurora menatap Laura dengan pandangan tak habis pikir, dirinya juga sudah datang kesana untuk mencegah ?
tapi..
"Tapi itu semua ada syaratnya.. " jeda Laura
"Kak Bima ingin gue jauhin lo dari Elano, gue terima karena gue rasa lo juga gak cinta sama dia, lagian kita disini untuk bertahan hidup kan?? " jelas Laura menatap Aurora polos.
"Apa???! lo gila??? " sentak Aurora
"Loh kenapa? " bingung Laura
"Lo bilang kenapa??!! lo... arghhh... " teriak Aurora frustasi dirinya tak menyangka Tata akan bertindak sejauh itu.
*
*
*
TINGGALKAN JEJAK YUKK 😊