
Happy Reading~
*
*
*
"Mau kemana? dasar kelinci nakal. "
Arsen menjinjing kerah baju belakang milik Aurora.
"Ampun bang.. " ucap Aurora
"Mau kabur? "
"Yaelah maaf bang gue kan gak sengaja.. " ucap Aurora menampilkan wajah melasnya.
"Maaf maaf enak banget ngomong nya, ini baju baru dibeli!!!"
"Iyaiya nanti gue ganti, lepasin dulu tangannya gue kecekik nih.. " ucap Aurora memohon.
Arsen melepaskan junjungannya di kerah baju Aurora, " gausah diganti, buatin gue makanan aja." pintanya
"Tap-"
"Gak ada tapi-tapian, buruan. Laper. " Arsen mendorong punggung Aurora menuju dapur.
Arsen keluar dari dapur meninggalkan Aurora yang sedang berkutat didapur membuat makanan untuk abang bangsatnya itu.Aurora membuka lemari mengambil mie instan kuah rasa soto kemudian mengambil panci kecil untuk memasak airnya.Setelah mendidih ia masukkan mienya. Gadis itu melakukan nya dengan tenang.
"Gimana udah jadi? " Arsen datang setelah mengganti bajunya yang sobek.
"Hampir."
Aurora menuangkan mie yang sudah jadi ke mangkok dan menyerahkan nya ke Arsen, "Nih."
Arsenal memakannya, "lumayan."
"Bang." panggil Aurora
Arsen memakan mie nya dengan lahap menolehkan sedikit wajahnya, "Apa? "
"Abang percaya sama yang namanya transmigrasi atau perpindahan jiwa? " tanya Aurora serius
"Gak."
Mendapat jawaban seperti itu membuat Aurora menghela napas pelan, ia sudah duga lagian siapa yang akan percaya dengan hal mitos seperti itu.
"Tapi bisa aja terjadi didunia ini, "
"Maksudnya? " Aurora menatap Arsen penasaran.
"Gue bilang gak percaya bukan gak ada," lanjut nya
"Berati abang tahu? "
"Gak." jawab Arsen polos membuat Aurora kesal, "Lah gimana sih, ditanya bener-bener juga. "
"Dek "
Aurora terdiam saat mendengar sebutan asing itu, ia dulu ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang kakak laki-laki. Ini adalah panggilan yang ia impikan,membuat darahnya berdesir hangat.
"Woy! " Arsen melambaikan tangan didepan wajah Aurora
"Ah iya bang? kenapa? "
"Kenapa lo? " tanyaa Arsen menatap gerak-gerik adiknya itu.
"Tadi mau ngomong apa bang? "
"Soal yang tadi gue gak tau apa itu transmigrasi tapi yang jelas ,apapun yang gak mungkin bisa jadi mungkin di dunia ini. " jelasnya
Aurora mengangguk membenarkan, "Bang panggil gue dek lagi dong.. " perintahnya
"Kenapa? " tanya Arsen setelah minum habis makan.
"Udah bilang aja. "
"Dek? "
"Kakak..."
Tangan Arsen berhenti diudara saat hendak mengelus kepala Aurora, "coba ulangi lagi. "
"Kakak..."
Arsen tersenyum kemudian memeluk Aurora, ini pertama kalinya ia memeluk adiknya itu setelah kepulangannya dari Jerman,"Adek abang kembali...." ucap Arsen sambil mengelus punggung Aurora.
Arsen melepaskan pelukannya kemudian mengelus pucuk kepala Aurora lembut, "Jangan berubah ya, " ucapnya
"Lah dikira aku ultramen bisa berubah!" cemberut Aurora, cepat sekali merubah ekspresinya.
"Gausah cemberut gitu, kamu jelek. " ledek Arsen menyentil dahi Aurora membuat gadis itu mengaduh sambil memegangi jidatnya.
"Sakittt bang.. jahat banget sama adek sendiri. "
Arsen hanya tersenyum hangat menatap tingkah kembarannya itu.
"Bang lo_"
"Aku kamu aja..." perintah Arsen memotong perkataan Aurora
"Lah sejak kapan? "
"Mulai sekarang, kita kan keluarga gak baik lo gue bahasanya. " ucap Arsen
"Ya deh terserah. "
Arsen tersenyum tipis, "Mau nanya apa? "
"Oh itu ,abang masih suka sama Salsa? " tanya Aurora memastikan
"Salsa? sejak kapan aku suka sama dia? " tanya Arsen balik
"Hah? abang udah gak suka sama dia? "
"Suka gimana sih ?abang gak pernah suka sama dia. "
Jawaban Arsen membuat dahi Aurora berkerut bingung.
"Abang bohong pasti? gak usah malu bang jujur aja, "
"Apaan sih! dapet info dari siapa kalo abang suka sama Salsa? dia itu pacar Aland jangan buat orang lain salah paham dek.. " jelas Arsen
"Serius? "
"Iya, " jawab Arsen jengah
Kenapa jawaban Arsen dengan Elano sama?
"Terus kenapa abang dkk gak suka sama Elano? " kepo Aurora
"Lo mau tau? " tanya Arsen dijawab anggukan semangat oleh Aurora
"Kita bicara di kamar abang. "
Keduanya meninggalkan ruang makan dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Arsen.Aurora duduk diatas ranjang menatap abangnya, menunggu lelaki itu berbicara.
"Kenapa kamu se penasaran itu?"
"Cuma pengin tau aja."
Aurora berpikir sejenak kemudian mengangguk walaupun ia sebenarnya tidak tau.
"Selama abang bicara jangan pernah kamu potong perkataan abang, paham? kecuali kalo abang tanya sesuatu sama kamu. " peringat Arsen
"Oke "
"Dulu__"
"Eh bentar bang aku ambil minum dulu takut nanti abang cape ngomong terus kehausan, tunggu bentar! " Aurora menyela perkataan Arsen dan lari keluar dari kamar. Arsen yang melihat tingkah kembarannya itu hanya menatapnya datar.
"Nah ni bang, kalo haus ambil disini. " Aurora kembali dengan membawa satu botol air minum dan meletakkannya di nakas dekat ranjang.
"Lanjut... " perintah gadis itu setelah kembali duduk bersila di ranjang.
"Udah? "
"Udah apanya bang? " tanya Aurora bingung membuat Arsen berusaha tegar dengan tingkah baru Aurora.
"Gak jadi, "
"Lah gak jadi cerita? jangan gitu lah bang, aku dengerin kok nih. " ucap Aurora menopang dagu dengan pandangan menatap Arsen serius.
Arsen yang melihat tampang serius itu tersenyum tipis dan menepuk jidat Aurora dengan kencang sampai membuat gadis itu terjengkang kebelakang.
"Aduh! napa didorong sih bang! "
"Gak usah kaya gitu liatnya, "
"Iya iya, kapan nih ceritanya? udah nunggu loh awas kalok gak jadi!!! "
"Makanya diem duduk tenang jangan petakilan! "
Arsen kembali ke mode seriusnya, "Elano dulu pacaran sama adiknya Stefano_"
"Apa? serius bang? " tanya Aurora dengan bisikan
"Kan udah dibilang jangan potong sembarangan bego!! " sepertinya kesabaran Arsen mulai habis
Aurora hanya terkekeh pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Sorry."
"Waktu itu adiknya Stefano sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, kita sebagai sahabat Vano berkunjung ke ruang rawat Melati, Stefano yang berjalan duluan didepan kami dan sesampainya disana Stefano terdiam didepan pintu, kami yang melihatnya pun menghampiri dan kamu tau apa yang kita liat? " tanya Arsen yang dibalas gelengan oleh Aurora.
"Kita ngeliat Elano sedang melepas cairan infus yang menjadikan adik Stefano meninggal kekurangan cairan. " jelas Arsen
Jadi itu alasannya~
"Itu alasan kalian benci Elano? " tanya Aurora mode serius
"Bukan abang tapi Stefano, " koreksi Arsen
"Abang gak benci Elano berarti? "
"Sedikit."
"Lho??" celetuk Aurora menatap Arsen bingung.
"Abang harus hati-hati deh, mungkin ada seseorang yang sedang mengadu domba kalian. " ucap Aurora pada Arsen yang dijawab dengan tatapan bingungnya.
"Maksud kamu? "
"Ada lah bang, pokoknya abang harus hati-hati. Jangan asal menilai dengan mata saja ataupun telinga saja, tapi pakai juga otak dan hati. " ucap Aurora
----
"Cla gue saranin lo jangan batalin pertunangan lo itu. "
Aurora aka Claudia menatap Laura aka Tata bingung, "lho kenapa? "
Kini keduanya sedang berada di sebuah kafe didekat rumah Laura, mereka berjanjian untuk membahas sesuatu.
"Gue lebih tau isi novel itu daripada lo Cla.. "
"Apa hubungannya? "
"Ini saran dari gue, sejak masuk sini lo itu memang udah jadi tunangan Elano kan? sedangkan di dalam novel gak pernah ada penjelasan itu. Gue rasa apa yang ada dibelakang panggung itu justru sesuatu yang haram untuk diubah. "
"Maksud lo? "
"Gue datang kesini lebih dulu beberapa jam dari lo-"
"Tunggu.Bagaimana lo tau waktu lo datang kesini,? "
"Kan lo pernah bilang bego! "
"Ohhh .. "
"Kayaknya merubah alur novel itu haram. "
"Haram? " tanya Aurora serius
"Setau gue ya ketika lo ada di sebuah panggung melakukan adegan itu adalah buatan penulis yang jelas itu bisa dirubah sesuai keinginan penulis, sedangkan saat lo dibelakang panggung itu bukan lagi sebuah pertunjukan melainkan dunia asli lo. " jelas Laura
"Lo mau bilang kalo apa yang tidak dituliskan dalam novel itu merupakan dunia yang sebenarnya? dan itu bukan kuasa penulis lagi? " tanya Aurora sambil mengetukan jarinya di meja.
"Iya itu maksud gue. " angguk Laura
"Bukannya sesuatu yang bukan kuasa penulis itu justru bisa diubah? "
"Bisa namun resikonya besar, karena itu tidak hanya akan merusak alur novel itu sendiri melainkan dunia asli juga bisa ikut berantakan. "
"Kenapa lo bisa tau? " tanya Aurora lagi,
"Simpel.Gue pernah nyoba apa yang lo lakuin sekarang, tapi ternyata apa yang gue hindari justru datang ke diri gue sendiri, lo inget waktu lo dikantin nabrak Salsa itu seharusnya perannya Laura tapi lo yang kena_"
"Jadi lo sengaja buat gue lakuin peran lo?! " ucap Aurora dengan menaikan nadanya.
"Diem bego, gue belum selesai ngomong. " kesal Laura
"Waktu itu lo yang kena kan? dan disitu gue seneng ternyata gue bisa merubah alur tapi setelah jam istirahat kedua kejadian itu juga terjadi sama gue, bedanya itu bukan sama Salsa tapi sama Mega sendiri, hanya berubah waktu dan orang yang melakukan tetapi sesuai dengan kejadian di novel. " terang Laura
"Tapi gue mau nanya,nyoba sesuatu yang sedang gue lakuin sekarang itu maksud lo apa? "
"Lo lagi berusaha batalin pertunangan kan? "
"Ya."
"Gue juga lagi ngehindari sesuatu. " ucapnya lirih
Aurora menaikan sebelah alisnya, "Apa? apa yang lo hindari? "
"Menjauhi Arsen dan.... " ucap Laura sambil menatap Aurora.
Sudah ia duga
"Dan? "
Laura mengalihkan pandangannya ke sekitar kemudian menatap Aurora lagi, "Gue rasa lo udah tau. "
"Tapi gue cuma pengin dengar dari orangnya langsung. " ucap Aurora santai
¥¥¥¥¥
🙋♀️Anyeong!
Tinggalkan jejak, wajib!!!
SEE YOU!