
Suara dari derasnya hujan tiba tiba muncul dan menemani keheningan yang muncul di antara mereka berdua hingga membuat sebuah jarak diantara meraka berdua.
Untuk memecah sebuah keheningan di antara mereka, Anma akhirnya menemukan sebuah topik pembicaraan untuk mengabaikan derasnya hujan di luar rumah kayu yang ia buat.
"Liah, kenapa kamu bisa tergeletak di atas rumput pemangsa? " Tanya Anma penasaran.
"Hehehe aku kira rumput itu adalah rumput herbal jadi aku langsung mencabutnya. Tapi, tidak lama setelahnya, pengelihatan ku mulai kabur dan setelahnya aku tidak bisa merasakan apapun" Liah menjawab dengan semua hal terakhir yang ia alami.
"Rumput Herbal?" Anma merasa tidak asing dengan kalimat itu.
"Iya Rumput Herbal. " Liah menegaskan.
"Bukankah Rumput Herbal dengan Rumput Pemangsa itu sangat berbeda? " Anma mencoba mengetes pengetahuan tanaman secara umum pada Liah.
"Em, yah sebenarnya, saya tidak mengetahui perbedaan itu. Mereka sama sama memiliki daun dan bunga yang hampir sama dan terlebih lagi, Rumput Herbal dan Rumput Pemangsa sering tumbuh di tempat yang berdekatan. " Liah menjawab dengan semua pengetahuan yang dimulainya mengenai tanaman.
"Wah, itu jawaban yang luar biasa Liah. Pengetahuanmu mengenai tanaman sungguh hebat" Anma memuji Liah yang sudah berusaha.
"Benarkah itu Anma" Liah tersenyum karna mendapat pujian dari Anma.
"Iya. Tapi Liah, perbedaan paling menonjol dari kedua rumput ini di bagian bunga dan batangnya." Tambah Anma.
"Bunga dari Rumput Pemangsa memiliki garis garis ungu di antara kelopaknya dan lagi batangnya memiliki banyak duri. Sedangkan bunga dari Rumput Herbal hanya memiliki satu warna penuh dan tergantung dari tingkat levelnya, bunga dari Rumput Herbal memiliki beberapa warna yang berbeda seperti warna oranye, kuning, merah, biru, dan untuk Rumput Herbal level tinggi, biasanya memiliki warna ungu menyala. Sedangkan untuk batangnya tidak memiliki duri. " Anma menjelaskan secara terperinci mengenai kedua rumput itu kepada Liah.
"Wah, hebat sekali. Kamu memiliki pengetahuan yang hebat mengenai tumbuhan." Liah memuji Anma dengan tulus.
"Hehehe. Iya, Terima kasih atas pujian mu Liah." Anma tersenyum pada Liah.
Liah pun membalas senyuman itu. Dan keheningan kembali terasa. Namun tidak lama kemudian Liah mulai bertanya.
"Anu, Anma. Saat aku kira aku akan mati karna Rumput Pemangsa itu, bagaimana cara kamu datang dan menolomgku? " Tanya Liah penasaran.
"Em. Yah, kalau itu....." Ketika Anma akan menjawab pertanyaan Liah, terdengar suara yang cukup keras dari perut Liah.
"Ap.....Apakah kamu merasakan lapar Liah? " Anma bertanya pada Liah yang sedang menutup wajahnya dengan tangan, karna malu dengan apa yang telah terjadi.
Liah hanya mengangguk.
"Jika seperti itu, untuk keadaan darurat. Aku akan memotong lenganku untuk di makan. Apakah kamu setuju?" Anma menyarankan sesuatu yang tidak di percaya.
"Ap....Apakah kamu yakin Anma? " Liah mempertanyakan saran tersebut pada Anma.
"Ia, aku yakin. Lagi pula, aku masih memiliki sebuah skill regenerasi dan mantra healing." Anma merasa sudah siap mengorbankan tangannya.
"Tidak, tidak boleh. Aku tidak mau memakan tangan dari penyelamat ku." Liah menolak kesiapan Anma yang akan memotong lenganya sendiri.
"Kalau begitu, biarkan aku memotongnya sendiri." Ia langsung berdiri dan mencoba mengambil kampak raksaksa milik Liah letaknya tidak jauh dari tubuh mereka berdua.
Namun dengan sigap, Liah langsung mengambil kampak itu dan menyembunyikan ya di belakang tubuhnya.
Anma yang melihat hal itu terkejut dan tertawa untuk sesaat. Kemudian saat tubuhnya sudah dekat dengan tubuh Liah untuk mengambil kampak itu, Liah langsung melompat ke arahnya dan membuat Anma dan Liah terjatuh dengan posisi tubuh Anma di bawah sedangkan Liah berada di atas.
Sesaat setelah merek terjatuh, Liah menatap wajah Anma dengan jarak yang dekat yang membuatnya merasakan sesuatu yang aneh.
Sedangkan Anma yang berada di bawah tubuh Liah, juga merasakan hal yang sama.
Dengan posisi seperti itu, mereka berdua hanya saling memandang satu sama lain dan mulai merasakan sebuah perasaan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
......................
Ketika mereka berdua dalam posisi seperti itu, sesuatu datang dari arah pintu masuk.
Suara ketukan dari pintu rumah kayu seolah tidak di dengar mereka berdua.
Mereka yang sebelumnya sedang memandang satu sama lain langsung memalingkan wajah mereka ke arah pintu yang terbuka.
"Oh. Maaf, sepertinya saya datang di saat yang tidak tepat ya. " Sebuah suara yang sangat berwibawa keluar dari seorang makhluk dari depan pintu masuk.
Mereka yang masih dalam posisi saling menindih langsung berdiri dan mencoba menjelaskan situasi.
"In...ini tidak se...seperi yang anda pikirkan" Ucap Liah panik.
"Ka...kami ta....tadi se...sedang" Makhluk itu memotong penjelasan Anma.
"Ya. Baiklah. Terserah kalian saja" Jawab makhluk itu dari pintu masuk.
Tidak lama setelahnya, makhluk itu berjalan masuk ke dalam rumah kayu yang hanya di sinari oleh beberapa obor.
Makhluk itu kemudian mengangkat tangan kanannya. Beberapa cahaya muncul dari sela sela tangan itu dan membuat rumah kayu itu terlihat cukup terang.
Dengan cahaya yang menerangi bagian dalam rumah kayu, mereka berdua sadar bahwa makhluk yang datang adalah seorang Druid.
Druid adalah makhluk spiritual yang merupakan evolusi dari Ent atau manusia pohon. Berbeda dari Ent yang sebelumnya hanya berdiam diri dan berkamuflase menjadi pohon selama berabad-abad. Druid justru sering berjalan jalan dan mengawasi seluruh hutan sambil menebarkan bibit bibit pohon di semua area yang di lewati nya.
Druid juga memiliki pengetahuan serta kebijaksanaan yang tinggi serta memiliki sebuah skill bernama "Commando".
Skill " Commando. " memungkinkan dirinya untuk memerintahkan pohon pohon di sekitarnya untuk menyerang musuh yang di tunjuknya serta dalam keadaan tertentu, pohon pohon itu dapat berubah menjadi Ent.
"Mohon maaf sebelumnya karena telah mengganggu kalian." Kata Druid sambil membungkukkan badanya ke arah mereka berdua.
"Kami tidak sedang melakukan apapun" Liah membantah.
"Iya. Kami tidak melakukan apapun" Anma menambahkan.
"Lalu, apa yang membuat makhluk langka seperti anda datang menemui kami berdua?" Tanya Anma penasaran.
" Saya datang kemari untuk menyampaikan ucapan " Terima kasih" sekaligus untuk memberikan hadiah kepada kalian berdua. " Druid itu membungkuk dan mengambil sesuatu dari balik baju panjangnya.
Sebuah benda mirip buah di keluarkan dari balik baju itu. Druid itu mengajukan kedua tangannya yang memegang buah itu kepada mereka berdua.
"Terimalah hadiah dariku" Druid itu mendekatkan kedua tangannya kearah Anma dan Liah.
"Hadiah, atas dasar apa? Tuan Druid memberikan kami hadiah? " Tanya liah penasaran.
"Ini. Adalah hadiah untuk kalian. Karna telah mengusir " Wizp O Wizper" Dari hutan ini. Dan mengembalikan suasana hutan seperti semula." Jelas dari Druid itu.
"Jadi itu sebabnya. Pantas saja ketika masuk lebih dalam ke hutan ini hampir tidak ada suara dari makhluk lain" Anma menyimpulkan apa yang terjadi sebelum pertempuran dengan Wizp O Wizper.
Setelah merasa paham atas apa yang terjadi, Anma dan Liah pun mengambil buah itu.
"Ano, Anma, apakah kamu tahu ini buah apa? " Liah bertanya kepada Anma yang sedang memegang buah itu.
"Sebentar." Anma membolak balikan buah itu, mengamati kulitnya dan mengukur ukuran buah itu sambil mencoba mengukur beratnya.
"Buah ini bernama King Crown" Druid menjawab pertanyaan dari Liah yang seharusnya jawaban itu di sampaikan oleh Anma.
Anma yang sedang sibuk menganalisis merasa aneh pada jawaban dari Druid itu. Kemudian ia tersadar bahwa Druid itu bukanlah Druid yang sebenarnya.
Ia lalu menyimpulkan bahwa buah itu bukanlah King Crown melainkan Demon Crown.
Buah King Crown seharusnya berwarna kuning dengan ukuran dan berat buahnya berbeda dengan yang ia pegang saat ini.
Namun Demon Crown memiliki warna kulit hitam yang sama seperti buah yang ia pegang dan memiliki ukuran dan berat yang sama seperti yang ia pegang.
Dari kesimpulan itu, Anma langsung mengambil bagian untuk Liah dan lalu melemparnya ke item box tanpa sepengetahuan Liah.