Armageddon Maker

Armageddon Maker
Hukuman untuk demi human



" Ano... An....anma, ap....apakah ka....kamu.... mau ikut de...denganku ke desa ku? La..lagipula, sa...saat itu, kamu... kamu juga membantuku menolong desaku. " Liah mencoba mengajak Anma untuk kembali ke desanya.


" Tidak. Aku tidak akan pergi ke sana. Lagi pula, aku tidak punya alasan untuk ke sana. " Anma menolak mentah ajakan dari Liah.


" Tap.....tapi...tapi, ak...aku ingin kamu... bertemu dengan mereka. Teman temanku. " Liah berusaha membujuk.


" Waaah, kamu sadah punya teman. Syukurlah. " Anma tersenyum pada Liah.


" Iya. Tapi tidak semua dari mereka merasa begitu. " Liah yang semula tersenyum ceria kini mulai murung kembali.


" Kenapa kamu seperti itu, apakah ada masalah dengan mereka? " Anma memegan dagu Liah dan menatapnya.


Melihat Anma yang menatapnya sedekat itu, Liah mulai menyatakan apa yang ia rasakan kepada teman temannya.


" Ano, sebenarnya. Ada beberapa dari mereka yang hanya makan dan tidak pernah mau ikut membantu yang lainnya. jika mereka sudah tua, aku bisa mewajarinya. namun mereka masih muda dan bertenaga. Lalu ada beberapa dari mereka yang hanya mencari perhatian dari diriku untuk tahu kekuatan kampak ini sampai aku bosan harus memarahi mereka setia harinya. Lalu... " Liah menceritakan semuanya.


" Jika begitu, mungkin ini bisa jadi alasanku untuk mengunjungi desamu " Jawab Anma setelah mendengar cerita dari Liah.


Anma bangkit dari duduknya dan mulai berdiri sambil mengajak Liah untuk bangkit.


" Ayo, Liah! Aku akan memberikan hukuman pada mereka yang telah menipumu atas isi dari parkmen yang aku tulis. " Anma membangkitkan seluruh amarahnya.


" Baiklah Anma, aku akan menunjukan jalannya. Aku harap kamu jangan sampai membunuh mereka ya? " Liah memohon kepada Anma.


" Itu bisa di atur " Anma menjawab tegas.


Liah pun menunjukan arah menuju desa yang ia buat bersama iblis iblis lain.


Anma dan Liah sempat berhenti dan menikmati pemandangan di langit sekaligus untuk mengisi kembali tenaga mereka untuk sesaat.


Langit kala itu masih menunjukan kegelapannya namun, di atas kegelapan itu banyak bintang bertaburan dan memancarkan cahaya yang indah.


l



Tidak lama setelah mereka beristirahat, Liah menunjukan ke arah sebuah desa yang di lindungi oleh tembok kayu yang kokoh.


" Itu, itu adalah desaku. " Liah melompat kegirangan seolah melupakan apa yang sebenarnya ingin ia lakukan.


" Jadi itu desanya. Dari tembok kayu itu saja, terlihat kuat dan kokoh. Pasti kalian sangat bekerja keras ya. " Anma memuji Liah dengan menahan amarah nya.


" Iya, benar sekali. Anma. Kami sangat bekerja keras membangun nya. " Liah menjawab sambil menunjukan ototnya.


Anma hanya tertawa ketika Liah melakukan hal itu dan setelahnya Liah justru merasa malu sendiri akan tingkah nya.


" Kalau begitu Liah, Ijinkan aku menunjukan sesuatu padamu. " Anma membangkitkan kembali amarahnya.


" Ano, Anma. Tolong jangan di bunuh yah. Karna ada beberapa dari mereka yang selalu mendukung dan membantuku. " Liah mencoba meredam amarah dari Anma.


Anma hanya mengangguk dan kemudian tersenyum ganas.


" Flora, ijinkan ayah untu mengambil alih kesadaran tangan kanan ayah ya? " Anma bertanya melalui telepati.


" Baik ayah, ayah boleh menggunakannya sesuka ayah. " Flora menjawab.


" Kalau begitu, terimakasih ya Flora. Karna tahu keinginan ayah. "


" Iya ayah. Sama sama. "


Anma lalu mengangkat tangan kanannya dan berniat memberikan sebuah sihir "calling gread thunder" sebagai sebuah peringatan ke arah desa itu dan sebagai sihir pembuka.


" Caling Gread Thunder !" Anam merapalkan mantranya sambil menunjuk ke arah desa itu.


* Slaps * Sebuah kilatan melesat ke arah desa itu dengan sangat cepat dan membuat sebuah lubang di tembok kayu itu.


* Jeeeeelllleeeeegeeeeeeerrrrr!!!* Suara dari petir yang menyambar itu membuat seluruh penduduk desa itu terbangun dari tidurnya dan mulai panik serta berlarian keluar dari rumah mereka karena menganggap ada serangan dari iblis bertubuh sempurna.


Anma hanya tertawa melihat reaksi mereka.


" Dasar tidak tahu di untung, berani sekali kalian menyalah gunakan kebaikan Liah. " Anma bersiap melanjutkan serangannya.


Dengan tangan kanan yang masih diangkatnya ke udara, Anma kembali merapalkan sebuah mantra


" Poison!!! "


Sebuah awan beracun terbentuknya di atas tubuhnya lalu di arahkan ke arah desa itu. Dan setelahnya, Anma menarik tangan kanannya sembari merapalkan sebuah mantra


" Stom of Gravity. "


Seluruh warga desa yang berlarian itu tehenti dengan posisi tengkurap akibat tarikan gravitasi yang sangat kuat.


Tidak berselang lama setelahnya, awan beracun mengepung seluruh desa itu hingga awan itu menghilang dengan sendirinya.


" Yosh. Emosiku memang sedang dalam puncaknya. Tapi karna Liah tidak ingin aku melukai mereka, setidaknya dengan ini mereka yang di pilih oleh Liah akan "hidup" dan sisanya akan di biarkan mati. " Anma mengungkapkan isi hatinya dalam pikirannya sendiri kemudian tertawa lepas.


" Ano, Anma. Apakah mereka baik baik saja? " Liah bertanya dengan khawatir.


" Iyah, setidaknya mereka yang ada di luar rumah mungkin hanya memiliki luka ringan tapi jika mereka yang ada di dalam rumah, aku tidak bisa menjaminnya." Anma menjelaskan situasi yang terjadi.


" Kalau begitu, ayo kita kesana untuk memastikan mereka yang ada di dalam rumah. " Liah berlari ke arah desa sambil menarik tubuh Anma dengan paksa.


" Ya ampun. Seharusnya aku bakar saja desa miliknya. " Gumam anma dalam hatinya.


" Jangan lakukan itu ayah. Nanti Liah bisa sedih lagi. " Tolak Flora atas pemikiran Anma.


" Iya. Iya. Lagi pula, Ayah juga tidak melakukannya. " Jelas Anma.


" Baguslah kalau begitu. Ayahku memang yang terbaik. " Flora memuji Anma.


" Trima kasih Flora. " Anma berterimakasih kepada Flora.


Setelah Liah dan Anma sampai di gerbang desa, Liah langsung menggunakan kampak darah untuk menebas pintu gerbang yang tertutup.


* Swugh.... * Kampak di ayunkan lalu di tebaskan.


* Tretektektek duaaaaaar !!! "Kayu kayu yang semula akan berjatuhan langsung terbawa hembusan angin dari tebasan kampak darah.


" Baiklah Liah. Aku ingin, kamu membawa "Mereka yang layak" ke sini dan meninggalkan mereka yang kamu anggap "tidak pantas". " Kata Anma sembari mengusap kepala Liah


Mendengar perintah dari Anma, Liah langsung berlari ke arah warga desanya dan mulai membawa beberapa dari mereka ke tempat Anma menunggu.


" Setidaknya, tadi itu lumayan juga. " Anma memandang kedua tanganya sambil membuka dan menutup kan kepalan tangannya.


" Setidaknya masih ada beberapa mantra area yang ingin aku uji coba tadi. Tapi untuk desa ini, mantra tadi cukup lumayan. " Anma kembali bergumam.


Tidak lama setelah matahari mulai terbit, Liah membawa sekitar empat belas demi human dari lima puluh sembilan demi human yang ada di desa itu. Empat belas demi human itu terdiri dari seorang demi human dengan ras serigala, seorang demi human ras rubah, dua demi human dengan ras kadal, tiga demi human dengan ras kucing, dua demi human dengan ras banteng, seorang demi human dengan ras harimau, dua demi human bersaudara dengan ras oni dan ras kelinci.