
Di atas permukaan tanah yang gersang, terlihat banyak sekali bergelimpangan sosok yang telah kehilangan nyawanya. Pemandangan yang kini ia lihat sangatlah mengerikan.
Dihadapannya hanya terpandang sebuah tanah yang gersang dengan banyak kawah akibat sebuah pertempuran. Diantara kawah itu, ia melihat bekas bekas kekuatan yang luar biasa.
Ia mencoba berjalan melewati lautan tanpa nyawa itu dan mencoba tidak peduli akan apa yang ada di sekitarnya.
Ia berjalan dan terus berjalan. Yang ia lihat kini mulai berbeda. Lautan dari tubuh yang tidak bernyawa yang semula terlihat dangkal mulai terlihat mengerikan.
Yang ia lihat saat ini jauh lebih buruk dari sebelumnya. Disana terdapat tubuh dari berbagai monster raksaksa yang mulai tidak nampak bentuk aslinya. Di sekitar tubuh monster itu terdapat pula tubuh prajurit yang terlihat sangat mengenaskan.
Ada banyak tubuh yang tergeletak dengan berbagai macam posisi yang menunjukan sebuah tanda bahwa mereka terkena brutal dammage.
Melihat pemandangan yang mengerikan itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mencoba melupakan apa yang ia lihat sambil berjalan maju.
Setelah berjalan lebih jauh, ia melihat sebuah bangunan aneh yang berdiri tegak di atas tanah yang gersang itu.
Ketika semakin dekat dengan bangunan yang seperti menara itu, ia melihat lebih banyak tubuh tak bernyawa yang dari pada yang sebelumnya.
Di sana juga terdapat lebih banyak tubuh monster raksaksa yang hampir sama dengan yang sebelumnya serta genangan darah yang berisi berbagai macam bentuk aneh dari daging yang telah membusuk
Ia mencoba menahan bau amis yang terciun dari genangan darah yang ada di sana.
"Cpk cpk cpk" Suara dari langkah kakinya di atas genangan darah yang mulai membasi.
"Ya ampun. Apa yang telah terjadi di sini" Anma bergumam sambil menutup hidungnya agar tidak menium bau busuk dari berbagai macam tubuh yang tergeletak di sana
Ia terus berjalan maju sambil mendekati pintu yang di penuhi gunungan tubuh tak bernyawa yang terpenggal sesuatu.
Melihat satu satunya jalan yang tertutup, Ia memberanikan diri untuk memindahkan mereka.
Ia mulai mengangkat satu per satu tubuh yang menghalangi jalannya.
Sambil menahan bau busuk dari tubuh tubuh itu, ia terus memindahkan semua tubuh yang menghalangi.
Sesekali, ia mendapati sebuah tubuh yang tidak utuh dan membuatnya ingin mengeluarkan sisa makanan dari mulutnya.
Tidak hanya satu atau dua tubuh melainkan belasan tubuh.
Selain itu, adapula tubuh yang tiba tiba terputus dari bagian utama nya karena tubuh tubuh itu saling menumpuk tidak beraturan.
Saking banyaknya tubuh yang ia pindahkan, ia mulai merasa frustasi dan pada akhirnya ia berhasil memindahkan seluruh tubuh yang menghalangi jalan.
................
Dengan satu tangan yang tersisa darinya, ia mencoba menarik satu persatu tubuh itu tanpa peduli apa yang ia lihat.
Ia menarik dan memutuskan sesuatu dari tubuh yang ia pegang. Ia menendang nendang gumpalan aneh yang telah berceceran. Ia melemparkan sesuatu yang telihat kenyal dan tidak beraturan.
Ia terus melakukan hal yang sama hingga terbentuk sebuah goa dari gundukan tubuh tak bernyawa itu. Dengan sifatnya yang sama sekali tidak peduli jika sewaktu waktu gunungan tubuh tak bernyawa itu tiba tiba runtuh. ia justru mengabaikan nya dan terus berjalan hingga akhirnya ia sampai di sebuah ujung pintu dari bangunan aneh itu.
" Liah!! " Ia berteriak di depan tubuh Lilitiah yang mengalami fatal dammage di seluruh tubuh nya.
Hal yang lebih mengerikan lagi, senjata yang di gunakan untuk memberikan fatal dammage masih menyatu dengan tubuhnya yang tidak lagi bernyawa.
Ia menempelkan kepalanya ke kepala Liah yang sudah tidak bernyawa.
Ia menagis sambil sesekali menggelengkan kepalanya di dahi Liah.
Karena merasa bertanggung jawab terhadap tubuhnya yang dipenuhi oleh luka, Ia pun mencoba melepaskan setiap senjata yang masih menyatu dengan tubuh itu.
Tangisnya pecah ketika melihat tubuh Liah yang terlentang dipenuhi bekas fatal yang sangat mengerikan
Di saat setelah ia mulai membaik, ia mencoba menggunakan sihirnya untuk membuat sebuah lubang untuk menguburkan Liah, Namun, Ia harus kembali kecewa karena sadar bahwa sihirnya kini tidak berfungsi.
Merasa depresi pada dirinya sendiri ia pun menggali sebuah lubang untuk menguburkan tubuh Liah dengan satu tangannya.
Perlahan tapi pasti tanah yang ia gali perlahan mulai membesar dan mendalam. Merasa cukup atas lubang yang ia buat, ia pun menguburkan tubuh Liah yang penuh luka itu di lubang yang telah ia buat.
Setelah ia menguburkan tubuh milik Liah, Ia berjalan lebih dalam dari bangunan itu.
Semakin dalam ia berjalan, ia mulai melihat berbagai macam demi human yang terlihat asing yang kehilangan nyawa dengan berbagai posisi pertahanan dan dengan wajah yang hampir mirip dengan wajah dari Liah.
Ketika ia berjalan, ia mulai berfikir keras tentang apa yang terjadi sebelumnya. Ia pun akhirnya teringat tentang kampak buatannya yang seharusnya melindungi Liah.
Ia berfikir dan terus berfikir hingga ia sampai di sebuah tangga yang dipenuhi oleh banyak tubuh manusia.
Ia tetap memberanikan dirinya untuk terus berjalan maju dan melewati tubuh tubuh itu. Hingga pada akhirnya, pertanyaannya terjawab ketika ia melihat sebuah serpihan dari sebuah kampak darah yang telah hancur.
Ia berlari dan mengambil serpihan kampak itu dan mencoba mencari serpihan yang lain hingga akhirnya ia benar benar menemukan sebuah tubuh yang wanita dengan sebuah tangan yang memegang sebuah tongkat yang seharusnya itu adalah bagian dari kampak darah.
Sambil mengusap bagian tangan itu, ia terus menahan tangisnya sembari berfikir apa yang terjadi pada tubuh yang tidak lagi utuh itu
Ia kembali menangis karna mengingat kenangannya bersama Liah sambil memeluk tubuh itu
Perasaan yang ada pada dirinya hanyalah sebuah kesedihan.
Ia menangis cukup lama hingga akhirnya ia memutuskan untuk melakukan hal yang sama pada tubuh itu seperti tubuh sebelumnya dan mulai mencari keberadaan dari Flora.
Ia berlari di dalam bangunan itu. Berbagai tubuh demi human yang tergeletak di dalam bangunan itu terlihat tidak asing baginya. Namun karna takut akan kesedihan yang lebih mendalam, ia pun mengabaikan mereka dan terus belari mencari keberadaan dari Flora.
Berbagai bentuk retakkan dan lubang mulai terlihat lebih besar dan lebih luas ketika ia mulai mendekati puncak bangunan aneh itu.
Semakin ia berusaha mencari Flora, semakin banyak pula berbagai bentuk gumpalan aneh berceceran. Hingga akhirnya ia mencapai sebuah ruangan dimana tidak ada mayat di dalamnya.
Ia mencoba masuk ruangan itu sambil melihat sekeliling. Ruangan itu berbeda dari ruangan sebelumnya. Ruangan yang ia capai saat ini di penuhi oleh dinding dari rumput pemangsa.
Ia berjalan masuk dan menganati area sekitar hingga akhirnya ia menemukan sebuah pohon yang tumbuh di tengah ruangan itu.