
Anak anak demi human yang ada di dalam karafan saling berpelukan karna ketakutan atas apa yang dilakukan oleh Anma.
Ketika Anma mulai berjalan mendekat ke dinding kreta karafan, anak anak demi human mulai gaduh dan mencoba menjauh dengan cara memukul mukul pintu karafan dan sisi lain dari dinding karafan.
" Brakh.... " Anma membelah karafan menjadi dua bagian yang membuat anak anak demi human yang ada di dalamnya langsung jatuh ke tanah.
" Jika kalian lari, kalian mati. Jika kalian berteriak, kalian mati. Jadi tenanglah. " Anma berbicara dengan nada intimidasi
Anak anak demi human yang mendengarnya hanya terdiam dengan tubuh yang gemetaran sambil mencoba untuk tidak berteriak serta adapun dari mereka yang menahan tangisnya
"Hm..... " Anma menghembuskan nafasnya sambil mencari Sera, Nila, Nicol, Willa dan Wilna di antara anak anak demi human yang ketakutan.
Di dalam karafan berukuran sedang itu setidaknya ada tigapuluh anak anak demi human yang berasal dari berbagai ras.
Sebagian besar anak anak yang di tangkap adalah ras elf (peri hutan) dan sisanya adalah ras lizard, ras wolf, ras bunny, ras harppy dan beberapa ras insect
" Sera? Nila? Nicol? Willa? Willna? Apakah kalian ada di sini " Anma mencoba memastikan.
Merasa mengenali suara yang memanggil mereka, Sera pun langsung mengumpulkan keberaniannya untuk berdiri di saat anak anak demi human yang sedang menundukkan kepalanya karna ketakutan
" Akh.... Sera... Betapa senangnya aku melihatmu " Anma langsung mengelus kepala sera dengan tangan yang masih dipenuhi noda darah
" A..... A..... Apakah an....anda.... a... adalah.... Tn.... An....anma? " Sera bertanya untuk memastikan
" Ya..... Tentu saja ini aku.... Memang siapa lagi yang memiliki tangan alam seperti ini.... " Anma berkata sambil berjongkok untuk melihat wajah Sera.
" Oh iya, dimana Nila, Nico serta Willa dan Wilna " Anma berhenti mengusap kepala Sera.
" Me....mereka.. mereka ada di sana " Sera langsung menunjuk ke arah anak anak demi human yang sedang berpelukan sambil menutup matanya.
" Yos... Yos... Anak baik... Anak baik... Eater" Anma mengusap kembali kepala Sera dan setelahnya ia bangkit dan memasukkan Sera kedalam item box miliknya.
Melihat Sera tiba tiba lenyap di hadapan Anma, Anak anak demi human lain langsung menutup matanya dan berharap bahwa monster yang mengerikan segera pergi dari mereka
" Willa, Willna, Nila, Nicol... Jika kalian tidak mendekat kesini, tidak akan ada makan malam untuk kalian " Anma berkata di depan anak anak demi human itu.
Willa dan Willna mengingat kejadian dimana mereka sedang berada di rumah kayu sederhana.
Willa dan Willna akhirnya berpegangan tangan dan mendekat ke Anma.
" Apakah kalian ingin membantuku memasak? " Anma mencoba memancing ingatan mereka
Willa dan Wilna saling menatap dan setelahnya mengangguk senang
Ketika Anma akan menggunakan "Eater" Pada Willa dan Willna, Nila dan Nicol mulai mendekat dengan ketakutan
" Bagus, sekarang kalian mendekat. Seharusnya kalian lebih berani dari Sera.... Tapi... Tak apa.. Setidaknya kalian sudah memberanikan diri " Anma mengusap kepala Nila dan Nicol bergantian
" Eater " Anma memasukkan ke empat anak anak demi human itu kedalam item box nya.
" Nah sekarang urusanku disini sudah selesai.... " Anma mengusap kedua tangannya dan mulai berbalik dari hadapan anak anak demi human dari karafan
......................
" Ayah.....!? " Ketika Anma mulai melangkah untuk menjauh dari lokasi karafan yang hancur, Flora langsung bertanya.
" Apakah ayah tidak ingin menolong mereka? " Tanya Flora
" Em..... Sepertinya tidak... Lagi pula, apak keuntungannya jika menolong mereka " Anma menjawab dan mulai melangkah.
" Akh... Ayolah ayah... Mungkin di suatu hari nanti anak anak itu akan berguna bagi ayah.... " Flora memohon kepada Anma.
" Hm..... Tidak...." Anma menjawab Flora.
Ketika selesai menjawab pertanyaan dari Flora, sebuah ingatan mengenai perang besar kembali terlintas di pikiran Anma dan membuatnya goyah.
" Ayah.... Ayah kenapa? " Tanya Flora khawatir.
" Ah... Ayah tidak apa apa... Hanya sedikit kelelahan " Anma menjawab kekhawatiran Flora.
"Yah, kamu benar Flora. Mungkin di suatu hari nanti, mereka akan berguna.... Jadi untuk sekarang, Ayah akan menolong mereka" Anma menambahkan
" Hore..... Ayah memang baik.... " Flora memuji Anma
Anma kembali memutar arahnya ke arah anak anak demi human.
" Ehm...... " Anma bersiap untuk mengatakan sesuatu.
Ketika ia akan mengatakan sesuatu, ia melihat beberapa demi human kembali menunjukan ekspresi ketakutan.
"Flora... Sebaiknya kamu menggantikan ayah untuk mencoba mengajak mereka." Anma meminta Flora untuk mengajak anak anak demi human dari karavan.
" Ya, baiklah ayah... " Setelah Flora menjawab, Flora kembali berubah menjadi wujud aslinya di depan anak anak demi human itu.
" Untuk mau atau tidak maunya mereka di tolong adalah keputusan mereka sendiri dan kita harus menghargai keputusan mereka" Anma menambahkan.
" Baik ayah.... Flora juga akan menghargai keputusan mereka " Jawab Anma.
" Nah sekarang ayah akan duduk sedikit jauh dari kamu agar mereka merasa lebih baik " Anma berkata melalui telepati.
Anma berjalan menjauh dari Flora dan anak anak demi human dari karafan
" Yhuuuuup..... Huuuuuuuh...... " Anma menarik nafas panjang dan kemudian duduk di atas kereta karavan yang ia hancurkan.
" Mungkin akan lebih baik jika tadi menggunakan skill penakluk " Anma mengangkat tangan kirinya dan memandangnya sambil bergumam sendiri.
" Yosh... Eto... Hallo semuanya? " Flora menyapa anak anak demi human yang ketakutan
Anak anak demi human hanya diam dan beberapa dari mereka saling menatap karna bingung untuk menjawab pertanyaan Flora.
" Em.... Bagaimana kabar kalian? " Flora bertanya pada anak anak demi human.
" Krueuwuk.....Krueuwuk... Krueuwuk.. " Suara perut dari demi human menjawab pertanyaan Flora.
" Ah.... Eto.... Apakah kalian lapar? " Flora kembali bertanya
anak anak demi human merespon dengan anggukan kepala.
" Jika kalian lapar, ini untuk kalian " Flora menumbuhkan beberapa jenis buah dari tangannya dan di tawarkan kepada anak anak demi human
Ketika mereka akan mengambil buah buahan yang di berikan oleh Flora, mereka langsung lenyap di hadapan Flora.
" Ayah...... !!! Kemana ayah mengirim merek? " Tanya Flora sambil berjalan ke arah Anma dengan ekspresi marah.
" Maaf Flora, ayah baru ingat tentang Riz dan pasukannya serta Liah dan teman temannya. Dan untuk anak anak demi human, mereka sudah berada di tempat yang aman seperti Sera dan lainnya. " Anma menjelaskan.
" Padahal tadi Flora hampir mendapatkan kepercayaan mereka " Flora menyombongkan diri.
" Iya, iya. Ayah tadi juga melihatnya. Flora memang hebat " Anma memuji Flora
" Hehehem... " Flora tertawa bangga
" Ayo Flora, saatnya kita kembali ke rumah kayu. " Anma mengajak.
" Siap ayah. " Jawab Flora.
Flora kembali ke wujud tangan alam dan menyatu kembali dengan tubuh Anma. Setelah mereka bersatu, Anma kembali berlari menuju rumah kayu untuk menolong Riz dan juga pasukannya.
" Swugh...... " Anma berlari dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya.
Dengan kecepatan lari yang luar biasa itu, Anma sampai di rumah kayu.
Sesampainya disana ia melihat Liah sedang membantu Riz untuk mengurung pasukan Riz yang menjadi gila.
" Sreseeeeeeeeet..... " Anma sampai di dekat rumah kayu.
" Syukurlah kamu kembali Anma.... " Tidak lama setelah berkata seperti itu tubuh Liah tiba tiba goyah dan tumbang.
" Ya ampun.... Kamu terlalu memaksakan diri. " Anma menangkap Liah tepat sebelum ia jatuh menghantam tanah.
" Wall of Stone" Anma mengucap mantra pertahanan dinding batu untuk mengurung pasukan Riz.
" Ano... Anma.... Terima kasih karna telah membantuku... " Riz menundukan kepalanya.
" Dari saat awal bertemu sampai sekarang, sepertinya kamu belum berubah ya...? Riz " Anma menjawab Riz sambil mencoba membaringkan tubuh Liah yang lemas.
" Eh....? Kenapa seperti itu? Dari saat bertemu.... Bukankah saat ini aku sudah berubah? " Riz berhenti menundukkan kepalanya dan ikut duduk di samping Liah.
" Bukankah dulu aku ini sempat bilang kepadamu untuk menunda Terima kasih itu sampai aku selesai menolongmu " Anma mengangkat tangan alam dan setelahnya ia menyuruh Flora untuk kembali ke wujudnya semula.
" Ya.... Soal itu.... Ano.... " Riz tersipu disaat tangan alam Anma berubah menjadi sosok dewi alam.
Ketika Riz membalikkan wajahnya kembali ke hadapan Anma, ia terkejut melihat sosok dewi alam sedang duduk di samping Anma sambil memandangi tubuh sccubus yang telah membantu nya.
" Ano.... Anma, bolehkah aku bertanya siapa mereka dan mengapa kamu membela mereka? " Riz langsung bertanya secara spontan.
" Ya, tentu saja.... Tapi setelahnya, kamu harus menjelaskan apa yang terjadi setelah kita berpisah terakhir kali. " Anma membalikkan pertanyaan Riz.
" Ya tentu... " Jawab Riz
Anma memandang Liah, Flora dan teman teman demi human yang selalu bersamanya sembari menjelaskan siapa saja mereka dari awal pertemuan hingga sekarang ini dimulai dengan pertemuannya dengan Liah.
Di saat ia menjelaskan teman teman demi human Liah, ia ingat bahwa ia lupa mengeluarkan Sera, Willa, Willna, Nila dan Nicol serta anak anak demi human dari karafan.
" Sebentar ya Riz...... " Anma membuka portal item miliknya.
Setelah portal item di buka, Sera dan anak anak demi human di keluarkan dari portal item seolah mereka di teleportasi.
" Flora... Tolong urus mereka dulu ya... " Anma meminta Flora untuk mengurus anak anak demi human
" Baik ayah. Flora akan tunjukkan kehebatan Flora " Flora menjawab permintaan Anma dengan bangga.
" Selamat berusaha Flora " Anma menyemangati.
" Iya ayah... " Flora menjawab dengan senyuman.
Setelah Flora pergi untuk mengurus anak anak demi human, Anma kembali menjelasakan kepada Riz mengenai anak anak demi human yang baru saja di keluarkan.
" Sepertinya kehidupan mereka cukup berat ya.... Anma " Riz menunjukkan empatinya terhadap perjuangan para demi human sebelum bertemu Anma.
" Ya... Seperti itulah. Jadi bukankah wajar jika aku merasa sangat marah jika salah satu dari mereka harus kembali menghadapi dunia yang kejam ini. " Anma menjelaskan alasan kenapa ia sangat marah ketika pasukan Riz tiba tiba menyerang teman teman Liah.
" Nah, sekarang adalah giliranmu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu, seorang bernama Gabs dan market market apalah itu serta desa yang kemarin aku selamatkan. " Anma menanti penjelasan dari Riz.
" Bukankah tadi siang aku sudah mengatakan bahwa itu bukan kemaren. Tapi sepuluh tahun lalu... " Riz menegaskan kejadian penyerangan desanya.
" Ya.. Baiklah... Terserah kamu saja... " Anma menyerah untuk berdebat.
Riz pun mulai menjelaskan apa yang telah terjadi sepuluh tahun lalu di saat setelah Anma pergi menolong desanya.