Armageddon Maker

Armageddon Maker
Akhir dari mimpi yang membawa kebenaran



Melihat bahwa Anma telah menghancurkan musuhnya, Liah langsung berlari ke arah Anma.


" Tuan berlengan satu!! " Liah melompat seakan ingin memeluk Anma.


Karena Anma mengingat bahwa Liah selalu dengan memeluknya dengan erat dan membuatnya sesak, Anma pun menghindari pelukan itu dengan sengaja.


* Gasruuuuuuk * Kepala Liah masuk kedalam tanah karna Anma menghindari pelukannya.


Melihat Liah dalam posisi seperti itu, Anma hanya bisa menahan tawanya sambil membantunya berdiri.


" Tuan berlengan satu, kamu jahat. " Liah menunjukan ekspresi kesalnya kepada Anma.


Anma hanya bisa tersenyum.


" Tuan, tuan berlengan satu. Tuan apa kabar? " Liah membersihkan rambutnya yang penuh dangan tanah tadi.


" Aku dalam keadaan baik baik saja. Liah, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu baik baik saja? " tanya Anma sambil membantu Liah membersihkan kepalanya dari tanah.


" A....aku baik baik saja tuan. Untunglah tuan datang tepat waktu. Jikalau tidak, aku pasti sudah seperti orang yang di sana" Liah menjawab sabil menepukkan kedua tangannya lalu menunjuk ke arah wizard terbunuh dengan mengenaskan.


" Hahaha... Syukurlah kalau begitu. " Anma tertawa di hadapan Liah.


" Iya, tuan. Terima kasih atas bantuannya." Liah tersenyum.


" Liah, kenapa kamu bisa bertarung dengan mereka di sini? " Anma bertanya.


" Ano, ak....aku sedang berpatroli di sekitar sini. Namun ketika aku berpatroli, mereka datang dan langsung menyerang. " Liah menjelaskan.


" Kenapa kamu berpatroli? Apakah kamu sedang menjaga sesuatu di sekitar sini? " Anma memencari tahu.


" Iya, Tuan. Aku sedang menjaga sesuatu di sekitar sini. " Liah menjawab.


" Sesuatu apa yang kamu jaga itu?" Tanya Anma kembali.


" Ano, se...sebenarnya ini adalah sesuatu yang rahasia. Na...namun, karna tuan su...sudah ba...banyak membantuku. Aku akan memberi tahu tuan" Liah menjelaskan apa yang sedang ia lindungi.


Liah menceritakan bahwa di dalam hutan itu, terdapat sebuah desa demi human yang sedang di bangun. Desa itu adalah desa untuk para demi human yang memiliki tubuh tidak sempurna.


Pada awalnya, Liah membangun sebuah gubug kecil di dalam hutan yang di tinggalinya sendiri. Namun karena ada berita mengenai seorang yang berani menentang iblis iblis dengan tubuh sempurna, lama kelamaan gubug milik liah di datangi berbagai iblis dengan tubuh tidak sempurna untuk memintanya melindungi mereka.


Mereka yang datang kepada Liah awalnya hanya beberapa iblis yang tidak sempurna yang melarikan diri dari kota asalnya. Lama kelamaan, semakin banyak dari mereka yang datang dengan harapan Liah dapat melindungi mereka. Mereka yang datang kini adalah mantan budak yang kabur dari penjual budak setelah salah satu dari mereka membunuh si penjual budak saat melintas di area sekitar hutan. Karena gubug kecil itu tidak cukup untuk menampung mereka, mereka pun mengusulkan pembentukan sebuah desa untuk mereka yang tidak sempurna dengan Liah sebagai kepala desanya.


" Mereka yang datang meminta perlindungan ku merupakan anak anak remaja yang melarikan diri dari kota dengan mengorbankan kedua orang tuanya." Liah menjelaskan.


"Mengorbankan orang tuanya? Apa yang kamu magsud? " Anma bertanya.


"Sebagian besar orang tua mereka terbunuh sebelum mencapai gerbang kota. Karena mencoba lari dan menyelamatkan anak anak mereka agar mereka dapat hidup lebih baik. Namun dalam proses pelariannya hanya sedikit dari mereka yang berhasil lolos dan aku temukan di hutan sekitar sini. " Liah menundukkan kepalanya sambil mengusap air mata yang mulai menetes.


" Tapi, kenapa kamu sekarang berpatroli? Bagaimana dengan keadaan anak anak itu? " Anma bertanya.


" Mereka kini sudah dewasa dan beberapa dari mereka telah menjadi seorang petarung handal berkat pelatihan yang aku ajarkan. " Jelas Liah.


" Waaah, kamu melatih mereka? Kamu hebat Liah. "Anma memuji Liah.


"Tidak, aku tidak hebat. Justru tuanlah yang hebat. " Liah membalikan pujiannya kepada


.


"Kenapa kamu menganggapku hebat? " Anma bertanya.


" Ka....karena tuan, selalu menolongku di saat aku akan bertemu dengan kematianku. " Liah menjelaskan.


" Apa hubungannya dengan pelatiahmu itu? " Anma tertawa untuk sesaat.


" E..em i...i....itu berkat kampak yang diberikan oleh tuan" Liah menundukan wajahnya sambil menyembunyikan wajah merahnya.


" Syukurlah. Jika kampak itu memang bisa membantumu" Anma tersenyum dan mengusap kepala Liah.


" Ano, tuan. Apakah sekarang aku lebih kuat ? " Liah mulai memandang waja anma.


" Iya. Kamu jauh lebih kuat dari terakhir kali kita bertemu" Jawab Anma sambil memandangi langit.


" Ano, tuan. Bisakah, aku mendengar nama tuan?" Liah bertanya sambil penuh harap.


" Belum. Belum saatnya kamu mendengarkan namaku. Karna ini belum saatnya." Anma memandang ke arah Liah.


" Ta...tapi...tapi kenapa? tuan? kenapa masih belum boleh? Apakah karena aku belum memenuhi harapan dari tuan" Liah menunjukkan ekspresi jengkel dan memalingkan tubuhnya ke arah perbukitan di dekat ia dan Anma berdiri saat ini.


" Tidak. Hanya saja, aku belum bisa mengatakannya saat ini. Dan, kamu kini sudah memenuhi harapanku" Anma memegang pundak Liah yang sedang menghadap ke arah perbukitan.


Liah hanya terdiam.


" Terima kasih, karena kamu telah berhasil menjadi kuat. Untuk itu aku datang dan memenuhi janjiku padamu. Krena sekarang, aku sudah sampai di batasnya. Jadi, teruslah menjadi lebih kuat dari sekarang. Karena mulai dari sekarang, aku tidak akan bisa lagi menyelamatkanmu." Anma mengucapkan salam perpisahan.


Liah yang mendengar hal itu tersentak dan langsung membalikan tubuhnya ke arah Anma. Namun yang ia lihat kini hanyalah sebuah hutan dan bekas area pertempuran.


Liah terus memanggil Anma dengan sebutan " Tuan berlengan satu " sambil mencari carinya di sekitar area bekas pertempuran tadi.


......................


" A...a... Ayah " Flora langsung memeluk Anma yang kembali ke tempatnya berada.


" Iya, Flora. Terima kasih karena telah menjaga kami berdua. " Anma membalas pelukan Flora.


" Sama sama ayah. Terima kasih atas kerja kerasnya. " Flora tersenyum kepada Anma.


" Ayah, apakah Liah akan baik baik saja? " Flora bertanya.


"I ya. Liah baik baik saja. Kita tunggu sampai ia tersadar. " Anma menjawab.


" Baguslah kalau begitu. " Flora menjawab.


Mereka berdua terdiam dalam keheningan sambil menunggu Liah tersadar.


" Flora, apakah kamu mau kembali sekarang? " Anma bertanya pada Flora.


" Jika itu perintah ayah, Flora akan kembali. Tapi flora ingin bersama ayah lebih lama dengan wujud ini. " Flora menjawab.


" Ya sudah. Tidak apa apa. Ayo, kita duduk dulu. " Anma menyarankan.


" Baiklah ayah. " Flora menerima saran.


Mereka berdua akhirnya duduk bersebelahan. Sambil melihat pemandangan malam, mereka bercerita tentang banyak hal. Mulai dari ketika Flora kecil sampai saat saat terakhir sebelum Flora menghilang dahulu. Mereka larut dalam cerita itu hingga tanpa tersadar, mereka tertidur sambil saling menyederkan kepalanya


......................


" Anma... Anma... Anma... " Liah mencoba membangunkan Anma yang sedang tertidur di samping Flora.


" Ah... Em? apa? " Anma mencoba membuka kedua matanya.


Setelah beberapa kali berkedip, pengelihatannya mulai kembali.


" Oh.. Owahhm... Liah, sudah merasa baikan? " Anma menjawab sambil menguap dan menggaruk kepalanya.


" I... Iyah... " Liah mengangguk sambil mendekatkan diri ke tubuh Anma.


" Ano, Anma.... Ak..aku ingin me...memastikan satu hal" Liah bertanya kepada anma dengan ragu ragu.


" Iya..... Huwa.....hm.... apa ? Apa yang ingin kau tanyakan." Anma merenggangkan tubuhnya.


"An...ano apakah kamu.... kamu bisa membaca tulisan ini? " Liah menunjukkan sebuah parkmen sihir yang sangat lusuh kepada Anma.


" Hem? Sebentar.... Oh.... Ini... Hemm... Iya.... Ini.... Lalu... Hem.... Hem... Ini adalah sebuah pesan yang dulu aku tulis ketika aku selesai membuat kampakmu dulu. " Anma membaca tulisan dari parkmen itu dengan teliti dan menyimpulkan apa yang telah ia baca.


" Eh....?! Are......! " Liah terkejut pada kesimpulan Anma dan mulai menatap anma dengan tatapan terharu.


" Eh... Yah, itu. Ano..... " Anma terlihat bingung ketika ia akan menjelaskannya kepada Liah.


"Anma... ja...jadi, ka....kamu....kamu ad...adalah " Tuan berlengan satu". " Liah mulai menangis sambil memukul mukul tubuh Anma dengan keras.


" Hehehe, maaf ya Liah. Di waktu waktu itu, aku... aku tidak bisa mengatakan siapa namaku. " Anma menjawab dan mengusap kepala Liah seperti saat Liah menangis si waktu kecil.


" Kenapa... kenapa.... kamu tidak bersamaku di waktu itu lebih lama? " Liah terus memukul tubuh Anma sambil menangis.


"Maaf...maaf. Jika saat itu aku memberi tahumu, mungkin saat ini kita tidak bisa bertemu. " Anma menjawab sambil menggeser kan kepala Flora yang sedang terseder ke tubuhnya.


" Pa...pantas saja, waktu itu. Kampak ini seolah tertarik akan sesuatu." Liah menyatakan sebuah peristiwa.


Anma hanya melihat Liah sambil mencoba mengerti magsud dari waktu itu.


"Saat aku baru tersadar, kampak ini terus menarik tubuhku jauh kedalam hutan. Tanpa aku tahu apa yang terjadi, kampak ini tiba tiba menghadang sebuah tombak besar dan menghempaskannya ke langit. " Liah menjelaskan.


" Oh, yang itu. Memang sudah seharusnya. Kampak ini menolong pemiliknya. tapi mengenai tarikan itu, aku tidak menulisnya dalam kontrak. " Anma tersenyum.


" Kontrak? Kontrak apa itu? " Jawab Liah kebingungan.


" Sudahlah, lupakan saja. Itupun sudah sangat dulu ketika kamu masih hidup bersama ayahmu. " Anma mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


" Jika saat itu, memang sudah sangat lama. " Liah mengiyakan.


" Kalau begitu, berarti di saat bertarung dengan Wizp O Wizper. Kampak itu juga menarikmu kembali ya? " Anma bertanya kepada Liah.


Liah hanya menganggukan kedua kepalanya.


" Jika itu benar, maka maaf yah Liah. Telah menyeret mu kedalam medan pertempuran. n" Anma tersenyum ke arah Liah.


Liah hanya bisa meneteskan air matanya di samping tubuh Anma.


" Em...?! Liah? Liah sudah sembuh? " Flora terbangun karena tetesan dari air mata Liah.


Melihat Flora yang terbangun, Liah berusaha menghapus air matanya.


"Ayah, Liah kenapa ? " Flora bertanya karena merasa bingung melihat Liah yang sedang mencoba menyembunyikan kesedihannya.


"Liah cuma merasa terlalu senang. Ketika ia bisa mengingat tentang sesuatu yang baik di masa lalunya" Anma mengusap rambut Flora yang terbangun dan mencoba merapikannya.


"Jadi seperti itu. Ayah, Flora bisa kembali sekarang. Maaf jika tadi Flora bersikap egois ya ayah" Tanpa mendengar jawaban Anma, Flora pun kembali ke bentuk tangan alam seperti semula.


" Jadi, Liah. Apakah ada sesuatu hal lain yang ingin kamu katakan? " Tanya Anma sambil memandangi tangan alam dari tubuh Flora.


Liah menggelengkan kepalanya.


" Kalau begitu, Liah. Bolehkah aku menanyakan sesuatu? " Anma mulai mendekat ke tubuh Liah yang ada di sampingnya.


Liah mencoba menjauhi tubuh Anma yang mendekat.


"Lilitiah? bukankah ada sebuah desa yang menunggu kamu untuk kembali?" Anma memanggil nama asli Liah.


Mendengar kalimat itu Liah pun mendekat kembali ke Anma.