Armageddon Maker

Armageddon Maker
Demi human terpilih



*Slaps* Sebuah kilatan melesat ke arah desa itu dengan sangat cepat dan membuat sebuah lubang di tembok kayu itu.


* Jeeeeelllleeeeegeeeeeeerrrrr!!!* Suara dari petir yang menyambar itu membuat seluruh penduduk desa itu terbangun dari tidurnya dan mulai panik serta berlarian keluar dari rumah mereka karena menganggap ada serangan dari iblis bertubuh sempurna.


Anma hanya tertawa melihat reaksi mereka.


"Dasar tidak tahu di untung, berani sekali kalian menyalah gunakan kebaikan Liah." Anma bersiap melanjutkan serangannya.


Dengan tangan kanan yang masih diangkatnya ke udara, Anma kembali merapalkan sebuah mantra


"Poison!!! "


Sebuah awan beracun terbentuknya di atas tubuhnya lalu di arahkan ke arah desa itu. Dan setelahnya, Anma menarik tangan kanannya sembari merapalkan sebuah mantra


"Stom of Gravity".


Seluruh warga desa yang berlarian itu tehenti dengan posisi tengkurap akibat tarikan gravitasi yang sangat kuat.


Tidak berselang lama setelahnya, awan beracun mengepung seluruh desa itu hingga awan itu menghilang dengan sendirinya.


"Yosh. Emosiku memang sedang dalam puncaknya. Tapi karna Liah tidak ingin aku melukai mereka, setidaknya dengan ini mereka yang di pilih oleh Liah akan "hidup" dan sisanya akan di biarkan mati" Anma mengungkapkan isi hatinya dalam pikirannya sendiri kemudian tertawa lepas.


"Ano, Anma. Apakah mereka baik baik saja? " Liah bertanya dengan khawatir.


" Iyah, setidaknya mereka yang ada di luar rumah mungkin hanya memiliki luka ringan tapi jika mereka yang ada di dalam rumah, aku tidak bisa menjaminnya." Anma menjelaskan situasi yang terjadi.


"Kalau begitu, ayo kita kesana untuk memastikan mereka yang ada di dalam rumah" Liah berlari ke arah desa sambil menarik tubuh Anma dengan paksa.


"Jangan lakukan itu ayah. Nanti Liah bisa sedih lagi." Tolak Flora atas pemikiran Anma.


"Iya. Iya. Lagi pula, Ayah juga tidak melakukannya." Jelas Anma.


"Baguslah kalau begitu. Ayahku memang yang terbaik" Flora memuji Anma.


"Trimakasih Flora" Anma berterimakasih kepada Flora.


Setelah Liah dan Anma sampai di gerbang desa, Liah langsung menggunakan kampak darah untuk menebas pintu gerbang yang tertutup.


* Swugh.... * Kampak di ayunkan lalu di tebaskan.


"Tretektektek duaaaaaar" Kayu kayu yang semula akan berjatuhan langsung terbawa hembusan angin dari tebasan kampak darah.


"Baiklah Liah. Aku ingin, kamu membawa "Mereka yang layak" ke sini dan meninggalkan mereka yang kamu anggap "tidak pantas"." Kata Anma sembari mengusap kepala Liah


Mendengar perintah dari Anma, Liah langsung berlari ke arah warga desanya dan mulai membawa beberapa dari mereka ke tempat Anma menunggu.


"Setidaknya, tadi itu lumayan juga." Anma memandang kedua tanganya sambil membuka dan menutup kan kepalan tangannya.


"Setidaknya masih ada beberapa mantra area yang ingin aku uji coba tadi. Tapi untuk desa ini, mantra tadi cukup lumayan." Anma kembali bergumam.


Tidak lama setelah matahari mulai terbit, Liah membawa sekitar empat belas demi human dari lima puluh sembilan demi human yang ada di desa itu. Empat belas demi human itu terdiri dari seorang demi human dengan ras serigala, seorang demi human ras rubah, dua demi human dengan ras kadal, tiga demi human dengan ras kucing, dua demi human dengan ras banteng, seorang demi human dengan ras harimau, dua demi human bersaudara dengan ras oni dan ras kelinci.