Armageddon Maker

Armageddon Maker
Asal nama Anma



Ketika kesadarannya mulai kembali, Ia mulai berusaha untuk membuka kedua matanya. dan setelah kedua matanya terbuka, ia menyadari bahwa yang ia lihat saat ini adalah atap kayu yang tidak asing baginya.


dalam keheningan yang ia rasakan selama beberapa saat, ia tiba tiba berteriak karena mengingat pertempuran yang barusan ia hadapi dan mulai berteriak.


"Waaaaaaaa" Ia berteriak sangat keras tanpa mempedulikan siapapun di dekatnya.


Seorang wanita menghantamkan bagian tumpul kampak itu ke arah ia yang sedang berteriak.


"Tuan, Tolong jangan berisik" Nasihat seorang dengan suara yang lembut.


Ia terdiam sambil memegang bagian kepalanya yang sakit karna terbentur bagian dari kampak itu.


"Anu, kamu siapa?" Ia masih menundukan kepalanya sambil mengusap usap bagian kepalanya.


"Oh iya. Maaf sebelumnya telah membenturkan kampak ini kepada tuan. Perkenalkan namuku Lilitiah. Tapi anda bisa memanggilku Liah. " Liah mencoba melihat muka ia sambil mengajukan tangannya untuk berkabar tangan.


"Lilitiah? Nama yang bagus." Ia mulai memandang wajah Liah dan menanggapi dalam perkenalannya.


"Tuan, Terima kasih karna tadi telah menyelamatkanku." Liah tersenyum manis sambil menedekap erat kedua tangan ia ke arah dadanya.


"Se....seharusnya, ak...aku yang ber...berterima kasih ke...kepadamu Liah. " Ia menjawab dengan kalimat yang melantur


Liah terus mendekap kedua tangan milik ia.


"M, maaf Li....lliah, bisakah ka...kamu melepaskan de...dekapanmu ?" Ia merasa tidak enak pada dirinya sendiri.


"Seharusnya ini bisa lebih lama lagi. Tapi aku harus memintanya melepaskan tanganku. Perasaan lembut dan hangat ini, benar benar bisa membuatku kehilangan kendali" Ucap ia dalam hati.


"Eh, ah, em, maafkan saya tuan. Saya tidak bermaksud begitu. Tap...tapi tuan, saya benar benar berterima kasih pada tuan karna telah menolong saya." Liah berkata sambil menutupi mukannya karna sangat malu dilihat oleh ia.


"Pan...pantas saja, ka...kamu te...terlihat ti...tidak asing" Ia masih menjawabnya dengan kalimat yang terpotong potong.


"Sekali lagi terimakasih ya tuan" Liah memperlihatkan wajahnya kembali dan tersenyum gembira.


"Li...liah, apakah ta...tadi ka...kamu yang me...menolongku ? " Ia bertanya pada Liah


"Iya tuan. Tadi saya yang menolong tuan." Liah menjawabnya dengan senyuman manis.


"Wizp O Wizper?" Liah terlihat bingung.


"Iya. Makhluk yang tadi menyerangku dengan trisula raksaksa itu. " Ia menjelaskan kejadian yang ia alami.


"Maafkan saya tuan. Setelah saya menghalau tombak itu, tidak ada siapapun lagi selain tuan yang terbaring lemah. An...anu.... Em....m... Lupakan saja ya tuan." Liah menjelaskan sambil tersenyum dan kembali menutup mukanya kembali dengan tangannya.


"Dan apa? Liah? " Ia bertanya sambil mendekat ke arah tubuh Liah.


*Creeeewwwweeeeek* Suara perut yang kelaparan memecah percakapan di antara mereka.


Liah yang mendengar suara itu langsung paham bahwa seorang yang berada dihadapannya sedang merasa kelaparan


"Tuan, apakah tuan merasa lapar? " Liah bertanya pada ia.


"Em, i....iyah. " Ia menjawab pertanyaan Liah sambil memegang perutnya.


"Sama, saya juga. "Liah menjawab sambil menundukan kepalanya.


"Maaf Liah, bisakah kamu berhenti memangilku tuan? Itu terasa tidak nyaman bagiku. " Ia menegaskan kepada Liah.


"Iya, tuan. Eh..... Maaf..... Jika bukan tuan, saya harus memanggil anda siapa?" Liah menjawab.


"Em.... Yah... Ano.... Jika tidak salah namaku adalah Anesta Mirragh. Namun jika itu sulit untuk di panggil, kamu bisa memanggilku dengan panggilan Anma" Ia mengimprosisasi nama dalam status yang semula Armagedon dalam artian penghancur menjadi sebuah nama yang dari dulu ia pakai sebagai nama carakter miliknya.


"Baik tuan.... Eh....... Maaf...... Magsud saya Anma" Liah akhirnya berhenti memangil ia tuan dan sekarang panggilan ia berganti menjadi sebuah nama "Anma".


"Ano, maafkan saya Anma, barusan, kamu sedang apa? " Liah bertanya dengan wajah polosnya.


"Oh, maaf. Tadi aku sedang melihat layar status milikku." jawab Anma sembari memeriksa status miliknya.


" papan status itu apa? apakah itu dapat menjadi membuat makanan?" Liah mengatakan pendapatnya mengenai papan status.


" bukan itu, Liah. Papan status itu..... " Anma mulai menjelaskan apa itu layar status pada Liah yang tidak mengerti mengenai papan status.