
" Flora. Apakah kamu sudah merasa senang sekarang? " Anma bertanya pada Flora.
" Iya ayah. Flora sangat senang" Flora memperoleh erat pelukannya.
" Flora, bisakah kamu berubah kembali menjadi tangan kanan ayah? " Anma kembali bertanya pada Flora.
" Tapi tapi, ayah. Flora ingin bersama dengan ayah lebih lama lagi dengan tubuh ini" Flora menjawab sambil menunjukan ekspresi sedih.
" Jika Flora tidak ingin berubah, nanti ayah akan merasa kesakitan" Kata Liah sambil menunjukan tubuh Anma yang semula adalah bagian dari tangan kanannya.
Flora pun baru menyadari, bahwa bagian tangan kanan milik Anma telah menghilang dan memahami apa yang Liah magsudkan.
" Ayah, maafkan Flora. Pasti dari tadi ayah merasa kesakitan" Flora mempererat pelukannya sembari mencium pipi Anma.
" Ayah tidak apa apa. Selama Flora senang. Ayah juga senang. " Jawab Anma melantur.
Melihat Flora mencium Anma, tanpa sadar Liah menghancurkan buah terakhir miliknya yang akan di makan.
" Kamu tidak apa apa Liah? " Anma memandang wajah Liah.
" Em. Yah. Tidak apa apa" Liah memalingkan pandangannya dari Anma dan Flora.
" Kalau begitu. Terima kasih ya ayah atas semua kesenangan tadi. " Flora melepas pelukannya dan berterima kasih kepada Anma dan Liah.
Flora menundukkan kepalanya dan tidak lama cahaya terang kembali muncul menutupi tubuh Flora.
Cahaya itu kemudian terbang dan menempel ke arah bagian tangan milik Anma yang hilang. Setelah cahaya itu menghilang, Tangan akar kembali muncul sebagai ganti atas tangan kanan yang di korbankan.
Melihat Flora yang kembali ke bentuk sebuah tangan milik Anma. Liah langsung memeluk Anma dengan erat.
" L...li.liah, Kam...kamu membuatku. sesak nafas." Anma berusaha memberi tahu Liah bahwa ia terlalu erat memeluknya.
" Anma, bisakah kamu mengusap kepalaku? Seperti kamu mengusap Flora tadi? " Liah memohon kepada Anma.
" Ba...baik. Ta..tapi, longarkan dulu pelukanmu" Anma mencapai batasnya dan hampir pingsan.
Liah pun melonggarkan pelukannya dan Anma mengabulkan keinginan Liah.
" Ternyata damai sekali ketika kamu mengusap kepalaku Anma. " Liah tersenyum manis.
" Liah, tadi kamu iri kepada Flora kan? " Anma mengajukan pertanyaan
Liah hanya memalingkan wajahnya sambil tersenyum.
" Ayah, Ternyata Liah cukup pemalu ya? " Tanya Flora melalui telepati.
" Iya. Mungkin ia seperti itu" Jawab Anma.
" Ayah, bolehkah aku menggodanya? " Tanya Flora.
" Memang kamu mau melakukan apa? " Anma bertanya balik.
" Hehehe, Flora ingin memeluk Liah juga. " Jawab Flora.
" Baiklah, kamu boleh melakukan nya. Tapi, kamu jangan keterlaluan ya? Dia juga seorang yang berharga untuk ayah. " Anma menasehati Flora.
" Baik ayah, Flora janji. " Jawab Flora.
Ketika Anma sedang memeluk Liah dengan kedua tangannya, bagian tangan kanannya yang seperti akar mulai bercabang dan secara perlahan mengikat perut Liah.
Liah menganggap sesuatu yang bergerak itu adalah tangan kiri Anma yang mulai tergoda atas kemolekan tubuhnya.
" Anma, apa yang sedang kamu lakukan? " Liah bertanya pada Anma dengan wajah yang memerah.
" Em...... A...aku." Ketika Anma akan menjawab, tiba tiba Liah menjerit.
" Aakh.... Emmh..... An...anma, apa yang sedang kau lakukan" Liah mulai mendesah.
" Ya itu, ano " Anma menatap wajah Liah yang semakin memerah.
" Ano, ayah. Hehehe Flora sedang memegang bagian itunya Liah " Flora menjawab.
"E....... H? Ap apa yang sedang kamu lakukan? Cepat hentikan" Anma mulai meninggikan nada suaranya.
Tidak berselang lama, Liah mulai mendesah lebih keras sembari menunjukan ekspresi yang aneh.
" Hi....hiyaakh An....anma!!!!" Liah langsung mempererat pelukannya sembari menjerit atas sesuatu.
* Swups......!! * Sesuatu seperti ekor muncul dari belakang Liah.
" Ayah! ternyata yang tadi Flora pegang itu adalah ekor dari Liah." kata Flora dengan polosnya.
" Pantas saja tidak bisa di tarik." Flora menjelaskan kepada Anma lewat telepati.
" Ah, Iya. Flora, Ta...tadi juga ayah melihatnya " Jawab Anma.
Liah tertunduk lemas di pelukan Anma sembari mengibaskan ekornya.
Liah merasa malu akan hal yang telah terjadi hingga ia berharap bahwa Anma tidak melihat ekornya yang berkibas seperti saat ini.
" Ja...jadi, Li...liah. Se...sebenarnya ka...kamu ini apa? " Anma bertanya seolah kaget dengan ekor dari Liah.
" It....itu, mengingatkanku pa...pada se...sesuatu yang buruk. " Liah menjerit sambil memeluk tubuhnya sendiri karena ketakutan.
" Ano, Anma. Ap...apa yang ka...kamu ketahui tentang de...demi-human? " Liah mencoba bertanya kepada Anma mengenai demi human.
" Yang aku ketahui, Demi human adalah sebuah ras campuran antara manusia dengan iblis. "
" Bagi mereka yang di anggap sempurna akan memiliki tubuh yang serupa dengan iblis namun bagi mereka yang tidak sempurna akan serupa seperti manusia. Mereka yang sempurna selalu menganggap rendah Demi human yang tidak sempurna. Oleh karena itu tidak jarang dari mereka yang tidak sempurna dijadikan budak oleh sesama demi human. " Anma menjelaskan.
Dalam back story dari dasar game yang ia mainkan, ia sempat membaca bahwa game ini di sajikan dalam sebuah masa dimana ras manusia terus bermusuhan dengan ras iblis.
Oleh karena itu ia tidak bisa menjelaskan apa itu demi human pada Liah. namu ia justru menjelaskan pengertian tentang demi human menurut pemikirannya sendiri.
"An....anma, apa yang ak...akan ka...kamu lakukan ji...jika ak...aku seorang "Demi human" yang menjijikan." Liah berteriak kepada anma dan mulai meneteskan air matanya.
"Jika kamu adalah demi human, aku tidak mempermasalahkannya." Jawab Anma sambil perlahan mendekati Liah.
Liah hanya terdiam sambil berusaha menghapus air matanya.
"Liah, ke...kenapa kamu menganggap kamu itu seorang demi human serta menyebutkan bahwa dirimu itu menjijikan?" tanya Anma sambil mendekatkan diri ke tubuh Liah yang bersujud.
"An...anma, ap...apakah ka....kamu. mau menerima kenyataan bahwa ak...aku ini se...seorang demi human yang menjijihkan?." Tanya Liah di hadapan Anma.
"Tenanglah, Liah. Aku bisa menerima itu. Dan berhentilah menyebutkan bahwa kamu itu menjinihkan? " Jawab Anma sambil menghapus air mata dari Liah.
Melihat Anma yang mengusap air matanya, Liah langsung memegang kedua tangan itu dan mencoba untuk berbicara.
"Anu, A....ayah. Ap...apakah Li...liah menangis Ka....karna Flo.....fora?" Tanya Flora melalui telepati.
"Tidak. Buka karna kamu Flora. Tapi karena hal lainnya." Anma menjawab Flora yang merasa bersalah.
Setelah merasa baikan, Anma dan Liah berbicara tentang beberapa hal.
"An...Anma, se...sebenarnya, ak...aku ingin menceritakan sesuatu tentang diriku. Bisakah kamu berjanji kepadaku? " Liah menatap Anma dengan serius.
"Aku akan berjanji." Anma mengusap air mata Liah dengan kedua tangannya.
"Kamu harus berjanji. Ba...bahwa kamu ak...akan se...selalu be....bersamaku ap....apapun yang terjadi. " Liah memegang kedua tangan Anma sambil mengusapkannya ke arah wajahnya.
"Aku berjanji. " Aku akan selalu ada bersamamu. Apapun yang terjadi"." Anma mempererat gengaman tangannya.
"A...ayah, apakah Flora juga harus ikut berjanji? " Flora bertanya pada Anma lewat telepati.
" Kamu tidak perlu ikut berjanji. Lagi pula, Liah tidak mengetahui apapun mengenai kamu yang masih bisa berbagi kesadaran dengan ayah walaupun dalam bentuk tangan akar. " Anma menjelaskan.
Setelah merasa siap, Liah pun mulai bercerita mengenai sebuah kebenaran tentang dirinya.