
Melihat pohon di tengah ruangan itu, ia memberanikan diri untuk mendekatinya. Di saat Ia berada di dekat pohon itu, ia mulai mengamati pohon itu dengan seksama.
Akar pohon itu menancap di atas lantai bangunan aneh itu. Bagian batang pohonnya menjulang tinggi sampai menempel bagian atas bangunan.
Dahan dan rantingnya membentang dan merambat ke atas atap bangunan itu.
Ia mencoba lebih mengamati pohon itu lebih teliti lagi hingga akhirnya ia tersadar bahwa di batang pohon utama pohon itu, ia melihat sebuah wajah yang terukir disana.
Ia memeluk pohon itu dan menangis tepat di depan ukiran wajah itu.
"Ayah, Flora senang karna ayah selamat" Suara Flora tiba tiba terdengar di kepala Anma.
"Flora?! Apakah ini benar benar kamu? Jawablah" Anma membalas suara Flora.
"Iya ayah. Ini Flora. Flora sangat senang melihat ayah ada di sini" Flora menjawab.
"Tapi Flora... dimana kamu sekarang?" Ia berteriak sambil melihat ke segala arah untuk mencari keberadaan Flora.
"Flora di sini ayah. Dulu kan ayah pernah bilang jika Flora selalu menjadi tangan ayah. Oleh karenanya, Flora sangat senang ketika ayah bisa selamat" Jawab Flora.
"Apa yang kamu magsudkan? Apa hubungannya antara tangan kanan ayah dengan keselamatan ayah saat ini Flora? Jawablah?! " Ia masih mencari keberadaan Flora.
"Hihihihi... Ayah benar benar sudah mengorbankan ingatan ayah yah ? " Flora tertawa dengan suara yang terdengar edih.
" Jadi sekarang, Flora bisa beristirahat dengan tenang" Tambah Flora seakan mengucap salam perpisahan
Ketika ia akan bertanya kembali, Pohon yang ada di belakangnya tiba tiba mulai bersinar dan perlahan menghilang.
"Ayah, semoga ayah tetap menjadi baik selamanya" Ucap terakhir Flora bersamaan dengan hilangnya seluruh dinding rumput pemangsa.
Ia mencoba memeluk pohon itu sebelum menghilang. Namun ketika ia akan memeluk nya, pohon itu telah hilang sepenuhnya.
" Flora!!! " ia kembali menangis akibat sebuah perpisahan yang tidak ia harapkan.
dalam kesedihannya, ia mencoba mencari benih, dahan, ranting atau apapun yang berkaitan dengan tempat Flora yang telah menghilang.
......................
Dalam kesedihan yang begitu mendalam, secara perlahan ia mulai melihat sesuatu yang bersinar dari tempat dimana Flora menumbuhkan rumput pemangsa.
Merasa penasaran akan benda yang bersinar itu, ia kembali melangkah mendekati sesuatu yang bersinar itu yang ternyata terdapat seorang yang tersegel dalam sebuah batu misterius yang di rantai.
"Hey, kamu. Ternyata kamu memang hebat" Suara dari sosok yang terikat rantai.
"Ano, kamu siapa? Lalu apa yang telah terjadi" Tanya Ia kepada sesuatu yang terikat itu.
"Kamu benar benar melupakan diriku ya? " Jawab sesuatu yang terikat itu.
"Maaf, sebenarnya kamu itu siapa? Lalu apa yang terjadi di sini sebelumnya? " Tanya anma kepada sesuatu yang terikat itu untuk yang kedua kalinya.
"Hahahaha.... Jika kamu ingin mengetahui nya, peganglah aku" Jawab sesuatu yang terikat itu.
"Tapi, aku tidak berani memegangmu. Karna aku merasakan sesuatu yang buruk pada dirimu" Jawab ia yang merasa takut atas sebuah masa lalu yang mungkin akan membuat hatinya terluka.
" Sudah ku duga ini sebelumnya. Tapi tetap saja aku terkejut dengan jawaban mu itu. " sosok yang di rantai itu tertawa sesaat atas reaksi Anma.
" Tenanglah. Tidak apa apa. Aku tidak akan menyakitimu." Jawab sosok itu sembari meyakinkan Anma.
"Apakah kamu yakin" Ia merasa ragu kepada kata kata dari sosok yang terikat itu.
"Iya. Aku yakin. Kamu tidak akan merasakan apapun" Jawab sosok yang terikat itu.
"Baiklah. Aku akan menyentuhmu" Ia kemudian menyentuh sosok yang terikat itu.
......................
"Waaaaa.....!!!! " Ia berteriak kesakitan
Dalam rasa sakit itu, ia melihat berbagai macam ingatan yang tiba tiba masuk kedalam ingatannya.
Pandangannya mulai berputar seakan ia dikirim ke sebuah tempat di sebuah masa.
Samar samar ia melihat kembali sosok Flora yang berlari keluar dari sebuah bangunan.
Setelah Flora berlari dan tidak terlihat, tiba tiba sebuah ledakan cahaya muncul dari arah ruangan yang Flora tuju.
* Splash * Cahaya bersinar sangat terang.
* Dzung...... Dzung..... Dzung... * Ruangan yang ia tempati berguncang sangat hebat hingga menimbulkan banyak retakkan di dinding.
Bersamaan dengan guncangan yang hebat tadi, sebuah tembok rumput pemangsa mulai merambat dan menutup ruangan tempat Flora berada.
" sebenarnya apa yang terjadi " pikirnya ketika melihat sesuatu yang nampak nyata baginya.
Setelah getaran itu berhenti ia berlari dan mencoba untuk membuka tembok itu namun usahanya sia sia.
Akibat dari kecerobohannya, ia terkena cukup banyak racun dari rumput pemangsa dan akhirnya jatuh pingsan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
......................
Ketika ia kembali tersadar, ia kembali melihat sesuatu secara buram di depanya.
"Ayah, Ibu, Bibi Flora. Cepatlah masuk dan berlindung. Aku akan mencegah mereka dengan kekuatanku" Seorang remaja putri berteriak ke arahnya.
"Baiklah. -nama seorang - , kami serahkan ini kepadamu. Semoga kamu dilindungi oleh senjata buatan ayahmu" Liah berkata kepada remaja putri itu dan mulai mengangkat kampak milik Liah.
Ia yang pandangannya masih buram hanya bisa merasakan bahwa ada dua orang yang sedang menyeretnya memasuki sebuah ruangan.
Secara samar samar, ia memandang wajah mereka berdua.
Ia merasa senang karena yang ia lihat sosok yang sangat mirip dengan Liah dan Flora.
"Ayah, bertahanlah. Kami pasti akan melindungimu" Flora berteriak sambil berusaha keras menarik tubuh Anma ke suatu tempat.
"Bertahanlah -nama seorang - . Sebentar lagi, kamu pasti akan di sembuhkan oleh Youland" Liah menambahkan uncapan dari Flora.
Pandangan ia kembali memburam dan kembali gelap.
......................
"Aaaaaaaaaah......!!" Ia kembali berteriak kesakitan.
Saat ini ia melihat tubuhnya yang sedang di sembuhkan oleh seorang demi human ras rubah.
"Tenanglah Tuan. Kami akan berusaha menyembuhkan Tuan" Demi human itu menyarankan kepada Anma untuk lebih tenang.
Ia kembali berteriak sambil memandang area sekitarnya.
Yang ia lihat kini adalah sebuah ruangan yang sangat asing baginya.
Ketika ia sedang mengamati ruangan itu, ia melihat ke arah cermin yang menghadap ke arahnya.
Ia terkejut karena tubuhnya tidak seperti semula melainkan sebuah tubuh berwarna hitam legam dengan sebuah tanduk api yang menyala serta tubuh kekar yang di penuhi dengan ribuan luka dari benda benda yang tajam.
Ia terdiam sambil mencoba menahan rasa sakit dari sebuah ritual penyembuhan. Namun ia mendengar berbagai suara aneh yang berasal dari luar ruangan yang ia pakai saat ini.
* Buuuuuum.....!! Buuuuuummmm!! Buuuumm!!* Suara pertempuran hebat terdengar dari balik pintu ruangan.
"Dasar manusia tidak tahu di untung!! Menyingkir !!! Menyingkir !! Menyingkirlah kalian semua!!!! " Suara Liah terdengar sangat keras.
Ia ingin sekali melihat apa yang terjadi namun ia tidak bisa menggerakkan seluruh anggota badannya.
Satu satunya yang bisa ia gerakkan saat ini hanyalah kepalanya.
Ketika ia mencoba untuk menarik tubuhnya secara paksa, Flora memeluk kepalanya.
"Ayah... Tenanglah... Kami akan berusaha melindungi ayah.... " Liah berkata sambil meneteskan air matanya.
"Waaaaaaa!!! " Ia berteriak sangat keras dan kemudian kehilangan kesadarannya akibat dari rasa sakit yang tidak tertahankan.
Ia yang semula melihat kegelapan kini kembali melihat sebuah pemandangan yang mengerikan.
Tepat di hadapannya sedang terjadi peperangan antara manusia, iblis dan juga demi human.