Armageddon Maker

Armageddon Maker
Petunjuk yang di samarkan



Sesampainya Anma di tempat tidurnya, ia langsung menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur yang terbuat dari potongan dahan dan ranting pohon beralaskan dedaunan dan rerumputan.


" Brak... " Tempat tidur itu ambruk disaat Anma mendarat di atasnya.


Merasa bahwa seluruh staminanya telah takberisa, ia hanya mengabaikan apa yang telah terjadi dan tertidur dengan lelap.


Dalam tidurnya ia merasa ada sesuatu yang hangat sedang menyentuhnya. Bukan hanya hangat namun sesuatu yang menyentuhnya itu sangat lembut dan terasa sangat kenyal.


Merasa kehangatan itu mulai menutupi seluruh tubuhnya, ia pun terbangun dari tidurnya.


" E......? Apa yang kalian lakukan di sini? " Anma langsung terkejut ketika melihat ada sekitar lima belas demi human ras elf sedang berada di kamarnya.


Mendengar sebuah keributan dari kamar Anma, Flora dan Liah langsung membuka pintu kamar itu dan mereka sangat terkejut melihat bahwa seluruh anak anak demi human dari karafan dengan ras elf sedang berada di kamar Anma.


" Anma...!!! Apa yang ayah lakukan?!!! " Liah langsung berteriak dan mulai memukuli Anma.


Ketika Liah sibuk memukuli Anma, Flora justru terduduk lemas seolah tidak percaya tentang apa yang terjadi.


Anma yang sedang dalam kondisi setengah sadar, langsung mencekik Liah dan menatap matanya dengan tajam serta mengeluarkan sebuah aura yang sama ketika Anma berhadapan dengan Gabs.


Merasa bahwa itu sebuah ancaman, Flora langsung mengambil alih tubuh Anma dan berusaha menyadarkannya kembali.


" Ayah....!!!! Sudah cukup ayah..!!! Jika di teruskan !!! Nanti ayah bisa membunuh Liah!!! " Flora berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangan kiri Anma yang mencekik Liah menggunakan tangan alam miliknya yang telah menyatu dengan Anma.


" Ayah sadarlah!!!! " Setelah Flora berteriak sangat keras melalui telepati, Anma pun kembali tersadar dan langsung melepaskan Liah.


" Gehk... Gehk... Gehk... " Liah terbatuk batuk dengan mengeluarkan sejumlah darah dari batuknya itu.


" Ya ampun Liah, maafkan aku... Healling" Anma meminta maaf kepada Liah sembari memberikan sihir penyembuhan.


" Ayah...!!! " Flora langsung mengikatkan tangan alamnya ke tubuh Anma dan mengikatnya dengan erat seolah tubuh Flora dalam wujud aslinya sedang memeluknya dengan erat.


" Ayah...!!! Kenapa ayah bisa berubah sangat kejam seperti tadi? Sampai sampai ayah hampir membunuh Liah!!! " Flora menangis dalam bentuk lengan alam.


Anma tidak bisa menjawab apapun dan justru memeluk Liah dengan erat bersamaan dengan terikatnya Anma dengan lengan alam milik Flora.


Kelima belas elf yang sedang berada di dalam kamar itu pun hanya bisa terduduk lemas setelah menerima energi negatif dari kemarahan Anma yang setengah sadar. Setelah sebuah keheningan cukup lama terjadi, Anma muali bertanya apa yang terjadi.


" Flora, Liah... Sebenarnya apa yang telah terjadi? " Anma bertanya kepada Flora yang sedang memangku Liah yang terbaring lemas.


" Seharusnya, Flora yang bertanya tentang hal itu kepada ayah " Flora menjawab sambil mengusap air mata yang masih menetes dari matanya.


" A....a...ayah sungguh tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi " Anma menempelkan tangan kirinya ke kepala Flora lalu menariknya untuk menenderkan kepala Flora ke dadanya agar berhenti menangis.


Karena Flora tidak berhenti menangis, Anma memutuskan untuk menggunakan sihir sleep untuk menidurkan Flora. Sempat merasa khawatir mengenai apa yang telah ia lakukan kepada Liah, Anma kembali menggunakan sihir healling agar Liah bisa lebih baik.


Setelah yakin bahwa Flora dan Liah akan baik baik saja, Anma mulai mendekat ke arah para elf yang sedang terkena efek kaku dari aura yang mengerikan tadi.


" Positif Aura " Anma merapal mantranya dan menyentuh kepala seorang elf yang terlihat lebih dewasa dari yang lainnya.


" Akh... Akh... Akh... Akh... " Elf itu bernafas dengan tergesa-gesa.


" Tuan, aku mohon, jangan sakiti kami... " Elf itu langsung bersujud di depan Anma dengan tubuh yang masih berbusana kain lusuh yang di ikat dengan longgar.


Namun elf itu hanya mengulang kalimat yang sama dengan sebelumnya serta posisi tubuh yang sama.


" Hey, sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan. " Anma mengambil tindakan dengan mengubah posisi elf itu yang semula bersujud ke posisi duduk dan setelahnya ia memeluk nya.


" Kya....ha....ha....ha....! " Elf itu menangis dalam pelukan Anma den setelahnya elf itu memanggil manggil ibu berulang ulang.


Disaat elf itu menangis, Anma menggunakan sihir yang sama seperti sihir yang pernah ia lakukan kepada Liah. Namun karena di masa lalu elf itu tidak bertemu dengan Anma di waktu itu, Anma tidak dapat merubah ingatan itu dan berakhir dengan melihat sebuah kenangan pahit yang di alami oleh elf itu.


Anma yang melihat hal tadi membuatnya menerima beberapa serangan mental dan membuatnya tersadar kembali bahwa dunia yang saat ini ia hidup bukanlah dunia game yang ia kenal dulu. Walaupun nama kota kota utama masih tetap ada, namun beberapa desa dan kota kota kecil yang tidak termasuk dalam peta justru terus berubah nama dan berubah tempat.


" Hemph......" Anma menghembuskan nafasnya disaat elf itu menangis.


" Yosh.... Yosh.... Sudahlah berhentilah menangis... Saat ini kamu sudah aman " Anma mengusap kepala elf itu dan mencoba menghiburnya.


Elf itu mulai berhenti menangis dan berusaha menghapus bekas air matanya.


Dari apa yang anma lihat dari kejadian tadi, Anma pun mulai mengerti tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.


Elf yang lebih dewasa tadi hanya dipengaruhi sebuah sihir yang yang tidak dapat ia lawan. Sihir itu membuat dirinya bergerak tanpa sadar dan membuat jiwa dari elf itu sendiri terluka.


" Sekarang ini, kamu sudah bebas dari sihir yang selalu membuatmu menderita. Jadi sekarang, kamu sudah bisa hidup bebas. " Anma mendahului elf ketika ia akan berbicara.


" Ano.... Tuan.... " Elf itu berusaha bertanya suatu hal.


" Kamu tidak perlu melanjutkan niatmu untuk melayani ku. Aku tidak mau kamu melakukan itu. Yang saat ini aku inginkan hanyalah tidur. Jadi kamu bisa berbicara denganku kembali besok. " Anma menutup mulut elf itu dengan sebuah jari telunjuk yang ia tempelkan ke mulut elf itu ketika ia akan berbicara.


" Tapi... Dewi Fortun bilang... bahwa tuan adalah sosok yang akan membawa kami pada perubahan... " gumamnya Lirih.


" iya..... aku sudah mihat semua masa itu " Jawab Anma yang berfikir bahwa elf itu mengatakan masa dimana ia mengikuti sebuah sekte yang memuja dewi.


Elf itu merespon dengan menganggukkan kepalanya dengan wajah yang lebih ceria.


Ketika elf itu tersadar bahwa elf yang lain masih belum bisa bergerak, elf itu memandang Anma seolah berkata bahwa elf itu ingin teman temannya di kembalikan seperti semula.


Paham atas apa yang elf itu inginkan, Anma langsung memberikan positif aura ke empat belas elf yang terkena negatif aura tadi. Setelah elf yang lain kembali tersadar dengan kondisi yang sama seperti disaat elf dewasa tadi tersadar.


Namun karena elf dewasa mengintruksikan bahwa mereka harus pergi, pada akhirnya elf elf yang lebih muda mulai menurut dan mengikuti elf dewasa tadi.


Seperginya seluruh elf tadi, Anma yang masih dalam kondisi terjaga mulai memikirkan tentang ketahanan tubuhnya yang mulai menyatu dengan karakter yang ia gunakan dalam game.


Ia juga sempat berfikir mengenai ketahanan lain mulai dari efek lapar, efek mengantuk, dan berbagai efek lain yang semula tidak pernah ia rasakan dalam game. Dari semua hal tadi, ia memikirkan tentang kejadian saat ia kehilangan kendali.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya, ia kembali membuka papan status miliknya untuk mengetahui apa yang berbeda. Namun setelah ia membuka seluruh skill, magic, titel, dan pasif skill lainnya tidak ada yang aneh. Karna ia masih merasa penasaran ia kembali mengulang kembali apa yang ia lakukan sebelumnya.



...-ilustrasi yang tertera merupakan stats dalam game yang telah dimainkan-...


Hingga di saat ia membuka papan status untuk ke sepuluh kalinya, ia baru menyadari satu hal. Sebuah icon pada papan status miliknya yang semula berlambang pedang di depan perisai yang di ikat silang oleh dua rantai dan di lingkari oleh ukiran ukiran berbentuk naga kini mulai berubah menjadi sebuah lingkaran dengan cabang matahari yang ditengahnya berbentuk bulan sabit.


Merasa bahwa sumber masalah itu di temukan, Anma meulai mencoba menekan ikon status itu. Dan di saat setelah ia menekan papan status itu, layar yang selama ini ia lihat mulai retak dan pada akhirnya layar itu hancur sepenuhnya dan membuat Anma tidak sadarkan diri