Armageddon Maker

Armageddon Maker
System dunia yang saling bergesekan Arc III



Anma melihat seluruh demi human yang ada disana meributkan hasrat mereka yang ingin masuk dalam Dungeon Zean serta ia sesekali menatap ke arah Party Gellen yang sedang di brondong pertanyaan tentang alasan mereka masuk kedalam dungeon dan apa isi dari dungeon itu.


Merasa bahwa mereka dapat mengatasi masalah nya sendiri, Anma mengajak Flora dan Liah masuk ke rumah kayu untuk membicarakan beberapa hal sambil menunggu mereka selesai berdebat.


" Flora, Liah. Ayo tinggalkan saja mereka seperti ini. Aku yakin mereka bisa menemukan sebuah jawaban dari keributan ini. " Anma berkata kepada Flora dan Liah melalui telepati.


" Baik ayah, Flora akan pergi bersama ayah " Flora menjawab.


" Yah, jika kamu yakin mengenai mereka.... Ya sudah, aku akan membiarkan mereka " Liah sempat berfikir beberapa saat dan setelahnya mulai berjalan mengikuti Flora dan Anma.


Anma, Flora dan Liah masuk kedalam rumah kayu dan membahas hal mengenai pelatihan yang akan di jalani oleh mereka.


" Lalu, bagaimana dengan lokasi pelatihan mereka? " Liah bertanya


" Mereka akan langsung berlatih secara nyata di dalam sana " Anma menjawab.


" Tapi ayah, bukankan terlalu berlebihan jika mereka berlatih di dalam sana? " Flora menyanggah jawaban Anma.


" Ya, Flora benar Anma. Bukankah terlalu ber resiko jika seperti itu? " Liah menambahkan.


" Yah, mau bagaimana lagi? Jika kita berlatih di sini, mungkin akan ada beberapa monster yang bisa punah dan merusak area hutan ini. " Anma memberikan masukan lain.


" Mengenai itu, bukankah Flora juga bisa memperbaiki area hutan yang telah rusak " Liah menyanggah


" Flora setuju dengan Liah ayah. Tapi..... Masalah pada monster yang akan punah itu, Flora tidak bisa memperbaikinya. " Flora memberi kritikan.


Mereka bertiga terus berdiskusi sampai sesuatu membuat mereka terhenti.


......................


" Gbrag...!!!" Suara seseorang membanting pintu rumah kayu.


"Tn Anma.... Tolong kami.... " Gellen berlari ke arah Anma yang sedang berdiskusi bersama Liah dan Flora


" Ada apa Gellen? " Anma langsung menjawab


" Maaf..... Tolong maafkan aku Tn Anma. Ak.... aku tidak tahu jika Tn dan kepala desa sedang sibuk. " Gellen langsung bersujud memohon pengampunan


" Yah, tidak apa. Mengenai pembahasan yang kita lakukan, sebaiknya kita mengikuti kemauan dari masing masing demi human saja. Bagaimana Flora? Liah? " Anma menjawab Gellen dan setelahnya ia berdiri dari tempatnya duduk


" Apapun keputusan ayah, Flora pasti akan setuju " Jawab Flora.


" Mungkin itu patut di coba Anma. Lagi pula juga mereka mungkin memiliki sebuah usulan yang diluar prediksi kita " Jawab Liah.


" Yosh... Keputusan telah di ambil. Saatnya menuju eksekusi. " Anma menjawab sambil mengangkat tinjunya ke udara.


Gellen yang tidak tahu apa apa mulai ketakutan ketika ia mendengar Anma berbicara dengan keras dan setelahnya mengepalkan tinjunya ke udara.


"Aku ingin hidup.... Aku... ingin.... hidup... " Kata Gellen di dalam hatinya.


" Gellen? Kamu tidak apa apa? " Anma memegang pundak Gellen untuk bertanya.


" A.........!!?? " Gellen berteriak sepontan.


" Eh?! Tenanglah. Kami tidak akan melukaimu. Jadi, coba jelaskan kenapa kamu tiba tiba masuk ke sini? " Anma mencoba menenangkan Gellen.


"Yah itu... Ano.... " Gellen menjelaskan apa yang terjadi diluar sana.


" M..... Seperti itu.... Yosh, Flora, Liah. Aku akan keluar dan bantu Gellen menangani masalah ini. Jika sesuatu semakin memburuk, lindungi teman teman kita dengan sihir pertahanan. " Anma menerima permohonan dari Gellen dan mengajak Flora dan Liah untuk ikut membantu.


......................


" Gebrag!! " Anma menendang pintu rumah kayu dan membuatnya terbang jauh dan menghantam beberapa pohon hingga tumbang.


Suara hantaman tadi membuat demi human yang sedang ribut berhenti dan memandang ke arah Anma.


" Gletuk gletuk gletuk " Suara dari Anma yang mengepalkan tinjunya.


" Hey, kalian... Ada masalah apa di sini? " Tanya Anma kepada pasukan berbaju besi.


" Hemph... Cuma Glandangan " Salah seorang prajurit menghina Anma


" Swug...... Crats " Anma langsung melesatkan serangannya ke arah prajurit yang menghinanya.


Prajurit yang menghina Anma langsung tewas karna akar alam dari Flora menyerangnya dengan serangan fatal dammage.


Melihat Anma melesatkan serangannya, seluruh demi human langsung berlari ke belakang Anma.


" Aku bilang... Ada masalah apa di sini!! " Anma kembali berkata sambil menghentakkan kakinya ke tanah yang ia pijak dan membuatnya retak.


Melihat apa yang Anma lakukan, salah seorang prajurit berkuda datang mendekat ke arah Anma.


" Anma....? Apa yang kamu lakukan disini? " Prajurit itu bertanya kepada Anma.


" Apa kita pernah bertemu? " Tanya Anma kepada Prajurit itu.


" Ah, iya, maaf. " Prajurit berkuda itu turun dari kudanya dan setelahnya ia melepaskan bagian kepala dari baju besi yang ia pakai.


" Wahlah.... Ternyata Riz... " Anma terkejut karna Riz datang berkunjung


" Akhirnya, kamu sadar juga Anma " Riz tersenyum kepada Anma


" Lalu, ada apa kamu kemari? " Tanya Anma kepada Riz


" Yah, itu... Kami sedang berpatroli di sekitar sini. Lalu kami melihat beberapa demi human sedang membuat keributan dan setelahnya kami datang untuk menyerang " Riz menjelaskan


" Eh....? Tunggu sebentar.... Demi human membuat keributan.... Berpatroli.... Datang untuk menyerang.... Apa kamu bercanda? " Tanya Anma sambil mencoba memahami sebuah situasi.


" Tidak Anma. Seperti yang kamu lihat, kami disini sedang tidak bercanda. " Riz menjawab


" Apakah mereka pasukanmu? " Anma mencoba menggali informasi


" Ya, Anma... Mereka adalah anak buahku dan di antara mereka juga merupakan anak anak yang kamu selamatkan dari bencana penyerangan sepuluh tahun lalu. " Riz menjawab.


" Eh... ? Sepuluh tahun lalu? Bukankah itu kemarin malam yang ? Coba lihat ini... Ini adalah mantel yang kamu berikan. Masih bersih dan wangi seperti saat kamu memberikannya kepadaku " Anma terkejut atas apa yang dikatakan oleh Riz dan untuk meyakinkannya, ia juga menunjukkan mantel sihir yang diberikan oleh Riz.


" Wah... Terimakasih Anma karna telah menjaga mantel ini dengan baik.


" Riz mengambil dan memeluk mantel sihir yang dulu diberikan untuk Anma.


Saat Anma dan Riz sedang berbincang, seorang prajurit berkuda lain datang menghampiri mereka berdua.


" Jadi Kapten Raizaz, apakah dia adalah kenalan anda? " Tanya seorang prajurit yang menghampiri mereka berdua.


" Benar Tn Gabs. Dia bukan hanya kenalan saya, tapi dia dalah pahlawan saya " Jawab Riz kepada prajurit dengan nama Gabs.


Gabs menatap ke arah Anma dan mengitari tubuhnya dan setelahnya ia sedikit tertawa sembari meninggalkan Anma.


" Hey, kamu.... Jika tidak salah namamu Gabs kan? " Anma memanggil Gabs.


" Tidak sopan sekali kamu... Memanggilku dengan nama itu. Panggil aku dengan sebutan Tn Gabs" Gabs membentak Anma


Melihat Gabs membentak Anma, demi human yang berada di belakang Anma merasa marah terhadap perilaku dari Gabs.


" He......eh.....!!!! apa apaan tatapan mereka? Mau aku bunuh ya? Hahahaha..... " Gabs semakin menghina.


" Dasar sampah..... " Gumam Anma sembari mengeluarkan sebuah aura yang semula tidak dimiliki olehnya


Karna tahu akan kekuatan Anma, Riz mencoba mengahkhiri perdebatan mereka dengan cara menegur Gabs.