
" Pada awalnya Nona Liah mengajak duel kepada saya. Namun karena kampak tersebut mengatakan bahwa tuan sedang dalam masalah, sayapun mulai melangkah melewati Nona Liah dan teman temannya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. " Alpa melanjutkan cerita yang terpotong.
"Setelah saya sampai di depan goa ini, saya melihat pertempuran antara Tuan dan Nona Flora. "
"Tunggu dulu. Apa magsudmu dengan pertempuran antara aku dan Flora? " Anma bertanya.
" Dari yang saya lihat saat itu, Tuan berada dalam sebuah bola hitam yang melayang dan diantara bola bola itu terdapat sebuah rantai yang mengikat tubuh tuan dari dalam. " Alpa menjawab.
" Lalu apa yang terjadi pada Flora? " Tanya Anma.
"Saat itu, Nona Flora tidak berada dalam bentuk seperti sekarang namun saat itu, Nona Flora terlihat sangat bercahaya. " Alpa menjawab
Semua pandangan tertuju kepada Flora.
"Eh...? " Flora yang semula bersedih, tiba tiba di buat terkejut oleh perkataan Alpa.
"Apakah itu benar Flora? " Tanya Anma kepada Flora.
"Maaf ayah. Flora tidak mengingat apapun. lagipula Flora sangat mencintai ayah... jadi mana munkin Flora menyerang ayah. ." Jawab Flora sembari berharap bahwa Anma memperlakukan Flora seperti saat Liah mengungkapkan perasaannya.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya Alpa? Apakah Flora benar benar menyerang ayah? " Anma mengabaikan harapan Flora.
" itu tidak sepenuhnya benar tuan. Dari pada menyerang tuan, Nona Flora justru terlihat berusaha menyelamatkan Tuan dari sesuatu yang mengikat itu" Jawab Alpa.
" Wah, benarkah begitu? syukurlah kalau begitu. " Flora yang kecewa atas sikap Anma justru bersyukur mendengar apa yang Alpa ceritakan.
"Tapi bagaimana cara Flora menyelamatkan ayah saat itu? " Tanya Anma sembari membuat tubuh Flora berada di dekapannya.
Alpa pun melanjutkan ceritanya
"Manusia manusia pohon itu memegang sebuah senjata berupa cambuk akar sementara manusia setengah rusa itu memegang senjata berupa tombak bercahaya. " Alpa melanjutkan ceritanya.
" Lalu setelahnya, sebuah butiran cahaya mengenai kepala saya dan setelah itu, saya tidak tahu apa yang terjadi lagi. Itu adalah akhir dari semuanya. Dan mengenai apa yang terjadi setelahnya adalah sebuah misteri karena tidak ada dari kami yang bisa mengingatnya. " Alpa menyelesaikan cerita yang tidak menunjukkan akhir dari kejadian tadi pagi.
Anma pun berfikir keras mengenai apa yang terjadi selanjutnya. Ia berfikir tentang suara dari Liah dan Flora yang memanggilnya. Ia juga berfikir mengenai apa yang ia lakukan sebelum ia tertidur.
" hmpfh..... ya sudah lah. aku tidak akan ambil pusing tentang kejadian ini. Lagipun mereka masih selamat dan hanya area hutan ini yang rusak. " pikirnya seakan tidak peduli atas sesuatu yang telah terjadi.
" Baiklah saatnya kita melupakan apa yang telah terjadi dan mulai membersihkan kekacauan ini." Anma berdiri dari duduknya dan langsung mengambil keputusan secara spontan.
"Oh iya, sebelum itu . " Aurora Healling" . " Anma memberikan mantra penyembuhan area kepada seluruh demi human.
"Baik tuan. Saya akan membersihkan kekacauan ini " Alpa menjawab perintah Anma.
" Tidak, Alpa. Kamu tidak perlu membersihkan area ini. Kamu kembalilah ke dalam dungeon dan bereskan monster yang tersisa. Karena itu adalah tugasmu" Anma menjelaskan.
"Baik tuan. Saya akan melakukan apapun perintah tuan." Setelah Alpa menjawab, ia langsung membungkuk dan pergi ke arah Dungeon Zean.
"Lalu Tuan Anma, apakah kami harus membersihkan area ini bersama? " Tanya Gellen setelah Alpa pergi.
"Iya, itu ide yang bagus. Oh iya, aku benar benar minta maaf kepada kalian. Karena telah membuat kekacauan ini" Anma menjawab pertanyaan Gellen.
"Iya tuan. Tidak perlu meminta maaf seperti itu. Kami justru bersyukur karena tuan masih memberikan kesempatan kepada kami untuk terus hidup bersama " Kata Gellen sambil membungkukkan tubuhnya.
"Iya. Maaf juga tentang yang kemarin. Aku berjanji kepada kalian bahwa aku akan memberikan sesuatu yang lebih baik dari yang aku ambil dari kalian. " Anma mengubah sebuah keputusan yang dulu pernah ia buat.
"Jika itu tuan berkata seperti itu, maka kami akan sangat berterima kasih tuan. " Jawab Gellen dengan senyuman.