Armageddon Maker

Armageddon Maker
Kekuatan nyata dari MC yang diremehkan



" Ya, tapi membutuhkan waktu setidaknya setengah hari untuk sampai ke sana. Dan mungkin ketika kita sampai di sana sudah tidak ada harapan lagi. " Perempuan itu tertunduk lemas karena melihat harapannya nampak tak bisa memenuhi harapan


" Yosh... Yosh... Yosh... Semua kemungkinan itu belum tentu benar. Ayo, kita pergi dan menyelamatkan desamu " Anma mengusap kepala perempuan itu dan memberinya semangat.


"Yah... Itu... Itu bisa di coba... Walaupun terlambat setidaknya, aku bisa mencari mereka yang selamat. " Perempuan itu mulai menghapus air matanya.


"Nah begitu.... Ayo kita selamatkan desamu." Anma menarik tangan wanita itu menggunakan tangan alam.


Perempuan itu sempat merasa iba ketika ia melihat tangan alam milik Anma untuk sesaat sebelum Anma menggendongnya layaknya seorang putri.


" Tuan...... Te... Terima kasih " Wanita itu berterima kasih kepada Anma


"Kamu tidak perlu berterima kasih sekarang.... Berterima kasihlah nanti disaat desamu terselamatkan" Anma menanggapi ucapan dari perempuan tadi.


"Pegangan yang erat dan tolong jangan banyak bicara dulu. " Anma memberikan saran dengan posisi siap untuk kembali melesat menuju desa perempuan itu setelah menunjukkan jalannya.


setelah menunjukan jalannya, ia menganngukan kepalanya sebagai tanda setuju atas permintaan Anma.


* Splash *Anma kembali berlari ke arah desa wanita itu dengan kecepatan yang dirasa cukup pelan baginya.


Dalam perjalanan melewati hutan, wanita itu memejamkan matanya sambil berharap bahwa ia tepat waktu untuk menyampaikan bahwa ia telah membawa bantuan.


Dengan kecepatan yang luar biasa, wanita itu tidak sempat menceritakan lebih lanjut tentang asal serangan tadi karena pergerakan dari Anma sangatlah cepat hingga tidak menyadari bahwa mereka telah sampai ke tempat tujuan.


......................


Dihadapannya sebuah desa yang ukurannya dua kaliebih besar dari desa yang di pimpin oleh Liah.


Dari atas bukit yang ia pijak, ia melihat beberapa goblin sedang bersorak sorak di bangunan yang terbakar. Tidak jauh dari para goblin, ia kembali melihat beberapa orc yang sedang memakan binatang ternak milik penduduk. Selain itu, ada beberapa carberus yang sedang berrebut sesuatu di area alun alun desa itu.


"Hey, apakah itu desamu? " Anma bertanya kepada perempuan itu.


Setelah membuka matanya, perempuan itu langsung terduduk lemas setelah melihat desanya yang sedang di ambang kehancuran.


" Hey, kamu tunggulah disini. Aku akan berusaha menyelamatkan orang orang di desa mu dan membasmi seluruh monster yang ada di sana " Anma memenepuk pundak wanita itu dan langsung berjalan ke arah desa itu.


" Tidak..... Aku.... Aku tidak akan diam disini...... Aku..... Aku akan mencoba membantumu sebisaku... " Wanita itu berlari dan kemudian memegang tangan Anma sambil berkata demikian.


" Baiklah jika kamu memang ingin membantu. " Anma menarik kembali tubuh wanita itu untuk di gendongnya agar cepat sampai ke depan gerbang desa.


" Proteksion " Anma merapalkan mantra pertahanan kepada wanita itu setelah sampai di gerbang desa.


" Ano, tuan... Apa yang kamu lakukan? " Wanita itu bertanya kepada Anma


" Sudahlah, tidak perlu di tanyakan. Aku hanya memberikan perlindungan kepadamu. Ayo, sekarang kita selamatkan penduduk di desa mu" Jawab Anma


* Gabruuuuuum * Anma tanpa sengaja memukul dan menghancurkan satu bangunan ketika ia terlalu bersemangat .


*Dum........ Dummm....... Dum..... * terdengar dari suara yang di timbulkan, dapat di simpulkan bahwa Anma menghancurkan lebih dari sat bangunan.


Akibat dari dentuman bangunan yang hancur, para monster yang sedang berpesta pora terdiam dan mulai bergerak ke arah asal dentuman itu terjadi.


Melihat monster monster itu datang secara bersamaan dari balik kepulan asap, tanpa kerahian sedikitpun Anma langsung melesatkan serangannya yang bersifat fatal dammage.


"Swug........ Cprot....... " Anma mengarahkan kepalan tangannya ke arah kepala orc yang memegang gada dari pohon yang tumbang.


"Daradakdakdakdak..... " Anma mengarahkan berbagai macam tendangan ke beberapa goblin yang ada di sekitar orc itu


"Hmph..... Cra............!!! " Anma kembali menggunakan teriakan kematian untuk melawan carberus yang bergerak dengan cepat.


Anma melesatkan ketiga serangan tadi secara bersamaan dan setelahnya, orc besar itu tumbang dengan kepala yang menghilang bersamaan dengan tumbangnya beberapa goblin yang tubuh tidak lagi lengkap akibat fatal dammage yang Anma berikan. Sementara para carberus kehilangan nyawanya dengan sebuah serangan yang sama seperti saat pertama kali.


Perempuan yang di selamatkan Anma hanya terdiam ketika ia menyaksikan serangan yang dilakukan Anma.


" Ya ampun.... Apakah di benar benar petualang ? " Perempuan itu bergumam pada dirinya sendiri dan setelahnya, ia mulai ikut membantu Anma.


"Hey, kamu.... Jangan ikut campur dalam pertempuran ini. Lebih baik, kamu menyelamatkan orang orang yang masih bisa di selamatkan " Anma berteriak kepada perempuan itu.


"Ah.... Iya, baiklah... " Perempuan itu menjawab.


Anma kembali meneruskan serangannya pada para monster yang mulai mendekat ke arahnya.


" Swughr...... Dooooooom...... Braghtssssssss * Anma menghantamkan kepalan tangannya untuk memberikan gelombang kejut dan menjatuhkan beberapa monster ke dalam sebuah parit dengan akar runcing milik Flora yang ada di dasarnya.


" Cepat, bawa dia ke tempat yang Aman. " Anma memerintahkan perempuan tadi untuk membawa wanita yang sedang terkapar tidak jauh dari para monster.


"Booooom.......!!" Anma memberikan multi critical dammage dan menumbangkan dua orc yang berdekatan


merasa bahwa monster yang datang semakin banyak, Ia pun memutuskan untuk menguji salah satu combo dengan skill milik Flora.


* Slasap...... Gabruuuuujm...... Swush.... Swush.


... * Ketika Anma kembali menancapkan lengan akar nya kedalam tanah, akar akar raksaksa muncul dan menyerang para monster dengan serangan tipe brutal dammage.


Melihat serangan dari Anma yang semakin membrutal, perempuan tadi pun langsung menutup mulutnya karena ia tidak percaya bahwa seorang yang ia remehkan tadi bisa menyerang secara mengerikan.


Serangan demi serangan terus dilesatkan oleh Anma hingga tidak ada monster yang tersisa.


Kebrutalan itu diakhiri dengan sebuah air hujan darah dari para monster yang kehilangan tubuhnya akibat serangan brutal dammage yang di timbulkan oleh combo miliknya dan Flora.


"Wu.........hu...... Tadi itu sangat menyenangkan. " Anma berteriak kepada wanita yang di tolongnya tadi sembari mengusap keringat di wajahnya.


"Ano, tuan. Terima kasih atas bantuanmu" perempuan itu membungkuk sujud.


" Akh... Tidak perlu bersujud seperti itu. Jujur saja, tadi itu benar benar menyenangkan" Anma berkata kepada perempuan itu sambil merenggangkan tubuhnya.


" Oh iya, masih terlalu cepat bagi kamu untuk berterima kasih." Anma membantu perempuan itu untuk berdiri dari sujudnya.


" Ba....baik tuan.... " Perempuan itupun berdiri.


" Berhentilah memanggilku tuan. Panggil saja aku dengan nama Anma " Anma mengusap kepala wanita itu.


"Baik Anma. Oh iya, maaf terlambat mengenalkan diri, namaku Riz. Aku adalah anak dari kepala desa ini dan juga salah satu penyihir desa ini " Riz mengenalkan dirinya kepada Anma.


Ketika Riz mengenalkan dirinya, Anma justru sudah pergi dari hadapannya dan sedang membuat sesuatu.


" Grm..... ! " Riz sedikit kecewa kepada Anma karena perilakunya.


" Ahoy, Riz. Bisakah kamu mengumpulkan warga desamu yang selamat ke sini ? " Anma meminta Riz untuk mengumpulkan warga desa disaat dirinya sedang membuat rumah kayu sederhana.


" Ba.... Baik Anma. " Riz menjawab dari kejauhan.


Tidak lama setelah rumah kayu selesai di buat, Riz datang dengan seluruh warga desa yang selamat.


"Ano, Anma... Mereka sudah aku kumpulkan " Riz berkata kepada Anma yang sedang memandangi rumah kayu.


" Akh.. Iya.. Terima kasih atas bantuannya. " Anma berterima kasih kepada Riz.


"Baiklah.... Yosh.... Halo semuanya... Maaf membuat kalian berkumpul di sini disaat keadaan desa kalian yang hancur... Disini, saya sudah membuat rumah kayu darurat. Walau pun terlihat sangat bobrok, ini memiliki pertahanan yang tinggi serta mampu menakuti monster di bawah level limapuluh. " Anma menyapa penduduk Desa Riz dan mengenalkan rumah kayu buatannya.


" Oh iya, jika kalian mengambil salah satu bagian dari rumah ini dangan sengaja makan kekuatan untuk menakuti monster akan langsung musnah. Jadi tolong jangan merusak apapun di dalamnya" Anma memberi peringatan.


"Dan untuk kalian yang memiliki luka berat, dan luka pada mental karena serangan monster tadi, silahkan mendekat kepadaku karna aku akan menyembuhkan kalian" Anma berkata kepada penduduk desa itu sambil sesekali menghibur anak anak yang sedang menangis.


Setelah mendengar ucapan Anma, mereka yang mengalami luka berat mulai berbaris di hadapan Anma, selain itu aja juga beberapa penduduk laki laki yang menggendong seorang perempuan sembari menggandeng


anak anaknya yang kehilangan akal pikirannya akibat serangan tadi.


"Aurora healling..... Positif Aura..... " Anma merapal mantra penyembuhan fisik dan piskis warga desa itu.


Setelah semua warga desa itu disembuhkan, fajar mulai terbit dari sisi timur yang menandakan bahwa ia harus pergi dari desa itu dan kembali ke Liah dan teman temannya sebelum mereka panik dan mencarinya.


" Yosh..... Tugasku disini sudah selesai... Semoga kalian bisa melupakan kejadian yang telah lalu dan memulai hidup yang baru "Anma membalikkan tubuhnya dan mulai bersiap kembali masuk ke dalam hutan.


" Ano, Anma.... Aku benar benar ber Terima kasih atas apa yang kamu lakukan... Oleh karna itu... Terimalah pemberian dari kami ini sebagai kenangan atas desa ini " Riz menghentikan Anma untuk sesaat dan memberikannya sebuah mantel sihir yang merupakan warisan dari keluarganya.


"Akh... Tidak usah... Lagi pula, aku juga tidak bisa menyelamatkan seluruh warga desamu... Jadi..." Ketika Anma belum selesai mengatakan apa yang ingin ia katakan, fajar mulai menyinari area sekitar hutan yang akan ia lewati.


Anma bersyukur karna warga desa Riz tidak takut padanya karna dirinya memiliki sebuah tangan alam.


Namun karna ia takut jika sewaktu waktu ada warga desa lain menyadari bahwa salah satu tangan miliknya adalah tangan Alam. Anma pun langsung mengambil matel sihir itu dari tangan Riz


" Sebenarnya aku tidak berniat mengambil hadiah ini.... Tapi karena aku takut jika di suatu saat nanti ada yang mengetahui bahwa aku bukanlah manusia seutuhnya, maka dari itu aku akan meminjam mantel ini untuk beberapa waktu. Dan jika aku sudah memiliki sesuatu yang layak untuk aku pakai... Aku akan mengembalikan mantel ini... " Anma berkata kepada Riz dengan jarak yang sangat dekat dan setelahnya Anma pun langsung melesat cepat kedalam hutan.


"Anma.... Terima kasih atas bantuanmu " Riz berteriak ke arah hutan sambil melambaikan tangannya.


" Tuan Anma... Terima kasih banyak...." Warga desa itu ikut berterima kasih kepada Anma seperti yang dilakukan oleh Riz.