Armageddon Maker

Armageddon Maker
Pengorbanan



"Jadi kamu sudah memahami apa itu "Potensi" milikmu?" Anma merasa sedikit lebih senang dari sebelumnya.


Anma senang karna ia tahu bahwa Peri hutan itu telah menggunakan "Potensi" namun tidak mengerti bahwa yang di gunakan untuk menciptakan sesuatu itu adalah "Potensi" yang ia miliki.


Di sisi lain, ia merasa sedih. Karna Peri hutan jtu harus hidup sendirian di antara semua "Ilusi" yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri.


"Dari penjelasanmu tadi, seharusnya "Dewi Alam" ada di sini kan? Jika tidak ada di sini, seharusnya kamu bisa pergi" Anma mengatakan opininya.


"Yah, mungkin ini adalah aturannya. Walaupun kini tubuh dan bentuknya telah tiada. Mungkin aturannya masih terus ada". Peri hutan itu menyanggah opini Anma.


"Jika opini itu adalah fakta. Lalu bagaimana caraku untuk memenuhi aturan dari "Kontrak Alam?"."Anma mulai memahami aturan dunia yang " Hampa"ini.


"Seperti yang aku bilang tadi, ayah. Ayah harus mengorbankan sesuatu yang penting dari ayah" Peri hutan itu kembali mengulang kalimatnya.


"Baiklah jika begitu. Aku akan mengorbankan sesuatu." Anma berjalan berputar mengitari Peri hutan itu, untuk mencari sesuatu yang bisa di korbankan.


Peri hutan itu tersenyum kepada Anma.


"Jika ayah tidak bisa memutuskan apa yang akan ayah korbankan, Tubuh ayah yang tidak sadarkan diri akan mulai menghilang dan kesadaran ayah hanya akan terjebak di dunia yang hampa ini bersamaku." Peri hutan itu menegaskan.


Anma yang konsentrssinya terganggu langsung mengatakan sebuah hal secara sepontan.


"Jika seperti itu, bisakah aku mengorbankanmu? " Jawab Anma spontan.


"Bisakah kamu, membayangkan sebuah fragment kosong dan sebuah pisau kecil ? " Anma menjawab seolah ia menemukan sesuatu untuk di korbankan


Peri hutan itu hanya menganggukkan kepalanya lalu mengangkat tangan kanannya dan setelahnya sebuah fragment kosong dan sebuah pisau kecil muncul di ruangan itu.


"Trimakasih atas bantuannya" Anma mengambil fragment dan pisau itu.


"Sret." Anma. Memlukai telunjujnya sendiri.


"Membuat sebuah "Kontrak" untuk pengorbananmu. " Peri hutan itu memegang dadanya karna terkejut.


"Maafkan aku, maafkan aku. Tolong maafkan aku." Anma berulang ulang meminta maaf di dalam hatinya.


Ketika ia tidak sanggup lagi menahan rasa sakit itu, ia pun akhirnya mengungkapkannya.


"Flora. Maafkan ayah" Anma memanggil nama yang ia berikan kepada peri hutan itu.


Mendengar hal itu, Flora langsung melihat kearah ayahnya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.


Mendengar hal itu, ia mengingat kembali hal hal yang pernah ia lalui dengan flora.


Anma hanya terdiam tanpa mengatakan apapun lagi kepada Flora.


"Set, set, set" Anma menuliskan sebuah kontrak dengan darahnya sendiri.


Fragment itu mulai melayang sebagai tanda bahwa kontrak telah di setujui. Melihat kontrak itu melayang, Flora langsung berlari ke arah Anma dan memeluk tubuhnya. Tidak lama setelah kontrak itu melebur menjadi sebuah debu yang berkilauan, tubuh Anma dan Flora mulai bersinar terang.


......................


"Ghk" Anma tersentak dan memuntahkan darah dari mulutnya.


"Anma....!!!! Anma....!!! Anma....!!!Akhirnya kamu bagun juga" Liah berteriak senang ketika Anna tersadar.


Anma melihat sekelilingnya dan mendapati dirinya ada di sisa sisa rumah kayu yang hancur ketika pertempuran.


"Anma....!!!Anma...!!!Anma...!!!" Liah memeluk erat anma yang baru tersadar.


Anma hanya bisa pasrah ketika ia di peluk oleh Liah.