Armageddon Maker

Armageddon Maker
Enemy untuk MC



"Cahaya.... Cahaya ini.... Cahaya api biru. Itu berarti?! " Ia memandangi deretan cahaya itu sambil mengingat ingat kejadian kejadian yang ia alami ketika dunia masih dalam game.


"Astaga, Wizp O Wiszper!! " Ia berteriak dan mulai mengambil posisi bertahan.


Ia membuka kaki dan memperkuat kuda kuda, memposisikan sikunya lurus kedepan dada dengan telapak tangan nya memegang perut.


Sedangkan siku kirinya diangkat sejajar dengan pundaknya dengan telapak tangannya memegang bagian punggung, dimana punggungnua sedikit condong kedepan.


"Wall of stone" Ia mengucap sebuah mantra pasif pertahanan.


"Provokate." Ia menghentakkan kaki kanannya dan kembali mengucap sebuh mantra provokasi.


Seketika itu, cahaya merah mulai memancar dari tubuhnya dan menerangi area sekitarnya.


Seolah terpancing dengan mantra provokasi, tiba tiba sebuah makhluk hitam melayang dengan kecepatan penuh ke arahnya.


Secara samar samar, mahluk itu kelihatan berputar sesaat dan kemudian sebuah tongkat menghantam bagian siku kanannya.


*Buuuum* Suara benturan tongkat dan tubuh ia yang sedang dalam posisi siaga.


Makhluk itu terkejut karena ia tidak langsung tumbang oleh serangan dahsyat miliknya.


Ketika ia akan memegang bagian tongkat makhluk itu, makhluk itu kembali melompat masuk dalam kegelapan hutan dan kembali menyerang ia dari arah berbeda.


Ia yang semula dalam posisi siaga kini mengubah posisinya menjadi siap serang.


Ketika tongkat dari makhluk itu mulai menghantam punggung ia, secara sigap ia memblokir serangan itu dengan mengunci tongkat itu dengan lengan kiri yang semula menekuk.


Ia lalu berputar ke arah makhluk itu sambil melesatkan kepalan tangan kanannya ke arah dagunya.


*Buuum!!!* Suara benturan keras antara dagu makhluk itu dengan kepalan tangan kanan milik ia.


Makhluk itu terlempar tinggi ke arah langit sembari membawa dahan dahan pohon yang memblokir cahaya matahari ke langit yang tinggi.


Kerasnya benturan tadi, tidak membuat makhluk itu mengalami critical dammage yang cukup besar.


" Seharusnya itu termasuk dalam serangan critical." ia bergumam sembari melihat tubuh makhluk yang ia lawan.


" Aku harap aku bisa mengalahkannya dalam kondisiku yang seperti ini " tambahnya sembari mengubah posisinya untuk siaga.


Makhluk yang terkena serangan itu tidak kehabisan cara untuk menyerang ia. Dalam posisinya yang ada di atas tubuh ia, makhluk itu melebarkan kedua lengannya dan seolah merapal mantra.


Tidak lama setelah itu, lingkaran sihir pentagon muncul berwarna merah menyala di depan makhluk itu.


"Mantra itu?!" Ia berteriak ke arah makhluk itu yang sedang bersiap untuk menyerang.


" Mega Trhreetrown !!! " Ia menyadari sihir yang di gunakan makhluk itu yang merupakan sebuah sihir dammage area.


* Swuuuuhgt!! * Sebuah trisula raksaksa bercahaya muncul dan melesat langsung ke arah ia yang sedang menatap ke arah makhluk itu.


"The Castle!!!" Ia langsung memasukan kedua tangannya ke dalam tanah.


Sebuah benteng batu keluar dari hadapannya. Benteng itu terus melesat tinggi ke arah langit dan memblokir tombak raksaksa itu.


Namun ia yang merasa kelaparan sejak tadi, tidak sanggup menahan trisula itu lebih lama. Yang pada akhirnya, tembok raksaksa itu hancur oleh trisula raksaksa itu.


Ketika trisula itu sudah sangat dekat dengan tubuh ia. Tiba tiba trisula itu terpental akibat berbenturan dengan sebuah kampak besar.


* sssssrrrrriiiiiisssiiiing!!!!!* Suara gesekan antara tombak dan kampak besar itu membuat suara lengkingan yang memekakan telinga.


Ia yang dalam kondisi lemah berusaha melihat siapa yang menghalau tombak itu dengan kampak raksaksa. Namun ia terlalu lemas untuk itu yang pada akhirnya pandangannya mulai kabur dan ia pun kehilangan kesadarannya.


......................


Ketika kesadarannya mulai kembali, Ia mulai berusaha untuk membuka kedua matanya. dan setelah kedua matanya terbuka, ia menyadari bahwa yang ia lihat saat ini adalah atap kayu yang tidak asing baginya.


dalam keheningan yang ia rasakan selama beberapa saat, ia tiba tiba berteriak karena mengingat pertempuran yang barusan ia hadapi dan mulai berteriak.


"Waaaaaaaa" Ia berteriak sangat keras tanpa mempedulikan siapapun di dekatnya.


"Tuan, Tolong jangan berisik" Nasihat seorang dengan suara yang lembut.


Ia terdiam sambil memegang bagian kepalanya yang sakit karna terbentur bagian dari kampak itu.



"Anu, kamu siapa?" Ia masih menundukan kepalanya sambil mengusap usap bagian kepalanya.


"Oh iya. Maaf sebelumnya telah membenturkan kampak ini kepada tuan. Perkenalkan namaku Lilitiah. Tapi anda bisa memanggilku Liah. " Liah mencoba melihat muka ia sambil mengajukan tangannya untuk berkabar tangan.


"Lilitiah? Nama yang bagus." Ia mulai memandang wajah Liah dan menanggapi dalam perkenalannya.


"Tuan, Terima kasih karena tadi telah menyelamatkanku." Liah tersenyum manis sambil menedekap erat kedua tangan ia ke arah dadanya.


"Se....seharusnya, ak...aku yang ber...berterima kasih ke...kepadamu Liah. " Ia menjawab dengan kalimat yang melantur


Liah terus mendekap kedua tangan milik ia.


"M, maaf Li....lliah, bisakah ka...kamu melepaskan de...dekapanmu ?" Ia merasa tidak enak pada dirinya sendiri.


"Seharusnya ini bisa lebih lama lagi. Tapi aku harus memintanya melepaskan tanganku. Perasaan lembut dan hangat ini, benar benar bisa membuatku kehilangan kendali" Ucap ia dalam hati.


"Eh, ah, em, maafkan saya tuan. Saya tidak bermaksud begitu. Tap...tapi tuan, saya benar benar berterima kasih pada tuan karna telah menolong saya." Liah berkata sambil menutupi mukannya karna sangat malu dilihat oleh ia.


"Pan...pantas saja, ka...kamu te...terlihat ti...tidak asing" Ia masih menjawabnya dengan kalimat yang terpotong potong.


"Sekali lagi terimakasih ya tuan" Liah memperlihatkan wajahnya kembali dan tersenyum gembira.


"Li...liah, apakah ta...tadi ka...kamu yang me...menolongku ? " Ia bertanya pada Liah.


"Iya tuan. Tadi saya yang menolong tuan." Liah menjawabnya dengan senyuman manis.


"Ta...tapi, ba...bagaimana ka...kamu bisa me...mengalahkan. Wizp O Wizper? Liah." Tanya ia yang tidak percaya.


"Wizp O Wizper?" Liah terlihat bingung.


"Iya. Makhluk yang tadi menyerangku dengan trisula raksaksa itu. " Ia menjelaskan kejadian yang ia alami.


"Maafkan saya tuan. Setelah saya menghalau tombak itu, tidak ada siapapun lagi selain tuan yang terbaring lemah. An...anu.... Em....m... Lupakan saja ya tuan." Liah menjelaskan sambil tersenyum dan kembali menutup mukanya kembali dengan tangannya.


"Dan apa? Liah? " Ia bertanya sambil mendekat ke arah tubuh Liah.


*Creeeewwwweeeeek* Suara perut yang kelaparan memecah percakapan di antara mereka.


Liah yang mendengar suara itu langsung paham bahwa seorang yang berada dihadapannya sedang merasa kelaparan.


"Tuan, apakah tuan merasa lapar? " Liah bertanya pada ia.


"Em, i....iyah. " Ia menjawab pertanyaan Liah sambil memegang perutnya.


"Sama, saya juga. "Liah menjawab sambil menundukan kepalanya.


"Maaf Liah, bisakah kamu berhenti memangilku tuan? Itu terasa tidak nyaman bagiku. " Ia menegaskan kepada Liah.


"Iya, tuan. Eh..... Maaf..... Jika bukan tuan, saya harus memanggil anda siapa?" Liah menjawab.


"Em.... Yah... Ano.... Jika tidak salah namaku adalah Antaresta Mage. Namun jika itu sulit untuk di panggil, kamu bisa memanggilku dengan panggilan Anma" Ia mengimprosisasi nama dalam status yang semula Armageddon dalam artian penghancur dengan nama job mage atau penyihir karena dirinya benar benar melupakan name Id miliknya.


"Baik tuan.... Eh....... Maaf...... Magsud saya Anma. " Liah akhirnya berhenti memangil ia tuan dan sekarang panggilan ia berganti menjadi sebuah nama "Anma".


"Ano, maafkan saya Anma, barusan, kamu sedang apa? " Liah bertanya dengan wajah polosnya.


"Oh, maaf. Tadi aku sedang melihat layar status milikku." jawab Anma sembari memeriksa status miliknya.


" Papan status itu apa? apakah itu dapat menjadi membuat makanan?" Liah mengatakan pendapatnya mengenai papan status.


" Bukan itu, Liah. Papan status itu..... " Anma mulai menjelaskan apa itu layar status pada Liah yang tidak mengerti mengenai papan status.