
"Ayah harus mengorbankan bagian tubuh paling berharga milik ayah. Dengan begitu, ayah dapat kembali ke tubuh ayah yang semula" Jawab Peri hutan itu dengan cueknya.
"Anu, dari tadi kamu memanggiku ayah dengan nada yang cukup mengesalkan. Apakah aku melakukan kesalahan?" Anma mengalihkan pembicaraan dan mencoba mencari informasi.
"Tentu saja ayah melakukan kesalahan. " Peri hutan itu mulai terbakar api kemarahan.
"Apa kesalahan yang aku lakukan kepadamu? Sampai kamu menunjukan ekspresi seperti itu? " Anma mencoba mencari kesalahan yang pernah ia buat.
" Coba lihat, di area sekitar sini. Mereka yang ada di sini hanyalah bunga sihir dan beberapa Ent saja. Sementara hanya ada aku yang menjadi peri hutan. Aku tidak memiliki tempat disini" Peri hutan itupun menjelaskan sambil menyembunyikan wajahnya yang belinang air mata.
Melihat peri hutan itu menangis, anma langsung berdiri dan memeluk Peri hutan itu. Layaknya seorang ayah yang memeluk putrinya yang menangis, Anma sesekali mengusap rambut dari peri hutan itu.
" Cup..... cup.... cup..... sudahlah, kamu tidak perlu bersedih. Kamu masih memiliki tempat di hati ayah. selain itu kamu hanya belum bisa menyadari bahwa kamu memiliki sebuah potensi" Anma mencoba menghibur peri hutan dan menganggapnya seolah peri hutan itu adalah anaknya.
Kejadian ini mengingatkannya tentang kehidupannya dahulu. Ketika ia menagis karena hanya bisa terduduk tanpa bisa melakukan apapun sendiri, pelayan tua selalu datang untuk menghiburnya. Namun di suatu hari, pelayan itu pergi dan tidak pernah kembali lagi. Karena hal itulah, Anma mengerti rasa kesepian yang di rasakan oleh Peri hutan itu.
Peri hutan itu menangis dalam pelukan Anma cukup lama. Setelah ia merasa baikan, ia mempererat pelukan dari seorang yang di panggilnya ayah. Sambil bertanya dengan air mata yang masih keluar dari matanya.
"Jadi, apa yang ayah sebut dengan potensi yang aku miliki. " Peri hutan itu bertanya.
" Kamu bisa membuat apapun yang kamu inginkan. Dengan hanya mengucapkan sesuatu dan meletakkan tanganmu ke tanah ataupun hanya dengan memikirkan apa yang kamu inginkan, kamu bisa langsung mewujudkannya." Jelas Anma sambil mengelus rambut dari Peri Hutan itu.
Setelah cukup lama mereka membahas berbagai hal, Peri hutan itupun melepaskan pelukan ayahnya sembari mengusapkan bekas air mata di pipinya.
" Jadi ayah, apa yang akan ayah korbankan. " Tanya Peri hutan itu kepada Anma.
" Sebelum aku datang ke Dunia ini, apakah ada seorang player dari dunia asal yang telah mendahuluiku dan mengorbankan sesuatu?" Anma bertanya pada peri hutan itu.
Peri hutan itu menggelengkan kepalanya dan setelahnya, ia menjentikan kedua jarinya.
* Tik * Area yang semula pemandangan hutan dengan sebuah altar kini menghilang dan hanya menyisahkan sebuah ruang kosong berwarna hitam.
" Sebenarnya, dulu ini adalah tempat tinggal di dari Dewi Alam namun karena suatu hal ia menghilang dan secara perlahan tempat ini juga mulai kehilangan ke indahannya. Ketika keindahan itu mulai menghilang aku sangat ketakutan di sini dan berusaha dengan keras untuk mencari tahu apa yang sebenarnya tejadi." Peri hutan menjelaskan apa yang ia alami sambil berusaha menguatkan hatinya.
Anma hanya terdiam.
" Tapi ketika semua hal telah menghilang, kenapa hanya aku yang tersisa?" peri hutan itu menunjukkan sebuah kekhawatiran ketika hal itu terjadi
" Dalam kesedirian itu aku mencoba mencari petunjuk namun yang aku dapatkan hanyalah ruang tanpa berujung." Peri hutan itu menjelaskan kejadian yang menimpanya.
" Ketika aku lelah, aku duduk sambil menangis dan membayangkan kembali dunia yang indah itu. Dan secara perlahan, bunga bunga magis tumbuh lalu ada beberapa dari mereka yang ber evolusi menjadi Ent." Peri hutan akhirnya menyadari potensinya dan perlahan tersenyum.
.................
" Jadi kamu sudah memahami apa itu "Potensi" milikmu?" Anma merasa sedikit lebih senang dari sebelumnya.
Anma senang karena ia tahu bahwa Peri hutan itu telah menggunakan "Potensi" namun tidak mengerti bahwa yang di gunakan untuk menciptakan sesuatu itu adalah "Potensi" yang ia miliki.
Di sisi lain, ia merasa sedih. Karena Peri hutan jtu harus hidup sendirian di antara semua " Ilusi " yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri.
"Dari penjelasanmu tadi, seharusnya "Dewi Alam" ada di sini kan? Jika tidak ada di sini, seharusnya kamu bisa pergi" Anma mengatakan opininya.
"Yah, mungkin ini adalah aturannya. Walaupun kini tubuh dan bentuknya telah tiada. Mungkin aturannya masih terus ada". Peri hutan itu menyanggah opini Anma.
" Seperti yang aku bilang tadi, ayah. Ayah harus mengorbankan sesuatu yang penting dari ayah. " Peri hutan itu kembali mengulang kalimatnya.
"Baiklah jika begitu. Aku akan mengorbankan sesuatu." Anma berjalan berputar mengitari Peri hutan itu, untuk mencari sesuatu yang bisa di korbankan.
Peri hutan itu tersenyum kepada Anma.
"Jika ayah tidak bisa memutuskan apa yang akan ayah korbankan, Tubuh ayah yang tidak sadarkan diri akan mulai menghilang dan kesadaran ayah hanya akan terjebak di dunia yang hampa ini bersamaku." Peri hutan itu menegaskan.
Anma yang konsentrasinya terganggu langsung mengatakan sebuah hal secara sepontan.
"Jika seperti itu, bisakah aku mengorbankanmu? " Jawab Anma spontan.
"Bisakah kamu, membayangkan sebuah fragment kosong dan sebuah pisau kecil ? " Anma menjawab seolah ia menemukan sesuatu untuk di korbankan.
Peri hutan itu hanya menganggukkan kepalanya lalu mengangkat tangan kanannya dan setelahnya sebuah fragment kosong dan sebuah pisau kecil muncul di ruangan itu.
" Terima kasih atas bantuannya" Anma mengambil fragment dan pisau itu.
* sreeet.... * Anma memlukai telunjuknya sendiri.
"Ap...apa yang a....ayah lakukan? " Peri hutan itu memandang ke arah Anma.
" Membuat sebuah "Kontrak" untuk pengorbananmu. " Peri hutan itu memegang dadanya karena terkejut.
" Maafkan aku, maafkan aku. Tolong maafkan aku." Anma berulang ulang meminta maaf di dalam hatinya.
Ketika ia tidak sanggup lagi menahan rasa sakit itu, ia pun akhirnya mengungkapkannya.
" Flora. Maafkan ayah." Anma memanggil nama yang ia berikan kepada peri hutan itu.
Mendengar hal itu, Flora langsung melihat kearah ayahnya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.
Mendengar hal itu, ia mengingat kembali hal hal yang pernah ia lalui dengan Flora.
Anma hanya terdiam tanpa mengatakan apapun lagi kepada Flora.
* Set, set, set * Anma menuliskan sebuah kontrak dengan darahnya sendiri.
Fragment itu mulai melayang sebagai tanda bahwa kontrak telah di setujui. Melihat kontrak itu melayang, Flora langsung berlari ke arah Anma dan memeluk tubuhnya. Tidak lama setelah kontrak itu melebur menjadi sebuah debu yang berkilauan, tubuh Anma dan Flora mulai bersinar terang.
......................
"Ghk" Anma tersentak dan memuntahkan darah dari mulutnya.
"Anma....!!!! Anma....!!! Anma....!!!Akhirnya kamu bagun juga" Liah berteriak senang ketika Anna tersadar.
Anma melihat sekelilingnya dan mendapati dirinya ada di sisa sisa rumah kayu yang hancur ketika pertempuran.
"Anma....!!!Anma...!!!Anma...!!!" Liah memeluk erat anma yang baru tersadar.
Anma hanya bisa pasrah ketika ia di peluk oleh Liah.